
Dewi terdiam dan terpaku mendengar Nadia menyebut nama Syam yang mirip dengan suaminya. Ia memikirkan segala kemungkinan yang bisa terjadi,tapi kembali lagi nama banyak yang sama tapi, orangnya berbeda.
Kenapa namanya mirip banget dengan Abang Syam? Aah mungkin karena banyak nama yang sama dengan namanya Abang. Say pasti mungkin karena merindukan Abang jadinya nama yang mirip saya menyangka namanya Abang.
Nadia yang sedari tadi menjelaskan tentang kesukaan suaminya itu, seolah hanya berbicara dengan tembok dan beberapa belanjaannya tidak menduga jika Dewi hanya terdiam mematung saja dengan pikiran matanya yang seperti banyak macam masalah yang dipikirkannya.
Kenapa Dewi seharian ini aku perhatikan seperti orang yang banyak beban pikiran, karena sejak tadi seringkali terdiam mematung. Apa mungkin teringat dengan suaminya dan kampung halamannya. Ahh itu bisa jadi, kasihan juga dengan nasibnya padahal sedang hamil juga.
Nadia Yualianti memegang dengan lembut lengannya Dewi agar segera tersadar dari lamunannya itu, "Dewi! Hey apa yang terjadi padamu, kamu baik-baik saja kan?" Tanyanya Nadia yang mulai khawatir melihat Dewi yang bengong seperti ayam kesambet sesuatu yang halus saja.
Dewi tersentak terkejut mendengar teriakannya Nadia," eh maaf Mbak tadi keingat paman sama bibi jadi saya tidak fokus mendengarkan perkataan dari Mbak," kilahnya Dewi yang tidak mungkin mengatakan jika dia memikirkan suaminya yang mirip dengan namanya suami dari majikannya itu.
"Kalau gitu kita lanjutkan belanjaannya terus, kita mampir di pasar tradisional untuk beli beberapa bahan-bahan bumbu masak dan ikan yang tidak ada di sini sebelum suamiku pulang," pintanya Nadia yang kembali berjalan mendahului Dewi yang kesusahan mendorong troli belanjaannya itu.
Mereka kemudian ikut bergabung di dalam barisan banyaknya orang yang sedang antri menunggu giliran untuk membayar total keseluruhan belanjaannya.
Aku heran dan juga salut melihat Dewi yang cantik tapi, masih saja mau capek-capek dan repot menjadi juru masak di rumahku dan ketika aku tawari dia langsung menerima tawaranku tanpa banyak syarat.
Tapi, ngomong-ngomong kok bisa yah dia terpisah jauh dengan suaminya katanya suaminya tinggal di kota Jakarta sedangkan dia di daerah S, kalau aku tidak mungkin mau dan sudi tinggalnya berjauhan dengan suamiku,mana sanggup aku hidup berpisah apalagi jauh banget jaraknya dari sini ke kota S.
Aku bangga padanya selama hampir dua minggu tinggal di rumah, tapi sedikitpun aku tidak pernah dengar dia mengeluh apapun, pekerjannya juga cepat selesai, tidak malas, masakannya enak dan rajin terkadang membantu bibi untuk membersihkan.
Siapapun suaminya pastinya bangga dan bahagia punya istri sholeha serba bisa. Kalau aku mana bisa melakukan semua itu dan amit-amit deh kalau aku harus mengotori jari jemariku serta kukuku yang yang cantik ini dengan berbagai macam warna bumbu dapur.
Apalagi aku melakukan berbagai macam perawatan di salon bisa-bisa semuanya gagal jika aku terkena asap kompor, bau keringat dan juga runyam lah persoalannya kalau aku yang terjun langsung di dapur. Untungnya aku menikah dengan Mas Syam jika menikah dengan Rio, bisa gawat hidupku yang gajinya hanya sedikit saja.
__ADS_1
Berselang beberapa menit kemudian, mereka sudah sampai di sekitar pasar tradisional. Dewi segera turun dari mobil dan mengambil beberapa uang kertas yang nantinya akan dibelanjakan oleh Dewi.
"Mang Udin bapak tungguin saja disini, saya tidak lama kok, Mbak Dania tidak apa-apa kan saya tinggal sebentar?" Tanyanya Dewi.
Nadia mengalihkan perhatiannya dari layar hpnya yang sedang bersantai sambil ikut nimbrung di wa grup teman-teman sosialitanya itu.
"Agak lama juga enggak apa-apa kok lagian suamiku baliknya mungkin habis insya, jadi kamu belanjanya terserah saja lama cepat aku tidak persoalkan yang paling penting kamu harus masak yang enak, lezat dan nikmat malam ini itu yang paling utama," jelasnya Nadia sambil tersenyum lebar ke arah Dewi dengan menyandarkan kepalanya ke headboard kursi jok belakang mobilnya itu.
"Kalau gitu saya pamit dulu Mbak, assalamualaikum," ucapnya Dewi berpamitan.
Nadia sama sekali tidak membalas perkataannya dari Dewi terutama salamnya, Dewi hanya tersenyum tipis melihat sikapnya Nadia.
Dewi berjalan menyusuri jalan setapak dengan di sepanjang jalan dikedua sisinya berjejer penjual sayur, ikan, buah dan lainnya. Dewi memperhatikan kesegaran dari jenis bumbu, sayur, buah yang akan dibelinya itu ke-dua baru masalah harganya.
Setelah melakukan pemilihan barang-barang kebutuhan pokok terutama urusan dapur, ia segera menawar harga dari yang sudah ditimbang oleh pembeli. Dewi patut bersyukur karena penjualnya cukup ramah dengan harga terjangkau dan juga pastinya dapat bonus yang banyak karens memang belanjanya juga banyak banget.
"Ibu boleh aku bantuin bawa barang belanjaannya," ucap seorang anak perempuan yang menawarkan jasanya itu di depannya Dewi dengan cara menghalangi Dewi berjalan.
Dewi menatap postur tubuh anak itu terlebih dahulu sebelum menjawab pertanyaan dari anaknya. Seolah anak perempuan yang kira-kira berusia 9 tahun itu mengerti dengan arti dari tatapannya Dewi.
"Insya Allah saya sanggup kok Bu angkatnya, Ibu tidak perlu khawatir karena walau tubuhku kecil tapi, tenagaku cukup kuat kok," jelasnya anak perempuan yang memakai hijab berwarna putih yang warnanya sudah berubah tidak putih lagi tapi agak kecokelatan.
"Kamu angkat belanjaannya Mbak ke mobil berwarna putih itu yah terparkir tidak jauh dari sini, karena Mbak masih mau beli ikan soalnya," pinta Dewi sambil menunjuk ke arah mobil yang didalamnya ada Nadia yang sedang sibuk dengan teman sosialitanya itu.
"Siap Mbak,kalau sudah beres aku bantuin lagi bawa yang sisanya bisa kan?" Tanyanya anak itu yang bahagia karena akhirnya hari ini dapat orang yang bisa dibantunya tentunya akan menunggu imbalan berupa uang.
__ADS_1
Berselang beberapa menit kemudian, mereka bersama-sama balik ke mobil sambil bercengkrama dengan santai.
"Kenapa kamu enggak sekolah? Padahal Mbak yakin kamu itu pintar," pujinya Dewi.
Anak itu tersenyum simpul sebelum menjawab pertanyaan dari Dewi," saya tidak punya bapak Mbak, bapak saya sejak saya masih dalam kandungan tidak pernah balik lagi katanya pergi kerja di luar daerah, sedangkan ibu sakit-sakitan jadi mau tidak mau saya harus kerja banting tulang menghidupi Ibu sama saya sendiri," ungkap anak perempuan itu.
Dewi terenyuh dan tersentuh hatinya mendengar perkataan dari mulutnya anak yang bernama Alia itu.
"Dek besok-besok kalau Mbak belanja kamu lihatin dan tungguin Mbak yah supaya kamu dapat kerjaan tambahan dari Mbak, jadi saya tidak perlu manggil anak lain untuk bantuin Mbak," sarannya Dewi.
"Alhamdulillah siap Mbak,saya akan nungguin Mbak di tempat itu yah, jadi kalau cari Aliya di sana saja, memang rumahnya Mbak tidak jauh dari sini yah?" Tanyanya Alia.
"Bukan rumahnya Mbak dek, tapi rumahnya majikan Mbak, Mbak kerja disana jadi tukang masak," jawabnya Dewi dengan santai.
Keduanya berjalan sambil sesekali saling menimpali percakapan mereka masing-masing hingga canda tawa mereka terdengar ke luar. Suasana pasar yang ramai dan bising tidak mengganggu kenyamanan keduanya.
"Mang Udin! Tolong bukain pintunya!"Teriak Dewi.
Mang Udin segera menghabiskan rokoknya kemudian berjalan tergopoh-gopoh ke arah Dewi.
"Maaf Mbak Dewi mamang lagi merokok tadi jadi lambat balasnya," sesalnya Mang Udin.
Dewi tersenyum ramah," tidak apa-apa kok mang, santai saja kok saya juga baru nyampe,"
Aliya tersenyum bahagia karena tadi Dewi memberikan uang lebih dari gajinya yang biasanya hanya dua ribu dan paling lima ribu rupiah, tapi hari ini dapat gaji 100 ribu dari Dewi.
__ADS_1
"Alhamdulillah hari ini saya ketemu dengan orang baik, semoga saja hidupnya Mbak Dewi bahagia selalu untuk selamanya,"