
Keduanya meninggalkan Mall, awalnya Syam mengira akan makan malam di sekitaran area mall ternyata tidak, dugaannya meleset. Dewi mengajaknya makan di tempat lain.
"Saya mau lihat apakah Dewi akan traktir saya makan di tempat mahal bintang lima atau warung makan yang harganya terjangkau, aku mau lihat bagaimana sikapnya Dewi dalam membelanjakan uangnya yang setiap bulan aku berikan," Syam memperhatikan dengan diam-diam suaminya itu.
"Itu hakmu, jadi kamu mau pakai apapun uang itu, Abang tidak akan larang kok, asalkan dipakai yang bener saja,
Syam sesekali memperhatikan perempuan yang sudah menjadi istrinya sekitar empat bulan lalu itu. Dewi yang diperhatikan sama sekali tidak menyadarinya,apa yang dilakukan oleh istrinya itu.
"Betapa indahnya hidupku ini memiliki dua sekaligus istri, apalagi mereka kedepannya bisa hidup berdampingan dengan akur, tapi harapku agar aku selalu bisa berlaku adil kepada keduanya ya Allah," Samuel terus mengemudikan mobilnya dengan kecepatan sedang sambil sesekali melirik Dewi yang asyik memainkan hpnya itu.
Dewi melihat arah jalan sekitar, ia segera menghentikan laju mobil yang dikemudikan oleh suaminya itu setelah berada di depan sebuah restoran yang nuansanya seperti pedesaan.
Syam mengira jika ia akan makan di restoran bintang lima, memanfaatkan kesempatan yang ada. Tapi, dugaannya meleset tidak seperti apa yang dibayangkannya.
"Stop! Abang hentikan mobilnya di depan sana," pintanya Dewi sambil menunjuk ke arah sebuah resto yang cukup menarik dekorasi ataupun desain dari latar resto itu.
"Di sana?" Syam menunjuk balik tempat itu untuk memastikan bahwa apa yang dikatakannya Dewi sudah sesuai dengan arahnya.
__ADS_1
Dewi menganggukkan kepalanya itu," iya Bang benar sekali, itu sudah tempatnya," balasnya Dewi.
Syam segera memasukkan mobilnya ke arah parkiran mobil yang sudah dipadati berbagai macam jenis kendaraan roda empat itu.
"Tempatnya lumayan ramai juga yah, padahal sudah jam sembilan malam," ujarnya Syam yang menghentikan mesin mobilnya sambil mengedarkan pandangannya ke sekeliling area restoran itu.
"Memang selalu seperti ini Abang setiap harinya, kecuali jumat karena jumat itu cuma buka jam 1 siang saja sampai malam, kalau hari biasa mulai jam delapan pagi sudah ramai," jelasnya Dewi seraya membuka seatbelt nya.
Syam mengikuti apa yang dilakukan oleh Dewi, mereka berjalan beriringan menuju ke arah dalam restoran tersebut. Biasanya pengantin baru akan berjalan beriringan sambil bergandengan tangan, sedangkan keduanya layaknya berjalan seperti pasangan sahabat saja.
Ada beberapa menu masakan yang disajikan di restoran tersebut. Mulai dari berbagai jenis masakan berbahan dasar ayam, ikan dari air tawar sampai ikan laut segar tersedia di sana,khusus yang vegetarian juga ada. Olahan daging sapi pun ada di restoran itu. Intinya menunya paket lengkap dan harganya masih terjangkau tidak terlalu mahal.
Syam yang sedang menelpon seseorang segera berdiri setelah melihat kedatangan Dewi sembari mengarahkan telunjuknya di depan bibirnya itu. Dewi yang melihat kode tanda disuruh diam itu sangat mengerti dengan apa yang terjadi.
"Sepertinya itu telponnya istrinya Abang, andaikan bisa saya ingin mengenalnya lebih dekat, jujur saja saya pengen seperti istri-istri nabi Muhammad SAW yang damai dan akur hidup berdampingan satu sama lainnya, aku memang sadar kalau aku yang salah dan egois harus hidup bersama dengan pria yang akan menikah dengan wanita lain, tapi andai aku bisa egois sedikit, aku hanya ingin hidup dengan suami yang istrinya hanya aku seorang."
Syam kembali ke meja makan yang sudah dipesan oleh Dewi sebelumnya. Syam membelalakkan matanya melihat saking banyaknya makanan yang tersaji di atas meja. Ia tidak menyangka jika Istrinya mesan hidangan yang cukup banyak.
__ADS_1
"Sudah nelponnya?" Tanyanya Dewi sekedar berbasa-basi saja.
"Iya sudah, ngomong-ngomong apa kamu ingin menghabiskan semua makanan ini?" Tanyanya Syam yang masih tidak percaya dengan begitu banyak makanan yang terhidang di depan matanya.
Dewi nampak malu mendengar perkataan seperti itu dari suaminya ia pun terkekeh mendengar perkataan tersebut," hehehe, iya Abang, mumpung ke sini jadi aku peswn makanan yang sama sekali belum pernah aku makan di sini,mau nyobain rasanya gimana karena katanya teman kalau sudah coba bakal ketagihan dan tidak mau berhenti," ungkapnya Dewi yang kedua bola matanya berbinar-binar terang saking bahagianya melihat makanan yang sudah lama ia ingin makan.
Bukannya tidak punya uang, tapi ia selalu menjaga uang yang ditransfer ke rekeningnya dari suaminya itu sebagai amanah. Sehingga setiap bulannya semua belanja sehari-harinya memakai uang hasil gajinya sendiri. Sedangkan hasil modal usaha yang dipinjamkan untuk paman dan bibinya Bu Husnah dan Pak Hamid Bambang belum ia dapatkan sepeserpun, karena belum panen hasil tambak dan kebun keduanya.
"Ya Allah…apa uang yang aku berikan setiap bulannya kurang yah, sampai-sampai istriku seperti orang yang baru lihat uang banyak dan makanan?" Syam semakin dibuat keheranan dengan sikapnya Dewi.
Syam kemudian duduk di depan kursi yang sejak tadi diduduki oleh Dewi.
"Ya Allah… mungkin aku yang salah memberikan uang belanja bulanan yang hanya 5 juta untuknya, katanya uang itu ia kelola sebagai modal usaha paman dan bibinya, apa karena itu sehingga ia harus berhemat dan pelit dengan perutnya sendiri, Dewi Kinanti Mirasih sungguh berbeda sifatmu dengan Nadia Yulianti istriku yang di Jakarta, mereka sama-sama cantik tapi entah kenapa aku lebih penasaran dengan kehidupan Dewi, sifat manja dan labil hanya dimiliki oleh Nadia sedangkan Dewi sungguh dewasa, bijaksana, rendah hati, penyabar, sholeha tentunya dalam bertindak apapun," Syam diam-diam memuji istrinya itu.
Sepatunya Syam tidak boleh membandingkan istri-istrinya itu. Tetapi namanya juga manusia biasa, Syam kan bukan manusia luar biasa yang tidak memiliki kekurangan. Karena kesempurnaan hanya milik Allah SWT bukan hamba atau ciptaannya.
Mereka kemudian melahap dan menyantap makanannya tanpa ada yang berbicara. Seperti itulah kebiasaannya Syam dan Dewi jika sedang di hadapan makanan mereka akan makan dengan lahap tanpa ada perbincangan atau pembicaraan diantara mereka.
__ADS_1
"Hemm ternyata lezat, benar sekali apa yang dikatakan oleh Dewi kalau makanannya benar-benar lezat, pantesan restaurannya ramai, istriku memang pandai menyenangkan hatiku,tapi entah kalau masalah di kamar apa dia sanggup membahagiakanku atau tidak, aku juga belum mencoba masakannya yang dimasak oleh tangannya sendiri, karena kalau di Jakarta selalu makan makanan dari bibi saja,Nadia mana mau menyentuh pisau," Syam memuji kecantikan luar dalam yang dimiliki oleh Dewi Kinanti Mirasih.