
Ariella tersenyum puas melihat raut wajah kakaknya yang seperti sangat terpukul dan tidak yakin dengan apa yang dikatakan oleh adiknya sendiri barusan.
"Perlu Abang ketahui jika sejak dulu kita belum lahir Om Syam itu sudah membuat papa menderita dengan merebut Tante Dewi dari dalam pelukannya, hanya Tante Dewi Kinanti Mirasih yang dicintai papa dari dua puluh tahun yang lalu hingga hari ini, andaikan bisa aku ingin menjadi putrinya Tante Dewi saja dari pada menjadi anaknya Mama perempuan yang sama sekali tidak menarik perhatiannya papa Irwan," ungkap Ariela yang membuka rahasia besar rumah tangga kedua orang tuanya.
Ahsan terperangah dan terkejut bukan main mendengar perkataan dari Ariel salah satu adik kembarnya itu.
"Kamu jangan bicara ngelantur Ariela! Itu tidak mungkin terjadi Papa itu sangat mencintai mama setulus hati dan jiwanya papa, jadi apa yang kamu katakan tidak bisa aku terima dan percayai. Jadi berhenti mengarang dan membual cerita seperti ini yang tidak masuk akal!" Sarkasnya Ahksan.
"Hahaha terserah saja kau mau percaya atau tidak! Yang paling penting kamu perlu ketahui jika papa dan saya bersekongkol untuk menjatuhkan keluarga Om Syam dan anak-anaknya termasuk dengan merebut tunangannya Shaira yang selalu membuat orang-orang lebih perhatian pada kedua putri kembarnya paman Sam dari pada saya dan Adisti," ketusnya Ariella.
"Astauhfirullah aladzim, bagaimana mungkin Papa seperti itu!? Aku yakin kamu hanya berbohong saja kan?!" Teriak Ahsan sembari memegangi kedua tangannya adik keduanya itu.
"Haha! Terserahlah aku tidak perduli dengan kau mau percaya atau tidak yang jelasnya itu adalah fakta besar dalam keluarga kita yang perlu kamu ketahui!" Cibirnya Ariella kemudian meninggalkan Ahksan yang terdiam dengan mengepalkan kedua kepalan tangannya itu.
Shaira berusaha sekuat tenaga untuk menahan laju air matanya. Tetapi, semakin berusaha ia menahannya air matanya itu semakin kuat pula air matanya itu menetes membasahi pipinya.
"Ya Allah kenapa jadinya seperti ini, kenapa harus aku yang mengalami hal semacam ini!?" Teriaknya Shaira di tengah jalan yang sepi di pagi hari.
Shaira menjerit seolah ingin melepaskan amarahnya itu hingga semua penderitaan karena cinta yang dialaminya itu.
"Astaughfirullahaladzim Abang Hans kamu tega banget memperlakukan aku seperti ini! Sakitnya tidak mampu aku tahan ketika dengan kedua mataku melihat pria yang aku sayangi dan cintai sejak kami masih sekolah dulu berpakaian acak-acakan dan berantakan bersama dengan perempuan lain di dalam rumah itu, aku tidak mengerti kenapa Abang Hans tega sekali berbuat seperti itu dibelakangku!?"
"Shaira kamu lucu yah, mana berani Ariella adik sepupu munafik mu itu dengan pria bajingan berbuat tak senonoh di depan matamu! Itu bukan lagi selingkuh namanya tapi menusuk kamu hingga kamu kesulitan untuk bernafas!"
Shaira seolah melihat bayangannya sendiri menertawai dirinya sendiri dan berdiri mengelilingi dirinya itu dengan tertawa jahat kepadanya.
Tubuhnya Shaira terduduk di atas aspal pagi itu. Ia menutup kedua pasang telinganya saking tidak mampunya mendengar suara-suara yang sangat tidak ingin didengarkannya dari bayangan perempuan yang mirip dengannya.
"Aku tidak akan biarkan hatiku terus tersakiti seperti ini! Cukup hari ini saja aku melihat mereka di depan mataku! Tidak ada kesempatan kedua kali untuk pria dan gadis seperti Hansal Abdul Djailani dan juga Ariela Ziudith Irwansyah bagiku mereka adalah pasangan yang sangat serasi dan cocok!"
Vela berusaha mengejar kemana perginya Shaira, tapi di depan jalan persimpangan tiga ia kehilangan jejaknya. Vela Angelina mengedarkan pandangannya ke sekeliling tempat tersebut untuk mencari keberadaan Shaira.
"Tadi sepertinya aku mendengar orang yang berteriak lantang, apakah itu Shaira?" Terkanya Vela Angelina.
Vela terus melangkahkan kakinya dengan cepat, tapi sudah terlambat karena ketika ia hampir sampai di halte bus. Ia melihat sebuah bis melaju meninggalkan halte tersebut.
__ADS_1
Vela berusaha untuk mengejar bus itu, tapi upayanya sia-sia belaka saja. Ia tetap tidak mampu mengejarnya.
"Hey! Tunggu, hentikan bisnya, saya juga mau ikut!" Jeritnya Vela yang sama sekali tidak didengarkan oleh sang supir bus.
Nafasnya ngos-ngosan, keringat bercucuran membasahi sekujur tubuhnya dari wajah hingga ke kakinya pun berkeringat dipagi itu.
Shaira sudah berada di dalam bis yang akan mengantarnya balik ke London. Niatnya esok sore baru balik, tapi apa mau dikata nasi sudah menjadi bubur. Sang kekasih tertangkap tangan dan tertangkap basah sedang berduaan di dalam rumah dalam keadaan ambigu dan tidak memakai sehelai benang pun untuk menutupi dada bidangnya.
Shaira duduk di kursi paling belakang bis. Ia tidak ingin orang-orang memperhatikan gerak geriknya. Untungnya Shaira memakai masker untuk menutupi wajahnya, sehingga orang-orang tidak mengetahui penderitaan karena tak henti-hentinya menangis.
Shaira tanpa memakai masker pun tidak masalah karena ini UK Inggris Birmingham City bukan Jakarta atau daerah yang ada di Indonesia. Dimaba masyarakat dan orang-orangnya terlalu kepo dan peduli dengan penderitaan termasuk masalah orang lain.
Hans segera menyusul kedua perempuan itu, ia sangat khawatir dengan keadaannya Shaira dan juga Vela tentunya gadis yang dipujanya dan dicintainya itu.
Vela mondar-mandir ke sana kemari untuk menghubungi nomor ponselnya Shaira. Tetapi sang pemilik nomor hp sama sekali tidak menggubris telponnya Vela. Shaira hanya mengirim pesan chat singkat ke nomor hpnya Vela dan Akhsan secara bersamaan.
"Kalian tidak perlu mencemaskan keadaanku, saya baik-baik saja,"
Setelah itu Shaira langsung menghapus semua foto-foto kenangan tentang kebersamaannya bersama dengan Hansal Abdul Djailani. Pemuda yang sudah menyita waktunya untuk mencintainya, tapi pria yang tidak mampu untuk menahan godaan dari wanita lain.
Ahsan berlari mengejar Vela, nafasnya masih ngos-ngosan dadanya berdetak kencang karena berlari cukup kencang.
Vela menolehkan kepalanya ke arah kedatangan Ahksan, ia juga sama takut, khawatir dan cemasnya dengan kondisinya Shaira yang baru saja mengirimkan chat untuk menenangkan temannya.
"Shaira sudah pergi barusan, tapi aku takut Ahsan jika Shaira berbuat nekat seperti kebanyakan gadis dan orang diluar sana yang patah hati dan memilih untuk mengakhiri hidupnya sendiri dalam keputusan asaan," tuturnya Vela yang sangat tidak ingin membayangkan hal itu.
"Stop! Jangan bicara ngelantur seperti itu, aku yakin dia itu perempuan kuat dan tegar pasti tidak akan bertindak gegabah dan tolol seperti apa yang kamu pikirkan itu," sanggahnya Ahsan Khaidir.
"Kamu mungkin belum pernah merasakan namanya patah hati sehingga tanggapan kau seperti itu, apa kamu tidak pernah baca berita dan nonton TV jika semakin hari banyak korban bunuh diri gara-gara putus cinta dan disakiti oleh kekasih mereka sendiri," tampiknya Vela.
Ahsan terduduk di kursi halte bis," semoga saja itu tidak terjadi karena aku sangat hafal dan mengetahui gimana karakternya Shaira digadis tomboi yang memakai hijab dalam kesehariannya," ujarnya Ahsan.
Vela pun ikut duduk sambil menunggu kedatangan bis selanjutnya. Keduanya tidak ada lagi yang berkomentar sedikitpun karena sibuk dengan pikirannya masing-masing.
Sedangkan di dalam rumahnya Hanzal, Ariella terduduk di atas lantai keramik dan segera memulai aktingnya.
__ADS_1
"Hiks… hikss kenapa nasib malang ini terjadi padaku, apa salahku kenapa aku diperlakukan kasar oleh kakakku sendiri, apa aku tidak pantas untuk dicintai oleh Abang Hanz!" Ratapnya Ariella Ziudith dengan linangan air mata palsunya itu.
Hanz segera berusaha untuk berdiri dari posisi duduknya itu dan segera meninggalkan rumahnya sembari meraih satu baju kaos oblongnya. Ia sama sekali tidak menggubris ataupun peduli dengan rengekan dan ratapannya Ariela kekasih selingkuhannya itu.
Ariela melirik sekilas ke arah Hanz yang tiba-tiba berdiri tanpa suara dan langsung saja masuk ke dalam kamarnya tanpa peduli dengan apa saja yang diperbuat oleh Ariela.
Hans setelah berpakaian ia segera cabut dan meninggalkan rumahnya karena ia ingin berusaha untuk mengejar Shaira. Hans sama sekali tidak peduli dengan Ariela yang terduduk dengan tampang memelasnya itu. Seolah disini dialah yang tersakiti. Hanya bekas tamparan dikedua sisi pipinya itu yang memperlihatkan lebih jelas jika dia dalam keadaan yang tidak baik-baik saja.
"Aku yakin Aira belum jauh dari sini dan masih menunggu ku," gumamnya Hans yang bergegas untuk mencari Shaira.
Ariella yang tidak berhasil menarik perhatiannya Hans sangat marah dan kesal hingga dia memukul lantai keramik rumahnya Hans.
"Sial!! Kenapa Abang Hans masih saja peduli dengan perempuan udik itu!" Umpatnya Ariela yang melihat kepergian Hans dari hadapannya tanpa menghiraukan dirinya yang berpura-pura kesakitan.
Hans meraih kunci mobilnya untuk berusaha mengejar Shaira kekasihnya itu walau itu mustahil terjadi.
"Saya tidak ingin Shaira menderita dan sedih gara-gara perbuatanku, aku harus menjelaskan semuanya di depan Shaira jika semua ini terjadi karena perempuan luknut itu yang terus menggodaku hingga aku pun terjatuh kedalam jebakannya," amarahnya Hans semakin menggebu-gebu ketika melihat Ariela yang berusaha untuk mencegah kepergiannya.
Ariella berdiri dari duduknya dan berusaha untuk mengejar sekaligus untuk mencegah Hans pergi.
Hans menghentikan langkahnya itu dan menatap penuh amarah Ariela perempuan yang sudah hampir tiga bulan ini menghangatkan ranjangnya.
"Ini semua gara-gara kamu yang sudah menggodaku dan memanjat ranjang ku. Andaikan bukan kamu yang terlebih dahulu berinisiatif untuk menggodaku pasti semua ini tidak terjadi! walaupun saya tidak bersatu dengan Shaira tapi aku pastikan aku tidak akan sudi menikahi gadis licik sepertimu!" geram Ahsan.
Ariella tidak percaya setelah mendengar perkataan dari pria yang sejak masih duduk di bangku sekolah dasar itu.
"Kenapa!! apa bedanya aku dengan Shaira Innira Samuel Abidzar!? aku lebih seksi dari pada dia dan lebih mampu membahagiakan kamu, tapi kenapa kamu lebih memilih dia daripada aku!!" jeritnya Ariella.
Hans tidak ingin mendengar lagi semua perkataannya Ariela.
"Abang Stop! Jangan tinggalkan aku! Please aku…" ucapannya terpotong karena tubuhnya tiba-tiba ambruk ke atas lantai.
Brug!!
Badebug…
__ADS_1
Hans segera menoleh ketika mendengar suara benda jatuh ke atas lantai.
"Ariela!" Jeritnya Hans yang melempar kunci mobilnya ke sembarang arah ketika melihat tubuhnya Ariel sudah tak sadarkan diri lagi.