Satu Atap Dua Hati

Satu Atap Dua Hati
Bab. 16


__ADS_3

Waktu terus berlalu, aktivitas mereka kembali berjalan normal seperti biasa. Dewi menjalani pekerjaannya seperti sebelum menikah, yaitu menjadi pegawai toko sembako.


Dian melihat Dewi yang sedang merapikan beberapa barang yang baru dikirim ke tokonya itu sore harinya.


"Dewi, kamu hari ini langsung pulang ke rumah atau mau kemana setelah ini?" Tanyanya Dian Mayang Sari yang ikut membantu menyelesaikan pekerjaannya Dewi.


Dewi melirik sepintas ke arah Dian sebelum melanjutkan pekerjaannya kembali.


"Rencananya sepulang dari sini, saya mau singgah lihat rumah yang dibelikan oleh Mas Syam untukku, kenapa emang bertanya seperti itu?" Tanyanya balik Dewi.


"Sebenarnya saya hanya ingin mengatakan kalau hari ini adalah pesta resepsi pernikahannya Mas Heri mantan kamu itu dengan perempuan katanya dari Ibu kota Jakarta," ucapnya Dian yang memperhatikan perubahan raut wajahnya Dewi.


"Alhamdulillah kalau Mas Heri sudah akan menikah,malah itu bagus banget untuk hubungan kami, aku hanya doakan semoga mereka bahagia, sakinah mawadah warahmah, pernikahannya awet dan langgeng, itu doaku untuk mereka berdua," ucapnya tulus Dewi.


"De, apa kamu nggak marah atau mungkin cemburu karena Pria yang sangat kamu cintai akan menikah dengan wanita lain?" Tanyanya Dian yang ingin mengorek informasi tentang perasaannya Dewi terhadap Heri Ismail Fatahillah.


Dewi terkekeh mendengar perkataan dari Dian sahabatnya itu," kenapa aku harus marah dan cemburu mendengar berita kebahagiaan Mas Heri? Aku tidak punya alasan sedikitpun untuk marah, lagian kami sama sekali tidak ada hubungan apapun,saya sudah menikah dan dia juga akan menikah, kisah diantara kami berdua sudah lama usai dan tidak akan akan pernah ada jilid kedua," tegasnya Dewi yang nafasnya ngos-ngosan karena bekerja sambil berbicara.


Dian bisa tersenyum lega dan senang mendengar perkataan yang sejujurnya dari Dewi.


"Syukur Alhamdulillah kalau seperti itu, aku sangat gembira mendengarnya, ngomong-ngomong kamu sudah berisi gak?" Tanyanya Dian seraya meraba perutnya Dewi yang datar itu.


Dewi tertawa terbahak-bahak mendengar perkataan dari mulut teman terbaiknya itu," ya Allah… gimana caranya aku bisa hamil kalau hubunganku dengan suamiku LDR-an, apalagi kami jarang ketemu, jadi untuk hamilnya masih belum," ujarnya Dewi dengan santainya tanpa terbebani dengan masalah anak.


"Iya juga yah, suami di Jakarta, istri di sini hahaha, sulit untuk hamil, tapi aku doakan semoga pernikahan kalian selalu langgeng, awet hingga kakek nenek, sakina, mawadah warahmah sampai maut memisahkan kalian berdua," dia dan harapan tulusnya Dian khusus untuk sahabatnya itu.

__ADS_1


"Kalau sudah ngomongnya aku mau ganti baju,mau pulang soalnya takutnya dokter Irwansyah menungguku terlalu lama," Dewi bergegas melakukan finishing terhadap pekerjaannya hari itu. Rencananya Irwan akan menjemputnya dan mengantarnya melihat-lihat rumah yang dibelikan oleh Syam khusus untuknya dan juga mencari perabot furniture maupun barang pecah belah rumah rumahnya nantinya.


Dian hanya tersenyum melepas kepergian temannya itu," kamu patut bahagia,kamu perempuan yang baik, sholehah dan cantik, semoga kalian selalu bahagia," tatapan matanya Dian tetap tertuju pada punggungnya Dewi yang sudah tidak nampak di pelupuk matanya itu.


Dewi bergegas meninggalkan tempat kerjanya setelah membaca pesan singkat yang dikirim oleh Irwansyah ke dalam nomor teleponnya itu. Dewi terkejut melihat ada sebuah mobil sedan putih sudah terparkir di depan pelataran parkiran tokonya. Dewi semakin terkejut ketika melihat siapa orang yang keluar dan muncul dari balik pintu mobil mewah tersebut.


"Abang Syam," cicit Dewi yang berjalan perlahan ke arah suaminya yang sudah berdiri bersandar di kap mobilnya itu.


Sesekali Dewi mengusap kedua bola matanya itu,seolah ingin menajamkan penglihatannya yang takutnya ia hanya salah lihat saja. Dewi tersenyum sumringah karena berulang kali melihat pria yang memakai pakaian santai itu wajahnya tidak berubah sedikitpun.


"Abang Syam kapan datangnya,kok nggak berikan kabar dulu kalau mau datang," cercanya Dewi yang memberondong banyak pertanyaan untuk suaminya itu.


Dewi meraih tangan kanannya Samuel untuk dia cium punggung tangan yang tiga bulan lebih ia tidak nantikan dan merindukan momen seperti ini. Setelah itu Syam sama sekali tidak menjawab pertanyaan dari istrinya itu hanya langsung masuk ke dalam mobilnya tanpa sepatah katapun. Dewi berdiri terdiam melongo tak percaya melihat pria yang sudah mulai ia rindukan kehadirannya itu berlalu dari hadapannya.


Dewi segera berjalan ke arah pintu belakang dan hendak membuka pintu mobilnya Syam.


"Saya bukan supir driver ojek online yang kamu pesan, jadi kamu duduk di depan di sampingku!" Ketusnya Syam yang membantu membukakan pintu mobil untuk Dewi.


Dewi segera menuruti perkataan dan perintah dari suaminya itu tanpa banyak protes lagi. Ia pun duduk di sebelah kirinya Syam. Dewi memasang seatbelt ke tubuhnya itu sebelum Syam berbicara untuk memerintahkan memakainya.


Syam melirik sekilas ke arah Dewi yang sudah duduk tenang kemudian mulai menyalakan mesin mobilnya itu. Syam mengemudikan mobilnya dengan kecepatan sedang saja. Ia fokus mengendarai mobilnya itu, sehingga tidak ada percakapan diantara mereka berdua.


"Hemm, Abang kok bukan dokter Irwansyah yang jemput? Katanya tadi dia akan datang menjemputku," imbuhnya Dewi.


Syam menatap intens ke arah Dewi," apa kamu berharap dia yang akan antar jemput kamu? Apa kamu sangat ingin bertemu dengannya!" Dengusnya Syam yang tidak menyukai jika Dewi menyebut namanya Irwansyah yang notabene adalah sahabatnya sendiri entah apa yang terjadi pada Syam,apa ada makhluk halus yang merasukinya.

__ADS_1


Dewi menggoyangkan telapak tangannya ke arahnya Syam," bukan begitu Abang,hanya sekedar bertanya saja kan dia yang mengirim pesan chat ke nomor hpku sebelumnya bukan Abang," sanggahnya Dewi.


Syam segera menepikan mobilnya ke badan jalan kemudian mematikan mesin mobilnya itu. Dewi celingak-celinguk memperhatikan keadaan sekitarnya.


"Apa kita sudah sampai?" Tanyanya Dewi yang melirik ke kanan kiri.


Di luar kendali dan tanpa sepengetahuan dan tidak ada aba-aba sebelumnya, Syam menarik tengkuk lehernya Dewi dengan cukup kasar. Entah kenapa Syam tidak menyukai jika Dewi terus menyebut namanya Irwansyah.


Syam meee luuuu maaatt bibirnya Dewi dengan paksa dan rakus. Ia tidak memberikan kesempatan sedikitpun kepada Dewi untuk mengambil nafas sebelum mereka ciuman. Dewi membelalakkan matanya saking terkejutnya menghadapi sikapnya Syam.


Samuel saking marahnya sampai mengigit kecil bibirnya Dewi. Karena ini merupakan pengalaman pertamanya Dewi, hingga membuatnya bernafas ngos-ngosan, pasokan udaranya yang masuk ke dalam rongga hidungnya semakin menipis. Dewi berusaha untuk melepaskan ciumannya itu, karena semakin kesulitan untuk bernafas.


Syam segera tersadar dari perbuatannya itu dan melepas bibir istrinya. Ia tidak mengerti kenapa sikapnya seperti itu. Dia tidak menduga jika kemarahan memicunya bertindak seperti itu. Dewi terdiam sesaat seraya menyentuh bibirnya yang agak bengkak dan memerah. Saking terkejutnya yang mendapatkan serangan tiba-tiba, Dewi tidak mampu merespon baik apa yang dilakukan oleh Syam diatas bibirnya itu.


Tubuhnya langsung kaku dan seperti mati rasa, matanya membelalak dan ia reflek memegang dengan kuat kedua lengannya Syam suaminya.


Wajahnya memerah merona saking malunya mendapatkan perlakuan istimewa tapi, cukup cepat dan tiba-tiba hingga ia tidak mampu menghayatinya dengan baik. Dewi berusaha mengatur nafasnya yang ngos-ngosan itu. Syam melihat ke arah Dewi dengan tatapan yang sulit diartikan itu. Syam menyentuh lembut bibir kenyal dan lembut miliknya Dewi Kinanti Mirasih.


"Maaf saya sudah berlaku kasar padamu, saya sama sekali tidak bermaksud menyakitimu," sesalnya Syam.


Dewi hanya mampu menggelengkan kepalanya tanda tidak mempermasalahkan apa yang sudah terjadi. Lidahnya keluh seketika saking tidak mampunya berkata-kata lagi.


Syam menyadarkan kepalanya ke headboard mobilnya itu dengan menghembuskan nafasnya dengan cukup kasar dan keras. Ia semakin sulit mengetahui kenapa tiba-tiba ia men ci uum istrinya yang sama sekali tidak dicintainya itu.


"Bibirnya kenyal dan lembut, aku yakin ini pengalaman pertamanya karena dari caranya membalas ciii uuu mannn ku yang sangat kaku bahkan malah ia hanya terdiam, bagus juga kalau ini pengalaman pertamanya berciuman berarti dia cukup tahu diri dan pintar menjaga dirinya selama aku pergi," Syam membatin.

__ADS_1


__ADS_2