Satu Atap Dua Hati

Satu Atap Dua Hati
Bab. 12


__ADS_3

Dewi menatap ke palpon langit-langit kamar perawatannya itu dengan tatapan matanya yang sulit diartikan.


"Siapa sebenarnya pria yang sengaja ingin melukaiku dan menghancurkan hidupku, karena aku yakin orang itu mengenaliku karena tahu jam kepulanganku yang pertama, kedua kenapa meski memakai penutup wajahnya kalau memang hanya penjahat yang numpang lewat saja, ketiga pria itu mengetahui namaku bahkan nama lengkapku saja diketahuinya, jika aku tahu siapa dia aku akan menjobloskan sendiri ke dalam penjara," tekadnya Dewi.


Keesokan harinya, hanya bu Husna dan Dinar yang tinggal di rumah sakit menunggui Dewi hingga menjelang pagi. Pak Hamid Bambang,Bu Siti Hasanah dan Bu Halimah, balik pulang ke rumahnya untuk menangani urusan dengan rencana pernikahannya Dewi dan Syam. Hanya Husnah Aminah yang berjaga di puskesmas.


Keheningan terjadi di dalam ruangan perawatan itu karena hanya tinggal Bu Husnah dan Dewi. Keduanya sibuk dengan kediaman keduanya tanpa ada yang berusaha untuk memecah keheningan. Tiba-tiba deringan telepon memecahkan kesunyian itu, hpnya Bu Husnah berdering,ia segera mengangkat telponnya itu.


Sedangkan Dewi bersandar ke headboard ranjang dengan tatapan matanya tertuju pada jendela yang kebetulan terbuka lebar itu, hingga desiran angin yang berhembus sepoi-sepoi itu menerpa ujung hijabnya.


Sesekali ia menyeka air matanya, jika kembali mengingat semua perkataan yang terlontar dan terucap begitu kasarnya dari pria yang dianggapnya itu pria yang selalu mengerti, melindunginya dan mengerti dirinya serta keadaannya.


"Astaghfirullah aladzim apa Mas Heri menganggap saya ini bego dan tuli apa sehingga dengan seenaknya menghinaku dan juga memfitnahku tanpa bertanya kepadaku terlebih dahulu sebelum menuduhku yang tidak-tidak," Dewi meneteskan air matanya yang seolah air mata itu beranak sungai saja tidak ada putusnya.


Sedangkan bu Husna sedang asyik berteleponan dengan seseorang yang akan meramaikan acara ijab kabulnya Dewi dengan Syam. Bu Husna berjalan ke arah bangkar ranjangnya untungnya Dewi menyadari kedatangan bibinya itu,ia segera menghapus air matanya dan menetralkan suaranya agar tidak ketahuan jika ia sedang sedih.

__ADS_1


Bu Husnah memegangi kedua tangan keponakannya itu, "Dewi apa kamu sudah tau jika bukan Heri yang akan menikahimu Nak?"


Bu Husnah menatap intens perubahan raut wajahnya Dewi yang berusaha ia samarkan dengan senyumannya itu, walaupun rasa sedih, kecewa, marah, benci bercampur aduk di dalam benak dan hatinya. Tetapi, Dewi berusaha bersikap tenang. Apalagi ia baru saja dinyatakan baik dan sembuh dari depresi ringan dan traumanya yang dideritanya.


"Bibi tahu kamu sedang sedih dan memikirkan pernikahanmu yang gagal dengan Heri, kamu harus sabar Nak, bibi tidak akan bertanya kepadamu, kamu tekankan saja dirimu," cicitnya Bu Husnah.


Dewi berusaha tersenyum lembut," Iya Bi, saya sudah tahu kok, Mas Heri sendiri yang memutuskan hubungan dan juga rencana pernikahan kami, aku tidak mungkin memaksanya untuk mempertahankan hubungan kami berdua aku sudah dengar jelas apa yang dikatakannya kemarin di depan orang banyak, aku tidak mungkin mengemis belas kasihnya lagi bibi, karena jalan yang terbaik dari masalah kami adalah berakhir dan sudahi hubungan ini," ungkapnya Dewi dengan penuh keyakinan.


Bu Husnah tidak menyangka jika keponakannya akan berbicara seperti itu. Padahal selama hampir lima tahun itu,ia selalu melihat kesungguhan hatinya dan cintanya yang tulus hanya untuk Heri seorang.


"Dewi apa kamu sudah pikirkan dengan baik apa yang kamu putuskan ini,apa kamu sudah yakin dan tidak akan menyesali semua keputusanmu? Karena sekali melangkah tidak ada waktu untuk mundur lagi," jelas Bu Husnah yang berusaha untuk membuat Dewi berpikir ulang sebelum memutuskan hal untuk masa depannya.


Bu Husnah kembali terkejut mendengar penuturan dari mulut Dewi Mirasih.


Bu Husnah melihat keponakannya, "Tapi apa kamu sudah sanggup untuk berbagi suami? Bibi harap kamu harus selalu mengalah dengan istrinya karena kamu lah yang masuk ke dalam kehidupan mereka, jadi berdamailah dengan keadaan Nak, ingat surga menantimu,"

__ADS_1


"Bibi apakah pria yang seperti itu yang harus aku pertahankan untuk menjadi pendamping hidupku kelak, apakah pria yang seperti itu yang mampu membawaku dalam kebaikan? Itu mustahil Bi," dengusnya Dewi.


"Semua ini tentang kehidupanmu jadi semua keputusannya ada di tanganmu Nak karena ini tentang hidupmu, kami hanya mengarahkan dan memberikan nasehat saja kepadamu untuk kebaikanmu juga, tapi walau kami memberikan masukan sedangkan kamu tidak setuju itu hakmu Nak," ujarnya Bu Husnah.


"Mungkin bibi dan yang lainnya menganggap aku sakit dua hari belakangan ini, tapi tidak paham dengan apa yang terjadi, aku pun tahu jika pria itu menikahiku dengan terpaksa karena dia juga akan menikah dengan kekasihnya di Jakarta, bagiku itu tidak masalah Bi karena aku hanya bisa berserah diri dengan keputusan Allah SWT walaupun kedepannya pasti diantara kami bakal ada yang terluka, tapi biarlah aku mengalah demi kebahagiaan mereka," jelasnya Dewi panjang lebar.


Bu Husnah memegangi kepalan tangannya Dewi yang ikut hanyut dalam emosi yang tertahan dengan melihat kesedihan keponakannya, "Nak hanya satu pesanku karena ini sudah menjadi keputusanmu maka bibi hanya bisa memberikan nasehat dan pesan kepadamu, jadilah istri yang selalu dirindukan oleh suamimu dan jangan terlalu sering menuntut ini itu kepada suamimu apalagi kamu tahu jika suamimu memiliki dua orang istri sekaligus perbanyak mengalah dan bersabar itu yang harus kamu selalu terapkan dalam kehidupan rumah tangga kalian," sarannya Bu Husnah.


Dewi segera memeluk tubuh bibinya itu yang sudah seperti Ibu kandungnya sendiri. Dia meneteskan air mata entah itu sedih, bahagia atau apa. Hanya Dewi dan sang pemilik hati yaitu Allah SWT yang mengetahuinya dengan pasti apa yang ada di dalam hatinya Dewi.


Perbincangan beberapa orang itu ketika kedatangan beberapa orang ke dalam kamar perawatan Dewi Mirasih. Dewi pun menatap ke arah kedua pria yang berjalan paling di depan.


Mereka mengarahkan pandangannya ke pintu,dimana masuklah seorang pria memakai jas almamater kebesarannya berwarna putih dan seorang pria berpakaian santai tanpa mengurangi kadar ketampanannya.


Dewi tidak menyembunyikan kebahagiaannya melihat kedatangan keduanya itu,dia menatap mereka satu persatu dan spontan tersenyum melihat kedatangan kedua pria itu.

__ADS_1


"Dokter Irwan, Mas Samuel!" Beonya Dewi yang nampak bahagia melihat kedatangan kedua pria itu.


Bu Husnah tersenyum penuh bahagia melihat keceriaan keponakannya setelah dua hari terpuruk dalam sakitnya.


__ADS_2