
Dewi tersenyum simpul setelah menjelaskan kepada suaminya kenapa dan mengapa ia memakai kelapa tua dibandingkan dengan santan siap saji instan.
"Ooh seperti itu, tapi ngomong-ngomong apa semua bahannya sudah ada?" Tanyanya Samuel sambil melihat-lihat ke dalam kantong kresek plastik belanjanya Dewi.
Syam melihat sudah ada bawang dengan dua varian, cabe rawit hijau dan merah, tomat, daun kemangi dan sebagainya sudah berada dan duduk manis Dy dalam kantongan siap menunggu perintah untuk diolah dan dimasak menjadi masakan ikan woku dan kepala ikan kakap merah.
"Alhamdulillah semuanya sudah ada kok Abang, jadi selajutnya kita bersiap ke warung sana yang jual ikan masih segar," ujarnya Dewi Kinanti Mirasih sambil menunjuk ke arah sebuah stan penjualan ikan yang masih sangat fresh karena semuanya langsung dari laut tanpa melalui pabrik ataupun pengolahan sebelumnya sehingga terbebas dari bahan-bahan dan zat kimia berbahaya.
"Kalau gitu let's go," ucapnya Samuel.
Mereka kembali melanjutkan perjalanannya mencari bahan-bahan masakan. Dewi terkadang heran dan kagum sekaligus melihat seorang pria yang kebanyakan kesehariannya duduk dibelakang layar komputernya.
"Lihat sana, ada cowok ganteng masuk pasar, jarang-jarang loh kita bisa lihat ada cowok ganteng yang ke pasar berbelanja," pujinya seorang wanita yang kebetulan berada di sekitar tempat mereka berdua.
"Iya yah beruntung banget perempuan yang disampingnya, kalau aku punya suami seperti dia pasti bahagia sudah kehidupanku, sudah ganteng perhatian lagi," puji perempuan yang satunya lagi.
Dewi yang tidak secara langsung mendengar perkataan dari mereka berdua yang memuji ketampanan dan sikapnya Syam. Ia bukannya cemburu mendengar banyaknya pujian yang diberikan oleh orang-orang terhadap suaminya, melainkan ia bangga dan juga bahagia. Dewi sama sekali tidak merasa terganggu dengan keadaan itu.
Dewi diam-diam memperhatikan wajahnya Syam," ya Allah… subhanallah… Abang Syam memang gantengnya kebangetan, saya tidak salah kan kalau mengangumi keindahan dari ciptaan Allah SWT yang begitu indah dimataku," Dewi mengagumi suaminya sendiri.
Syam terus berjalan ke arah penjual ikan,ia tidak berbalik badan dan hanya tersenyum tipis menanggapi perkataan dari orang-orang yang memperhatikannya.
__ADS_1
"Teruslah memujiku, aku ingin melihat apa istriku akan cemburu buta dengan pujian kalian, kalau seperti tandanya Dewi sudah mulai ada rasa padaku,"
Syam terus sesekali melirik ke arah istrinya itu yang raut wajahnya nampak tenang,tak terprovokasi oleh pujian dari orang-orang.
Kenapa Dewi sama sekali tidak mempermasalahkannya,apa jangan-jangan dia tidak cemburu berarti Dewi belum mencintaiku. Entah kenapa hatiku sangat kecewa ketika melihat reaksinya Dewi yang nampak biasa-biasa saja. Padahal Aku sangat berharap jika Dewi merasa cemburu itu tandanya aku berhasil menggeser posisinya Heri Ismail Fatahillah. Kalau begini berarti Dewi belum move on.
Tapi bukan Samuel Abidzar Al-Ghifari namaku jika aku tidak bisa menghapus namanya dan jejaknya pria brengsek itu dari dalam hati dan hidupnya Dewi Kinanti Mirasih. Ini janjiku padamu wahai pembaca setianya Satu Atap Dua Hati.
Dewi dan Syam berbagi tugas yang memilih ikan, mereka terkadang beradu argumentasi dalam memilih ikan apa yang bagus, sampai-sampai pemilik ikannya hanya geleng-geleng kepala melihat tingkah laku kedua pasangan suami istri itu.
Berselang beberapa menit kemudian mereka sudah pulang dari pasar tradisional. Mereka terkadang tertawa cengengesan jika mengingat kembali apa yang mereka lakukan di pasar tadi. Tapi, karena istri dari pemilik penjual ikan itu sedang hamil anak pertamanya yang berusia empat bulan itu, menyuruh Syam menyentuh puncak perutny yang buncit. Katanya sang ibu hamil,ia berharap anaknya akan terlahir ganteng seperti Syam kalau lahir anak laki-laki, jika perempuan akan lahir cantik.
Dewi dan Syam dengan senang hati mengiyakan keinginan sang ibu hamil. Bu Ratna sangat bahagia karena, apa yang diinginkannya terkabul juga. Katanya hitung-hitung disentuh oleh pria yang mirip dengan artis oppa Korea Selatan Jhi Chan Wook itu.
"Abang sana mandi, mungkin capek atau istirahat sebentar sambil nungguin aku masak makanan yang Abang suka," imbuhnya Dewi.
Syam menyanggah perkataan dari istrinya itu," apa aku boleh ikut gabung denganmu di dapur, aku bisa bantu ngupas bawang mungkin atau gangguin kamu di dapur boleh juga," candanya Syam sambil berjalan mendahului istrinya itu.
Padahal Dewi belum menyetujui permintaan dari suaminya itu, tapi Syam sudah ngacir masuk ke dalam dapur mendahului istrinya itu. Ia hanya menggelengkan kepalanya melihat sikapnya Syam langsung ngacir masuk ke dalam dapur.
Aku akan menunjukkan padamu bahwa aku suami yang selalu siaga membantu Istrinya dimanapun. Aku memang punya dua istri itu kelebihan yang aku miliki dan anugerah terindah dalam hidupku dan jarang banget seorang pria yang punya banyak istri yang tidak tahu memanfaatkan kondisi yang sangat menguntungkan bagi kami pihak pria.
__ADS_1
Dewi segera memulai memasak makanan yang direquets oleh suaminya tercinta yang tidak bisa dan sangat lihai menyembunyikan perasaannya jika dia cemburu, iri hati dengan perempuan dan gadis-gadis lain yang terang-terangan menggoda suaminya di depan matanya itu.
"Dewi apa yang bisa aku bantu?"
Syam memegangi satu persatu sayuran segar yang masih berada di dalam kanton kresek plastiknya. Dewi memasangkan celemek terlebih dahulu ke tubuhnya sebelum memasangnya ke tubuh suaminya secara bergantian.
"Abang diam yah, harus pakai ini dulu sebelum masak agar pakaiannya aman dan bersih dari cipratan noda bumbu atau yang lainnya ketika proses masak," jelasnya Dewi.
Syam yang mendengar perkataan dan penjelasan dari mulutnya Dewi, Sam hanya terdiam dan menurut apa yang dikatakan oleh istrinya itu. Dewi memasangkan apron itu ke tubuhnya Syam yang sudah berdiri tegap di depannya Dewi. Ketika Dewi berusaha meraih tali pengikat yang terletak di bagian belakang tubuhnya Syam sehingga secara tidak langsung Dwi memeluk tubuh sixpack nya Syam.
Wajah mereka saling berdekatan, postur tinggi tubuhnya Dewi hampir sama dengan Syam sehingga hidung mancung keduanya saling bersentuhan dan bergesekan dengan satu sama lainnya.
Kedua pasangan suami istri saling bertatapan satu sama lainnya tanpa ada yang berkedip sedikitpun. Syam tanpa disadarinya dan terkontrol tubuhnya semakin merapat ke arah tubuhnya Dewi. Senyuman yang sangat tipis itu terbit dari sudut bibirnya Syam karena memiliki akses untuk semakin dekat dengan istrinya itu.
Syam langsung mengecup sekilas puncak bibirnya Dewi sepintas lalu kemudian segera berjalan ngacir bergeser sedikit dari posisinya Dewi. Sedangkan Dewi hanya terdiam mematung karena mendapatkan serangan yang begitu tiba-tiba hingga tubuhnya seperti terhipnotis dan tidak mampu untuk bergerak sedikitpun.
Tangannya menyentuh bibir kenyalnya itu," apa benar Abang tadi mengecup bibirku atau hanya aku saja yang bermimpi," cicitnya Dewi yang masih keheranan dan tidak menduga dengan sikapnya Syam.
"Kalau masih mau aku bisa tambah kok mungkin durasi waktunya lebih lama dikit," guraunya Syam.
Dewi langsung menurunkan tangannya dari depan mulutnya itu. Kedua pipinya memerah blushing saking terkejutnya sekaligus bahagia dan malu dengan perlakuan suaminya itu.
__ADS_1
Berselang beberapa menit kemudian, Dewi kembali melejitkan pekerjaannya yang tertunda beberapa saat saja.
Dewi yang sibuk membersihkan sisik ikan dan juga bagian insan dan bagian organ dalam ikan tersebut" bang tolong dibersihkan sayurannya dulu sebelum dipotong-potong,"