Satu Atap Dua Hati

Satu Atap Dua Hati
Bab. 91


__ADS_3

Bu Citra Lestari Yahya terus mengawasi gerak-gerik suaminya dan juga anak dari sahabatnya sendiri. Sebelum turun dari mobil, Citra memakai masker wajah untuk menutupi wajahnya itu. Agar penyamarannya tidak terungkap dan ketahuan.


"Aku harus mengetahui apa yang terjadi sebenarnya, aku juga tidak boleh berprasangka yang tidak-tidak tentang suamiku,"


Sekuat tenaga dan sebisanya Bu Citra segera membuang pikiran negatifnya sendiri.


Sedangkan kedua orang yang sejak tadi diikuti dan dibuntutinya sudah masuk ke dalam salah satu kafe yang ada di sekitar kampus.


"Paman katakan padaku apa tujuannya Paman memanggilku dan mengajakku untuk bertemu!" Ketusnya Shanum yang memang sedikit judes dan kasar kalau berbicara dalam keadaan sedang marah.


Hanif tersenyum simpul menanggapi perkataannya Shanum," kamu memang mirip denganku, aku yakin kamu adalah putriku," imbuhnya Pak Hanif.


Shanum menautkan kedua alisnya mendengar perkataan dari pak Hanif sahabat dari papanya itu.


"Hahaha!! Apa Paman nyadar dengan perkataannya! Bagaimana caranya aku bisa jadi putrinya paman sedangkan papaku bernama Syamuel Abidzar Al-Ghifari, jadi tolong jangan ngaco dan janganlah sekali-kali menganggap aku putri Anda!" Dengusnya Shanum lagi.


"Shanum Inshira kamu memang adalah putriku, walau hanya satu bukti kuat yang bisa menjelaskan kepadamu bahwa saya adalah papamu tapi, paman yakin dengan sangat jika kamu adalah putriku bersama dengan istriku Gina," ungkapnya Pak Hanif.


Citra yang baru saja mendudukkan dirinya sungguh dibuat terkejut dengan pernyataan dari suaminya itu.


"Astaauhfirullah aladzim, jadi perempuan pelakor itu melahirkan anaknya ke dunia ini, ya Allah… aku kira dia menggugurkan kandungannya padahal uang yang aku berikan sungguh banyak dan besar jumlahnya 500 juta saat itu aku berikan padanya dan berjanji padaku akan menggugurkan janinnya, tapi ternyata dia diam-diam melahirkan anaknya,"


Bu Citra mengeratkan pegangannya pada gelas yang baru di taruh oleh pelayan kafe itu dengan kuat. Hingga gelasnya hampir saja pecah.


"Haha!" Gelak tawanya Shanum hampir memenuhi seisi ruangan kafe itu yang siang harinya dipadati oleh banyak pengunjung kafe.

__ADS_1


Beberapa orang yang berdekatan dengan keduanya menolehkan kepalanya ke arah Shanum yang tertawa terbahak-bahak setelah mendengar perkataan dari pak Hanif yang menurutnya mustahil, mengada-ada dan tidak mungkin.


Shanum sama sekali tidak peduli dan menggubris arti tatapan dari beberapa pasang mata yang melihatnya. Itulah Shanum tipe anak gadis yang tidak perduli dengan tanggapan negatif tentang kelakuannya sendiri.


"Kalau kamu tidak percaya paman akan perlihatkan sebuah foto yang mungkin akan membuat kamu yakin dengan apa yang aku katakan padamu ini," ujarnya Pak Hanif lagi.


Pak Hanif segera mengambil selembar foto yang terselip di dalam dompetnya yang istrinya tidak pernah membuka dompet itu hingga detik ini.


"Ini foto dari istriku bernama Gina Anelka Mulya dia gadis dari NTB yang hingga detik ini aku sayangi dan kami memiliki seorang putri yang juga sangat cantik seperti mamanya," ucapnya Pak Hanif sambil menyodorkan sebuah lembar foto yang didalamnya terdapat gambar Gina sewaktu masih muda dulu.


"Ya Allah jadi mas Hanif sudah menikahi perempuan nakal dan brengsek itu, tapi dulu mas Hanif ngomongnya hanya sekedar teman tidur saja dan itupun mereka hanya sekali melakukannya, astaauhfirullahaladzim kenapa mas Hanif begitu tega mengkhianati dan membohongiku lagi, apakah tidak cukup kebohongan besar yang terjadi sebelumnya, bahkan Gina bukan perempuan perusak pertama kali dalam kehidupan rumah tangga kami, tapi sebelumnya sudah ada dua orang dan entah mereka juga hamil atau tidak seperti Gina,"


Air matanya luruh menetes membasahi pipinya, dia tidak menyangka jika suaminya ternyata menyimpan rahasia yang sungguh sangat besar. Bibirnya bergetar menahan isak tangisnya, dadanya bergemuruh berdetak kencang menahan amarahnya yang sudah membuncah.


Bu Citra segera menghubungi nomor hp seorang pengacara yang akan mengurus segala perceraiannya tersebut, karena ia tidak ingin menunda lebih lama lagi sebelum angkat kaki dari dalam rumahnya Hanif.


Bu Citra segera meninggalkan ruangan kafe tersebut dengan hati yang penuh luka yang kembali muncul kepermukaan padahal luka itu sudah hampir lenyap dalam ingatannya. Tapi, hari ini matanya terbuka lebar dengan kenyataan pahit yang begitu keras menampar wajahnya.


"Bodohnya aku sampai-sampai tidak mengetahui dan mengenali lagi wajah perempuan itu yang terdapat pada wajah anak sialan itu, apa aku yang terlalu percaya dengan omongannya mas Hanif, aku tidak pernah menduganya karena selama ini bagiku dia adalah anaknya Mbak Dewi, apa yang terjadi karena katanya Sha ini anak kandungnya mas Sam tapi kalau seperti ini… sudah itu bukan urusanku, disini urusanku hanya segera harus mengakhiri pernikahan kami,"


Shanum karena cukup penasaran dengan apa yang diserahkan oleh teman kerja papanya dulu,ia pun mengambilnya. Betapa terkejutnya Shanum setelah melihat foto tersebut. Hanya model dan warna rambut saja yang membedakan keduanya.


Shanum spontan berdiri dari tempat duduknya itu," ini pasti semuanya hanyalah lelucon saja dan aku yakin Paman sengaja ngeprank kan karena besok hari ulang tahunku, jadi aku mohon stop bercandanya Paman," tampiknya Shanum.


Pak Hanif ingin memegangi tangannya Shanum, tapi segera ditepis oleh Shanum karena ia segera terduduk kembali. Dengan matanya yang melotot tidak ingin mempercayai semua perkataannya Pak Hanif tersebut.

__ADS_1


"Kalau memang kamu tidak percaya ijinkan Papa mengambil selembar atau beberapa lembar rambut kamu untuk mengetes apa benar kamu bukan putri kandungku dengan Gina atau bukan," usulnya Pak Hanif yang sama sekali tidak mau menyerah dengan terus membujuk Shanum agar memenuhi permintaannya tersebut.


Shanum melototkan matanya saking jengkelnya dengan ucapannya Pak Hanif "Hahaha! Jangan ngarang deh om, siapa juga yang mau jadi anak tukang selingkuh seperti Anda, dari dulu hingga sampai mati aku adalah putri sulungnya Pak Samuel Abidzar Al-Ghifari dengan Dewi Kinanti Mirasih bukan Anda!" Tegasnya Shanum dengan sengaja meninggikan suaranya itu.


Untungnya Pak Hanif diam-diam sudah mendapatkan beberapa helai rambutnya Shanum untuk segera dibawa ke rumah sakit untuk melakukan pemeriksaan tes DNA. Walau wajahnya mereka mirip tapi, Hanif tetap ingin melakukan prosedur tes tersebut. Karena ingin lebih menguatkan keyakinannya akan hal kebenaran fakta yang baru saja terungkap.


Shanum segera meraih kunci mobil dan handbag nya yang sedari tadi tergeletak di atas meja. Dia segera cabut dari tempat itu tanpa peduli dengan pak Hanif untuk sekedar berpamitan walau hanya sekedar berbasa-basi saja. Hanif tidak mencegah kepergian dari putrinya itu,dia hanya fokus dengan hasil tesnya.


"Jika memang benar kau adalah putriku, aku akan segera mengatakan dan menjelaskan kepada Syam jika Sha adalah darah dagingku bukanlah anaknya yang selama ini sudah dibesarkannya," tekadnya Pak Hanif.


Shanum bukannya masuk ke kelasnya malah melarikan mobilnya dengan tidak tentu arah dan tujuan. Dia menangis dan meraung di dalam mobilnya.


"Aahhh!!! Aku bukanlah anak seorang pria bejak tukang selingkuh seperti dia!!" Jeritnya Shanum di dalam mobilnya.


Shanum melampiaskan kekesalannya kepada setir mobilnya dan berteriak kencang dan histeris karena tidak ingin menerima kenyataan tersebut. Apalagi selama ini reputasi Pak Hanif sudah terdengar begitu jelas jika dia doyang main perempuan dibelakang istrinya.


Shanum menangis Du dalam mobilnya dan segera melajukan mobilnya menuju salah satu bar yang buka sore hari itu. Bar memang diam-diam menjadi tempat yang sering dikunjunginya jika dalam masalah.


Hal tersebut seringkali dan kerap kali dikunjunginya jika dalam keadaan sedih,sakit hati dan kalut dengan permasalahan yang dihadapinya itu. Shanum masuk ke dalam bar tanpa peduli dengan hpnya yang sedari tadi berdering. Dia meninggalkan mobilnya bersama dengan ponselnya itu.


Sedang di tempat lain, Dewi dan ketiga anaknya sudah mengkhawatirkan keadaan Shanum yang seharusnya sudah balik dari kampusnya tapi belum pulang juga.


Dewi mondar-mandir di depan pintu rumahnya menunggu putri sulungnya untuk pulang. karena hari ini mereka akan makan malam di luar bersama untuk melepas kepergian Shaira Innira Samuel, Abyasa Akhtam dan Aidan Akhtar ke London UK Inggris untuk melanjutkan kuliah mereka masing-masing.


Sebuah pasang mata yang terus mengawasi gerak-geriknya sejak awal kedatangannya, "Kamu kembali lagi ke sini, hari ini aku tidak akan melepaskan kamu lagi wanitaku yang paling tercantik di dunia ini,"

__ADS_1


__ADS_2