Satu Atap Dua Hati

Satu Atap Dua Hati
Bab. 42


__ADS_3

Kabar insiden penembakan di dalam gudang salah satu swalayan sembako di daerah kabupaten S, segera tersiar ke seantero wilayah setempat.


Sayangnya Samuel Abidzar Al-Ghifari tidak mengetahui kejadian itu, karena sudah dua hari sibuk dengan pekerjaannya hingga memegang hp pun sangat jarang selama ia menjabat dengan jabatan baru yang lebih tinggi dari sebelumnya.


Semua orang yang mengenal Herman sangat menyayangkan kejadian tersebut. Semua anggota keluarganya Herman terkejut mendengar berita informasi penembakan tersebut. ibunya Herman Bu Linda jatuh pingsan tak sadarkan diri ketika memeriksa beberapa persiapan pernikahan anak gadisnya dua hari lagi itu.


"Tidak mungkin putra kebanggaan ku melakukan kejahatan ini, ini pasti salah paham saja," keluhnya Pak Faizal bapaknya Herman Khalid Faizal.


"Iya benar sekali Bapak, jika Mas Herman pasti bukan pelaku yang menyebabkan kak Dewi menderita hampir gila," pungkasnya Hermita adik keduanya Herman.


"Bapak akan ke kantor polisi untuk mengecek apa sebenarnya yang terjadi,"


Sedangkan Herlina wajahnya sudah bercucuran peluh keringat membasahi pipinya itu saking takut dan paniknya mengetahui jika semua ini karena dirinya dan dia juga takut jika Heri Ismail Fatahillah calon suaminya memutuskan dan membatalkan pernikahannya karena kejadian dan masalah besar ini yang dialami oleh kakaknya.


Dua orang dalam kejadian itu yang dilarikan segera ke rumah sakit. Tapi, memiliki tujuan yang berbeda.


"Mbak Dewi sadarlah, jangan buat kami semua khawatir," ucapnya Dian Mayang Sari sambil mengelus-elus punggung tangannya Dewi agar segera tersadar dari pingsannya.


"Tolong Pak cepat setir mobilnya," pintanya Hayati salah satu teman kerjanya Dewi yang ikut kedalam mobil bersama Dian menuju ke rumah sakit.


"Baik Mbak," balas pria yang menjadi supir mobil tersebut.


Sedangkan di depan lobi rumah sakit seorang dokter tampan dengan kacamata kerjanya yang bertengger di atas hidung mancungnya itu berjalan mondar-mandir dengan raut wajahnya yang gelisah.


Kenapa mereka belum sampai juga padahal pelakunya sudah ditangani di dalam ruangan UGD, sedangkan Dewi belum sampai juga, kenapa juga mereka masih berada di jalan.


Dia adalah dokter Irwansyah Khalid pria yang menaruh hati pada Dewi Kinanti Mirasih perempuan bersuami.


Irwan segera menghubungi nomor hpnya Dewi,tapi sebelum ia menekan tombol panggil. Sebuah mobil sedan berwarna hitam terparkir di depannya. Barulah dia bisa bernafas lega karena orang yang sejak tadi di tunggunya dan dikhawatirkan sudah sampai di RS.

__ADS_1


"Perawat! Tolong cepat bawa ke sini bangkaknya!" Teriaknya Irwan yang sudah membuka pintu mobilnya itu.


Dian dan Hayati saling bertatapan melihat sikap pria yang berpakaian seragam dokter itu yang langsung menggendong tubuhnya Dewi ke atas bangkar.


Pria ini siapa, kenapa aku perhatikan seperti sangat peduli dengan nasibnya Mbak Dewi yah, apa keluarga dari suaminya Mbak Dewi.


Dian pun mengamati dengan seksama apa yang diperbuat oleh Irwansyah.


Dokter ini cukup ganteng juga, tapi kok saya perhatikan dari mimik wajahnya seperti sangat mencemaskan keadaannya Dewi, apa hubungannya dengan Dewi. Ahh nanti Dewi sadar barulah aku interogasi siapa pria yang berprofesi dokter itu.


"Mbak Dian kenapa yah sampai sekarang aku masih seolah ragu jika bukan Herman teman kerja kita pelakunya, aku masih mengira itu orang lain yang wajahnya mirip dengan Herman," ujarnya Hayati yang masih bingung juga heran dengan Herman yang ternyata pelaku dari percobaan penganiyaan yang dialami Dewi sekitar kurang lebih enam bulan lalu.


Keduanya berjalan tergesa-gesa mengikuti bangkar yang diatasnya Dewi masih belum siuman seperti seseorang yang tertidur pulas saja.


"Itulah manusia, terkadang kita tidak menyangka orang yang selama ini kesehariannya baik, sholeh, jujur tapi karena suatu keadaan dan masalah yang memaksa mereka melakukan segala sesuatu yang diluar nalar dan hati nuraninya, seperti Herman karena kebahagiaan adik semata wayangnya yaitu Herlina hingga apa yang diperbuatnya sudah jelas-jelas bertentangan dengan hati nuraninya terpaksa dia melakukan hal tersebut padahal sudah jelas banget jika perbuatannya itu tercela dan tidak benar," jawabnya Dian dengan panjang lebar.


Hayati seperti seseorang yang nampak berfikir memikirkan segala kemunginan konsekuensi dari perkataannya Dian yang benar adanya.


Hayati terkekeh mendengar perkataan dari mulut sahabatnya itu," iya juga hanya saja aku terkadang keheranan dengan kehidupan orang lain yang membitku geleng-geleng kepala," tukasnya Hayati lagi.


Irwan terus menatap intens wajahnya Dewi tanpa sekalipun berpindah. Ia menggenggam erat kepalan tangannya Dewi.


Ya Allah… kenapa aku terlambat hadir dalam kehidupannya sedangkan Syam harus menjadi suaminya andaikan aku bisa aku akan nekat untuk membawa kabur perempuan yang begitu baik, sholeha yang ada di depanku ini ke luar negeri sehingga Syamuel Abidzar Al-Ghifari tidak menemukan keberadaan kami berdua.


Berselang beberapa menit kemudian mereka sudah sampai di dalam ruangan ICU rumah sakit daerah setempat.


"Dokter sepertinya pasien harus segera dibantu dengan infus karena kondisinya sangat lemah," ucapnya seorang dokter perempuan yang juga turut menangani kesehatannya Dewi.


"Kalian lakukan yang terbaik untuk dia, apapun itu agar dia selamat," pintanya Syam sambil terus memeriksa dan mengecek semua kemungkinan besarnya yang menyebabkan Dewi tidak sadarkan diri.

__ADS_1


"Dokter Irwansyah pasien tidak apa-apa kemungkinan besarnya karena pasien sedang hamil makanya dia pingsan, setelah saya memeriksa seluruhnya itu yang dialami oleh pasien," ujarnya dokter perempuan itu setelah beberapa saat memeriksa dengan detail kondisinya Dewi.


Irwansyah seketika itu spontan terdiam mematung di tempatnya semula,ia tidak menduga jika Dewi hamil anak dari suami sekaligus sahabatnya sendiri.


"Hamil!" Beonya Irwan.


Dian dan Hayati yang berdiri tidak terlalu jauh dari tempatnya Dewi mendengar berita gembira itu sangat bahagia mendengarnya. Reflek Dian Mayang Sari berjalan ke arah dokter muda itu.


"Alhamdulillah, apa benar teman kami ini sedang hamil Ibu dokter?" Tanyanya Dian yang ingin memastikan bahwa apa yang didengarnya benar adanya.


Dokter perempuan yang sering disapa Dokter Farah itu tersenyum simpul sebelum menjawab pertanyaan dari Dian.


"Iya benar sekali Bu, Alhamdulillah temannya ibu positif hamil sesuai hasil pemeriksaannya, usia kandungan dari pasien adalah jalan dua bulan tapi untuk lebih jelasnya setelah pasien sadarkan diri, bisa melakukan tes dilab seperti USG juga," ungkap dokter Farah.


Dian mengusap wajahnya saking gembiranya mendengar akhirnya temannya hamil juga.


"Syukur Alhamdulillah, ini kabar berita yang sungguh mengharukan dan menggembirakan ini, suaminya Dewi pasti juga senang jija mengetahui istrinya hamil," ucapnya Dian dengan antusias.


"Makasih banyak Dok atas bantuannya, kira-kira kapan teman kami dipindahkan ke kamar perawatan?" Tanya Hayati.


"Bisa sekarang juga ibu, asalkan administrasinya telah diselesaikan terlebih dahulu," imbuhnya dokter Farah.


Irwansyah masih berdiri mematung di tempatnya sampai-sampai dokter Farah yang menyapanya sebelum meninggalkan tempat itu hanya menautkan kedua alisnya melihat reaksinya Dokter muda yang banyak digandrungi dan diidolakan oleh dokter wanita dan perawat di rumah sakit tersebut.


Ini tidak mungkin, kalau Dewi hamil semakin kecil kemungkinannya saya untuk bersamanya. Apa yang harus aku lakukan kalau seperti ini, tidak mungkin aku menganjurkan kepada Dewi untuk menggugurkan calon bayinya Syam, pasti Dewi akan marah padaku bahkan kemungkinan terbesarnya saya akan dibencinya untuk selamanya.


Ini tidak boleh terjadi, aku akan mencari cara yang terbaik agar anak ini tidak menjadi penghalang aku merebut Dewi dari dalam pelukannya Syam. Aku tidak boleh cepat mengalah dengan keadaan.


Bukan Irwansyah Aslam Khalid namaku jika aku cepat mengalah dengan kejadian ini, aku yakin aku bisa mendapatkan Dewi cepat atau lambat. Dewi pasti akan jadi istriku apapun yang terjadi kedepannya aku tidak peduli.

__ADS_1


Dian segera menghubungi nomor hpnya Sam agar ia mengetahui semua cobaan yang dialami oleh Dewi di sini. Dian sama sekali tidak mengetahui jika Syam memiliki istri lain di Jakarta. Untungnya Dian menelpon ketika berada di kantornya jadi aman dari ketahuan oleh Nadia Yulianti.


__ADS_2