
"Entah kenapa kita bisa bertemu kembali, ini ketiga kalinya aku harus berjumpa dengan gadis manja, urakan, dan tidak tahu sopan santun apalagi tata cara hidupnya yang liar sungguh membuatku muak bisa bertemu denganmu!" Sarkasnya Abyasa Akhtam yang segera meninggalkan tempat tersebut dimana orang-orang masih berkerumun.
Setelah berbicara seperti itu, Abyasa segera meninggalkan tempat tersebut dengan amarah yang membuncah menanggapi sikap ceroboh gadis yang menjadi adik kandung dari atasannya di kafe tempat ia bekerja selama kurang lebih empat tahun itu.
Shaira kurang setuju dan menyukai sikap kasar kakak sulungnya itu. Bagaimana pun juga bagi Shaira semua ini terjadi karena kecelakaan sama sekali tidak ada unsur kesengajaan.
"Kenapa Abiyasa begitu membenciku, padahal semua kejadian ini sama sekali tidak pernah terfikir olehku akan kepeleset di depan toilet juga, lagian siapa juga perempuan penggoda yang dimaksudnya!?" Adeline menatap intens ke arah punggung lebar pria yang sama sekali tidak ingin bersentuhan langsung dengan perempuan manapun kecuali mama dan kedua adiknya itu.
Adeline Amalia Hamilton untuk pertama kalinya dihina dan direndahkan seperti itu oleh pria. Padahal biasanya pria-pria yang malah mendekatinya dengan berbagai cara agar bisa menjadi kekasihnya. Tapi, hingga detik itu tak seorang pun pria yang berhasil mendapatkan cintanya dan masuk kualifikasi sesuai kriterianya.
"Sudah-sudah, bubar kita kembali menikmati acara malam ini, lupakan saja apa yang terjadi barusan, mari kita kembali berpesta," ucapnya Ahsan yang tidak ingin masalah sepele ini berlarut-larut.
Semua orang yang berjumlah sekitar tiga puluhan itu kembali melanjutkan acaranya. Yaitu panggang steak,bakar jagung serta bakar ikannya.
Semua orang larut dalam kebahagiaan malam itu. Karena tidak terasa kurang lebih tiga minggu lagi mereka akan kembali ke negara asal mereka semula setelah hasil ijazah dan nilai mereka keluar dari fakultas masing-masing.
Adeline menatap kepergian Abyaza ke arah belakang asrama putri khusus untuk Shaira dan kedua temannya itu.
"Abang sekeras apapun hatimu, sekasar apapun kau padaku, aku tidak akan pernah membencimu, sekalipun kau menamparku karena bagiku kamu adalah calon suamiku pendamping hidupmu, aku akan berubah dan mengikuti cara hidupmu itu janjiku padamu agar kamu bisa mengetahui betapa besar cintaku padamu, bahkan aku bisa berpakaian tertutup seperti adikmu Shaira," tekadnya Adeline yang sudah memantapkan hatinya hanya untuk Abiayasa Akhtam seorang.
Shaira duduk melantai di atas tikar plastik sambil menangkupkan kedua lututnya itu dengan arah pandangan matanya tertuju pada langit malam itu yang dipenuhi oleh bintang-bintang yang berkelap-kelip dan diterangi oleh cahaya rembulan malam.
__ADS_1
"Tidak terasa kami akan kembali ke Jakarta," ucapnya Shaira dengan sesekali menggigit jagung manis yang baru saja diambil dari atas pemanggangan.
Adelio pun ikut duduk seperti yang dilakukan oleh Shaira," apa kamu sangat bahagia karena akan kembali ke negaramu?" Tanyanya Adelio yang melirik ke arah Shaira.
"Alhamdulillah sangat bahagia Pak, setelah empat tahun lebih bergelut dengan dunia pendidikan kedokteran akhirnya saya akan bertemu dan berkumpul dengan anggota keluargaku, terutama Papa, Mama dan ketiga kakak-kakakku," jawabnya Shaira yang tidak mengalihkan pandangannya dari arah langit.
Adelio Arsene yang juga untuk pertama kalinya dalam kehidupannya yang sudah tiga puluh tahun lebih itu ini makan jagung bakar dengan cara dipanggang di atas tungku pembakaran arang.
"Apakah kamu enggak ada niat untuk menetap di London saja?" Tanyanya lagi Adelio.
"Tidak pak, saya lebih menyukai negaraku sendiri, ada pepatah yang mengatakan walau hujan emas dinegeri orang lebih bagus hujan batu di negeri sendiri," ucapnya Shaira.
Adelio pernah hidup di Jakarta beberapa tahun silam ketika papanya masih hidup dan ketika itu masih berusia remaja dulu.
Shaira tersenyum simpul menanggapi perkataannya dari Adelio itu," memang sih kalau dilihat dari segi kehidupan ekonominya, tapi di Indonesia saya tidak pernah kesulitan atau kesusahan mencari tempat beribadah seperti masjid, di sanapun saya bisa bebas berkumpul dengan sanak saudara saya setiap tahunnya untuk melaksanakan shalat ied idul Fitri ataupun idul Adha," imbuhnya Shaira.
"Dunia dan keyakinan kami berbeda, tetapi jika Shasa menghendaki atau menginginkan aku untuk mengikuti kepercayaannya dan cara hidupnya aku akan ikhlas melakukannya,"
Apa yang mereka lakukan ternyata tidak jauh berbeda dengan orang lain yang ikut dalam kemeriahan pesta tersebut. Hingga acara itu terbilang cukup sukses dan lancar.
Beberapa orang sudah ada yang berpamitan pulang. Ada juga yang pergi tapi masih akan kembali lagi. Sedangkan Akhsan dan Vela Angelina menghilang beberapa menit yang lalu bersama dengan Aksan kekasihnya itu.
__ADS_1
"Kamu masuklah beristirahat biarkan saya saja yang membantu saudaramu untuk membersihkan semuanya," pintanya Adelio yang mencegah Shaira untuk membersihkan bekas acara mereka.
"Tidak apa-apa kok Pak Adelio, lagian kami juga mau tunggu adzan subuh berkumandang juga untuk melaksanakan shalat subuh berjamaah yang tidak sampai sejam lagi," tolaknya Shaira dengan lembut.
"Shalat berjamaah?" Beonya Adelio.
"Iya shalat berjamaah bersama dengan kakakku dengan saudara seiman kami pak yang kebetulan ikut hari ini di pesta," jawabnya Shaira yang berbincang-bincang sambil terus membereskan peralatan yang telah dipakainya ataupun tidak terpakai di lokasi acara.
"Aku penasaran dengan apa itu sha-lat berjamaah? Aku sudah pernah tinggal di Jakarta tapi lihat langsung orang muslim shalat itu belum pernah sih, apakah kamu bisa membantuku memberikan penjelasan selanjutnya," pintanya Adelio.
Shaira terkejut mendengar perkataan dari Adelio pria keturunan Indonesia-Inggris itu menginginkan melihat langsung dia shalat.
"Ohh kalau masalah itu tidak masalah sesering apapun itu anda boleh kok melihat kami shalat setiap waktu untuk mengerjakan perintah Allah SWT yaitu melaksanakan shalat lima waktu," ucap Shaira.
"Maksudnya lima waktu itu bagaimana?" Tanyanya Adelio yang semakin tertarik untuk mempelajari apa yang menjadi kebiasaan rutinitasnya Shaira.
Shaira tersenyum manis sebelum menjawab pertanyaan dari Adelio, "Lima waktu itu ada subuh sekitar jam empat lewat pengerjaannya, dzuhur jam dua belas siang lewat serta shalat ashar,magrib dan isya."
Pembahasan mereka melebar kemana-mana hingga keberbagai masalah mengenai apa saja yang dilakukan umat muslim di dunia ini setiap harinya.
"Untuk lebih jelasnya datanglah ke jalan XX untuk mengetahui lebih jelasnya tentang apa saja yang kami perbuat dalam beribadah, bapak akan dituntun untuk mengetahuinya, apa saja yang bapak ingin pertanyakan insha Allah semuanya akan terjawab, tapi terlebih dahulu mantapkanlah dulu hatinya Pak sebelum ke sana jangan setengah-setengah,"
__ADS_1