
Shanum segera menyeka bibirnya yang baru saja muntah. Dia tidak menyelesaikan acara makannya padahal makanannya baru separuh dimakan.
"Ya Allah…kalau aku benar-benar hamil bagaimana kalau papa dan mama mengetahuinya, hancur sudah masa depanku, kenapa aku masih hamil juga padahal sudah banyak obat yang aku minum," Shanum berjalan sempoyongan ke arah dalam kamarnya sambil sesekali menyeka air matanya menetes membasahi pipinya itu.
"Ya Allah semoga saja apa yang saya khawatirkan tidak terjadi, apakah ini namanya karma,buah yang jatuh tak akan jauh dari pohonnya, memang belum ada bukti hitam diatas putih tapi saya sangat yakin jika Sahnun adalah putriku Gina adik sepupuku," Bu Siti berjalan mengekor di belakangnya Shanum.
Bu Siti segera menyelesaikan acara masak-memasaknya ia hendak mengikuti kemana perginya Shanum. Tetapi langkah kakinya terhenti dengan teriakannya Bi Minah.
"Bi Siti mau kemana? Lihat adonan kuenya belum selesai loh ingat tanggal 29 sudah lebaran idul adha tapi kue nastarnya belum masak juga," ujarnya Bu Mina Laila Sari.
Bi Siti terpaksa mengurungkan niatnya untuk mengejar Shanum,ia malah membantu menyelesaikan beberapa jenis kue kering sesuai dengan petunjuk dan permintaan dari Dewi sendiri.
Bukannya Dewi tidak mampu membeli kue jadi,tapi baginya kue buatan tangan sendiri semuanya serba bisa dijamin segalanya. Baik dari kehalalan bahan-bahannya, kualitas produknya, serta kebersihan higienisnya lebih bisa dipantau dibandingkan dengan beli kue jadi.
Shanum segera mengganti pakaiannya dan bergegas ke apotek untuk membeli testpack. Dia tidak ingin hanya menerka ataupun menduga-duga saja. Hasil dari pemeriksaan secara langsung lebih akurat dibandingkan dengan hanya mengira-ngira saja yang terkadang meleset.
Shanum memiliki kesempatan untuk keluar rumah, karena kebetulan kedua orang tuanya sedang bepergian ke kampung. Kebetulan cucunya dari pamannya Dewi sedang mengadakan pesta pernikahan sehingga mereka kemarin sore balik ke kampung.
"Aku harus segera ke apotek setelah hasilnya ketahuan, aku tidak mau tahu anak tidak boleh lahir ke dunia,jika tidak aku akan mempermalukan kedua orang tuaku yang sudah berjasa melahirkan dan membesarkan aku di dunia ini,"
Shanum berjalan ke arah pintu depan dengan menuruni satu persatu undakan anak tangga dan sesekali mengamati keadaan sekitarnya.
"Tidak boleh ada yang curiga apalagi mengetahui apa yang aku perbuat, cukup aku dengan Allah SWT yang mengetahui kejadian ini," lirihnya Shanum.
Ketika baru ingin menyalakan mesin mobilnya,dia terpaksa berhenti sejenak karena Mang Joko menegurnya.
__ADS_1
"Eh non Sha, mau kemana siang bolong gini?" Tanyanya pak Joko yang sekedar berbasa-basi saja.
"Eh a-nu Pak ada tugas kampus yang harus a-ku selesaikan," jawabnya Shanum dengan tergagap.
"Ohh gitu yah Non kalau gitu tolong hati-hati yah Non, hati-hati dijalan," imbuhnya Mamang Joko.
"Makasih banyak Pak Joko, assalamualaikum," ucapnya Shanum berpamitan.
Shanum baru bisa bernafas lega setelah berhasil meninggalkan dengan selamat pagar pembatas rumahnya dengan jalan raya. Sahnun membuang nafasnya dengan cukup kasar.
"Alhamdulillah akhirnya bisa lolos juga, ternyata seperti ini rasanya yah jika melakukan kesalahan besar, entah kenapa aku dulu terlalu berani dan pede melakukan hal-hal yang tidak baik, tapi sekarang malah ketakutan setengah mati dan seperti selalu dibayang-bayangi kesalahanku sendiri,"
Deru mesin mobilnya terdengar begitu nyaring seolah seperti sedang diburu oleh seseorang saja. Sahnun mengemudikan mobilnya dengan kecepatan yang cukup tinggi.
"Kenapa hal terjadi padaku!? Apa karena selama ini aku sudah terlalu banyak salah kepada Mama Dewi dan papa Syam sehingga aku ditegur oleh Allah SWT, ya Allah maafkanlah hambaMu ini yang sudah banyak salah, khilaf dan dosa,"
"Apa Abang Abya, Aidan dan Dede Shaira pasti kecewa padaku jika mengetahui siapa aku sebenarnya, aku yakin mereka kecewa punya saudara seperti aku," ratapnya Shanum yang semakin sedih dengan keadaannya itu.
Hingga beberapa menit kemudian,ia segera menghentikan laju kendaraannya ketika melihat ada apotek tidak jauh dari tempatnya sekarang. Shanum terlebih dahulu memperhatikan area sekitar lokasi apotek. Ia tidak ingin jika sampai ada orang yang mengenalinya.
Sahnun memakai masker kain untuk menutupi seluruh wajahnya kemanapun perginya m ia tidak ingin ada orang yang mengetahui jika dia sedang melakukan transfer di apotek tersebut. Karena kemungkinan besar rahasianya ketahuan adalah nol.
"Maaf Mbak ada yang bisa kami bantu?" Tanyanya penjaga apotek itu.
"Eh a-nu a-ku mau testpack dengan berbagai merek," ujarnya Shanum.
__ADS_1
"Maaf Mbak kami hanya ada sekitar lima macam jenis merk yang apotek kami jual, semua kualitas keakuratannya bagus," ucapnya pegawai apoteker tersebut.
"Oke aku ambil saja semuanya," timpalnya Shanum.
Setelah menyelesaikan pembayaran, Shanum segera melanjutkan perjalanannya tersebut tak tentu arah.
"Aku baru kemana lagi ya Allah, aku tidak mungkin untuk saat ini pulang ke rumah dan dimana tempat bagus untuk mengetes apakah aku negatif atau positif hamil,"
Sahnum terus mengemudikan mobilnya hingga sudut ekor matanya melihat tidak jauh dari tempatnya ada SPBU Pertamina.
"Aku cek di depan saja, mumpung lokasi SPBU ini cukup jauh sehingga tidak akan mungkin ada tetangga, keluarga atau teman yang melihatku berada di sini," Shanum kembali mengedarkan pandangannya ke sekeliling tempat tersebut yang dipadati oleh berbagai macam jenis kendaraan.
Baik itu roda dua maupun roda tiga, Shanum mengunci rapat mobilnya dan kembali berjalan tergesa-gesa ke arah dalam kamar mandi khusus cewek.
Tapi tanpa sepengetahuannya ada seorang yang sedari mengikuti jejak kemanapun perginya. Sejak Shanum keluar dari dalam apotek hingga ke pom bensin terdekat yang dilaluinya itu.
"Sudah tiga bulan lebih aku mencari keberadaanmu wanitaku, akhirnya kamu datang juga. Tapi sayangnya penampilanmu sudah berubah. Pantesan anak-anak buahku tidak bisa menemukan keberadaanmu, tapi hari ini aku tidak akan ijinkan kamu bisa bebas dari dalam genggamanku," pria Muda itu memukul setir mobilnya dengan kuat bukannya marah.
Tapi,dia terlalu bahagia melihat penampilan terbarunya perempuan yang disukainya itu dengan segala sifat obsesi dan angkuhnya tersebut.
Sahnum mengunci mobilnya terlebih dahulu kemudian mengambil beberapa testpack yang ada di dalam kantong kresek tersebut. Shanum segera mengecek satu persatu alat tes kehamilan itu. Tapi semua hasilnya sama, ia kembali histeris menangis tersedu-sedu di dalam kamar mandi.
"Astaughfirullahaladzim, kenapa semua ini bisa terjadi padaku, apa yang harus aku lakukan jika Mama Dewi dan papa Sam mengetahui kejelekan aku ini,"
Shanum terduduk di atas closet duduk tersebut dengan deraian air matanya. Ia tidak menduga jika dia hamil dengan pria yang sama sekali tidak dikenalnya.
__ADS_1
"Bagaimana caranya aku menuntut tanggung jawab kepada pria itu? Atau sebaiknya aku menggugurkan saja kandunganku ini,"
Shanum menutup mulutnya agar suara tangisannya tidak terdengar ke arah luar, dia tidak ingin ketahuan jika sedang menangis meratapi kesedihan dan penyesalannya ketika mengetahui dirinya hamil anak pria yang sama sekali tidak dikenalnya.