
Abyasa yang hendak membuang sampah yang dipegangnya. Ia segera mengalihkan perhatiannya ke arah pria tua itu yang kebetulan berdiri di sampingnya Abiyasa.
Abyasa tersenyum simpul sebelum menjawab pertanyaan dari pria tua itu," oh bukan pak kebetulan ada teman yang tinggal di unit nomor XX, aku hanya kebetulan datang berkunjung saja dan sekarang juga sudah mau pulang," ucapnya Abyaza.
"Oh itu kan punyanya Non Adelin gadis cantik yang terkenal itu, kamu temannya toh tapi ngomong-ngomong bapak perhatikan kamu bukan asli orang sini yah, apakah kamu pendatang?" Tanyanya Pak Tua itu.
"Iya pak saya pendatang dari Indonesia," jelasnya Abyasa.
"Ooh Indonesia, saya masih ingat kalau tidak salah ada pulau Bali saya juga pernah kesana," ucapnya Pak Tua itu seperti orang yang berusaha mengingat kejadian beberapa tahun silam.
Mereka berbincang-bincang hingga beberapa menit kemudian. Abyasa yang tanpa sengaja melihat jam tangannya yang melingkar di pergelangan tangan kirinya. Ia baru teringat jika dia berjanji akan makan malam bersama kedua adiknya Aidan Akhtar dan Shaira Innira.
Dia segera meninggalkan area apartemen adiknya sang atasan pemilik kafe tempat ia bekerja hampir empat tahun itu.
"Astaughfirullahaladzim kenapa sampai aku lupa jika adikku akan datang ke asrama, padahal Aira sudah jauh-jauh datang dari ujungnya London," gumamnya Abyasa yang berjalan cepat ke arah parkiran.
Berselang beberapa menit kemudian, Abyasa sudah sampai di depan asramanya. Sudut netra hitamnya melihat seorang perempuan yang memakai hijab menunggunya di depan pintu kamar asramanya.
"Assalamualaikum," sapanya Abyaza yang sudah berdiri di hadapan adiknya setelah mempercepat langkah kakinya dari arah parkiran ke dalam lokasi asrama putra.
Shaira segera membalas ucapannya Abyasa.
"Waalaikum salam Bang," ucapnya Shaira yang membalas sapaan dari kakak sulungnya itu dengan senyuman lebarnya.
Shaira segera berjalan ke arah kakaknya dengan berjalan terburu-buru karena saking bahagianya melihat kakaknya itu. Mereka tidak satu lokasi kampus. Bahkan mereka berbeda kota. Aidan dan Abyasa tinggalnya di Manchester sedangkan Shaira di London.
Shaira langsung memeluk tubuh kakak sulungnya," Abang, dede sangat merindukan Abang," ujarnya Shaira yang sudah memeluk kakaknya.
Seperti itulah kebiasaan yang sering mereka lakukan jika bertemu. Mereka tidak akan segan dan sungkan untuk memperlihatkan keakraban dan kedekatan mereka semua di hadapan orang lain.
"Abang juga dek merindukan Aira, Sha dan juga Mama Dewi dengan Papa Syam," imbuhnya Abyasa yang kembali teringat pada adiknya yang ada fu Jakarta dan juga kedua orang tuanya.
"Ngomong-ngomong katanya Mbak Shanum sudah mau bersiap untuk magang di salah satu perusahaan, gimana kalau besok kita hubungi Mama dan Sha, gimana menurut abang?" Tanyanya Shaira yang melerai pelukannya itu.
"Itu ide yang bagus dek,tapi kalau sekarang sebaiknya kita berbincang-bincang di dalam saja kasihan Abang baru balik dari tempat kerjanya," sahutnya Aidan yang ikut menimpali percakapan antara adik bungsunya dan kakak pertamanya itu.
__ADS_1
Keduanya terkekeh mendengar candaannya Aidan. Ketiga anaknya Dewi berjalan beriringan masuk ke dalam kamar asramanya Abyasa.
Sedangkan di tempat lain, tepatnya di dalam kamar unit apartemennya. Adeline tertidur pulas tanpa terbangun lagi hingga pagi hari.
Beberapa minggu kemudian…
Hari ini adalah hari pertama Shaira magang di salah satu rumah sakit yang terpilih dari universitas tempat ia kuliah.
"Alhamdulillah sudah pagi rupanya," Shaira membuka tirai jendela kamarnya pagi itu.
Hingga sinar matahari pagi langsung menyembul dari luar masuk ke dalam kamarnya yang membuat kamar yang selalu terlihat rapi dan cukup bersih itu semakin indah dan cantik.
Shaira berdiri di balkon kamarnya sambil merentangkan kedua tangannya ke samping dengan menyerap sinar cahaya matahari pagi itu. Tapi, tanpa diketahui oleh Shaira ternyata apa yang dilakukannya sejak tadi diperhatikan oleh seorang pria yang kebetulan melintas jalan depan kamar asramanya Shaira.
"Cantik sekali, senyumannya itu sangat meneduhkan hatiku ini," cicitnya sambil memegangi setir mobilnya itu yang sudah mematikan mesin mobilnya.
Shaira tidak lupa menyiram bunga matahari yang kebetulan bunga paling disukainya itu. Arti bunga matahari adalah cinta yang tanpa suara dan cinta yang tidak terucapkan. Ada juga yang mengartikan kalau bunga matahari adalah ungkapan cinta sejati. Makanya Shaira lebih menyukai bunga matahari dari pada jenis bunga lainnya.
Kamu lebih cantik dari bunga matahari yang kau hirup wanginya,"
Maryam teman sekamarnya hanya tersenyum melihat tingkah lakunya Shaira jika sudah berdekatan dengan bunga-bunga kesayangannya yang dirawatnya dengan sepenuh hatinya.
"Kamu yah selalu seperti ini setiap pagi, tapi ngomong-ngomong apa kamu lupa jika hari ini hari pertama kita magang di rumah sakit XX," tanyanya Maryam yang sudah sejak awal menjadi teman sekamarnya sejak menginjakkan kakinya di London.
Maryam Nurhaliza adalah gadis berasal dari negara Malaysia Kuala Lumpur. Sama halnya dengan Shaira yang mendapatkan beasiswa untuk melanjutkan pendidikannya di luar negeri.
Shaira hanya tersenyum lebar mendengarkan perkataannya dari sahabat terbaiknya itu yang kebetulan juga memakai hijab.
"Entah kenapa aku seperti kehilangan semangat untuk beraktifitas jika tidak menemui mereka terlebih dahulu," ujarnya Shaira lagi menambahkan.
"Sudah sana sarapan pagi dulu, kita akan memulai hari ini dengan penuh semangat dan berharap agar di tempat magang semuanya berjalan lancar saja," tuturnya Maryam.
Shaira menaikkan jempolnya sambil berbicara," Alhamdulillah makasih banyak sudah masak pagi ini,"
Keduanya kemudian berjalan beriringan ke arah dalam dapur dan duduk di kursi masing-masing. Berselang beberapa menit kemudian, Shaira sudah siap untuk berangkat ke rumah sakit tempat ini magang beberapa bulan kedepannya.
__ADS_1
Shaira mengambil jurusan dokter spesialis anak sedangkan Maryam dokter spesialis jiwa. Keduanya cukup akrab bahkan mereka sering ada yang menganggap mereka itu saudara kandung. Padahal jelas-jelas mereka beda asal negara.
"Bismillahirrahmanirrahim, lancarkanlah segalanya ya Allah,"
Shaira dan Maryam segera masuk ke dalam bis yang akan mengantarnya ke rumah sakit yang cukup besar dan terkenal di London.
"Sampai jumpa sore nanti yah," teriaknya Maryam karena mereka berbeda lokasi tempat praktek sehingga di depan pintu masuk mereka berpisah karena tujuan yang berbeda walau satu rumah sakit.
Shaira berjalan ke arah dalam rumah sakit setelah menemui beberapa rekan setimnya dan mendengarkan arahan dari beberapa dokter. Shaira dan rekannya mulai bekerja.
Hampir setiap hari Shaira berangkat ke rumah sakit, Kampus dan asrama hingga beberapa minggu berlalu. Shaira melirik sekilas ke jam tangannya itu dan sudah waktunya santap siang.
"Mery sepertinya sudah waktunya istirahat," ucap Shaira.
"Iya nih kamu duluan saja Shaira kamu kan mau menghadap Tuhan kamu dulu, aku tunggu kamu disini saja sekalian kita makannya barengan saja," pintanya Mery seraya menggerakkan tangannya seperti orang yang shalat seperti yang sering dilihatnya jika Shaira shalat lima waktu.
Shaira segera mempercepat langkahnya karena takutnya dia sudah terlambat untuk shalat dzuhur. Hingga semakin mempercepat langkah kakinya itu. Tapi, ketika hendak berbelok di depan lorong tanpa sengaja dia menabrak tubuh seseorang yang cukup tinggi.
Orang tersebut jika dilihat dari raut wajahnya seperti seseorang yang terburu-buru dan panik. Tubuhnya Shaira hampir saja terhuyung ke belakang. Untungnya dia sigap berpegangan pada tangan sang orang yang menabraknya.
Hingga tubuh orang yang kebetulan ditarik itu langsung berdempetan dengan tubuhnya sendiri. Shaira yang cepat tersadar segera melepaskan pegangan tangannya hingga tidak terjadi adegan-adegan seperti di novel lain atau di drama Korea Selatan ataupun yang Bollywood.
Shaira menundukkan kepalanya ke arah bawah," maafkan saya tidak sengaja Pak," ucapnya Shaira penuh sesal karena sudah bertindak ceroboh.
Shaira berulang-ulang mengulangi menundukkan kepalanya ke arah bawah. Ia tidak ingin dicap sebagai orang yang tidak bertanggung jawab dan tidak menyadari kesalahannya sendiri.
"Tidak perlu seperti itu juga, saya juga bersalah disini," ucap sang pria itu.
Shaira spontan mendongakkan kepalanya ke arah atas dan melihat wajah pria yang cukup tampan di usianya pria yang cukup matang. Pria itu spontan tersenyum setelah melihat dengan baik siapa perempuan yang menabraknya itu.
"Alhamdulillah kalau bapak tidak mempermasalahkan hal ini,kalau begitu saya pamit dulu Pak, karena masih banyak pekerjaan yang harus saya kerjakan," imbuhnya Shaira sambil menangkupkan kedua tangannya di depan dadanya.
Shaira segera berjalan tanpa memperhatikan jika apa yang terjadi barusan adalah diperhatikan oleh beberapa orang yang kebetulan bersama dengan pria yang menabraknya.
"Bukannya itu perempuan yang bersama Brianna dulu yah? Tapi aku perhatikan kakak Adelio memperhatikan dengan seksama perempuan cantik itu, hemph apakah kakak sudah berniat untuk mengakhiri masa dudanya,"
__ADS_1