
Arion murka setelah kepergian kedua anak buah kepercayaannya. Dia melempar apapun itu yang bisa dijangkaunya.
Prang!!
Bruk!!
Brak…
Suara berbagai barang dan benda yang dilemparkan oleh Arion begitu terdengar nyaring hingga kedua anak buahnya itu masih mampu mendengarnya.
"Tom, baru kali ini yah kita melihat Tuan Muda semarah itu, ini semua gara-gara pria kita yang tertipu mulut manisnya perempuan itu," ujarnya Sanjaya.
"Benar sekali, apakah ini gadis terakhir yang akan menjadi pendamping hidupnya tuan muda apalagi nyonya besar Clara selalu mendesaknya untuk memberikan dia cucu penerus keluarga," tukasnya Tomi.
"Sudahlah itu bukan urusan kita, yang menjadi tugas kita sekarang adalah mencari gadis itu, tapi lupa bertanya namanya siapa, takutnya kita salah tangkap lagi,"tampiknya Sanjaya.
"Saya pernah dengar Tuan Muda menyebut namanya Shanum Inshira Abidzar Al-Ghifari, kalau saya tidaklah salah ingat dengan namanya,"imbuhnya Tomi yang semakin mempercepat langkahnya.
"Kalau aku hanya ingat tempat kuliahnya perempuan itu, tapi ngomong-ngomong masalah cucu sepertinya wanita muda ini yang akan memberikan cucu kepada Nyonya besar Clara soalnya," Sanjaya menghentikan ucapannya itu sambil mengarahkan pandangannya ke sekeliling tempat tersebutlah sebelum berbicara kembali melanjutkan perkataannya.
Tomi mengerutkan keningnya melihat tingkah laku dan sikap rekan kerjanya tersebut.
"Kenapa kamu terdiam sambil memperhatikan sekitar, emangnya mau bicara rahasia segala sampai-sampai sikapmu sangat hati-hati," cercanya Tomi yang keheranan melihat sikapnya Sanjaya.
Tomi mendekatkan wajahnya ke telinganya Sanjaya,"biasanya tuan muda kalau berduaan dengan gadis cantik walau gadis itu masih pee raaa waan pasti tuan muda tetap memakai alat pengaman, tapi kali ini enggak minta dibeliin, itukan aneh yah, apa sepertinya inilah gadis yang mampu menaklukkan hatinya tuan muda Arion?"
__ADS_1
"Selain nama, kampus apa lagi yang kamu ingat dari calon nyonya muda kita?" Tanyanya lagi Sanjaya.
"Kalau enggak salah gadis itu memakai mobil berwarna merah, plat kendaraannya 364, merek Honda Jazz kesukaannya kemanapun perginya itu yang paling aku ingat itu," jelasnya Tomi lagi.
Keduanya bercakap-cakap sambil berjalan terburu-buru ke arah parkiran dimana mobil mereka berada. Sedangkan di tempat lain yang jaraknya cukup jauh dari club malam tersebut. Seorang gadis belia yang baru berusia 20 tahun hari ini berpamitan kepada kedua orang tuanya karena akan berangkat ke kampus.
"Ya Allah semoga saja hari ini tidak bertemu lagi dengan paman Hanif,saya tidak ingin mendengar perkataan bualan dan tidak masuk akalnya itu, dan juga pria yang telah merenggut segalanya dariku semoga saja tidak berjumpa untuk selamanya," harapnya Shanum.
Mulai hari itu Shanum memutuskan untuk memakai mobil kakak sulungnya yaitu Abyasa bepergian kemanapun perginya. Dia ingin seolah jika memakai secara bergantian mobil milik saudara-saudarinya seolah mereka saling berdekatan dan rasa rindunya Shanum bisa terobati.
Sahnum berpamitan kepada kedua orang tuanya untuk bergegas ke kampusnya karena sudah dua hari bolos tidak masuk kuliah mengingat keadaan dan kondisi fisik dan psikologisnya belum siap untuk menimba ilmu seperti sedia kala.
Kehidupan seperti itu dijalaninya Shanum setiap harinya, bahkan semakin bertambah banyak lah kegiatannya Shanum di luar rumah. Termasuk mengikuti beberapa perhimpunan mahasiswa yang mengkaji ilmu agama seperti majelis taklim khusus para anak muda.
"Alhamdulillah semoga putri sulungku semakin Istikomah dengan pilihan jalan hidupnya itu, begitupun dengan ketiga anak-anakku yang berada di luar negeri." Segenap doa dan harapannya Dewi selalu dipanjatkan di setiap sujudnya Dewi.
Arion sangat prustasi karena sudah dua mingguan lebih anak buahnya ditugaskan untuk mencari keberadaan Shanum. Betapa bodohnya mereka karena tidak bertanya langsung kepada beberapa mahasiswa yang kebetulan satu kampus dengan Shanum dan juga tidak mencari alamatnya.
Arion marah besar dengan kenyataan itu hingga dia memutuskan untuk menyewa detektif handal yang berpengalaman untuk mencari keberadaan Shanum yang menghilang bak ditelan bumi.
Hal itu terjadi karena Shanum merubah total penampilannya selama ini sehingga kedua cecungutnya kelimpungan mencari Shanum. Apalagi Shanum lebih sering mengikuti beberapa kajian dan dakwah Islamiyyah beberapa hari terakhir ini.
Satu bulan kemudian, di dalam sebuah kediaman yang tidak kalah mewah dengan rumahnya Syam dan Hanif. Seorang gadis remaja yang lebih muda umurnya dengan Shanum dan Shaira merengek kepada kedua orang tuanya agar dijinkan kuliah ke luar negeri.
"Aku harus memaksa dan mendesak Papa Irwan dan Mama Dina agar mengijinkan aku ke Inggris, aku tidak ingin Shaira dan Abang Hanz bersatu semudah itu, lagian aku lebih cantik dan seksi dibandingkan dengan kakak sepupuku itu,"
__ADS_1
"Mas Irwan apa tidak perlu kita mengijinkan Ariella ke luar negeri? Saya sungguh khawatir dengan pergaulan anak-anak remaja di sana mas," ucapnya Dina yang sebenernya tidak mengijinkan putri sulungnya itu ke luar negeri untuk melanjutkan pendidikannya.
Walaupun Irwansyah terbilang mampu membiayai ketiga anaknya hingga menempuh pendidikan di luar negeri, tapi ketakutan dan kekhwatiran Dina cukup beralasan sehingga menolak keinginan anaknya.
"Kamu tidak perlu berfikir macem-macem aku tidak ingin melihat anak-anakku kalah dengan sepupunya yang lain yang sudah berangkat terlebih dahulu ke UK London, apa bedanya dengan anakku mereka juga pintar dan aku punya uang jika dibandingkan dengan kakak iparmu yang hanya pensiunan karyawan biasa saja," sarkasnya Irwan yang masih menyimpan dendam terhadap Sam dan Dewi yang tidak lain adalah saudara iparnya sendiri.
"Tapi mas Ahksan juga sudah berangkat apa perlu Ariella dan Adsila juga ikut kakaknya? Kalau mereka pergi saya pasti akan kesepian disini mas," keluhnya Dina Kanaya Tabitha adik satu-satunya yang dimiliki oleh Dewi Kinanti Mirasih.
"Ma, kenapa sih Mama berfikiran kolot seperti itu! Ini sudah tahun 2023 ma wajarlah anak-anak semakin maju dan berkembang, apa Mama suka mendengar perkataan dari anggota keluarganya Mama yang di kampung halaman yang selalu membandingkan aku dengan anak-anaknya Tante Dewi, apa Mama sudi setiap hari dihina kalau papa itu tidak mampu menguliahkan kami hingga ke Inggris!" Tegasnya Ariella yang terus-menerus membujuk mamanya.
Dina terkejut mendengar perkataan dari mulut anaknya itu, dia tidak menduga jika dirinya akan dicap seorang ibu yang berfikiran ketinggalan jaman.
"Tapi nak Inggris itu jauh loh,apa kamu bisa hidup di negeri orang tanpa mama dan papa lagian apa sudah pasti kamu diterima kuliah disana, kalau menurut di Jakarta juga banyak kampus yang bagus tidak kalah baiknya dengan di Inggris," Dina belum mau menyerah untuk membujuk dan mencegah kepergian salah satu putri kembarnya itu.
Adsila sebenarnya lebih senang berkuliah di dalam negeri mengingat kekasihnya, sehingga ia pun menentang keputusan papanya itu secara sepihak.
"Pa, aku juga tidak ingin pergi ke Inggris kalau bisa kakak Ariella saja yang pergi kasihan mama kalau dia hanya sendiri disini," Adsila tidak mau kalah dengan kakaknya untuk menentang keputusan papanya itu.
"Papa sudah putuskan Ariella tetap berangkat minggu depan ke Inggris, Adsila kuliah dan sini saja, keputusanku sudah bulat tidak bisa diganggu gugat lagi, dan kamu Dina kamu memang bego selalu sabar dan tidak mau melawan jika ada yang menghina dan membandingkan-bandingkan anak-anak kita dengan anaknya Samuel yang tidak ada apa-apanya dimataku, entah kenapa aku bisa menikahi perempuan sedungu dan sekampung kamu!" Sarkas dokter Irwan yang tidak peduli dengan perasaan istrinya itu di depan kedua anaknya.
Dina terduduk di tempatnya semula sedangkan kedua anak kembarnya sudah pergi dari sana mengikuti langkah kakinya Irwansyah Khalid Prayoga.
"Astaughfirullahaladzim, sudah dua puluh tahun berlalu tapi mas masih saja menyukai Mbak Dewi dan dendamnya juga belum pupus, saya kira dengan menikahiku dan memberikan dia tiga anak sekaligus akan merubahnya pendirian dan tabiatnya mas Irawan tapi itu tidak berlaku dan sia-sia saja, ya Allah sejak hari itu aku tanpa sengaja mendengar percakapan Mbak Dewi dengan mas Sam disitulah aku mengetahui jika mas Irwan hanya menikahiku karena ingin balas dendam, tapi apakah dengan Ariela juga akan melakukan hal yang sama karena menyukai pria yang bernama Hanzal Abdul Djailani mencintai putrinya Mbak Dewi Aira," Dina menitikkan air matanya saking sedihnya dengan kehidupan rumah tangganya yang nampak dari luar sangat romantis tapi di dalamnya menyimpan sejuta luka yang tersembunyi rapat.
"Yes akhirnya aku bisa menyusul Abang Hanz, aku tidak akan biarkan mereka berdekatan dan bersatu bahkan aku akan melakukan segala cara untuk mendapatkan cintanya Abang Hans,"
__ADS_1