Satu Atap Dua Hati

Satu Atap Dua Hati
Bab. 79


__ADS_3

Dewi hendak bertanya kepada suaminya tapi, niatnya itu segera diurungkan. Dewi tidak ingin menganggu ketenangan suaminya ketika ia membuka pintu kamarnya dan mendapati suaminya yang sedang berdiri di balkon kamarnya sambil menghisap sebatang rokok.


Hal semacam itu, ini yang kedua kalinya terlihat oleh matanya Dewi. Pernah sekali terjadi ketika mereka akan menikah, Syam diam-diam menghisap rokoknya sebatang untuk menghilangkan rasa jenuh, pusing, stres dan frustasinya itu.


Apa yang terjadi pada Abang Syam? Kenapa sampai Abang merokok lagi. Padahal katanya dulu ia itu merokok kalau terdesak,tapi ngomong-ngomong hal apa saja yang membuatnya mendesak sehingga harus merokok lagi?


Berbagai pertanyaan muncul dibenaknya Dewi, tapi ia segan untuk bertanya mengenai masalah yang menimpa suaminya itu.


Sudahlah, kalau sudah saatnya saya yakin Abang akan berbicara sendiri padaku. Saya tidak ingin mencampuri urusan pribadinya yang dia sendiri tidak ingin berbagi denganku.


Saya hanya bisa selalu berdoa yang terbaik untuk Abang Syam dengan Mbak Nadia agar mereka selalu bahagia dan dilindungi oleh Allah SWT.


Karena feelingku mengatakan jika ada hubungannya dan kaitannya dengan Mbak Nadia.


Apa saya bertanya kepada Papa dan Mama saja yah? Tapi bagaimana kalau Abang berasa tersinggung dengan pertanyaanku.


Sudahlah kalau sudah saat tepat Abang pasti buka suara untuk terbuka dan berbicara panjang lebar padaku.


Saya hanya bisa berdoa semoga semuanya berjalan lancar dan dalam keadaan baik-baik saja.


Dewi segera berjalan meninggalkan kamar pribadinya dan menutup rapat pintu tersebut, tapi baru beberapa sepersekian detik ia menutup pintu kamarnya. Ibu mertuanya hampir saja mengejutkannya.


"Dewi kenapa tidak jadi masuk di dalam kamarmu sendiri, apa yang terjadi?" Tanyanya Bu Rina Amelia yang penasaran dengan apa yang dilakukan oleh anak menantunya itu.


"Ehh Mama a-nu sa-ya mau melihat ketiga anakku sepertinya mereka sudah bangun," kilahnya Dewi yang salah tingkah karena ketahuan apa yang sudah dilakukannya itu.

__ADS_1


"Oh begitu Nak,kalau begitu yuk kita barengan ke sana lihat cucu-cucuku, neneknya kangen nih sama mereka," imbuhnya Bu Rina yang sebenarnya mengetahui apa yang terjadi pada Dewi tapi, kembali lagi mereka tidak ingin mencampuri urusan anak-anaknya jika bukan anaknya yang langsung berterus terang kepada mereka.


"Ma kalau hari jumat nanti bagus enggak kita rayakan aqiqahan anak-anakku kebetulan putrinya Mbak Nadia kan sudah diaqiqah, kasihan mereka kalau ditunda lebih lama lagi padahal mereka sudah hampir dua bulan lebih usianya," imbuhnya Dewi sambil berjalan bergandengan tangan dengan ibu mertuanya itu.


"Kalau sesuai dengan kesepakatan kami memang hari jumat rencananya papa dan Syam, katanya mereka akan bertanya pendapatmu apa kamu setuju dengan keputusan kami ini," timpalnya Bu Rina.


"Alhamdulillah kalau kalian juga menginginkan hari jumat kalau begitu sangat kebetulan ma," pungkasnya Dewi.


Kedua wanita beda usia dan generasi itu sudah berada di depan pintu kamar keempat cucunya. Dewi memutar knop pintu kamar anak kembarnya itu tapi,kembali dibuat terkejut melihat seorang perempuan yang sedang menggendong seorang bayi dengan selimut bedongnya berwarna ungu.


"Bu Siti!" Beonya Dewi.


Perempuan yang di sebut oleh Dewi itu segera menolehkan kepalanya ke arah kedatangan Dewi dan Bu Rina.


"Mbak Dewi," cicitnya Bi Siti Aminah.


"Alhamdulillah ma, saya sudah mengenal Bu Siti sejak beberapa bulan yang lalu dan ceritanya cukup panjang," jawabnya Dewi seraya berjalan ke arah Bu Siti.


Entah kenapa Dewi melihat bayi tersebut langsung hatinya terpikat, tersentuh dan bahagia dengan bayi tersebut yang belum dikenalnya jika itu adalah anak angkatnya Nadia dan suaminya.


"Bi Siti kok Shanum diganti selimutnya, tadi kan pakai warna pink," tebaknya Dewi yang belum mengetahui siapa bayi yang di dalam gendongannya sekarang karena sudah menggantikan posisi Bi Siti.


Bu Siti menatap ke arah Bu Rina terlebih dahulu meminta ijin untuk menjawab pertanyaan dari Dewi Kinanti Mirasih. Tetapi, bu Rina menggeleng kepalanya melihat tatapan matanya Bu Siti yang mengarah kepadanya itu.


"Dia bukan Shanum putrimu tapi, Shaira Innira putri angkatnya Nadia dengan suamimu," jawab Bu Rina yang tanpa basa-basi langsung menjawab pertanyaan dari Dewi tersebut.

__ADS_1


Dewi mengarahkan pandangannya ke arah mertuanya itu," Shaira Ma! Kok bisa dia ada di sini? Apa jangan-jangan mbak Nadia sudah mengetahui hubungan saya dengan Abang Sam?" Tanyanya penuh selidik.


Dewi mulai panik serta ketakutan jika hubungannya akan membuat Nadia mengamuk dan mendatanginya dengan marah-marah serta melampiaskan amarahnya padanya. Bu Rina yang mengerti dengan keadaannya Dewi segera menenangkan diri menantunya.


Bu Rina menyentuh lengannya Dewi yang sedikit tertutup hijab rumahannya yang cukup panjang yang dipakainya Dewi saat itu. Dewi mulai berkeringat dingin, tangannya mulai gemetaran ketakutan.


"Dewi tenanglah, ingat kamu itu sedang menggendong bayi, Mama akan menjelaskan semuanya panjang lebar tapi, mulai detik ini Shaira Innira Samuel adalah putri bungsumu bukan putrinya lagi Nadia," Bu Rina menjeda perkataannya kemudian mengedarkan pandangannya ke sekeliling ruangan tersebut.


Kebetulan dalam ruangan itu ada asisten rumah tangganya sehingga Bu Rina berencana untuk mengatakan apa yang seharusnya dikatakannya hari itu juga menjelang sore.


"Untuk semuanya mulai detik ini, hari ini Shaira bukan lagi anaknya Nadia dan bukan juga anak angkatnya Samuel tapi, ingat baik-baik jika dia adalah cucunya Gilang Iskandar dan putri bungsunya Syamuel Abidzar Al-Ghifari dan Dewi Kinanti Mirasih tidak boleh ada yang mengungkit ataupun mengatakan kepada siapapun jika dia hanyalah anak angkat di dalam keluarga besar kita, jadi mulai hari ini jika ada yang bertanya berapa anaknya Dewi dan Syam katakan padanya jika Dewi hamil dan melahirkan anak kembar empat sekaligus, semoga kalian bisa mengerti dan tutup mulut dengan kenyataan yang kalian ketahui hari ini," perintahnya Bu Rina.


"Mak-sud-nya putrinya Mbak Nadia hanya anak angkat?" Tanyanya Dewi yang menatap intens ke arah mama mertuanya itu.


"Panjang banget ceritanya Nak, intinya Nadia telah menipu, membohongi dan memanipulasi kehamilannya ternyata sekitar kurang lebih lima bulan lalu dia keguguran dan bayi dalam kandungannya meninggal dunia, rahimnya diangkat sehingga tidak memungkinkan dan mustahil untuk hamil kembali, jadi dia tidak mengatakan sejujurnya kepada suami kalian apa yang sebenarnya terjadi," jelasnya panjang kali lebar Bu Rina.


Dewi tersentak terkejut mendengar penuturan dari mulut ibu mertuanya itu," astagfirullah aladzim kenapa Mbak Nadia bisa berbuat seperti itu membohongi Abang Syam, kenapa meski enggak jujur saja," tukasnya Dewi.


"Entahlah Nadia terlalu bego sehingga memilih jalan pintas seperti itu yang menghancurkan kehidupan rumah tangganya sendiri," tuturnya Bu Rina lagi.


Selamat untuk:


kak Vivi Bidadari, Ka' Unee Wee, kakak Yani, Ka Aurizra Alhamdulillah sudah sukses give away kecil-kecilannya.


insya Allah minggu terakhir akan ada lagi yang dapat bagi khusus pembaca setia caranya:

__ADS_1


like, Komentar, baca Satu Atap Dua Hat.


__ADS_2