Satu Atap Dua Hati

Satu Atap Dua Hati
Bab. 242


__ADS_3

Semua orang segera menuju rumah sakit ketika mendengar kabar baik jika Maryam Nurhaliza akan melahirkan bayi pertamanya.


Bu Siti tersenyum simpul ketika Fariz membalas pesan singkat digrub keluarganya dan mengabarkan jika, Sheila Alona calon istrinya pun sudah melahirkan baru sepersekian menit yang lalu.


"Syukur alhamdulilah, Non Sheila juga sudah melahirkan anak cowok di rumah sakit kasih bunda," terangnya Bi Siti.


"Alhamdulillah putranya sudah lahir dengan selamat,"


"Mama aku mohon cepatlah ke rumah sakit, Mbak Maryam akan melahirkan," ucapnya Sahnum yang mengabari mamanya itu ketika melihat kakak iparnya dibawah ke rumah sakit.


"Iya baji,Mama sudah dijalan bersama papa kamu, apa kamu sudah mengabari kakakmu Aidan?" Tanyanya Dewi.


"Sudah Ma, tapi nomor ponselnya abang enggak aktif," jawabnya Shanum yang sedikit khawatir karena baru kali ini nomor ponselnya Aidan Akhtar tidak aktif.


"Mungkin nomor ponselnya lowbet kehabisan charger, kalau gitu Mama tutup dulu telponnya yah nak, kamu baik-baik yah dengan cucunya Mama," ucapnya Dewi sebelum mematikan sambungan teleponnya.


"Iya Ma, Mama dengan Papa juga baik-baik yah, assalamualaikum,"


"Waalaikum salam,"


Shanun segera menidurkan putrinya ke atas ranjangnya itu karena dia ingin beristirahat ditemai putrinya yang sudah pintar berjalan sehingga dia takut dan mencemaskan jika Shanaz bangun dan terjatuh dari atas box bayinya.


Shanum membelai lembut rambut dan turun ke wajahnya baby Shahnaz," kenapa semakin besar kamu rada-rada mirip dengan kakak Aidan yah, lihatlah bulu matanya yang lentik, bibirnya yang mungil tapi rambut dan hidungmu seperti orang Eropa saja,"


Sahnum pun memejamkan matanya disamping putrinya yang tidur pulas. Keduanya tidur siang hari itu, sedangkan suaminya berada di Jepang, Tokyo karena melakukan perjalanan bisnisnya.


Sedangkan di tempat lain, Shaira segera meminta dokter terbaik untuk membantu persalinan kakak iparnya di rumah sakit milik suaminya sendiri.


"Suster apa semua sudah siap?" Tanyanya Adelio ketika melihat ada perawat yang datang menghampiri mereka.

__ADS_1


"Alhamdulillah, sudah beres dan siap semuanya Tuan Muda Adelio," balasnya.


"Mbak bisa sendiri kan di dalam sana,ehh bukan sendiri kan ada beberapa suster dan perawat yang akan menemani Mbak, mereka semua tim medis yang terbaik dimiliki oleh rumah sakit kita ini," ucap Shaira yang sengaja melakukan hal itu agar Maryam bisa tenang.


Maryam tersenyum simpul menanggapi perkataannya dari adik iparnya sekaligus sahabatnya itu.


"Ya aku akan tenang, karena ini rumah sakit suami kamu pastinya aku akan tenang," Mariam memegangi tangannya Shaira yang tidak bisa menyembunyikan kepanikan di raut wajahnya Shaira Innira.


"Kalau gitu dorong cepat ke dalam, takutnya air ketubannya sudah pecah," titahnya dokter Rahayu Purwaningsih.


"Ingatlah Mbak bukan seorang diri, tapi kami selalu ada untuk kamu, yakinlah kalian berdua akan selamat," ucap Shaira sebelum pintu ruang persalinan tertutup rapat.


"De Aira, suamiku mana apa kalian sudah meneleponnya?" Tanyanya Maryam yang celingak-celinguk mencari keberadaan dari suaminya Aidan.


Shaira menatap kakak sulungnya sebelum menjawab pertanyaan dari kakak iparnya,"Ehh iya sudah, katanya sudah dijalan mbak," Shaira berucap padahal itu adalah kebohongan agar Maryam bisa tenang dan nyaman menjalani persalinannya.


Setelah itu Maryam dan perawat sudah tidak terlihat, sebagian dari mereka sudah ada yang duduk sedangkan Shaira masih saja sibuk mondar mandir.


Sedangkan Syaira terus berusaha untuk menghubungi nomor ponsel kakak keduanya, tapi hasilnya nihil tanpa ada yang terhubung.


"Ya Allah kemana perginya kakak, istrinya sedang berjuang keras di dalam kamar persalinan, sedangkan dia entah kemana perginya, apa aku telpon ke kantornya saja, aku yakin asistennya Andre tahu dimana kakak," lirihnya Shaira.


"Dede Aira apa yang terjadi? Kenapa kamu seperti sangat cemas?" Tanyanya Abiyasa Akhtam yang mengagetkan Shaira karena tiba-tiba menyentuh dan menepuk pelan pundaknya Shaira.


Hingga hpnya terjatuh ke atas lantai, prang!


"A-nu i-tu kak Aidan telponnya tidak bisa tersambung kak," ucapnya Shaira yang terbata.


"Coba aku yang hubungi teman kantornya, tepatnya sekretarisnya yang bernama Rachel Amanda," usulnya Abyaza.

__ADS_1


Shaira hanya menganggukkan kepalanya tanda setuju seraya meraih benda pipih yang teronggok ke atas lantai keramik rumah sakit.


"Alhamdulillah hpnya baik-baik saja, hemph kualitasnya sesuai dengan harganya, lumayan enggak retak ataupun tergores sedikitpun, aku kirim chat saja pasti kalau hpnya aktif kakak akan baca chatku," lirih Shaira yang mengetik beberapa kata sebelum dikirim ke nomor whatshap nya Aidan Akhtar.


Sedangkan di tempat yang cukup jauh seseorang sedang melakukan ijab kabul pernikahannya dengan perempuan yang sungguh cantik dengan balutan kebaya modern pengantin ala adat istiadat Sumatra Selatan.


"Saya terima nikah dan kawinnya Rachel Amanda binti bapak Herlambang dengan mas kawin seperangkat alat sholat dan emas 24 seberat 20 gram dibayar tunai,"


"Bagaimana para saksi apakah sah?" Tanyanya Pak penghulu.


"Sah!" Teriak semuanya secara serentak.


Alhamdulillah untungnya dia mau bertanggung jawab, jika tidak mana ada pria yang akan menikah denganku setelah malam itu dia merenggut kehormatanku.


Apalagi aku sudah hamil tiga bulan, tapi apakah kedua orang tuanya akan menerimaku sebagai menantunya?


ya Allah aku memang sudah berbuat dosa karena telah berhubungan badan di luar nikah, tapi waktu itu aku dalam posisi yang terpaksa.


Waktu itu Pak Ai dalam keadaan mabuk setelah menghadiri pertemuan dengan klien perusahaan dari Jerman, kami melakukannya di dalam hotel yang telah disediakan oleh perusahaan.


Walaupun aku sangat mencintainya, mendamba dan memuja kebaikan, ketampanannya tetapi aku bukanlah wanita penggoda yang bisa melakukan segalanya demi mendapatkan cinta dari pria yang aku sayangi.


Aku masih punya harga diri, tapi malam itu dia merenggut segalanya harta yang paling berharga dalam hidupku.


Air matanya Rachel Amanda tumpah ruah setelah resmi menyandang status sebagai seorang istri dari laki-laki yang menjadi atasannya di tempat dia bekerja.


Maryam sudah dibantu oleh tim dokter spesialis kandungan untuk segera melahirkan kedua bayinya yang selama ini tidak diketahuinya jika anaknya kembar tiga. Apalagi Maryam hanya mengetahui anaknya kembar dua saja.


Aku yakin Abang Aidan pasti sibuk dengan pekerjaannya apalagi katanya akan melakukan perjalanan bisnis.

__ADS_1


Aku tidak boleh membebani dirinya ketika aku akan melahirkan. Ya Allah jika disinilah hari terakhir aku menjadi istrinya bang Aidan aku tidak masalah, hanya saja aku kepikiran dengan buah cinta dan hati kami ini.


Maryam menyeka air matanya dan sesekali meringis kesakitan karena lebih memilih melahirkan normal dibanding dengan melakukan tindakan operasi cesar.


__ADS_2