
Kira-kira kalau aku minta dia tinggal disini dan bekerja di rumahku apa dia mau? Mumpung aku juga butuh banget art yang bisa aku percayai, aku perhatikan sedari tadi dia cukup bisa dan mampu dipercaya. Sepertinya aku katakan saja tujuanku aku yakin dia akan menerima tawaranku, apalagi mengingat dia tidak punya keluarga di Ibu kota Jakarta. Semoga saja dia mau menjadi asisten rumah tangga menemani Mbak Yani.
Dewi pun mulai menjelaskan duduk permasalahannya tapi, masalah kehamilannya dan tujuannya datang ke Ibu kota Jakarta tidak sempat ia ucapkan, karena perkataan terhenti ketika Adli datang dengan nampang yang berisi banyak makanan sesuai yang dipesan oleh kakak satu-satunya yang dimilikinya itu.
Keduanya refleks mengarahkan pandangannya ke arah pintu masuk yang terbuka lebar itu. Mereka pun mengakhiri perbincangan keduanya.
Kondisinya Dewi Kinanti Mirasih pun sudah membaik dan tentunya lebih baik dari sebelumnya karena akibat kelelahan dan juga kelaparan mengingat dia itu hamil muda.
Dewi, Nadia dan Adli makan bersama sore itu. Mereka makan seperti layaknya kawan lama saja. Sejak tadi, Nadia diam-diam memperhatikan gerak geriknya Dewi. Sedangkan Dewi yang memang orangnya tidak pernah dzuuzon terhadap orang lain, sehingga tidak menyadari jika dirinya diperhatikan dengan seksama oleh Nadia sang pemilik rumah.
"Alhamdulillah makasih banyak yah sudah tolongin saya dan sudi menampungku disini," ucapnya Dewi setelah mereka menyelesaikan acara makannya.
"Tidak apa-apa kok santai saja,anggap rumah sendiri, tapi sebenarnya ada permintaan saya padamu… tapi aku segan mengatakannya," ucap Nadia yang bimbang dan ragu untuk mengatakan apa yang ada di hatinya itu.
Dewi menatap intens ke arah Nadia perempuan muda yang seumuran dengannya itu.
"Permintaan! Maksudnya? Maaf saya kurang paham dengan perkataannya Mbak," tukasnya Dewi.
Nadia meraih tangannya Dewi dengan penuh kelembutan," gini sebenarnya saya sedang mencari asisten rumah tangga yang bisa aku percaya untuk menangani masalah dapur, memang sudah Mbak Yani tapi Mbak Yani tidak bisa nginap disini datang subuh-subuh pulang sebelum magrib, hanya Mbak Yani yang mampu aku percayai, kira-kira kalau aku minta kamu kerja di rumahku untuk masakin makanan untuk saya dan suamiku apa kamu enggak keberatan?" Tanyanya Nadia yang bernada permintaan itu.
Dewi mempertimbangkan perkataan dari Nadia dengan sebaik-baiknya.
"Kamu tidak perlu khawatir aku akan gaji kamu lebih tinggi dari gajinya Mbak Yani, aku mohon bantu aku yah! Memang banyak art yang disediakan di setiap yayasan, tapi aku ragu dan takut entar mereka dipercaya tapi tahu-tahu orang jahat, aku tidak paksa kamu Kok tapi aku berharap semoga kamu sudi mempertimbangkan apa yang aku katakan," ujarnya Nadia dengan penuh harap.
Bagaimana ini ya Allah… aku kesini itu tujuanku untuk bertemu dengan Abang Syam dan mengatakan jika aku hamil, tapi kalau seperti ini aku tidak mungkin bisa bertemu dengannya, sulit dan sangat mustahil dimana saya tidak mengetahui alamat rumahnya, walaupun saya tahu nama perusahaan tempatnya bekerja, tapi kan di Jakarta banyak sekali perusahaan besar.
__ADS_1
Saya perhatikan dari raut wajahnya, Nadia sangat butuh orang yang bisa masakin makanan, tapi masa saya harus tinggal di sini terus menerus sedangkan saya punya rumah di kampung, punya kehidupan sendiri.
Jujur saja saya tidak tega melihatnya memohon dan meminta padaku, tapi gimana kalau besok-besok saya sudah ketemu dengan Abang Syam tidak mungkin kan saya terus berada dan bekerja disini. Tetapi, melihat dari mimik wajahnya saya tidak tega menolaknya, kasihan kalau saya bilang tidak.
Apa sebaiknya saya jujur dulu padanya setelah itu saya baru bisa mengungkapkan jawaban yang dia butuhkan.
Aku perhatikan Dewi sedang banyak pikiran, aku lihat dari raut wajahnya nampak jelas jika dia mempertimbangkan perkataanku, entah kenapa aku yakin jika dia akan menerima tawaranku. Apalagi suamiku orangnya pilih-pilih pembantu, Mbak Yani saja yang selalu masak makanan yang enak-enak selalu dicelanya, kurang inilah, tidak paslah bumbunya. Suamiku orangnya selektif banget tapi, feelingku mengatakan jika Dewi yang masak pasti suamiku akan mengerti dan menyukainya.
Ini perasaanku yang berbicara walau aku belum melihat dia masak dan belum merasakan rasa masakannya aku sudah yakin dengan sangat jika dia mampu melakukan semua yang aku inginkan.
Aku berharap semoga dia bersedia bekerja disini sambil mencari keberadaan keluarganya di kota besar ini. Kalau aku iming-iming gaji tinggi pasti dia siap dan mau. Aku coba saja ah, gagal tak mengapa yang paling penting sudah mencobanya.
"Dewi aku mohon yah kabulkan permintaan ku ini kamu juga masih bisa dan bebas untuk mencari keberadaan kelurgamu kalau kamu mau sambil bekerja kamu juga mencari keberadaan mereka, gimana? Dewi aku mohon dengan sangat, please!" Rengeknya Nadia
"Bismillahirrahmanirrahim, baiklah saya akan membantumu tapi,maaf jika sewaktu-waktu saya balik ke kampung halamanku berarti saya tidak akan tinggal di sini lagi, kamu tidak masalah kan dengan hal itu karena sejujurnya saya kesini untuk bertemu dengan suamiku dan memberikan kejutan atas kedatanganku ini makanya aku ke Jakarta," jawabnya Dewi.
"Amin ya rabbal alamin, makasih banyak atas doanya Mbak, semoga kedepannya saya bisa masakin Mbak dengan suaminya makanan yang enak-enak," timpalnya Dewi.
Nadia tersenyum sumringah karena Dewi mengabulkan permintaannya, "Kamu bisa mulai bekerja besok atau terserah kamu saja kapan siapnya, karena jujur saja saya sangat bahagia dan bersyukur karena kamu bersedia menjadi art di rumah kecilku ini," ucapnya Nadia dengan merendah.
Sejak hari itu, Dewi mulai tinggal bersama Nadia di rumah bertingkat dua itu yang hanya dihuni oleh mereka bertiga dengan tukang kebun merangkap security yang bernama Maman Suherman sedangkan Adli Fathan hanya terkadang datang menginap saja jika mau dan diminta oleh Nadia jika suaminya bepergian keluar daerah dalam rangka kerja.
"Pupus sudah harapanku untuk memilikinya ternyata dia sudah punya suami, tidak masalah kan kalau aku jadi temannya mungkin, apa aku minta sama Mbak Nadia untuk tinggal beberapa hari disini juga mumpung ada cewek cantik yang jadi hiburan dikala tugas kuliah numpuk, cewek cantik kayak dia rugi kalau enggak dimanfaatkan kecantikannya walau hanya Sekedar pengobat rasa capek saja,"
Sedangkan di kota S, seorang dokter kelimpungan mencari keberadaan pasien yang sudah hampir membuatnya gila dan tidak berdaya.
__ADS_1
Sial!! Jika Samuel Abidzar Al-Ghifari membawa kabur istrinya diam-diam ini yang gawat, pasti aku akan semakin kesulitan untuk bertemu dengan Dewi. Bahkan untuk merebut Dewi pun semakin sulit.
Dari raut wajahnya Irwansyah dokter muda spesialis itu nampak dengan jelas kemarahan dan kemurkaannya. Ia berulang kali memukul setir mobilnya itu, bahkan tadi sempat meninju tembok pagar rumahnya Dewi yang terkunci dan tergembok rapat itu. Dari kejauhan Irwansyah Maliq melihat ada dua perempuan paruh baya berjalan ke arahnya. Dia terburu-buru turun dari mobilnya itu untuk bertanya kepada kedua ibu-ibu tentang keberadaan Dewi.
"Assalamualaikum Ibu," sapanya Irwansyah ketika kedua ibu itu melewati mobilnya.
Keduanya spontan menolehkan kepalanya ke arahnya Syam," waalaikum salam, maaf ada yang bisa kami bantu Pak?"
"Apa Ibu tahu yang punya rumah bercat hijau itu? Ngomong-ngomong penghuni rumahnya ada di mana? Karena sudah dua hari aku ke sini tapi, orangnya tidak pernah aku lihat sekalipun maksudnya penghuni rumah tersebut, apa Ibu mengenalnya atau mungkin mengetahui kepergiannya kemana gitu," tanyanya Irwan yang segera merogoh dompetnya agar berbicara jujur padanya sesuai dengan informasi yang diharapkannya.
Irwansyah mengambil uang kertas berwarna merah di dalam dompetnya sekitar empat lembar. Kedua ibu itu matanya berbinar terang saking bahagianya ada uang cuma-cuma mereka dapatkan.
"Ohh Mbak Dewi Kinanti Mirasih kemarin kami sempat lihat sih turun dari taksi online, tapi setelah itu kami sudah tidak pernah melihatnya bahkan sudah tiga hari kok pak lampu rumahnya tidak padam menyala terus gitu," jawabnya ibu yang memakai hijab.
Raut wajahnya Irwan langsung kecewa dan berubah drastis, ia tidak mengetahui kenapa Dewi melakukan hal itu padanya.
Apa jangan-jangan terjadi sesuatu pada Dewi, karena aku hubungi nomor hpnya tapi, sampai sekarang tidak aktif. Kemarin siang masih aktif tapi, sudahnya itu sudah non aktif sampai sekarang.
"Kalau begitu makasih banyak Bu atas informasinya," ucapnya sendu Irwansyah.
Irwan segera bersandar di kap jendela mobilnya itu. Ia menyugar rambutnya kebelakang dengan gusar saking prustasi nya mencari keberadaan Dewi wanita muda bersuami itu tidak dilihatnya beberapa hari belakangan.
Andaikan aku bertemu dengan Syam Aku akan terang-terangan berbicara padanya dan menyatakan jika aku menyukai Dewi dan aku akan berusaha untuk merebutnya dari dalam genggaman tangannya itu.
Dewi kamu ada dimana sejak kemarin aku datang ke rumahmu,tapi rumahmu selalu tertutup rapat, lampu depan rumahmu menyala. Ya Allah… Dewi ada dimana? Aku sudah mencarinya di rumah paman dan bibinya tapi, katanya mereka sudah hampir dua minggu tidak pernah berkunjung ke sana. Sedangkan dia pulang dari rumah sakit juga aku tidak tahu.
__ADS_1
Apa sebaiknya aku datang langsung ke tempat kerjanya untuk bertanya kepada teman kerjanya, karena aku yakin pasti ada diantara mereka yang mengetahui keberadaan dan kepergian dari Dewi.