
Syam meninggalkan rumahnya menuju kantornya tanpa berpamitan kepada kedua istrinya itu.
Aku tidak mungkin mengijinkan Istriku diperlakukan seperti itu di depan mataku, aku sudah berulang kali memaksa Dewi untuk pindah rumah, tapi selalu ngotot katanya kasihan dengan Nadia yang telanjur menyukai masakannya.
Ya Allah, aku tidak mungkin melihat mereka berdebat gara-gara saya, tapi kalau seperti ini terus apa saya sanggup melihat keduanya terus menerus dalam pertengkaran.
Saya yakin Abang Syam tadi marah dengan perkataan dari Nadia, tapi aku berharap agar Abang bisa tenang dan tidak tersulut emosinya.
Tapi,apa sebaiknya aku berpamitan saja kepada Nadia karena takutnya kedepannya jika Abang Syam terus membelaku di depannya Nadia, Abang Syam akan kelupaan dan keceplosan mengatakan terang-terangan membelaku di depan orang lain terutama Nadia sehingga hubungan kami bisa terbongkar dan terekspos keluar.
Saya harus cari waktu tepat untuk berpamitan kepada Mbak Nadia, agar menghindari terbongkarnya rahasia kami berdua. Tapi,apa yang harus saya katakan alasanku di depannya Nadia karena saya takut kepergianku akan melukai hatinya nantinya.
Kenapa feelingku semakin merasakan Dewi dengan Syam ada hubungan yang aneh. Apa aku perlu selidiki apa yang sebenarnya terjadi pada keduanya itu. Tapi aku berharap semoga saja hanya perasaan aku saja yang berlebih.
Auhh!! Kenapa perutku tiba-tiba saja kram, tapi sakitnya tidak seperti kemarin, ini aga dirgantara lebih sakit dari biasanya.
Nadia segera beranjak dari tempat duduknya, dan tidak menghabiskan makanannya pagi itu. Dia tidak mengatakan kepada siapapun apa yang terjadi padanya dengan kandungannya.
Sejak pertengkaran dan perdebatan kecil ketiganya di depan meja dapur, gara-gara kepergian bibi Siti dan Mang Udin sehingga acara sarapan pagi mereka kala itu terganggu bahkan gagal terlaksana.
Diam-diam Nadia menyelidiki apa yang sering kali dilakukan oleh Dewi dengan Syam. Tapi, hingga detik ini Nadia belum berhasil menemukan apa yang ingin diketahuinya itu.
__ADS_1
Satu minggu kemudian, Syam berpamitan kepada Istrinya Nadia karena akan mengadakan perjalanan ke luar daerah meninjau cabang perusahaan milik CEO tempat ia bekerja dan kemungkinannya akan balik satu bulan.
Syam sangat ingin berpamitan kepada Dewi, tapi Nadia seakan-akan tidak memberikan waktu luang dan leluasa beberapa hari ini untuk lebih dekat dengan istri pertamanya.
Kenapa aku merasa akhir-akhir ini aku jarang banget ada waktu untuk berduaan dengan Dewi,malah Nadia selalu seolah menghalangi jalanku untuk bertemu dengan Dewi.
Padahal sebentar sore saya akan berangkat ke daerah Kalimantan,kalau seperti ini aku semakin kesulitan untuk membahagiakan Dewi. Aku harus segera mendesak Dewi untuk segera pindah dari sini, jika tidak gimana caranya kami berduaan melewati perpisahan kami ini.
Syam prustasi memikirkan bagaimana caranya untuk mencari kesempatan berduaan dengan istrinya Dewi Kinanti Mirasih. Ia mondar-mandir di depan pintu kamarnya karena, sudah berulang kali ingin keluar dari kamarnya,tapi Nadia masih saja terjaga, biasanya jam segini masih terlelap dalam tidurnya itu. Padahal sekarang baru pukul empat subuh, aku harus cari cara untuk mengalihkan perhatiannya Nadia agar aku bebas bertemu dengan Dewi.
Aku sangat menginginkan Dewi hari ini entah apa yang terjadi padaku, aku lebih senang dan bahagia melewati setiap malamku bersama dengan Dewi dibaringkan dengan Nadia Yulianti. Tubuhnya Dewi lebih menggoda dan aduhai dalam keadaan hamil dibandingkan dengan Nadia yang dimataku terlihat tidak pernah membuatku tertantang untuk melakukan hal lebih diatas diri dan tubuhnya itu.
Syam mulai berjalan mengendap-endap menuju pintu keluar ketika melihat kedua kelopak matanya terpejam. Syam mengayunkan telapak tangannya di depan wajahnya Nadia. Awalnya wajahnya mulai panik, bingung, cemas dan merasa putus asa tapi, setelah melihat Nadia tertidur ia
Syam berucap seperti itu dengan nada suara yang cukup besar sehingga siapapun yang berada di tempat itu masih sanggup mendengar perkataannya Syam sebelum meninggalkan kamar pribadinya.
Syam segera berjalan ke arah kamar istri pertamanya, Dewi yang sudah mengetahui jika suaminya hari ini akan pergi ke luar, telah menyambut kedatangannya Sam apalagi, suaminya sudah mengabarkan sebelumnya jika Sam akan datang ke kamarnya subuh harinya itu.
Dewi dan Syam mengedarkan pandangannya ke sekeliling ruangan tersebut. Karena semalam adik iparnya Syam juga datang berkunjung ke rumahnya sekalian menginap di sana kebetulan baru semalam datang dari daerah asalnya Nadia.
"Sudah aman, kamu masuk sana secepatnya sebelum Nadia dan Nizam bangun," ucapnya Syam segera menutup rapat pintu kamarnya itu.
__ADS_1
Tapi,tanpa diketahuinya jika sejak tadi ada yang diam-diam mengikuti langkahnya Syam hingga ke dalam kamarnya Dewi. Orang itu menggenggam erat kepalan tangannya itu saking marahnya mengetahui apa yang dilihatnya menggunakan mata kepalanya sendiri.
Sore harinya, Nadia Yualinti bersama dengan Dewi berdiri diambang pintu saling berdampingan melepas kepergian Syamuel Abidzar Al-Ghifari keluar daerah. Keduanya layaknya dua madu yang saling akur dan damai, itulah yang terlihat dari keduanya itu.
"Assalamualaikum, jaga diri kalian baik-baik, ingat Nadia kamu itu lagi hamil jadi kurangin aktifitas di luar, Dewi aku titip Nadia yah,selama aku tidak ada kalian harus saling menjaga satu sama lainnya," pintanya Syam sebelum melajukan mesin mobilnya meninggalkan carport rumahnya itu.
Waalaikum salam, hati-hati Abang kami akan saling menjaga satu sama lainnya jadi jangan mencemaskan dan mengkhawatirkan keadaan kami berdua.
Sayangnya hanya Dewi yang mampu mengetahui dan mendengar sendiri perkataannya barusan.
"Hati-hati yah, kalau sudah sampai jangan lupa menghubungiku," ujarnya Nadia.
Beberapa hari kemudian, semuanya masih berjalan biasa saja dan normal. Tidak ada hal yang membuat keduanya mengeluh dengan kondisi kehamilannya. Nadia dan Dewi hari ini berencana untuk memeriksakan kondisi kehamilannya mereka.
"Dewi kamu bareng saya saja ke rumah sakit, kebetulan jadwal cek up saya di RS juga hari ini, kamu nebeng dimobilku," ucapnya Nadia yang memberikan saran kepada Dewi.
"Apa saya tidak merepotkan Nyonya, saya kan hanya pembantu disini, takutnya nebeng sama Mbak itu akan merepotkan Mbak nantinya," tolaknya Dewi dengan sopan.
"Tidak apa-apa kok, lagian saya juga ingin melihat perkembangan bayi kamu kok, tidak apa-apa kan?" Tanyanya Nadia yang sangat ingin dan memaksakan kehendaknya kepada Dewi.
Saya menolak takutnya Mbak Nadia akan marah dan kesal lagi sama diriku, aku juga sedikitterganggu dengan peristiwa malam itu, saya berasa ada yang mengikuti. Apa saya mengatakan semua firasatku pada Abang Sam saja yah.
__ADS_1
Aku harus lebih bergerak lebih hati-hati agar tidak ada yang menaruh curiga terhadap apa yang aku perbuat, karena aku sudah merencanakan sejak dulu semua ini dan semoga harapanku bisa terkabul dan terlaksana dengan baik.