Satu Atap Dua Hati

Satu Atap Dua Hati
Bab. 182. Pujian Untuk Adelio Arsene


__ADS_3

"Masya Allah begitu beruntungnya non Shaira mendapatkan suami seperti Anda Tuan Muda Adelio," pujinya bibi Siti.


"Iya apa yang bibi katakan memang benar adanya, Nona Shaira mungkin yang paling bahagia dan beruntung mendapatkan suami yang tidak hanya cakep, tapi kaya, pintar masak, dan paling penting sholeh. Perempuan mana yang tidak akan bahagia mendapatkan suami seperti Tuan Muda Adelio Arsene Smith," puji bi irjawanti yang ikut menimpali percakapan dari Bu Siti dan Adelio sendiri.


Adelio yang sedang mengplating makanan yang sudah dimasaknya dengan susah payah ke atas piring khusus.


Adelio tersenyum tipis menanggapi perkataannya dari kedua asisten pembantu rumah tangga kedua mertuanya itu.


"Kalian berdua terlalu memujiku padahal apa yang saya lakukan hanya masalah kecil saja, Shasa memang pantas mendapatkan perlakuan baik dan manis dari suaminya sendiri, jadi jangan terlalu berlebih-lebihan dalam menyanjungku, takutnya suatu saat nanti aku membuat kesalahan kalian langsung membenciku, jadi biasa saja," tukasnya Adelio.


Adelio setelah berbicara seperti itu panjang kali lebar segera berjalan meninggalkan kedua wanita paruh baya yang sudah bekerja menemani keluarga besar Syamuel Abidzar Al-Ghifari.


"Alhamdulillah non Shaira pasti bakalan bahagia dengan menikahi pria sebaik Tuan Adelio," ucap bi Siti.


Bibi Ijah segera membersihkan beberapa perlengkapan peralatan dapur yang telah dipakai oleh Adelio untuk memasak makanan khusus untuk Shaira isterinya.


"Tapi untungnya bukan Hanzal Abdul Djailani pria gila dan stres itu yang menikah dengan Nona muda kita, jika tidak aku tidak akan bisa bayangkan kehidupan Non Sahira pasti tidak akan seperti sebahagia sekarang," ucapnya bi Ijah.


"Sudah.. sudah gosipnya waktunya beberes terus kita kembali ke kamar untuk beristirahat," tampiknya Bu Siti yang tidak menampik atau pun menyanggah perkataannya bi Ijah itu.


Adelio membawa nampan yang di atasnya terletak beberapa nampang makanan dan juga segelas air putih dan segelas jus jeruk yang sangat segar.


Ketika Adelio memutar kenop pintu bersamaan dengan Shaira Innira yang sudah bangun dari tidurnya yang awalnya tidak sadarkan diri disambung dengan tertidur setelah mengkonsumsi obat penahan rasa sakitnya ketika menghadapi tamu bulanannya.

__ADS_1


Shaira yang mencium wangi aroma masakan segera mengarahkan pandangannya ke arah pintu ketika suaminya masuk ke dalam kamarnya. Shaira segera memperbaiki posisi rebahannya sambil tersenyum lebar menyambut kedatangan suaminya itu.


"Shasa apa kamu sudah bangun? Kamu baik-baik saja kan?" Tanyanya Adelio yang segera menaruh apa yang dipegangnya sedari tadi ke atas meja nakas tempat tidurnya itu.


Shaira tersenyum simpul sebelum menjawab pertanyaan dari suaminya itu," Alhamdulillah aku sudah bangun bang Lio, aku juga baik-baik saja setelah beristirahat dan meminum obat, apalagi ada suamiku yang merawatku pasti bakal sehat lebih cepat," tuturnya Syaira yang tidak menampik jika kehadiran Adelio sangat berarti dalam hidupnya untuk saat ini.


"Syukur alhamdulilah kalau seperti itu, kamu makan dulu sayang, kamu sudah melewatkan jam makanmu malam ini, jadi abang masakin kamu makanan ini, semoga saja kamu suka," imbuhnya Adelio seraya membantu Shaira untuk duduk lebih nyaman.


Adelio menarik sebuah meja khusus untuk menaruh beberapa makanan yang sudah berhasil di masaknya itu ke atas meja. Dengan sangat hati-hati dan pelan beberapa piring,mangkuk dan gelas sudah berada di atas meja.


"Makanannya Abang ini aku hanya sekedar mencium wanginya dari aromanya saja sudah wangi dan nikmat apalagi kalau sudah dicicipi," pujinya Shaira yang sudah duduk dengan baik di atas ranjangnya siap untuk santap malam.


"Alhamdulillah semoga saja apa yang abang masak ini berguna untuk istriku tercinta," ucapnya Adelio penuh harap.


"Abang bisa saja, insya Allah apapun yang Abang masak apalagi dengan sepenuh hati aku pasti akan menyukainya, tapi sejujurnya aku berasa malu bang karena dihari pertama kita menikah, abang harus kerepotan mengurusku, padahal seharusnya aku yang mengurus abang tapi ini malah terbalik," ujarnya Shaira yang merasa sedih dan sedikit sungkan diperlakukan sangat baik dan istimewa dari suaminya itu.


Shaira menatap intens ke arah suaminya itu," ya Allah aku belum mencintaimu sedikitpun,tapi kamu sangat baik dan memperlakukan aku begitu tulus dan perhatianmu sungguh luar biasa berartinya untukku, semoga saja abang selalu bersikap seperti ini padaku dan tak lekang dimakan jaman dan pudar dimakan waktu."


Shaira dan Adelio saling bertatapan satu sama lainnya, hingga kedua wajahnya mereka saling berdekatan. Jarak keduanya semakin menipis dan terkikis karena Adelio semakin memajukan wajahnya ke arah Shaira yang sudah tidak berkedip sedikitpun melihat kedalam bola matanya Adelio.


Adelio mendekatkan keningnya ke jidatnya Shaira," kamu perempuan cantik yang sangat pantas mendapatkan segala perlakukan terbaikku, kamu adalah hidupku kamu adalah belahan jiwaku jadi aku mohon jangan pernah sungkan ataupun ragu dengan sikapku ini,"


Shaira tersenyum simpul menanggapi perkataannya dari suaminya itu pria yang belum cukup sehari 24 jam menikahinya itu. Adelio menyentuh bibir mungilnya Shaira yang merah merona tanpa pewarna bibir sedikitpun.

__ADS_1


Adelio tanpa aba-aba langsung mengecup bibirnya Shaira dengan penuh kelembutan, sehingga membuat dede Aira melototkan matanya saking terkejutnya dengan aksinya Adelio yang terbilang nekat itu.


"Kamu makanlah, maafkan Abang yang sudah melakukannya tanpa meminta ijin terlebih dahulu kepadamu," ucapnya penuh penyesalan Adelio yang segera bangkit dari posisi duduknya semula.


Shaira menarik tangan kirinya Adelio sebelum beranjak pergi," aku tidak mempermasalahkan sedikitpun apa yang Abang lakukan, karena itu haknya Abang. Abang berhak atas segala sesuatu yang ada pada diriku hanya saja aku tidak enak hati karena harus mendapatkan tamu bulanan disaat malam pertama kita," jelasnya Shaira yang tidak ingin banyak drama di malam pertamanya yang gagal unboxing.


Adelio langsung memeluk tubuh istrinya itu dengan penuh bahagia karena bersyukur Shaira sudah menerimanya dan membuka hatinya untuk menjadikan dirinya satu-satunya pria yang paling berhak atas dirinya Shaira.


Sedangkan di tempat lain, baru saja rombongan Dewi, Samuel, Abyasa Akhtam, Adisty Ulfa, Aidan Akhtar dengan istrinya Maryam Nurhaliza, Shanum Inshira dan Arion Sneider Oesman serta Bu Rina Amelia dengan kedua orang tuanya Adisti Syamil dan Kania Ranau.


Mereka baru sepersekian detik sampai dan menginjakkan kakinya mereka di dalam gedung perhelatan acara resepsi pesta pernikahannya Amar Alfarizi dan Vela Angelina. Mereka dikejutkan berita yang kurang sedap dan tidak mengenakkan.


Mereka dibuat terkejut ketika melihat dan sekaligus mendengar kabar duka cita dari Dina adik semata wayangnya Dewi. Yaitu kedua putri kembarnya Ariela Ziudith dan Arabela Aqila dilarikan ke rumah sakit atas musibah kecelakaan yang keduanya alami.


"Astaughfirullahaladzim ini tidak mungkin, apa yang terjadi kepada mereka?" Tanyanya Dewi yang mulai panik dan ketakutan.


Syam memeluk istrinya itu dengan erat dan berusaha untuk menenangkan diri istrinya.


"Tante Dewi kenapa terlalu perhatian banget sama kedua anak kembarnya Tante Dina padahal mereka sangat jahat!" Ketusnya Adisty.


Dewi menatap intens keponakan suaminya itu," sejahat apapun mereka tetap adalah keponakanku, walau dicuci selautan dan sesamudera pun mereka tetap anaknya adikku tidak akan pernah terganti dan berubah walau mereka tidak mengakuiku sebagai anggota keluarganya," tegasnya Dewi.


Darah lebih kental dari pada air, itulah prinsip Dewi Kinanti Mirasih. Baginya Ariella dan Arabela tetap adalah keponakan kandungnya.

__ADS_1


Awal bulan 9 kasih masih ada give away kecil-kecilan khusus untuk pembaca paling konsisten dan setianya Satu Atap Dua Hati.


jadi jangan bosan-bosan untuk mendukung karya recehannya Fania Mikaila Az-Zahra.


__ADS_2