Satu Atap Dua Hati

Satu Atap Dua Hati
Bab. 109


__ADS_3

Keduanya pun masuk ke dalam kamar VVIP room pilihan Arion. Bu Siti dan mang Jono sangat prihatin dan ikuti sedih melihat kesedihan dan luka lara yang dialami oleh kedua pasangan suami istri majikannya.


"Astaughfirullahaladzim, ya Allah kenapa Engkau berikan cobaan yang begitu berat kepada mereka, saya sungguh miris dan kasihan melihat keduanya yang hanya gara-gara anak angkatnya sehingga membuat malu nama baik Tuan Syam dan juga nyonya Dewi, ya Allah semoga anak kandungnya segera ditemukan,amin ya rabbal alamin," Mang Jono cukup prihatin dengan kondisi rumah tangga majikannya itu.


"Ya Allah maafkan saya yah Allah semua ini salahku, gara-gara aku membantu Gina Anelka sehingga mereka mengalami musibah dan kemalangan seperti ini, semoga saja Gina segera balik dari Dubai ke tanah air Jakarta, agar semuanya terbuka terang hingga tidak ada lagi yang tersakiti hingga berduka dengan keegoisan Gina dan pria yang telah menghamilinya sehingga Gina harus membuat masalah yang tidak ada habisnya,"


Shanum masih terbaring lemah dan tidak berdaya setelah menjalani operasi dibagian kepalanya dan juga rahimnya.


Dewi duduk di samping ranjangnya Shanum, sesekali Dewi masih terisak dalam tangisannya dan menyeka air matanya itu.


"Ya Allah jaga dan lindungilah anakku Shanum, walau dia bukan putri kandungku tapi aku sungguh menyayanginya dengan setulus hatiku, saya sangat menyayangi keempat anak-anakku tanpa pernah membeda-bedakan keempatnya itu."


Dewi mengecup keningnya Shanum sedangkan Hanif Yahya dan Syam duduk di sofa yang sama, tapi berbeda bagian kanan Syam duduk sedangkan Hanif bagian kiri. Tidak ada yang berani dan mau membuka suara untuk memulai percakapan diantara keduanya.


Kedua pria dewasa yang sama-sama memiliki kharisma tersendiri diusianya mereka yang tidak mudah lagi. Mang Jono dan bibi Siti ikut duduk di sisi kursi lain. Mereka terkadang saling bertatapan satu sama lainnya melihat kebungkaman dan kediamannya itu.


"Sha maafkan mama yah nak, semua ini salahnya Mama yang sudah membuat kamu menjadi seperti ini, mungkin mama terlalu membebaskan kamu bergaul di luar sana dan juga terlalu memenuhi dan memanjakan kamu sehingga seperti ini tidak terkontrol oleh Mama apa yang kamu lakukan, ya Allah saya berharap semoga Shaira bisa menjaga dirinya dengan baik di negerinya orang. Cukup Sha putriku yang mengalami cobaan yang begitu hebatnya dan dahsyatnya," cicitnya Dewi.

__ADS_1


Dewi masih sesekali menyeka air matanya yang kedua pasang matanya sembab, mrmetsj memerah hingga hidungnya sudah seperti jambu air. Ia terkadang mengecup punggung tangannya Shanum yang masih betah dalam pingsannya.


Dewi juga menyeka bulir bulir keringatnya yang sudah bercucuran membasahi pipinya dan sekujur tubuhnya itu. Dewi memang sangat sedih, malu dengan perbuatannya Shanum dan juga kecewa pada dirinya sendiri yang menganggap alasan dan penyebab utamanya Shanum seperti ini adalah karena perbuatannya.


Air mata itu masih saja setia menemani Dewi yang terus membersihkan tubuhnya Shanum dengan tissue basah. Dewi tidak habis pikir dalam sehari, dua kejadian yang sangat penting dan membuatnya terluka dan kecewa dalam sekaligus.


Dia tidak menyangka jika Sahnum adalah putri kandung dari sahabat suaminya sendiri. Bahkan ia terkejut main jika Shanum adalah anak yang lahir dari hubungan gelap Hanif Yahya dengan asisten rumah tangganya yang bernama Gina Anelka Mulya.


"Aku tidak menyangka jika kamu adalah ayah biologisnya Shanun putriku, entah apa maksud dan rencana Allah SWT terhadap kehidupan kita semua,tapi satu hal yang perlu aku syukuri adalah kamu papanya bukan pria lain yang entah bagaimana sikapnya terhadap Sahnun kedepannya," ucapnya Sam.


"Saya juga seperti Abang yang tidak menyangka jika ternyata perempuan yang menyebabkan saya bercerai dengan istriku dan kehilangan juga putraku Hanz adalah ibu kandungnya Shanum yaitu Gina perempuan yang pernah bekerja sebagai pembantu di rumah kami," ungkapnya Hanif yang berusaha mengingat beberapa kejadian beberapa tahun yang lalu.


"Semua manusia punya masalah dan pernah melakukan kesalahan sekecil apapun atau sebesarpun itu sudah pasti terjadi pada setiap insan yang bernyawa, tapi sebagai mahluk yang berfikir sebaiknya jangan sekali-kali melakukan kesalahan yang sama berulang kali, itu sama saja dengan bunuh diri dan tidak tahu diri," ujarnya Syam.


Syamuel Abidzar Al-Ghifari terus mengarahkan tatapan pandangan matanya tertuju pada Dewi yang tak henti-hentinya menangis tersedu-sedu melihat kondisinya Shanum.


"Coba kamu lihat disana ada seorang perempuan yang sering disapa mama yang sudah mengetahui jika putri yang diberikan ASI setiap saat, yang ditimang dengan penuh kasih sayang, setiap malam membuatnya harus begadang tanpa mengeluh sedikitpun harus menitikkan air matanya saking sedihnya dan khawatirnya dengan keadaan putri dari wanita lain," terangnya Syam.

__ADS_1


"Aku sebenarnya tidak bermaksud sedikitpun untuk membuka semua fakta jika Shanum adalah Putriku, tapi karena ada seorang pria yang meragukan kebenaran itu akhirnya saya terpaksa mengungkap misteri kebenaran itu hingga tanpa sengaja kamu mendengarkannya bersama dengan Mbak Dewi," ucapnya Hanif dengan penuh sesal.


"Yang terjadi sudah terjadi tidak ada gunanya disesali untuk selamanya, nasi sudah menjad bubur kita hanya bisa menambahkan beberapa toping ayam suwir dan kerupuk serta bawang goreng mungkin," Syam serius berbicara tapi diakhiri dengan candaan.


Hanif tersenyum tipis sebelum menanggapi candaannya Syam," saya memohon maaf yang sebesar-besarnya kepada kalian berdua, sejujurnya saya tidak ingin memberitahu Sha bahwa saya adalah papanya karena beberapa minggu lalu Sha menolak aku mentah-mentah setelah aku mengungkapkan kebenarannya,"


"Sudah lah sobat sekarang semuanya tidak ada gunanya disesali hanya akan menambah luka lara," Syam menepuk pundak sahabat terbaiknya itu.


"aku sangat bersyukur karena anakku di besarkan dan didik dengan penuh kasih sayang oleh kalian berdua, bahkan jika aku yang diposisi kau, aku yakin tidak akan mampu untuk mendidik dan menyayangi Shanum sebaik kalian berdua, Shanum menjadi perempuan dengan pribadi yang baik, bersahaja selama beberapa bulan terakhir ini sejak aku mengetahui jika dia adalah putri kandungku," jelas Hanif Yahya yang terkekeh menertawai dirinya sendiri.


Percakapan keduanya pria dewasa itu didengar langsung oleh Shanum yang sebenarnya sudah tersadar dari pingsannya. Air matanya luruh seketika mendengar suara tangisannya Dewi perempuan yang sudah berbaik hati menjaga, merawat dan membesarkannya itu.


"Mama, maafkan saya," lirihnya Shanum yang masih memejamkan matanya itu.


"Aku memang papa biologisnya Shanun Inshira tapi bagiku kamu mas yang lebih berhak untuk menjadi papanya untuk selamanya hingga akhir hayatku pun Aku ingin kamu lah yang terus mendampingi Shanum dalam keadaan apapun karena bagiku hanya kamu yang pantas dan cocok disapa Papa oleh putriku,bukan saya," ujar Hanif Yahya dengan raut wajahnya yang sendu.


"Kita sama-sama menjaga dan melindungi Shanum karena yang lebih berhak adalah kamu bukan saya atau pria lain Du dunia ini." pungkas Samuel Abidzar Al-Ghifari.

__ADS_1


__ADS_2