
Seseorang dari balik tembok besar tersebut mendengarkannya perkataannya dari ketiga orang itu dari sejak Syam berbicara. Orang itu semakin menajamkan pendengarannya hingga tak ada satupun perkataan dari mereka bertiga terlewatkan.
Kehidupan keluarga kecilnya Dewi bersama Syam berjalan lancar dengan keceriaan dari keempat anak kembarnya.
Syam pun sudah menghadiri persidangan perceraiannya dengan mantan istrinya Nadia Yulianti. Mereka kembali ke kehidupan yang tenang tanpa ada gangguan yang berarti.
Syam dan Dewi bahu membahu membesarkan keempat anaknya itu sesuai dengan tuntunan Rasulullah SAW dan sesuai dengan jamannya.
Ya Allah semoga saya bisa membesarkan keempat buah hatiku tanpa membeda-bedakan diantara mereka berempat.
Semoga kelak mereka menjadi anak yang sholeha dan sholeh. Saya meminta kepadaMu ya Allah jaga dan lindungilah kami dari segala mara bahaya.
Lindungilah anak-anak dan suamiku dimana pun kami berada. Perkuat dan pertahankan iman kami ya Allah.
Pernikahan Irwansyah dari luar nampak mesra dan hangat tapi di dalamnya hanya mereka yang mengetahui apa sebenarnya yang terjadi setiap harinya.
Dina pun sudah memiliki dua anak,anak pertamanya mereka dikaruniai anak perempuan dan anak keduanya kebetulan kembar perempuan dua orang.
Dina sangat bahagia dengan kehadiran buah cinta mereka, tapi hingga detik ini dokter Irwan masih acuh tak acuh padanya. Irwansyah akan mencurahkan perhatian penuh jika ada orang lain yang berada di dekatnya. Jika tidak ada akan kembali ke mode dinginnya dan terkesan tidak peduli dengan Dina Kanaya Tabitha.
Dina hanya berusaha dan berharap jika pernikahannya suatu saat nanti akan berubah menjadi lebih baik lagi sakinah mawadah warahmah yang selalu diberkahi oleh Allah SWT.
Ketiga anaknya diberikan nama yaitu Akhsan putra tunggalnya,kedua anak kembarnya bernama Ariella dan Adsila.
Enam tahun kemudian…
Seorang Ibu muda yang sedang sibuk-sibuknya memasak makanan untuk sarapan keempat anak-anaknya dan suaminya itu dikejutkan dengan teriakan dari asisten rumah tangganya yang merangkap sebagai baby sitter sekaligus.
__ADS_1
"Tuan Muda Aby, Non Shanum stop dong berlarinya!" Teriaknya Bi Minah yang sedang kewalahan menghadapi kedua anak kembar itu.
Dewi yang mendengar teriakannya Bu Mina hanya tersenyum menanggapi sikap mereka yang memang sudah seperti itu setiap harinya.
"Hahaha mereka memang usil yah Nyonya, mereka kalau dengan bi Minah seperti itu tingkahnya kalau sama Bu Siti mereka nurut, apa yang terjadi?" Cercanya Bi Jubaedah yang terkadang keheranan melihat tingkah ke empat anak kembarnya Dewi.
"Iya Bu Dewi, kalau diperhatikan memang seperti itu kenyataannya kok, tapi ngomong-ngomong aku perhatikan den Abyasa dengan Non Shanum lengket amat yah padahal dengan adiknya yang lain tidak terlalu seperti itu Bu Dewi," imbuhnya Bu Juba yang ikut membantu Dewi memotong beberapa bahan makanan tersebut yang akan diolah oleh Dewi.
Dewi melirik sekilas ke arah Bu Juba," Maksudnya Bi gimana?" Tanyanya Dewi seraya mengerutkan keningnya yang keheranan dengan perkataannya Bi Jubaedah.
"Maksudnya aku gini Bu Dewi, aku sempat melihat Den Aby memeluk tubuh kecilnya Non Shanum…"
Ucapannya Bibi Juba terhenti karena segera disela oleh Bu Siti.
Bu Siti menatap ke arah Bu Juba sekilas, "Bukannya itu hal wajar adik kakak saling berpelukan satu sama lainnya," cerca Bi Siti yang tangannya tetap mengulek nasi goreng seafood yang sudah berada di dalam wajan penggorengan.
Dewi terkekeh melihat sikapnya Bu Juba yang seperti anak-anak saja yang merajuk.
"Iya Bi silahkan lanjutkan perkataannya kami akan menjadi pendengar setia," ucapnya Dewi yang sedang mencicipi rasa nasi goreng buatannya pagi itu.
"Gini Nyonya waktu itu Den Aby memeluk Non Sha terus lama-lama den Aby ngomong gini, aku akan menjaga Dede Sha dan akan menyayangi dede Sha tidak cepelti Dede Shaira kamu akan menjadi ratunya Abang untuk selamanya, kemudian den Abyasa mencium keningnya Non muda Shanum Nyonya," ungkap Bi Jubaedah Laila Sari yang berusaha mengingat kejadian sekitar seminggu lalu.
Dewi dan bi Siti yang mendengar perkataan dan penjelasannya Bu Juba malahan tertawa terbahak-bahak mendengarnya. Mereka tertawa karena bukannya tidak menganggap perkataan itu serius,hanya saja anak usia enam tahun itu tahu apa.
Perkataan seperti itu sering terlontar dengan sendirinya tanpa anak-anak pikiran apa maksud dari perkataannya tersebut.
Bu Juba menautkan kedua alisnya melihat reaksinya kedua perempuan itu," kenapa kalian menertawai perkataan ku bukannya itu hal yang cukup aneh anak seusianya mereka berbicara seperti itu padahal mereka ini saudara sedarah sedangkan dengan Non Shaira sama Aden Aidan mereka sangat akrab tapi tidak pernah berperilaku seperti itu sih," keluhnya Bi Juba.
__ADS_1
Bi Siti terdiam mendengarkan dengan seksama perkataannya Bi Juba," ya Allah kalau seperti ini kedepannya apakah akan ada cinta dibalik ikatan saudara kandung, tapi aku masih bertanya-tanya hingga detik ini, Gina waktu itu memberikan bayinya sendiri padaku kala itu atau kah bukan? Aku tidak pernah bertanya kepada Gina apa benar bayi yang diadopsi oleh Bu Nadia Yualianti waktu itu anak kandungnya Gina atau hanya anak pungut atau bahkan anak hasil curian saja,"
Bu Siti terdiam memikirkan banyak kemungkinan besar yang bisa terjadi.
"Aah itu tidak mungkin terjadi kesalahpahaman, aku yakin Shanum anak kandungnya Bu Dewi bukan Shaira yang bayinya Gina. Tapi sebenarnya kunci jawabannya ada sama Gina tapi sayangnya dia menghilang bak ditelan bumi saja. Tapi suatu saat nanti pasti akan kembali mencari anaknya sesuai dengan janjinya dulu akan balik setelah berhasil dan sukses menjadi orang kaya, kasihan juga sama adik sepupuku itu dihamili oleh majikannya tapi, majikannya tidak mau bertanggung jawab karena alasannya sudah punya istri,"
Berselang beberapa menit kemudian,ke empat anak tersebut sudah duduk di atas kursi masing-masing seperti biasanya. Papanya Syan pun sudah duduk di kursi paling atas sebagai kepala keluarga.
"Dewi, sayang hari ini katanya teman kerja di kantor ada yang pindah ke komplek kita loh, kemungkinannya istrinya akan ke sini meminta bantuan kamu, jadi kamu temani dan bantu dia yah nanti," pintanya Syam sambil meraih piring yang sudah terisi dengan beberapa macam jenis makanan.
Dewi yang sedang mengisi makanan untuk anaknya Aidan segera menghentikan kegiatannya itu sembari menatap suaminya itu.
"Insya Allah Abang, selama saya bisa bantuin mereka kenapa tidak, memangnya temannya itu baru pindah ke Jakarta atau hanya pindah komplek perumahan saja?" Tanyanya balik Dewi.
"Dia asli dari Makassar, tapi dipindahkan oleh perusahaan ke sini makanya sempat beberapa hari yang lalu bertanya kepadaku mengenai rumah yang bagus,aman dan harganya terjangkau jadi aku tawarin beli rumah sekitar sini dan Alhamdulillah mereka dapat rumah tiga rumah dari sini loh kita sejajar," jelas Sam yang antusias memiliki tetangga teman kerjanya sendiri.
"Ohh dari Makassar, insha Allah Abang kalau bisa suruh mereka jalan-jalan ke sini saja, supaya kami saling kenal, tapi apa mereka sudah punya anak?" Tanyanya balik Dewi sambil duduk di atas kursinya itu.
Syamuel kembali menghentikan suapannya itu," kalau enggak salah ingat mereka punya satu anak saja yaitu anak laki-laki seumuran dengan anak kita," jawabnya Sam.
"Satu saja, pasti akan sepi kalau anaknya sudah besar nanti," ucapnya Dewi.
"Mereka sebenarnya masih ingin menambah momongan, hanya saja kandungan istrinya yang bernama Citra itu lemah sayang sudah dua kali keguguran, jadi suaminya teman aku itu Fadli menyarankan kepada istrinya untuk tidak program hamil lagi katanya kasihan lihat Istrinya kalau terus-terusan kesakitan seperti itu," ungkapnya Sam.
"Innalilahi wa innailaihi rojiun, kasihan juga sama Mbak Citra yang paling penting mereka sudah punya anak walau hanya satu, semoga saja mereka bisa berteman dengan anaknya temannya Abang, namanya siapa sih Bang?" Tanyanya Dewi yang perbincangan mereka sudah melebar kesana kemari.
"Namanya Hanzal Abdul Jailani," ucapnya Syam.
__ADS_1
"Namanya bagus semoga saja karakter dan peringainya sama seperti namanya, amin ya rabbal alamin." Imbuhnya Dewi.