
"Papa Syam, Mama Dewi maafin aku yang sudah mengkhianati kepercayaan kalian, ini salahnya Sha sendiri, aku tidak suci lagi hiks… hikss.."
Shanum Insyira menangis histeris di dalam kamar mandi. Dia meratapi nasibnya yang begitu malang.
"Astaghfirullahaladzim ini semua salahku sudah bodoh harus lari ke club malam, padahal aku sudah tahu kalau disana adalah tempat yang paling berbahaya untuk aku datangi," keluhnya Shanum.
Shanum masih berendam dalam bathtubnya. Ia menangis tersedu-sedu dalam kubangan penyesalan.
"Aku tidak pantas lagi mengharapkan cintanya Abang, inilah kebodohan kedua terbesar yang aku perbuat, entah setan apa yang merasukiku hingga bisa terobsesi pada saudaraku sendiri," sesalnya Shanum sembari memukul-mukul permukaan air yang dipenuhi busa sabun.
Sedangkan ketiga saudaranya sudah berangkat ke Inggris London. Suasana haru menyelimuti keberangkatan ketiga anaknya.
Ya Allah… saya berserah padamu semoga saja anak-anakku sampai dengan selamat di London tanpa kekurangan apapun.
Anak-anakku semoga kelak engkau pulang membawa kebanggaan untuk kami kedua orang tuamu. Semoga kalian juga bisa mengharumkan nama negara tercinta kita Indonesia.
Segala ucapan, doa harapan dan impian kedua pasangan suami istri melepas kepergian ketiga anaknya yaitu, Abyasa Akhtam, Aidan Akhtar dan Shaira Innira.
"Nyonya apa kita langsung pulang ke rumah atau mungkin ada tempat yang ingin nyonya datangi?" Tanyanya mang Joko sambil sedikit membungkukkan badannya itu.
Dewi menyeka air matanya luruh seketika melihat kepergian anaknya, "Kita langsung pulang saja Mang Joko, kasihan putriku Sha yang harus seorang diri di rumah."
"Iya mang Joko kita pulang saja, cucian di rumah banyak belum aku cuci," sahutnya bi Minah yang ikut menimpali percakapan keduanya.
Syam tidak ikut berbicara dengan mereka dia malah langsung masuk ke dalam mobilnya dan duduk tepat di belakang kemudi mobilnya. Dia teringat dengan sikap dan alasannya Sha yang tidak muncul kemarin di acara makan bersama mereka dalam rangka melepas kepergian ketiga anaknya itu.
Ya Allah… kenapa saya sulit sekali mengetahui siapa suami sirinya Gina, kemarin waktu saya ke Lombok tidak mendapat petunjuk apapun, atau apa saya harus pergi ke yayasan tempat
Ya Allah kenapa firasatku tidak enak, apa yang terjadi dengan Shanum putriku sebenarnya, sudah beberapa hari ini aku perhatikan ada yang aneh dengannya. Tapi semoga saja putriku itu dalam keadaan baik-baik saja.
__ADS_1
Berselang beberapa jam kemudian, mereka sudah sampai di depan rumahnya. Dewi, Bu Mina, bi Siti segera turun dari mobilnya.
Shanum yang masih duduk di depan meja riasnya yang menatap bayangan pantulan wajah dan seluruh tubuhnya hanya terdiam. Dia masih bingung dengan keputusannya, apakah melanjutkan niatnya untuk memakai hijab ataukah belum saatnya.
"Bismillahirrahmanirrahim semoga Allah SWT meridhoi niat baikku ini, ya Allah walaupun aku sudah tidak suci dan kotor tapi jangan biarkan hatiku ini sampai ikut dengan keadaan fisikku yang sudah rusak, aku berharap agar keinginan dan niat tulusku ini selalu dimudahkan jalannya,"
Shanum segera menutupi mahkota kepalanya yaitu rambutnya yang hitam legam bergelombang diujungnya itu ditutupinya dengan sebuah hijab instan model aneska hijab rumahan yang ujungnya bergelombang seperti model daun sangat cantik dipakai oleh Shanum.
Air matanya luruh seketika melihat pantulan wajah dirinya sendiri yang memakai hijab.
"Apakah ini alasannya Shaira adikku sehingga banyak orang yang menyukainya, ataukah karena akhlak dan kecantikan alami yang dimilikinya yang tercermin dari kepribadian dirinya yang begitu baik dan anggunnya walau menyimpan rahasia jika adikku adalah jago taekwondo," gumam Shanum.
Shanum segera menyelesaikan memakai hijabnya setelah mendengar bunyi deru mesin mobil milik kedua orang tuanya. Ia segera bergegas berdiri dan menyudahi ritual beriasnya. Dengan makeup yang cukup tebal ia poles wajahnya agar tidak terlihat jika kelopak matanya bengkak dan memerah.
"Abang, Dede Aira maafkan Sha yang tidak pergi mengantar kepergian kalian semua bukannya Sha marah, tapi karena terlalu malu dengan keadaanku yang sekarang ini," lirihnya Shanum sebelum menuruni tangga.
Shanum berdehem dan menghembuskan nafasnya dengan cukup keras dan kasar berulang kali agar tidak ketahuan jika dia sedang mengalami masalah yang sungguh sangat rumit dan pelik.
"Assalamualaikum," ucapnya Dewi dengan suara nyaring.
"Waalaikum salam," balasnya Shanum yang berlari kecil menuju kedua orang tuanya walau masih sedikit perih dan sakit di bagian sensitifnya tapi berusaha ia tutupi dengan senyuman.
Semua orang yang melihat Shanum berlari dibuat tercengang, terkejut melihat penampilan putri sulung di keluarganya itu. Dewi menatap intens ke arah suaminya hingga langkah kakinya terhenti saking kagetnya melihat penampilan baru dan tidak biasanya Shanum kala itu.
Sahnun tersenyum penuh kelembutan menyambut kedatangan kedua orang tuanya," kenapa Mama dan papa lihatin Sha seperti itu? Bi Siti dan bi Minah juga apa Sha kelihatan jelek yah kalau pakai hijab seperti dede Aira?" Tanyanya Sahnun yang merasa tidak percaya diri dengan penampilannya yang baru itu.
Dewi reflek memajukan tubuhnya ke arah Shanum dengan senyuman kegembiraannya," Masya Allah nak,kamu sangat cantik memakai pakaian seperti ini, Mama harap kamu bisa Istikomah dengan pilihan kamu ini," harapnya Dewi seraya memeluk tubuh putri sulungnya itu.
"Iya Non Sha Anda sangat cantik memakai pakaian gamis seperti ini, Anda seperti bidadari surga yang turun dari khayangan loh," pujinya bi Minah.
__ADS_1
"Apakah kamu juga tidak ingin memeluk Papa nak?" Tanyanya Sam sambil merentangkan kedua tangannya menyambut kedatangan putrinya itu.
Shanum segera melerai pelukannya dari tubuhnya Dewi dan segera berhamburan mendekap hangat tubuhnya Samuel Abidzar Al-Ghifari papanya.
Selama ini Shanum sebenarnya lebih dekat dengan papanya, tapi kalau Shaira mamanya. Shanum lebih bisa santai dan nyaman jika berada di sisi papanya itu dari pada Dewi. Tapi, keduanya tetap menjadi kebanggaannya Shanum.
Makanya ketika Hanif Yahya mengatakan jika dia adalah ayah biologisnya,ia sangat menentang dan tidak menerima kenyataan itu.
"Nak papa sangat bahagia melihat penampilan terbarumu hari ini,semoga apa yang kamu pilih dan yakini bisa menjadikan kamu manusia yang lebih baik lagi dari sebelumnya, papa berharap semua anak-anaknya Papa bisa bahagia dengan pilihan hidup mereka masing-masing," imbuhnya Syam yang sangat berharap penuh agar kehidupan masing-masing anak-anaknya bisa bahagia di dunia dan akhirat.
"Amin ya rabbal alamin," ucap semuanya serentak.
"Ma, Pa maafin Shanum yah masalah kemarin, tidak sempat datang di acaranya Abang dan Aira, aku kemarin sangat sibuk jadi enggak sempat hadir,kalian nggak marah kan dengan aku tidak hadir di restoran?" Tanyanya Sahnun dengan hati-hati.
Sam mendahului istrinya untuk berbicara," tidak apa-apa kok Nak kami sangat memaklumi tidak hadirnya kamu, ketiga saudaramu juga tidak mempermasalahkannya mereka sangat memaklumi kondisi kamu sehingga tidak datang," ungkapnya Syam yang memang mereka tidak ingin membebani anak-anaknya dengan rasa kecewanya yang sempat dirasakan sebelumnya.
"Syukur alhamdulilah, makasih banyak Papa kalian memang kedua orang tuaku yang paling terbaik seumur hidupnya Sha," ucapnya Shanum Inshira.
Kesedihan dan keharuan akhirnya berubah menjadi kegembiraan. Mereka tertawa bahagia bersama dengan saling memaafkan, melupakan kesalahan yang telah lalu. Tidak ada kekesalan, kebencian, dendam dan amarah diantara mereka lagi.
Sedangkan di tempat lain seorang pria dewasa yang seumuran dengan Samuel Abidzar Al-Ghifari terkejut melihat kedatangan beberapa tamu di depan rumahnya itu.
"Selamat siang pak, apa benar Anda yang bernama Pak Hanif Yahya?" Tanyanya salah satu dari pria berjas hitam itu.
"Benar sekali, tapi ngomong-ngomong Anda cari saya dalam rangka apa yah?" Tanyanya Hanif balik bertanya.
"Kami dari tim pengacara yang diutus oleh istri Anda ibu Citra Lestari Juan untuk mengurus segera surat dan berkas perceraian kalian," jelasnya yang satu lagi.
Hanif kaget bukan main mendengar kata cerai," apa cerai!?" Tanyanya Hanif yang sama sekali tidak percaya dengan perkataan dari pengacara tersebut.
__ADS_1
"Apa kami boleh masuk dan menjelaskan lebih terperinci dan detail agar tidak terjadi kesalahpahaman disini," pintanya pak Charles Hutagalung pengacara keluarganya Citra.