Satu Atap Dua Hati

Satu Atap Dua Hati
Bab. 43


__ADS_3

Alhamdulillah Mas Syam sudah mengetahui apa yang terjadi pada Dewi dan katanya akan datang secepatnya ke sini untuk menemui Dewi. Semoga saja mereka bahagia dan kandungannya Dewi sehat selalu hingga lahiran.


Dia menatap ke arah Hayati yang baru datang sedangkan ia sekilas melirik kepergian Dokter Irwansyah dari dalam ruangan tersebut.


"Haya, gimana dengan kamar perawatannya Dewi,apa kamu sudah mengurusnya?" Tanyanya Dian ketika Hayati sudah berdiri di samping kirinya itu.


"Alhamdulillah Mbak semuanya sudah beres untungnya tadi saya sempat ambil tas handbagnya Mba Dewi jadi bisa selesaikan semua administrasinya dengan cepat dan mudah," jawabnya Nur Hayati.


"Syukur Alhamdulillah kalau seperti itu, tapi kok perawatnya belum datang juga untuk memindahkan Dewi sedangkan kita sudah melunasi semua pembayarannya," keluhnya Dian.


Baru sepersekian detik saja ucapannya Dian terhenti pintu icu di sekitar ruangan itu terbuka lebar. Masuklah beberapa orang dewasa berpakaian seragam perawat putih-putih.


"Maaf pasien atas nama Dewi Kinanti Mirasih Abidzar Al-Ghifari yang mana? Karena pasien akan dipindahkan ke dalam kamar perawatan," ucapnya salah satu perawat perempuan yang membawa beberapa kertas di dalam genggaman tangannya itu.


Dian segera berjalan ke arah perawat itu," disini Suster pasien yang Anda cari," teriaknya Dian yang sedikit membesarkan volume suaranya itu.


Suster tersebut segera mendorong bangkar sekuat tenaga dan mengatur semuanya terlebih dahulu selang infusnya Dewi sebelum mengangkat untuk memindahkan tubuhnya Dewi yang masih betah dalam istirahatnya yang cukup panjang itu.


Berselang beberapa menit kemudian, Dewi sudah berada di dalam kamar perawatan nomor satu awalnya hanya nomor dua, tetapi dokter Irwansyah menyuruh mereka untuk memindahkan pelayanan kelasnya ke kelas VIP.


"Ruangannya bagus yah mbak,mulai dari fasilitasnya lengkap ada tv, pakai ac pendingin ruangan, kulkas lemari es, lemari pakaian dan juga sebuah satu set sofa buludru." Ucapnya Hayati seolah mengabsen satu persatu perabot di dalam kamar inap itu.


"Enaknya kalau punya kenalan, segala sesuatunya dipermudah dan tidak mengalami kesulitan apapun," timpalnya Dian Mayang Sari yang juga memuji fasilitas penunjang kamar rawat tersebut.


"Mbak Dewi beruntung banget mendapatkan suami yang kerjanya bagus dan dikelilingi oleh orang-orang baik, kalau seperti ini namanya musibah membawa berkah, andai enggak ada cobaan yang menimpa Mbak Dewi gara-gara perbuatannya Herman pasti Mbak Dwi nggak ketemu dengan Abang Samuel, iya kan Mbak Dian," imbuhnya Nurhayati sambil membuka kulkas yang ternyata isinya lengkap dengan minuman ringan, cemilan ringan juga serta buah-buahan pastinya.


Hayati kembali memuji kualitas dari kamar perawatan tersebut. Dian pun tidak kalah mengangumi kelengkapan fasilitasnya. Ia sedikit iri dengan apa yang didapatkan oleh sahabatnya itu.


Andaikan calon suamiku juga punya kerjaan seperti Mas Samuel pasti kehidupanku nantinya tidak perlu capek-capek dan repot bekerja lagi. Dewi saja yang bego harus bersusah payah untuk banting tulang menghidupi hidupnya padahal uang belanja bulanan yang dikirim setiap bulannya sangat lebih dari cukup.


Ya begitulah reseki dan keberuntungan setiap orang berbeda-beda. Ada segelintir orang yang hanya bersantai ria di dalam rumahnya,tiap bulan ada transferan yang mengalir masuk ke rekeningnya. Ada pula manusia yang harus berjuang keras pergi pagi pulang malam demi sesuap nasi untuk anak dan istrinya sedangkan apa yang dia dapatkan sebulannya itu sangat pas-pasan.


Bahkan terkadang ada lagi yang hanya mendapatkan uang untuk makan saja, menabung sangat sulit untuk dilakukannya apalagi untuk beli barang-barang mewah dengan harga mahal. Karena untuk makan tiga kali sehari itu sungguh butuh perjuangan yang ekstra.


Tapi, sebagai manusia kita sepatutnya bersyukur atas apa yang kita dapatkan dalam setiap kehidupan. Karena rasa syukur atas segala nikmat dan karunia yang Allah SWT berikan, mampu membawa berkah tersendiri bagi yang pandai bersyukur. Yakinlah jika Allah SWT itu maha adil dan maha pengasih kepada semua umatnya.


Beberapa menit kemudian, Dian dan Hayati menikmati santap siangnya yang sudah terlambat itu. Setelah dokter Irwansyah membelikan makanan khusus untuk mereka.


Keduanya saking asyiknya menyantap santap siangnya, hingga tidak menyadari jika Dewi sudah siuman dan terbangun dari tidur panjangnya yang cukup berkualitas itu, karena wajahnya Dewi nampak segar.

__ADS_1


Dewi mengerjapkan kedua kelopak matanya yang seolah susah untuk terbuka saking enaknya tidurnya itu. Ia mengedarkan pandangannya ke sekeliling ruangan tersebut yang semua temboknya bercat putih itu.


"Saya sekarang ada dimana?"


Dewi berusaha untuk bangkit dari baringnya itu dan melihat ada selang infus terpasang di pergelangan tangan kanannya.


Sepertinya saya ada di dalam rumah sakit, tapi kenapa mereka membawaku ke RS,saya kan tidak punya penyakit tadi hanya pingsan saja.


Sudut ekor netra hitamnya melihat dua punggung perempuan yang berpakaian seragam kerja yang sangat dikenalnya itu.


"Dian, Haya!" Teriaknya Dewi yang sudah bersandar di headboard ranjangnya.


Dian dan Nurhayati segera menghentikan kegiatannya dan canda tawanya setelah mendengar teriakannya Dewi.


"Alhamdulillah Mbak Dewi sudah siuman,kami sangat senang melihat Mbak Dewi baik-baik saja," ujar Nurhayati yang berjalan tergesa-gesa ke arah ranjangnya Dewi yang menatap intens ke arah dua sahabatnya itu.


"Syukur Alhamdulillah kamu sudah sadar, kami tadi sangat khawatir melihatmu terjatuh karena pingsan, untungnya kamu tidak memiliki penyakit yang serius tapi, malah berita yang sungguh menggembirakan," imbuhnya Dian.


Dewi mengerutkan keningnya mendengar perkataan dari salah satu teman kerjanya itu.


"Maksudnya berita gembira apa? Bukannya saya sakit jadi dirawat di sini, kenapa Mbak Dian ngomong berita gembira segala!" Ketusnya Dewi yang keheranan dengan perkataannya Dian tersebut.


"Nyonya besar Samuel, Anda ini hamil makanya kami ngomong kalau itu adalah berita yang sungguh menggembirakan benar gak Haya?" Dian duduk di samping Dewi di atas brankar ranjangnya.


Dewi melototkan matanya saking terkejutnya sekaligus tidak percaya jika dirinya hamil dan di dalam rahimnya ada calon anaknya Syan bersamanya. Padahal mereka melakukannya baru sekali tapi berulang kali kala itu.


"Dewi, kenapa apa kau tidak suka dengan kabar baik ini?"


"Iya kenapa Mbak Dewi tiba-tiba terdiam seperti tidak suka mendengar jika dirinya tidak lama lagi akan hamil," imbuh Nurhayati yang ikut menambahkan m


Hingga air matanya Dewi menetes membasahi pipinya itu saking bahagianya dan terharu mendengar kabar gembira tersebut.


Saya harus ke Jakarta untuk memberikan kabar gembira ini langsung di hadapan Abang Syam,saya yakin dia pasti gembira karena kami tidak lama lagi akan memiliki anak.


"Ehh bu-kan mak-sud-nya sa-ya begitu Mbak saya terlalu gembira mendengarnya sehingga saya terdiam saking senangnya saya akhirnya hamil juga anak pertama kami," tuturnya Dewi seraya mengelus puncak perutnya yang masih datar itu dengan penuh suka cita.


Aku sebaiknya merahasiakan jika aku menelpon Syam dan mengatakan yang sejujurnya agar Dewi mendapatkan kejutan kepulangan suaminya nanti. Pasti Dewi semakin bahagia jika Samuel datang dengan segala kekuatan itu.


Dewi pun sempat bertanya masalah kesehatannya Herman setelah ditembak oleh polisi dibagian kakinya. Hayati menjelaskan semuanya karena kebetulan ia sempat melihat Herman ditangani oleh beberapa dokter.

__ADS_1


Keesokan harinya, Dewi sudah bisa kembali ke rumahnya. Ia sudah memutuskan untuk menyusul Syam ke Jakarta tanpa mengatakan kepada temannya termasuk Syam.


Saya akan memberikan kabar kepada Mbak Dian jika saya sudah di Jakarta dan bertemu langsung dengan Abang Syam. Aku harus berangkat siang ini juga, sebaiknya aku naik pesawat saja kalau bus terlalu lama. Saya hanya membawa buku rekening, KTP, kartu ATM dan beberapa kartu-kartu dan berkas penting lainnya. Baju tiga pasang saja kan bisa beli di sana.


Setelah sampai di rumahnya Dewi memutuskan untuk ke ibu kota Jakarta dengan penerbangan siang hari. Ia hanya membawa beberapa pakaian seadanya. Semua berkas pentingnya di taruh di dalam tas pakaiannya yang berukuran kecil itu sedangkan dompetnya dan alat make-upnya ditaruh di dalam handbagnya.


Dewi pun tidak mengatakan kepada adik dan paman serta bibinya jika dia mengalami musibah hingga harus dirawat di rumah sakit. Adiknya baru dua hari berangkat ke Kalimantan Selatan karena ada tawaran pekerjaan untuknya sebelum Dewi masuk rumah sakit. Hal itu dilakukan oleh Dewi agar mereka tidak perlu khawatir padanya.


Dewi sudah duduk di dalam pesawat terbang yang siap mengantarkannya ke kehidupan baru yang akan dijalaninya dengan penuh air mata, kesabaran dan keikhlasan dan penuh warna tentunya.


"Bismillahirrahmanirrahim semoga perjalananku lancar saja, nanti sampai di Jakarta baru saya telepon mereka."


Dewi cukup menikmati perjalanannya untungnya dia sudah minum obat dan vitaminnya sebelum berangkat ke bandara. Dokter Irwansyah yang sangat sibuk menangani pasiennya sehingga tidak tahu jika Dewi sudah keluar dari RS. ia juga tidak mengetahui jika Dewi sudah dalam perjalanan ke kota Jakarta.


Beberapa menit kemudian, Dewi sudah menginjakkan kakinya untuk pertama kalinya di Jakarta ibu kota terbesar yang ada di tanah air Indonesia.


"Alhamdulillah saya sudah sampai di Jakarta, sebaiknya aku cari tempat makan dulu sebelum menghubungi nomor hpnya Abang,"


Dewi mencari taksi online karena berniat untuk mencari restauran atau warung makan yang tidak terlalu jauh dari bandara internasional Soekarno Hatta.


"Pak antar saya ke warung terdekat saja yah," pintanya Dewi.


"Baik Bu," balasnya Pak supir taksi itu yang sudah sedikit tua terlihat dari rmabjtny, yang sudah ada yang beruban.


Hanya sekitar lima belas menit saja mobil itu berjalan,sudh, berhenti di depan salah satu warung makan yang cukup ramai dipadati oleh pengunjung.


"Ini pak ongkosnya, makasih banyak sudah diantar ke sini," ucap Dewi sambil menyodorkan selembar uang seratus ribu ke hadapannya pak Supir.


"Ini uangnya lebih tapi maaf belum ada kembaliannya Bu, saya baru keluar soalnya ibu penumpang pertama saya," tuturnya pak supir.


Dewi tersenyum ramah," ambil saja sisanya untuk anak bapak di rumah,"


"Alhamdulillah makasih banyak Bu, semoga harinya selalu bahagia dan penuh keberkahan,"


"Amin ya rabbal alamin," balas Dewi.


Baru sekitar lima langkah atau lebih kakinya Dewi melangkah, tiba-tiba ada dua orang yang naik motor menarik kedua tas bawaannya Dewi ketika menyebrang jalan.


"Ahhh tolong!!" teriaknya Dewi yang tubuhnya berputar ketika tasnya berhasil ditarik oleh dua orang pria sekaligus.

__ADS_1


__ADS_2