
Adelio bukannya menjawab pertanyaan dari Shaira malah hanya mengulurkan tangannya ke hadapan Shaira saja. Tapi,ia sedikit kecewa karena tidak bisa berjabat tangan dengan Shaira.
"Kalau gitu makasih banyak Pak Adelio Arsene Smith untungnya ada payungnya yang pak Adelio yang mampu melindungiku dari kehujanan," ucapnya Shaira.
"Kamu sudah berulang kali mengucapkan makasih banyak loh, apa kamu nggak capek ngomong itu terus, padahal aku sama sekali tidak mempermasalahkan menolong orang lain yang lagi kesusahan apalagi wanita cantik seperti kamu sudah baik hati cantik pula," pujinya Adelio.
Shaira yang mendengar pujian dari Adelio pria yang sudah dua kali bertemu dengannya. Tapi, ini yang pertama kali mereka berbincang-bincang santai.
"Bapak bisa saja, jujur saja pujiannya bapak buat saya merinding karena terlalu berlebih-lebihan gitu," balasnya Shaira.
Shaira yang sudah berbicara menggunakan bahasa Indonesia karena Adelio juga cukup lancar dan pasih menggunakan bahasa Indonesia.
"Bisa gak panggilan kata bapaknya diganti dengan pakai nama saja,serasa aku tua banget walau aku sudah 32 sih tapi, tidak perlu juga menyapa pakai bapak segala,lagian aku kan bukan bapak kamu juga," candanya Adelio.
Candaan Adelio membuat Shaira tersenyum lebar yang membuat Adelio yang melihat senyuman manisnya Shaira dadanya tiba-tiba berdebar kencang.
"Kamu sungguh sangat cantik andaikan aku bisa melihat senyuman itu setiap hari betapa bahagianya hidupku ini, tapi jika boleh ijinkan aku Tuhan untuk memiliki gadis yang memakai hijab ini itu harapan terbesar aku dalam hidupku ini,"
Pit… piit…
Bunyi suara klakson membuat keduanya spontan mengalihkannya perhatiannya menuju jalan raya. Dimana seorang pria yang duduk di atas motor gedenya yang memakai helm berwarna merah dengan jaket kulit sebagai pelindung tubuhnya dari siraman air hujan.
Tapi, kedatangannya bersamaan dengan redanya hujan yang sedari tadi mengguyur kota London hingga beberapa jam lamanya. Untungnya hujan itu terjadi di Inggris jika di Indonesia pasti sudah menimbulkan banjir dan genangan air hujan dimana-mana.
"Aira," sapanya pria yang hampir seumuran dengan Shaira.
Shaira segera tersenyum simpul melihat siapa pria yang sudah membuka helmnya itu yang juga membalas senyumannya sang pria pemilik lesung pipi di pipinya sebelah kanan.
"Ahksan," beonya Shaira.
"Maaf yah sudah buat kamu nungguin lama, hujan soalnya," imbuhnya Ahksan adik sepupunya Shaira.
"It's okey tidak masalah kok selow saja, aku juga lupa kalau kita janjian hari ini," Shaira terkekeh karena baru teringat dengan perjanjian ketemunya dengan adik sepupunya itu anaknya dokter Irwan dan Dina.
"Ini helmnya sepertinya kita berangkat sekarang saja takutnya nanti keburu hujan turun lagi," ucap Ahksan sembari mengulurkan tangannya yang memegang helm berwarna hijau toska.
__ADS_1
Ahsan diam-diam memperhatikan sosok pria yang memakai pakaian jas lengkap berdiri di sampingmu Shaira. Tapi, ia sama sekali tidak mau ikut campur dengan kehidupan pribadi kakak sepupunya, selama pergaulan adik dan saudaranya yang lain masih normal saja.
"Pak Adelio saya pamit undur diri terlebih dahulu, takut kemalaman apalagi besok mau ke kampus," tuturnya Shaira yang berpamitan dengan pria yang menjadi temannya dikala menikmati hujan malam ini.
"Oh silahkan saja Aira, hati-hati dijalan yah semoga kita esok masih bisa bertemu kembali dan hari ini bukan untuk terakhir kalinya," imbuhnya Adelio yang berharap jika pertemuan hari ini bukan yang terakhir kalinya.
"Assalamualaikum," pamitnya Shaira.
Adelio sama sekali tidak mengerti dengan bagaimana membalas perkataannya Shaira barusan. Sedangkan Shaira salah tingkah karena menganggap Adelio tidak menjawab karena mereka berbeda keyakinan dan kepercayaan.
Adelio terus menatap intens kepergian Shaira hingga motor yang dipakai oleh Akhsan tidak nampak lagi di pelupuk matanya itu.
"Apa pria itu pacarnya, tadi aku berjabat tangan dia tidak mau tapi sekarang malah pergi berduaan berboncengan dengan laki-laki lain, kalau itu kekasihnya Shaira berarti aku memiliki saingan, kalau gitu aku tidak akan menyerah untuk mendapatkan gadis pujaan hatiku, tunggu aku Shaira Innira Abidzar Al-Ghifari kamu akan menjadi milikku seorang,"
Shaira menolehkan wajahnya ke arah Adelio yang masih saja berdiri menatap kepergian perempuan yang sudah dicintainya sejak pertama kali melihatnya sekitar dua bulan lalu.
Shaira tersenyum manis sebelum semakin jauh laju sepeda motornya Aksan menuju asramanya Shaira.
"Aira kamu besok jadi berangkat ke Birmingham gak menemui bang Hanzal Abdul Djailani?" Tanyanya Akhsan sambil memelankan laju kendaraan bermotornya.
Shaira terlebih dahulu menganggukkan kepalanya sambil menjawab pertanyaan dari adik sepupunya itu.
"Besok dilihat kalau aku dapat ijin dari tempat kerja mungkin aku akan menemani kamu ke sana," tukasnya Akhsan lagi.
Shaira menikmati perjalanannya malam itu sambil menikmati indahnya kerlap lampu dari pusat kota seperti gedung pencakar langit, toko,mall, kafe, restoran serta club malam.
"Mama, Aira insya Allah sebentar lagi balik ke Jakarta, doakan Aira yah mama Dewi semoga bulan Febuari tahun depan saya sudah balik ke Jakarta,"
Rasa rindu sudah tak tertahankan dari Shaira untuk kedua orang tuanya dan juga kakaknya Shanum. Mereka berkomunikasi terakhir kalinya dua minggu lalu. Maklum lah tidak murah untuk mereka saling telponan.
Berselang beberapa menit kemudian, Shaira sudah sampai di asramanya. Bertepatan dengan kepulangan kedua teman sekamarnya Shaira yang baru pulang dari belanja shoping bahan-bahan dapur dan makanan itu.
"Assalamualaikum," ucap Shaira yang cukup mengagetkan kedua sahabatnya itu yang baru mau membuka gembok pintu rumahnya itu.
"Waalaikum salam," jawab Vela dan Maryam Nurhaliza yang menolehkan kepalanya ke arah kedatangan Shaira.
__ADS_1
Vela yang melihat Pria yang membonceng Shaira untuk pulang membuatnya berteriak histeris dan kencang saking bahagianya karena akhirnya dipertemukan kembali dengan teman sekolahnya semasa putih abu-abunya itu.
"Hey Ahksan," teriak Vela Angelina.
Akhsan yang mendengar suara teriakannya Vela membelalakkan matanya melihat gadis pujaan hatinya akhirnya bisa bertemu kembali setelah setahun lebih tidak pernah berjumpa, untuk saling berbagi kabar pun tidak pernah lagi.
Maryam dan Shaira hanya berpandangan satu sama lainnya dan belum paham dengan apa yang terjadi di depan wajah keduanya itu.
"Dek Ahksan apa kamu mengenal Vela sahabatnya Mbak?" Tanyanya Shaira yang ingin memastikan apakah benar dugaannya jika Vela dan Akhsan memiliki hubungan yang istimewa.
"Mungkin sebaiknya kita ajak Ahksan adik sepupumu Aira ke dalam rumah kasihan kalau harus kedinginan di luar rumah seperti sekarang ini," usulnya Mariam yang sudah berada lebih terdahulu ke arah dalam asrama ketiga sang gadis cantik dengan pesona mereka sendiri-sendiri.
Vela segera berjalan ke arah Shaira," apa benar dia adik sepupu kau Aira?" bisiknya Vela sambil melingkarkan tangannya ke lengannya Syaira.
Syaira mengangguk dan membenarkan perkataannya Vela," kenapa memangnya, tapi ngomong-ngomong sepertinya aku cium bau-bau aromanya yang sungguh menyeruak hingga menusuk indera penciumanku," guraunya Shaira.
"Kamu bisa saja, tapi bener besok kamu akan ke Birmingham gimana kalau saya ikut bareng kamu supaya ada yang temani kau gitu takutnya kamu kesasar," terangnya Vela yang berjalan beriringan sambil bergandengan tangan dengan Shaira teman seasramanya itu.
Shaira tersenyum penuh arti," kalau mau nebeng ikut bareng kami kamu harus meminta ijin darinya terlebih dahulu, kalau ijinin kamu silahkan saja,saya sih so what's gitu loh, kenapa tidak jika kamu mau bareng kami ke sana mumpung dua hari libur kan,"
"Vela andaikan aku tahu sebelumnya jika kamu satu asrama dengan kakak sepupuku pasti sudah sedari dulu juga aku akan menyempatkan waktu untuk mampir,tapi entah kenapa baru hari ini kita bertemu padahal kita sama-sama di UK Inggris London."
Akhsan juga sebenarnya menyukai Vela,tapi dia sudah berjanji dengan mamanya Dina jika dia tidak boleh berpacaran sebelum memiliki masa depan yang cerah dan bagus. Perkataan itulah yang selalu diingat oleh Akhsan kemanapun perginya.
Makanya dia tidak ingin menjalin hubungan yang spesial dengan lawan jenisnya karena amanah dan janji-janjinya pada mamanya itu.
Vela Angelina tidak menyangka jika pria yang diam-diam dicintanya dalam hubungan persahabatan. Ahksan Haydar Irwansyah adalah anak muda yang sejak mereka duduk di bangku sekolah sudah dicintainya secara sembunyi-sembunyi tanpa berani mengatakan apa sebenarnya.
"Ya Allah semalam aku mimpi apaan sehingga malam ini bertemu dengan Ahksan padahal sudah hampir empat tahun kami putus kontak tapi,malam ini Allah SWT kembali mempertemukan kami, semoga pertemuan ini adalah awal yang baik untuk kepastian hubungan kami kedepannya."
"Apa minumannya yang aku buat enggak enak yah apa kurang manis atau kurang enak?" Tanyanya Maryam Nurhaliza yang ikut mereka duduk.
"Alhamdulillah minumannya baik kok kak,hanya saja saya tidak terbiasa minum kopi," tolaknya Akhsan yang tidak ingin menyinggung orang yang membuatnya.
Maryam terkekeh memperlihatkan deretan giginya yang putih dan tersusun rapi itu, "Ya ampun kamu kok enggak ngomong dari tadi, maafkan kakak yah sudah salah menduga jika kamu menyukai minuman hitam yang tak sehitam hidupnya," candanya Maryam Nurhaliza yang memang paling tua dari semua orang yang ada di dalam ruangan itu.
__ADS_1
"Tidak apa-apa kok kak santai saja," tukasnya Akhsan yang selalu tersenyum simpul melihat Vela gadis sang pujaan hatinya itu.
Vela tak henti-hentinya menatap Akhsan, ia tidak berbicara lagi tapi hanya terus memandangi wajahnya Akhsan yang terkadang berbincang-bincang dan berbicara menimpali pembicaraan mereka.