
Shaira yang kebetulan duduk tepat bersebelahan dengan Adisty sedikit menautkan kedua alisnya melihat sikapnya Adisti yang seperti barusan melihat hantu disiang bolong saja.
"Adisti, apa yang terjadi padamu?" Tanyanya Shaira yang melihat gerak geriknya Adisty yang aneh dimatanya.
Adisti mendongak menatap kakak sepupunya itu," tidak apa-apa kok kak Aira, aku hanya baru teringat dengan pekerjaan kantor, maklumlah urusan pernikahanku dengan mas Ade cukup menyita waktu dan perhatian sehingga pekerjaan dari kantor sedikit terganggu," elaknya Adisti Ulfah yang tidak mungkin mengatakan kepada keluarganya apa yang barusan dilihatnya.
"Ohh," Shaira hanya beroh ria saja.
Shanum dan Shaira bergantian menggendong kedua jagoan kecilnya Maryam Nurhaliza. Shanum memberikan kode kepada Shaira adiknya dengan menanyakan perihal mengenai ketidakhadiran Aidan Akhtar kakaknya.
Shaira yang mengerti dan paham maksud dari kode yang diberikan oleh kakaknya itu hanya menganggukkan kepalanya saja, agar tidak ketahuan oleh orang lain.
Astaughfirullahaladzim apa yang terjadi pada kak Aidan? Kenapa lebih mementingkan masalah pekerjaan dari pada kelahiran anak-anaknya.
Apa jangan-jangan rumor yang sempat santer terdengar itu adalah benar adanya. Tapi, aku tidak yakin jika tidak melihatnya langsung.
Sebaiknya aku bertanya langsung kepada Shaira, aku yakin dia mengetahui apa yang terjadi sebenarnya disini.
Ya Allah aku hanya berharap semoga saja, kesalahan kak Aidan dimasa lalu tidak terulang kembali.
Tapi, ngomong-ngomong apa Mbak Maryam tidak ada firasat apapun tentang suaminya dan tadi Mama Dewi dengan mbak Maryam ngomong apa. Karena semenjak kedatanganku, mereka tiba-tiba terdiam dan mbak Maryam, mengalihkan perhatian.
Keesokan harinya, Maryam masih berada di rumah sakit. Dia masih butuh perawatan yang cukup untuk memulihkan kondisi kesehatannya sehabis melahirkan.
Dewi terus menemani anak menantunya dan anak-anaknya serta keponakannya bergantian untuk menjaga cucunya.
Shanum menuruni tangga rumahnya dengan dalam gendongannya baby Shahnaz. Dia melihat adiknya seorang diri saja dan di depan dapur.
"Dede Aira kamu ngapain di dapur, kemana bi Siti dan bi Ijah?" Tanyanya Shanun yang memandangi mengitari sekitar area dapur mencari asisten rumah tangganya itu.
"Mereka ke rumah sakit antar makanan untuk Mama dan Mbak Maryam. Katanya Mbak Maryam enggak mau makan makanan rumah sakit," jawabnya Shaira seraya mengaduk-aduk nasi goreng yang sedang dibuatnya.
__ADS_1
"Pasti alasannya hambar kan makanya Mbak Maryam minta dibuatkan oleh Bu Siti," tampiknya Sahnun.
"Yah gitulah, terkadang orang-orang terutama pasien itu sering ngeluhkan rasa masakannya tidak sesuai dengan lidahnya mereka," imbuhnya Shaira.
"Aku masakin suamiku nasi goreng seafood dengan sambel pete hijau, apa kakak pengen coba atau mungkin mau sepiring sekalian, mumpung masih hangat," tawarnya Shaira seraya melepas celemek yang sedari tadi dipakai ditubuh slimnya.
"Aku Ndak selera untuk saat ini! aku lebih pengen tahu apa yang terjadi pada kak Aidan saja dari pada yang lainnya," ketus Shanum.
Shaira hanya tersenyum simpul menanggapi perkataannya kakaknya yang sedikit judes itu, bersamaan dengan kedatangan Ariela Ziudith.
keduanya mengarahkan pandangannya ke arah Ariela dengan membawa dua paper bag di kedua sisi tangannya itu.
"Hemp! kamu bawa apa Ariela?" tanyanya Shaira yang menyambut kedatangan adik sepupunya itu.
Ariella tersenyum sumringah sambil mengangkat paper bag berwarna cokelat itu ke depan wajahnya Syanum dan Syaira.
"Ini ada titipan dari teman katanya toko kuenya hari ini baru buka cabang baru lagi, jadi dia bagi beberapa kue khusus untuk Tante Dewi, untuk Mama Dina sudah aku bawa juga ke rumah sebelum kesini," ujarnya Ariela yang segera mendudukkan tubuhnya ke atas salah satu kursi meja makan.
"Hemp, sepertinya ini dari Damar yah si juragan toko kue itu yang tempo hari kan kita bertemu dengannya," tebak Shanum.
"Aira apa kak Aydan sudah balik dari luar daerah?" Tanyanya Ariela sambil mencicipi makanan yang dibuat oleh adiknya dengan sepenuh hati.
"Belum balik, nelpon juga nggak sama sekali. Aku benar-benar kesal dengan sikapnya kak Aidan ini!" Kesalnya Shaira.
"Tapi, aku dengar tadi tanpa sengaja suamimu nelpon dengan seseorang katanya seharusnya semalam kak Aidan sudah balik dari kota S karena katanya tidak perlu nginap segala," ungkapnya Shanum.
Shanum sebenarnya tidak enak hati mendengarkan percakapan dari adik iparnya itu bersama dengan asistennya, tetapi karena pembicaraan itu mengenai Aidan adiknya sendiri, dengan berat hati dia terpaksa menguping pembicaraan mereka.
Shaira mengedarkan pandangannya ke sekeliling dapur sebelum berbicara lagi. Apa yang dilakukan oleh Shaira di perhatikan langsung oleh Shanum.
"Entah kenapa sejak kemarin pikiranku tidak tenang kak Sha, aku berasa jika ada sesuatu hal besar yang disembunyikan oleh kak Aidan dari kita semua," cicitnya Shaira yang berbicara dengan mengecilkan suaranya itu agar tidak ada yang mendengar langsung perkataannya mereka.
__ADS_1
Shanun pun demikian dia menaruh bayinya terlebih dahulu ke dalam box bayinya sebelum menimpali percakapan dari adiknya itu.
"Aku tanpa sengaja pernah melihat kak Aidan di dalam sebuah mall yang cukup besar dan aku juga pernah melihat kak Aidan di rumah sakit khusus ibu dan anak seminggu lalu bersama dengan seorang perempuan yang tidak berhijab." Jelas Shanum.
Shaira segera mematikan nyala api kompornya kemudian berjalan ke arah meja makan.
"Saya juga pernah berpapasan dengan keduanya di salah satu hotel bintang lima sih, tapi mereka bilang katanya mereka ada meeting dengan kliennya. aku hanya heran kenapa mereka bergandengan tangan begitu mesranya gitu, di depan umum lagi!" dengusnya Ariela yang sesekali mencicipi tempe mendoan yang masih hangat itu.
"Aku juga sering dengar orang-orang dikantornya Andrew, jika hubungan kak Aidan dengan sekretarisnya tidak biasa, awalnya aku menepis anggapan negatif tersebut dan gosip tak sedap itu,"
Shaira melap pinggiran kompor yang ada butiran nasi yang terjatuh. Shaira lalu duduk di depan kakaknya itu.
"Tetapi dua hari yang lalu aku melihat kak Aidan dengan sekretarisnya yang bernama Rachel Amanda itu di salah satu toko perhiasan emas dan aku pun menyelidiknya dan ternyata katanya itu perhiasan emas khusus untuk pernikahan mereka," jelasnya Shaira.
"Astaughfirullahaladzim apa yang terjadi pada kak Aidan? Apa tidak cukup kesalahan yang pernah dilakukannya ketika berada di London? Kenapa kak Aidan bertindak seperti ini, dia telah jelas-jelas menyakiti Mbak Maryam!" Geramnya Shanun.
"Ini tidak boleh dibiarkan begitu saja, kak Aidan harus memilih salah satu dari mereka," tegasnya Shanum.
"Tapi, masalahnya perempuan yang bernama Rachel Amanda itu sudah hamil tiga bulan, apa kakak tega memisahkan kak Aidan dengan calon bayinya, tapi gimana dengan Mbak Maryam kalau sudah seperti ini," keluhnya Shaira seraya menghela nafasnya dengan cukup keras.
"Tapi, ngomong-ngomong apa Mbak Maryam sudah mengetahui apa yang diperbuat oleh suaminya itu, apa mereka akan tetap melanjutkan pernikahan mereka atau akan kandasĀ di tengah jalan," keluhnya Shanum.
"Tapi, perempuan mana yang akan suka dan sudi jika suaminya menikah dengan perempuan lain lagi apalagi sudah hamil! Kalau aku diposisinya Mbak Maryam aku minta cerai saja, tapi amit-amit lah berada diposisinya Maryam," ketusnya Shaira yang mengetuk meja beberapa kali.
Tanpa mereka sadari ada orang yang sejak tadi mendengarkan perbincangan keduanya itu sejak tadi. Dengan tangannya yang terkepal erat hingga buku urat-urat di sekujur tangannya terlihat begitu nampak jelas.
"Aku bingung sekaligus marah, perbuatannya kak Aidan tidak boleh dibenarkan sedikitpun, kasihan Mbak Maryam." Gerutu Shaira.
"Tapi, ngomong-ngomong apa Cindy Clara sepupunya bang Adelio itu melahirkan anaknya atau malah menggugurkan kandungannya yah?" Tanya Shanum yang menerka-nerka apa yang terjadi sebenarnya.
Hingga suara batuk seseorang mampu mengalihkan perhatian ketiga wanita cantik dan muda itu. Semuanya merasa tidak nyaman dan takut serta khawatir melihat orang yang sudah berdiri tepat di belakang mereka semua.
__ADS_1
Uhuk... uhukk...
Bagi gift iklan, vote, gift poin dan koin nya yah... bagi like, komentar tentunya.