Satu Atap Dua Hati

Satu Atap Dua Hati
Bab. 117


__ADS_3

Shaira yang melihat gadis kecil yang terduduk di atas ranjang bangkar rumah sakit. Anak itu sedang dibujuk untuk minum obat adalah sahabat kecilnya sekitar setahun lebih lalu itu.


"Kakak Shaira," pekiknya Brianna Adeline.


"Brianna, alhamdulilah kita bertemu lagi dek," ucapnya Shaira yang tidak bisa menyembunyikan perasaan bahagia dan gembiranya melihat anak kecil yang pernah seharian bersamanya menikmati es krimnya.


Shaira berjalan ke arah Bria dengan senyuman yang terus mengembang di sudut bibirnya itu.


"Bria cucunya nenek apa kamu mengenal kakak dokternya?" Tanyanya seorang wanita paruh baya yang memanggil Bryanna dengan sebutan cucunya.


Brianna hanya menganggukkan kepalanya sambil berusaha untuk turun dari ranjang, tapi segera dicegah oleh semua orang.


"Bria stop! Ingat kamu masih sakit sayang," cegahnya Andien yang tersenyum lebar melihat Shaira Dokter magang sahabat keponakannya sekaligus gadis yang diam-diam diperhatikan oleh abangnya Adelio Arsene Smith.


Shaira mempercepat langkah kakinya menuju ke arah ranjang,ia tidak ingin terlambat hingga Brianna terjatuh atau kenapa-kenapa.


"Dede Brianna tunggu kakak di sana saja, tidak perlu ke sini kamu kan masih sakit sayang," pintanya Shaira yang mempercepat langkahnya.


"Siapa dokter cantik ini, kenapa cucuku mengenalnya?" Bu Veronica menatap intens ke arah Shaira.


Andien membantu memegangi Brianna yang terus hendak turun dari ranjangnya. Dia hanya tersenyum melihat kedatangan Shaira.


Andien masih berusaha untuk memeluk keponakannya itu, "Untungnya pawangnya Brianna sudah datang, apakah ini sudah diatur oleh Allah SWT jika mereka akan kembali dipertemukan ataukah jangan-jangan gadis ini akan memiliki hubungan spesial dengan Abang Adelio,kalau begitu kita akan lihat kedepannya akan berakhir gimana kisah mereka bertiga,"


"Kakak Shaira," teriaknya Brianna sambil merentangkan kedua tangannya menyambut kedatangan Shaira kearahnya.


"Dede Briana, kakak kangen banget sama kamu, tapi ngomong-ngomong kok ada di sini sayang?" Tanyanya Shaira sambil melerai pelukannya dari tubuhnya Brianna.


Bu Veronica segera berjalan ke arah Shaira," Bu dokter tolong nasehati cucuku ini, soalnya dia tidak ingin meminum obatnya, padahal kami berdua sudah berusaha untuk membujuknya, jadi tolong bantu kami yah agar cucuku bisa segera sembuh dan keluar dari rumah sakit," imbuhnya Bu Veronika.


Brianna hanya tersenyum lebar memperlihatkan deretan giginya itu," hehehe saya akan minum obat kalau kakak Aira yang bantuin minum obat," ucapnya Brianna.


Shaira yang mendengar perkataannya yang bernada permintaan itu segera menoel hidung mancungnya Brianna khas orang Eropa.


"Kakak akan janji mulai detik ini kakak yang akan bantu kamu untuk minum obat, supaya lekas sembuh tapi tidak boleh rewel atupun menolak setiap kali minum obat, karena insya Allah besok kamu boleh pulang loh," ujarnya Shaira.


Brianna segera menganggukkan kepalanya itu tanda setuju dengan persyaratan yang diajukan oleh Shaira.

__ADS_1


"Ibu tolong obatnya," pinta Shaira sambil mengulurkan tangannya ke arah Bu Veronika neneknya Brianna.


Beberapa saat kemudian, Brianna sudah tertidur pulas dalam buaian mimpi indahnya setelah minum beberapa macam obatnya.


Shaira tersenyum melihat tingkah polos dari Brianna. Ia tidak menduga jika akan kembali dipertemukan dengan anak kecil yang menyita perhatiannya sekitar kurang lebih setahun lalu.


"Dokter bagaimana dengan kondisi cucuku, apa benar besok pagi sudah bisa balik ke rumah?" Tanyanya Bu Veronika.


"Insya Allah Bu,besok setelah pemeriksaan secara menyeluruh barulah kami pihak rumah sakit memberikan informasi, tapi kalau saya perhatikan alhamdulilah kondisinya Bryanna sudah bisa pulang secepatnya," jelasnya Shaira.


"Oh gitu, kalau gitu perkenalkan nama saya Veronika Smith neneknya Brianna," ucapnya Bu Vero seraya memperkenalkan dirinya dengan mengulurkan tangannya untuk berjabat tangan.


"Saya Shaira Innira Samuel Abidzar Bu, senang berkenalan dengan Anda, kalau begitu saya pamit dulu soalnya masih ada beberapa pasien yang harus saya tangani," pamitnya Shaira yang selalu tersenyum ramah.


"Makasih banyak dokter, semoga kelak kita masih bisa bertemu kembali," harapnya nyonya Vero.


Berselang beberapa menit kemudian, setiap hari seperti itu lah aktifitas yang dijalani oleh Shaira selama masa magangnya. Hingga tersisa sekitar kurang lebih dua bulan lagi.


Masih di sekitar wilayah Inggris, tepatnya di kota Manchester dimana Abyasa dan Aidan kakaknya berada.


Siapa pria yang menolong aku tempo hari, apakah anak buah suruhannya kakak atau bukan, tapi siapa karena aku bersyukur kamarku dan apartemenku rapi dan bersih, aku juga selamat baik-baik saja tanpa kekurangan apapun, aku tanya anak-anak tapi bukan mereka juga yang bantuin,apa aku ke tempat security untuk bertanya langsung saja daripada pusing memikirkan siapa orangnya karena pasti mereka tahu kalau aku minta suruh cek cctv-nya.


Adeline Amalia segera menyelesaikan make up-nya itu secepat mungkin karena tidak ingin menunda lebih lama ingin mengetahui siapa penyelamatnya malam itu.


"Kalau hanya sweater hoodie saja tidak bisa membuktikan cepat siapa yang menolongku itu sulit untuk dipastikan kebenarannya," gumamnya Adelin yang segera berjalan menuruni tangga apartemennya.


Adelin masuk ke dalam lift dan berniat untuk ke lantai dasar. Tapi sungguh beruntung sekali karena kebetulan di dalam lift tersebut ada dua orang pihak keamanan yang sedang berjaga di apartemen tersebut. Andien tersenyum sumringah melihat kedua security itu.


"Pak apa boleh saya bertanya siapa yang berjaga di malam kamis kemarin?" Tanyanya Adelin.


"Silahkan Adelin, memangnya ada apa yang kamu ingin pertanyakan mengenai malam itu? Kebetulan saya yang berjaga," tanyanya balik pak Simon.


"Syukur lah, apa bapak melihat siapa yang menolongku dan mengantar saya ke dalam unit apartemenku?" Tanyanya Adelin yang semakin menambah penasaran saja.


"Kalau enggak salah ingat seorang pemuda yang berseragam sebuah kafe yang kalau nggak salah yang ada di sudut kota tempat kafenya namanya kafe xx," ungkapnya Pak Simon sambil berusaha mengingat-ingat kejadian malam itu.


"Itukan kafe milik kakak, apa jangan-jangan orang itu karyawannya kakak? Kalau begini akan lebih mudah mengetahuinya,"

__ADS_1


Pak Simon dan rekan kerjanya saling bertatapan keheranan melihat sikapnya Andien yang tiba-tiba terdiam sejenak memikirkan segala sesuatu kemungkinan besar yang bisa terjadi.


"Makasih banyak Pak atas informasinya, ini ada sedikit untuk kalian berdua," ucapnya Andien sembari memberikan beberapa lembar uang untuk Pak Simon dan rekannya sebagai imbalan atas informasinya yang sangat penting untuk dia ketahui.


Andien segera mengemudikan mobilnya menuju kafe kakaknya dan tidak lupa membawa sweater milik sang penolongnya. Andien mengemudikan mobilnya dengan kecepatan yang cukup tinggi. Dia tidak ingin terlambat sampai di kafe kakaknya.


Berselang beberapa menit kemudian, Andien sudah sampai di depan kafe. Ia mematikan mesin mobilnya dan memarkirkan mobilnya dengan asal saja.


Andien berjalan tergesa-gesa ke arah dalam hingga tanpa sengaja menabrak tubuh seorang yang kebetulan sedang merapikan beberapa meja di dalam kafe tersebut.


"Auhh!" teriaknya Andien yang cukup nyaring dan melengking suaranya memenuhi sudut area kafe.


Untungnya tangannya Andien ditarik oleh seorang pegawai kafe sehingga tubuhnya tidak perlu terduduk bebas di atas lantai keramik kafe.


"Siapa sih yang naruh ember berisi air Du sekitar pintu!?" tanyanya Andien yang segera melepas pegangan tangannya dengan orang yang menolongnya.


"Lagi-lagi kamu! aku heran kamu selalu saja buat masalah! apa kamu tidak lihat di depan pintu tertulis closed dan hati-hati berjalan lantai licin!" cibirnya seorang pria yang memakai seragam karyawan cafe sambil menunjuk ke arah tulisan yang dimaksudnya.


Andien membelalakkan matanya mendengar perkataan dari seorang pemuda yang memakai topi hitam kesayangannya.


"Saya!?" tanyanya Adelin sembari menunjuk ke dadanya sendiri.


"Iya siapa lagi kalau bukan kamu gadis manja dan tidak tahu sopan santun!" sarkasnya Abyasa.


"Maksudnya!?" tanya Andien.


"Sudah lah lupakan saja perkataanku, kalau aku ladenin kamu disini bisa-bisa lantai yang basah ini tidak akan kering hanya menatap dan mendengarkan omelan kamu yang tidak bermutu itu!" cibirnya Abyasa Akhtam.


Saya putuskan akhir bulan pengumuman yang akan mendapatkan give away untuk tiga novel aku yah:


Satu atap dua hati


Pamanmu adalah jodohku


Belum berakhir


setiap novel ada beberapa pembaca setia akan terpilih. khusus untuk reader yang paling rajin baca, like, komentar.

__ADS_1


__ADS_2