Satu Atap Dua Hati

Satu Atap Dua Hati
Bab. 114


__ADS_3

Tubuhnya Adeline merosot ke bawah untungnya Abyasa yang masih terkejut mampu bergerak cepat untuk membantu Adeline agar tidak terjerembab ke atas lantai lift.


"Hey Nona! Apa yang terjadi padamu!?"


Pekiknya Abyasa yang terpaksa memeluk tubuh perempuan yang bukan mahramnya karena dalam kondisi genting.


Abyaza tidak menyangka jika ciuman pertamanya harus diserahkan kepada seorang gadis yang dalam keadaan mabuk.


"Astaughfirullahaladzim ini gadis sudah rebut ciuman pertamaku langsung tidak sadarkan diri saja," gerutu Abyasa.


Abyasa mulai kebingungan akan diapain perempuan ini, Abyasa memeluk erat tubuh perempuan yang sudah teler dalam lift. Untung saja Abyasa tidak reflek menjatuhkan tubuhnya Adeline ke atas lantai ketika Adelin pingsan.


Abyasa masih berusaha untuk membangunkan gadis yang paling nekat dan berani mengecup sekilas bibirnya Abyasa. Abya menepuk-nepuk kedua pipihnya Adelin secara bergantian. tetapi apa yang dilakukannya itu sama sekali tidak berhasil malah gagal. Adelin tertidur cantik dalam dekapan pelukannya Abyaza yang membuat Adelin sungguh nyaman.


"Aku harus gimana, perempuan ini aku enggak kenal harus aku bawa kemana juga, tidak mungkin aku biarkan tertidur di dalam lift itu sangat berbahaya apalagi melihat pakaiannya yang sungguh terbuka," Abyasa terkadang merem melek melihat pakaiannya gadis yang berada dalam pelukannya.


Abyasa segera membuka sweater hoodie yang dipakainya kemudian ia segera memakaikan pada gadis yang tidak dikenalnya itu sebelum pintu lift terbuka lebar. Abaya masih berusaha untuk membangunkan perempuan tersebut, karena ia akan kesulitan untuk membawa kemana gadis tersebut, sedangkan unit apartemennya saja tidak diketahui oleh Abyasa.


"Apa sebaiknya aku gendong saja terus aku bertanya pada security agar mengetahui dimana alamat rumah perempuan ini? Atau aku periksa saja terlebih dahulu hpnya mungkin saja ada petunjuk yang bisa aku pergunakan untuk mengetahui identitasnya," gumamnya Abya yang sudah merogoh handbag mahal gadis tersebut.


Abyasa tersenyum dikala mendapatkan dompet gadis itu. Ia pun membuka dompet tersebut dan betapa terkejutnya ketika melihat sebuah foto yang tidak lain adalah foto seorang pria merangkul seorang gadis yang tidak lain adalah sang pemilik dompet tersebut.


"Apa hubungannya gadis ini dengan si bos Abidal Haris Hamilton yah apa jangan-jangan dia adalah adiknya," Abyasa menatap perempuan yang sudah terbaring di atas lantai lift yang sudah memakai hodienya Abyasa yang cukup pas ditubuhnya.


Abyasa segera memasukkan beberapa barang-barang miliknya Adeline ke dalam handbagnya kembali yang tercecer di atas lantai. Ia memunguti satu persatu benda-benda yang terkadang membuatnya Abyasa geleng-geleng kepala.

__ADS_1


"Apa semua gadis di dunia ini tidak bisa hidup tanpa membawa kemana-mana alat makeup nya? Shanum adikku pun seperti ini juga tapi dengan Shaira enggak terlalu sih kalau aku perhatikan,"


Abyasa hanya tersenyum simpul melihat benda tersebut yang sudah masuk ke dalam tas selempangnya Adelin.


"Alhamdulillah kalau seperti ini pekerjaanku sudah sedikit mudah dan hampir selesai, karena perempuan ini adalah adiknya Tuan Abidal alhamdulilah aku bisa langsung mengantarnya ke unit kamar apartemennya," cicitnya Abyasa.


Abyasa segera menggendong tubuhnya Adeline walau terkadang kesulitan dan kesusahan. Karena Abyasa tidak ingin menyentuh sesuatu yang baginya tidak boleh dia sentuh. Sehingga sangat kerepotan membawa Adelin. Apalagi membawa paper bag yang berisi makanan.


Untungnya dia sedang berada di luar negeri tepatnya di London Inggris dimana kehidupan sehari-hari tidak ada yang terlalu kepo dengan kehidupan orang lain termasuk apa yang sedang kamu perbuat sekarang.


Abyasa tersenyum simpul melihat nomor unit apartemennya Adelin yang masih tidak sadarkan diri dalam gendongannya. Nafasnya Abyasa memburu, ngos-ngosan keringat dingin mulai mengucur deras dari tubuh dan wajahnya Abyasa. Nafasnya cukup tersengal-sengal saking beratnya tubuhnya Adeline dalam gendongannya.


Bayangkan saja menggendong seorang perempuan dari lift ke unit apartemennya yang cukup jauh jaraknya. Untungnya Abyasa tipe cowok yang sering berolahraga terutama taekwondo dan karate sehingga masalah seperti yang dihadapinya sekarang ini sungguh tidak membuatnya kesulitan.


"Alhamdulillah akhirnya sampai juga,tapi ngomong-ngomong password kuncinya berapa?" Abyasa kembali kebingungan.


Berselang beberapa menit kemudian, untungnya Adelin diluar dugaan terbangun dari pingsannya sehingga ia bisa membuka dan menekan password kuncinya apartemen tersebut. Walaupun dia turun dalam gendongannya Abyasa dalam keadaan sempoyongan.


Kedua penglihatannya cukup terganggu dan kabur tapi ia cukup sanggup untuk membuka kuncinya. Ia pun langsung masuk ke dalam kamarnya setelah berhasil terbuka lebar.


"Alhamdulillah aku tidak menyangka orang yang sudah mabuk berat ternyata masih sanggup untuk membuka pintu," Abyasa hanya geleng-geleng kepala melihat tingkahnya gadis itu yang tanpa berbicara sepatah katapun.


Adelin berjalan sempoyongan ke arah dalam, Abyasa pun mengikuti langkah kakinya Adelin yang tiba-tiba khawatir dan mencemaskan keadaannya Adelin ketika melihat cara berjalannya.


Adeline tanpa sepatah katapun langsung nyelonong masuk ke kamarnya bahkan tidak membuka sepatu high heelsnya. Dia langsung menjatuhkan dirinya ke atas ranjang king size-nya tersebut.

__ADS_1


Abyasa hanya melototkan matanya melihat tingkah lakunya Adelin. Dia menggelengkan kepalanya itu.


"Astaauhfirullah aladzim kalau seperti ini terus kelakuannya apa tidak pernah ketakutan jika ada pria yang berniat jahat padanya," gerutunya Abyasa Akhtam yang menyimpan beberapa barang-barang miliknya Adeline di atas meja nakas kamarnya.


"Sungguh luar biasa gaya hidup gadis ini, kalau seperti ini gadis di dunia ini apa yang akan terjadi?"


Abyasa awalnya hanya berniat untuk membantu Adeline menyimpan barang-barang miliknya ke atas meja nakas. Tetapi, melihat kondisi kamar dari adik bosnya itu ia berinisiatif membersihkannya.


"Karena Pak Abidal baik banget jadi atasan dan pemilik kafe mungkin sebaiknya aku bantuin adiknya untuk beresin rumahnya ini, lagian tidak ada juga kerjaan lagi setelah ini hanya balik ke rumah bertemu dengan Aidan dan dede Aira saja," cicitnya Abya.


Abyasa segera membersihkan unit apartemen itu yang cukup luas. Dia tanpa lelah membersihkan beberapa barang-barang yang tercecer di atas lantai. Terutama kaleng-kaleng bekas minuman bersoda, kotak makanan dan beberapa sampah plastik lainnya.


Hingga jam sembilan malam barulah selesai mengerjakan pekerjaan tambahannya tanpa permintaan dari yang punya apartemen.


"Syukur alhamdulilah sudah selesai, waktunya pulang," Abyasa segera meninggalkan ruangan tersebut sambil mengambil beberapa kantong plastik kresek sampah untuk dibuangnya di tempat khusus pembuangan sampah.


Beberapa orang memperhatikan apa yang dilakukan oleh Abyasa yang kebetulan berpapasan dengannya di jalan yang dilaluinya.


"Maaf bung apa kamu penghuni baru di apartemen ini?" Tanyanya seorang pria cukup berumur.


Fania putuskan akhir bulan pengumuman yang akan mendapatkan give away untuk tiga novel aku yah:


Satu atap dua hati


Pamanmu adalah jodohku

__ADS_1


Belum berakhir


setiap novel ada beberapa pembaca setia akan terpilih. khusus untuk reader yang paling rajin baca, like, komentar.


__ADS_2