Satu Atap Dua Hati

Satu Atap Dua Hati
Bab. 32


__ADS_3

Syam pria yang sama sekali belum pernah memegang pisau,wajan, spatula dan kawan-kawannya begitu penurut ketika berada di dapur bersama dengan Dewi sang istri tersayang.


"Dewi ini tomat sama cabenya sudah aku cuciin terus apa lagi yang bisa aku bant" tanyanya Syam sambil memperlihatkan tempat wadah khusus yang berisi cabe-cabean dengan tomatnya.


"Kalau udah itu, kupas bawang merah dan putihnya Abang yang sudah aku pisahin di baskom itu, saya sudah cuci jadi tinggal dikupasin saja kulitnya dari daging buahnya," jelasnya Dewi.


Aku perhatikan sedari tadi, perempuan satu ini tidak pernah mengeluh sedikitpun sejak ke pasar hingga tangannya berlumuran darah ketika membersihkan insan dan dalaman ikan. Wajahnya begitu serius dan teduh ketika mengerjakan pekerjaannya itu. Entah kenapa seolah aku melihat ada sosok bunda Mariana di dalam dirinya ketika sedang sibuk bergulat di dapur dengan begitu banyaknya bumbu masakan yang harus dihadapinya.


Aku mungkin sudah salah dan keliru jika selalu membandingkan istri-istriku,tapi apa aku salah jika mengatakan Dewi istri yang sempurna dimataku hingga aku terlalu takut jatuh ke dalam pesonanya sebagai istri sholeha.


Baru kali ini aku jatuh sehebat ini kepada seorang perempuan, pesonanya sesungguhnya membuatku tidak berdaya. Sedangkan di awal kami berjumpa aku bahkan mengutuk diriku sendiri kalau aku sial bertemu dengannya. Aku pun sempat berfikir jika aku sungguh-sungguh menyesal telah menikah dengannya. Tapi,hanya butuh dua hari saja waktu yang aku butuhkan untuk mengenalnya lebih jauh lagi, hingga membuat pemikiran aku tentangnya berubah drastis.


Salahkah diriku jika terlalu bangga dan bahagia bisa memiliki dua istri cantik sekaligus, walau karakter, tingkah laku, kebiasaan mereka jauh sangat berbeda.


Setelah mendengar penjelasannya tanpa ba-bi-bu lagi aku langsung mengerjakan pekerjaan yang dii bilang itu. Aku mulai mengambil pisau dan melakukan seperti yang dikatakannya itu. Bawang merah dan bawang putih menjadi tugasku selanjutnya.


Awalnya bawang putih aku kupasin hingga selesai, aku menganggap ngupas bawang putih akan sulit aku lakukan, alhamdulilah semudah itu saja. Tetapi, pas giliran bawang merahnya masya Allah aku tidak menyangka jika akan sesedih ini, aku meneteskan air mata yang sudah tak tertahankan yang mengalir deras begitu saja setiap kali aku mengupas bawang merah.


Pantesan dalam cerita dongeng bawang merah itu jahat. Subhanallah seperti ini lah pekerjaan seorang wanita yang sering keluar masuk dapur. Perjuangannya sungguh hebat dalam menaklukkan peralatan dapur dan juga bumbu-bumbu masakan.


Dewi yang melihatku segera berusaha menghentikan apa yang aku lakukan, tapi aku bilang ini pertama kalinya aku mengupas bawang merah jadi kemungkinannya seperti ini.

__ADS_1


Air mataku semakin tak terbendung padahal sebiji pun bawang belum berhasil juga aku kupas kulitnya. Dewi yang melihatku segera menghentikan apa yang aku lakukan.


"Abang kenapa nangis, apa Abang baik-baik saja, atau jangan-jangan tangannya atau jarinya keiris pisau lagi?" Cemasnya Dewi yang aku perhatikan begitu khawatir dan mencemaskan diriku ini.


Aku pun menyeka air mataku ini kemudian menggelengkan kepalaku tandanya aku baik-baik saja. Aku malu dong kalau aku katakan sejujurnya kepadanya jika aku menangis karena, gara-gara menguliti bawang merah. Pasti dia akan menganggap aku pria cemen, tidak jentel dan bisa saja Dewi menganggap pria lemah gemulai hanya karena gara-gara bawang merah sialan ini.


Aku lihat Dewi terkekeh melihat keadaanku, dia terus saja mencegahku untuk menghentikan apa yang aku lakukan,tapi aku tetap bersikeras dan bersekukuh untuk mengupas bawangnya yang sebiji pun belum selesai aku kerjakan.


"Abang stop saja yah, aku gak tega dan kasihan lihat Abang nangis gara-gara bawang," ucapnya Dewi.


Aku tidak terima tawaran darinya, pasti ia akan menganggap aku pria yang gampang mudah menyerah begitu saja. Aku pun langsung menyanggah perkataannya itu.


"Aku baik-baik saja kok, semua itu butuh waktu dan proses masa hanya gara-gara kupas bawang sampai aku menyerah untuk bantuin Istriku tercinta," kilahnya Samuel.


Dewi kembali tersenyum simpul sambil berkata," yah udah lanjutkan saja kalau begitu, tapi kalau sudah nggak sanggup ngomong saja Abang, tidak apa-apa kok saya kerjain yang itu,"


Dewi terus berusaha menunjukkan keprihatinannya terhadapku yang sungguh-sungguh tidak punya kuasa dan daya untuk menaklukkan bawang merahnya dengan terus-menerus membujukku untuk berhenti.


Tapi,bukan Samuel Abidzar Al-Ghifari namaku kalau aku dengan gampang dan mudahnya takluk dan tunduk pada bawang ini. Aku ingin Dewi memujiku pria sejati, suami serba bisa walaupun kenyataannya ada beberapa hal yang tidak mungkin bisa aku kerjakan seorang pria diri dan tanpa bantuan orang lain.


Beberapa menit kemudian, dengan susah payahnya dan perjuangan yang sungguh sangat sulit aku lakukan akhirnya bawang merah yang berjumlah dua belas buah biji itu aku bisa kupas tuntas. Walaupun tidak bersih, air mataku sudah beranak sungai bahkan hidung dan mataku sudah memerah dan sembab.

__ADS_1


Aku berfikir ohh ternyata seperti ini lah perjuangannya seorang wanita yang menjabat sebagai seorang istri seutuhnya yang berjuang untuk perut anggota keluarganya tanpa rasa lelah, tanpa berkeluh kesah dan tak pantang mundur demi perut suami dan anak-anaknya.


Bukankah istri yang seperti ini yang dirindukan oleh surga, istri yang harus mendapatkan pujian yang tidak terkira dari suaminya dan mendapatkan kebahagiaan yang hakiki. Bukannya aku tidak punya kerjaan pagi ini,hanya saja aku juga mencoba berbagi suka dan duka di dapur, walaupun bukannya aku membantu istriku tapi, malahan membuatnya khawatir berlebih dan sesekali geleng-geleng kepala tersenyum melihat apa yang aku lakukan.


Ada kebahagiaan dan kepuasan tersendiri yang aku dapatkan setelah melihat Dewi yang wajahnya bersinar diterpa cahaya lampu karena wajahnya mengalir bulir-bulir peluh keringat.


Jika masih ada seorang laki-laki yang berstatus suami tidak menghargai jerih payahnya seorang isteri dalam memasak, aku yakin orang itu kufur nikmat atas rezeki pemberiannya Allah SWT. Istri yang lihai menyenangkan suami di ranjang, istri yang mampu mengenyangkan perut suami itu adalah tanda-tanda istri sholeha apalagi wajahnya cantik seperti Dewi Kinanti Mirasih. Sejujurnya aku sudah jatuh kedalam cintanya dan aura pesonanya yang begitu memabukkan diriku ini.


Dua masakan yang hampir selesai berada di dalam panci yang asapnya mengepul,air kuah di dalamnya mendidih hingga mengeluarkan aroma khas masakan yang begitu menggugah selera makan.


Hanya menghirup aromanya saja sudah membuatku ngiler ingin mencicipinya. Ada dua jenis masakan dengan olahan bahan dasarnya ikan. Yaitu ikan masak woku asli dari daerah Menado asal kakekku dan juga masak santan kepala kakap merah. Dewi begitu lincah dan terampil dalam mengolah semua bumbu masakan tersebut.


Aku refleks menyeka keringatnya ketika aku tanpa sengaja melihat ada bulir air keringat yang menetes di atas alisnya yang lebat hitam legam hampir mengenai bulu matanya yang lentik itu. Aku secepatnya mengambil beberapa lembar tissue yang memang tersedia di dapur dan membantunya melap keringat tersebut.


Dewi hanya menatap intens ke arah dalam bola mataku,seolah ia terkejut dan tidak menyangka jika akan aku perlakukan seperti itu.


"Apa masakannya sudah jadi dan siap disantap? Karena jujur aku sudah lapar loh," imbuhnya Sam yang sudah tidak mampu menahan rasa laparnya hingga perutnya pun langsung mengeluarkan sinyal tanda sudah harus diisi.


Rencananya tadi di pasar tradisional mereka akan makan di salah satu warung makan yang padat dikunjungi oleh pembeli, tapi Syam tidak mau berlama-lama antri sehingga memutuskan mereka berdua makan di rumah saja.


Kedua pasangan suami istri itu begitu kompaknya masak. Sesekali Syam akan bertanya mengenai bumbunya jika menurutnya aneh dan unik dan tidak seperti yang pernah dilihatnya ketika Mbak asisten rumah tangganya yang masak.

__ADS_1


__ADS_2