Satu Atap Dua Hati

Satu Atap Dua Hati
Bab. 162. Otewe Season Dua


__ADS_3

Jakarta, Kamis tiga Agustus 2023, pukul 20.14 menit.


Seorang perempuan muda terduduk di balkon kamarnya sambil menatap indahnya bulan purnama malam itu. Ayunan dan lambaian hijabnya melambai-lambai terkena terpaan semilir angin malam jumat itu.


Ya Allah apakah pilihan aku untuk menikah dengan Pak Adelio sudah tepat, entah kenapa aku sangat takut jika Pak Adelio hanya mengikuti keyakinan kami karena bertujuan semata-mata untuk menikah denganku


Padahal jauh di lubuk hatiku terdalam, aku berharap pak Adelio berpindah keyakinan seperti kami ini tulus dari dalam hatinya. Bukan karena kehendak sesaat saja atau dorongan dari orang sehingga tidak ada ketulusan dan keyakinan di dalamnya.


Aku sangat takut ya Allah jika kelak pernikahan kami berjalan beberapa hari,tapi ditengah jalan Pak Adelio berubah dan kembali seperti semula.


Apalagi banyak diluar sana yang seperti itu, aku tidak mungkin membatalkan pernikahan kami ini. Aku batalkan pasti kedua orang tuaku sedih dan aku memperlakukan diriku sendiri dan juga kelurga besarku.


Hingga dering telepon dari hpnya membuyarkan lamunannya itu. Shaira segera meraih ponselnya yang tergeletak di atas kursi lipat yang didudukinya.


"Sebelum saya menjawab pertanyaan dari kakak ipar, sebaiknya kata sapaannya itu diganti kak jangan pakai pak seperti saya ini ketuaan saja," candanya Andrew.


Shaira tersenyum simpul mendengar perkataan dari Andre," baiklah ada apa dengan seserahannya?"


Andrew terhipnotis mendengar perkataan dari Shaira yang menjawab pertanyaan dari Andrew dengan penuh kelembutan dan tutur sapanya yang lemah lembut itu.


Masya Allah, sungguh aku mengangumi Shaira Innira Abidzar Al-Ghifari kamu bukan hanya cantik rupawan,tapi hatimu sungguh mulia dalam bertutur sapa membuatku terlena mendengarkan suaramu yang seperti mendayu-dayu di telingaku ini.


Sayangnya kamu besok pagi akan menjadi istri dari kakakku sendiri. Astaughfirullahaladzim kenapa aku berfikiran seperti ini. Ini tidak baik dan tidak boleh aku biarkan diriku sendiri terlena dengan dunia yang takutnya akan menghancurkan kehidupanku dan keluargaku.


Kenapa Andre terdiam, apa telponnya terputus?


Shaira mengarahkan layar ponselnya ke hadapannya dan memeriksa apakah hpnya kehabisan daya baterai atau karena telponnya terputus.


"Halo! Halo.. Andre apa kamu masih ada?" Tanyanya Shaira.


Andre segera tersadar dari lamunannya setelah mendengar perkataan dari Shaira yang sedikit meninggikan suaranya karena untuk menyadarkan Andre yang tiba-tiba terdiam.


"Hallo, saya masih hidup kok," ucapnya Andrew sambil terkekeh dibalik telpon.


"Alhamdulillah kalau kamu masih hidup, aku kira kamu ketiduran," candanya Shaira yang tersenyum sendiri menanggapi perkataannya itu.


Andaikan Andre melihat langsung senyumannya Syaira yang begitu cantik pasti hatinya Andre akan tersentuh.


Andrew pun terkekeh mendengar candaannya Shaira calon kakak iparnya yang lebih muda beberapa tahun darinya itu.

__ADS_1


"Ada apa dengan seserahan pernikahannya?" Tanyanya lagi Shaira.


Andre mengangumi perangai dan sifatnya Shaira, gadis muda yang bukan hanya cantik, tapi smart, baik hati, sholeha, sopan dan pintar. Bagi Andre kakaknya akan bahagia menikahi perempuan yang seperti tipe-tipe Shaira.


Aku juga berharap memiliki calon istri pendamping hidup seperti Shaira ya Allah.


"Ohh iya itu, aku menelpon kamu untuk mengkonfirmasi apakah seserahan pernikahan yang akan kami bawa besok sudah lengkap kah atau masih kurang,makanya aku menelpon kamu untuk menanyakan hal ini," jelas Andrew.


"Pak Andrew Parker Smith gimana caranya aku mengetahui masalah seserahannya bermasalah atau tidak jika, kamu tidak menjelaskan secara detail padaku," ucapnya Shaira yang tersenyum tipis menanggapi sikapnya Andre.


Dewi yang sejak tadi berada di dalam kamar putri bungsunya itu segera meninggalkan kamarnya Shaira, karena mendengar putrinya itu sedang bertelponan dengan seseorang.


Sudahlah, nanti aku datang lagi kalau dia sudah selesai menelpon. Mungkin aku ke kamarnya Shanum saja untuk melihat apa yang dilakukan putriku itu.


Dewi segera berjalan ke arah kamarnya putri sulungnya itu sekaligus putri angkatnya. Ia ingin mengecek satu persatu anak-anaknya yang besok akan menikah.


Pintu kamarnya Shanum terkunci rapat sehingga Dewi terpaksa harus nengetuk beberapa kali.


Tok… took..


Suara ketukan pintu terdengar jelas sehingga Shanum yang baru saja keluar dari dalam kamar mandi segera berjalan cepat ke arah pintu kamarnya.


Siapa yah ketuk pintu malam-malam begini?


Baru jam delapan lewat rupanya, aku kira sudah jam sepuluh malam.


Sahnun tersenyum menanggapi perkataannya sendiri.


"Tunggu!" Teriaknya Shanum yang berjalan terburu-buru ke arah depan.


Pintu bercat putih itu terbuka lebar, dan terlihatlah seorang perempuan paruh baya yang diusianya menginjak usia kepala lima, tapi masih kelihatan cantik dan awet muda diusianya itu. Bahkan banyak yang menganggap jika Dewi adalah kakak tertuanya Sahnun.


"Mama," beonya Shanum.


Dewi tersenyum teduh melihat putrinya itu," Mama bisa masuk nak?" Tanyanya Dewi yang bernada permintaan itu.


Shanum tersenyum sebelum menjawab pertanyaan dari mamanya itu, perempuan yang berjasa besar menjaga, mendidik, dan membesarkannya walau bukan dia yang melahirkannya ke dunia ini.


Shahnun segera merangkul pundak mamanya itu seperti seorang temannya saja.

__ADS_1


"Mama belum tidur?" Shahnum merangkul mamanya hingga ke arah dalam kamarnya itu.


"Belum ngantuk sayang, apalagi sekarang baru jam segini juga, Mama masih sibuk mengecek persiapan akad nikahmu Nak," jawabnya Dewi.


Keduanya kemudian duduk di atas salah satu sofa yang kebetulan ada di dalam kamarnya Shanum. Mereka duduk saling berdampingan tapi bertatapan langsung.


Dewi menatap intens ke dalam bola mata putrinya itu "Nak bagaimana dengan perasaan kamu, apa kamu bahagia akan menikah besok dengan Arion Sneider?" Tanyanya Dewi yang mulai membuka percakapan diantara kedua perempuan beda generasi itu.


Sahnun mengecup punggung tangan mamanya itu sebelum menjawab pertanyaan dari mamanya," insha Allah aku sangat tenang, bahagia dan tidak sabar menunggu hari esok ma, jujur saja aku sangat takute, grogi dat nerves ketika waktu terus berjalan," ujarnya Shanum yang tidak menyembunyikan perasaannya itu di depan Dewi.


Dewi tersenyum simpul menanggapi perkataannya Shanum sambil menarik tubuhnya Shanum kedalam pelukannya.


"Ucapkan bismillahirrahmanirrahim, perbanyak berdoa dan berserah diri kepada Allah SWT, karena mama yakin jika niat kamu baik dan tulus insha Allah semuanya akan dipermudah jalannya oleh Allah SWT, jangan sekali-kali kamu ragu dengan takdir baik Allah Nak," nasehatnya Dewi yang begitu bijak dan sangat dibutuhkan oleh Shanum.


Dewi memperbaiki anak rambutnya Shanum yang kebetulan terjatuh menutupi dahinya Shanum.


"Aku sebenarnya takut ma menghadapi sikap nenek dan mamanya mas Arion, mama kan tahu mereka sangat menentang keputusan dari mas Arion untuk menvasektomi dirinya demi saya, sedangkan Arion adalah anak tunggal pewaris kerajaan perusahaan bisnisnya Oesman Sapta Nirwandar Ma," ucapnya Sahnum dengan sendu.


Dewi masih tersenyum menanggapi perkataannya dari Shanum anak ketiganya itu," yakinlah pada hatimu apakah Arion sendiri mempermasalahkannya? Pasti jawabnya tidak kan, jadi kamu tidak boleh sekalipun menjadikan beban masalah yang sudah dipilih oleh Arion, kamu sepatutnya bersyukur dan selalu mendukung apapun yang Arion sudah pilih dalam kehidupan kalian berdua," nasehat Dewi panjang kali lebar itu.


Shanum menitikkan air mata bahagianya,dia sangat bersyukur dan beruntung dibesarkan dalam keluarga Dewi Kinanti Mirasih yang sangat menyayangi dan mendukungnya dalam segala keputusan yang diambilnya.


Shanun memeluk tubuh mamanya itu, "Makasih banyak Ma, Mama sudah membantu meringankan beban berat pikirannya Sha, insya Allah besok bisa lebih plong dan lebih percaya diri untuk menghadapi kehidupan baruku,"


Dewi tersenyum ikut meneteskan air matanya itu dalam dekapan hangat anaknya.


Makasih banyak ya Allah Engkau menghadirkan empat anak-anak dalam kehidupan kami, saya sangat gembira karena mereka sangat mengerti dengan keadaan kedua orang tuanya dan selalu membuat kami bangga, bahagia dan gembira dengan prestasi dan apa yang mereka perbuat.


Sedangkan di tempat lain, seorang pria terbangun dari tidurnya yang baru beberapa menit terlelap. Dia terbangun karena, bermimpi yang cukup aneh.


Suara nafasnya memburu seperti orang yang baru saja berlari maraton, peluh keringat bercucuran membasahi sekujur tubuhnya itu. Nafasnya tersengal-sengal dan terdengar begitu jelas.


Pria muda itu mengusap wajahnya dengan gusar, astaughfirullahaladzim kenapa aku mimpi seperti ini, siapa perempuan yang menggendong anak kecil di tepi jurang?


Sekelebat bayangan tentang mimpinya itu terlintas dalam benaknya itu. Ia mengerang keras saking tidak mengerti dengan arti dan maksud dari mimpinya itu.


"Aahh!!"


Makasih banyak yang sudah selalu setia menunggu update novel recehanku ini..

__ADS_1


Saya sangat senang dengan antusias kalian yang selalu on setia menunggu updatenya.


Maaf yah bonus bacanya dikit, yang tidak balas chat aku maaf batasan terakhirnya pagi ini jam sembilan pagi wita.


__ADS_2