Satu Atap Dua Hati

Satu Atap Dua Hati
Bab. 264


__ADS_3

Abyasa dan Aidan mendengar semua hinaan yang ditujukan untuk kedua orang tuanya itu. Amarah dan emosi mereka membuncah di dada keduanya yang tidak menyukai kedua orang tuanya diperlakukan kasar seperti itu.


Bego dan sungguh kamu tolol Karlina, kamu seperti menggali lubang kuburan kamu sendiri! padahal banyak tukang gali kubur. Tapi dengan kebodohan kamu ini, kamu saja membuang kesempatan emas," gerutu kakak iparnya.


Kedatangan kedua putranya hampir bersamaan dan melihat kedua orang tuanya dihina habis-habisan langsung di depan matanya. Abyasa berulang kali beristighfar agar bisa mengendalikan dirinya dan amarahnya di depan orang banyak.


"Aku mohon bubarlah dan jangan ada yang mengambil gambar kami. Jika tidak kalian akan aku laporkan ke pihak yang berwajib!" gertaknya Andrew Parker Smith.


Semua orang spontan menyimpan kamera digital dan ponselnya masing-masing. mereka masih normal dan sadar untuk tidak berbuat ulah.


"Astaauhfirullah aladzim,ya Allah tolonglah kami lindungilah kami dari tindakan yang akan merugikan kami ini. Lapangkan lah hati kami dan tidak termasuk golongan orang-orang yang kelak akan merugi dan kekal di dalam neraka," lirih Syam.


"Apa yang papah katakan benar adanya, tolong berhenti untuk terus berbicara dengan lantangnya!l Bu Karmila kami ini masih normal dan sehat akal untuk tidak bersikap seperti kamu!" sarkasnya seseorang yang baru saja muncul dengan tatapan murkanya melihat kedua orang tuanya dihina habis-habisan.


"Stop! Aku mohon berhenti! Kalau ibu mengucapkan sepatah kata lagi untuk menjelekan kedua orang tuaku yang begitu baik telah mendidik dan membesarkan kami anak-anaknya,maka jangan salahkan aku jika aku membalas perbuatan kalian dengan membongkar rahasia siapa sebenarnya putrimu yang kamu cintai itu!" Sarkasnya Aidan.


"Hahaha! Kamu kira saya takut apa, kamu itu pria yang tidak tau malu dan tidak tau diri! Kamu telah menghamili putriku tapi mau angkat tangan dan tidak mau bertanggung jawab!" Cibirnya Bu Karmila.


Aidan semakin murka mendengar perkataan hinaan dari Mama mertuanya itu.


Aidan berjalan ke arah Bu Karmila,"Aku tidak tahu keberanian dan kepercayaan diri dari mana yang ibu miliki sehingga mengatakan bahwa aku tidak ingin bertanggung jawab kepada putrimu Rachel Amanda?"


Abiyasa berusaha untuk mencegah adik keduanya itu untuk membuka aibnya di depan orang banyak. Aidan melepaskan pegangan tangannya kakaknya itu dan berusaha untuk tersenyum dalam kemurkaannya agar kakaknya lebih tenang dan sabar.


"Kurang apa lagi aku Bu Karina yang terhormat! Aku sudah menikahi putrimu itu, walau sebenarnya anak yang sempat dihamilkan oleh putrimu itu bukan darah dagingku! Karena aku sama sekali tidak pernah menyentuhnya sebelum kami menikah,"


Aidan menghentikan sesaat ucapannya itu karena mamanya Dewi terus berusaha untuk menghentikannya.


"Bahkan putrimu dengan liciknya menjebakku dengan melakukan konspirasi mengatakan jika anak ha*am yang dikandungnya adalah anak kandungku, padahal anak itu bukan milikku tapi pria yang identitasnya tidak jelas!" Geramnya Aidan Akhtar yang akhirnya membongkar rahasia besar istri sirinya itu.


Bu Karina dan pak Ismail Fatahillah terkejut mendengar perkataan dari anak mantunya itu.

__ADS_1


"I-tu tidak mungkin! Aku yakin kamu itu bohong hanya untuk menghindar dari rasa tanggung jawabmu saja," sangkalnya Bu Karmila.


Pak Ismail yang mendengar perkataan dari Aidan sangat malu dan tidak sanggup untuk mengangkat wajahnya yang tertunduk lesu karena saking malunya dengan hinaan kenyataan itu.


Pak Ismail tertunduk lesu, kecewa,malu dan marah bercampur menjadi satu bagian dalam kehidupannya. Dia tidak menduga jika putri tunggalnya itu bertindak diluar dugaannya.


"Istriku, aku mohon berhentilah untuk berbicara! Apa kamu tidak tahu malu sudah membongkar aib kita sendiri," bujuk pak Ismail yang tidak sanggup memperlihatkan wajahnya di depan orang lain.


"Dia pasti bohong! Aku yakin kamu pasti berbohong hanya untuk menghindari untuk bertanggung jawab atas perbuatannya karena aku yakin dia lah yang menyebabkan putriku harus mengalami penderitaan seperti ini! Sudah kehilangan calon bayinya malah sekarang koma setelah menjalani serangkaian operasi bahkan paling parahnya lagi rahimnya harus diangkat!" Pekik Bu Karmila.


"Aku turut berdukacita atas keguguran dan musibah ini, Aidan menjeda perkataannya itu sambil menangkupkan kedua telapak tangannya ke hadapan Bu Karmila.


"Tapi maaf, aku tidak akan mempertahankan hubungan kami yang sedari awal sudah tidak sehat! Maaf aku memberikan talak tiga langsung kepada Rachel Amanda fatahilah! Dan setelah Rachel sadar maka aku akan mengurus perceraian kami nantinya agar tidak ada hubungan kami untuk kedepannya." Tegasnya Aydan.


Aidan berjalan ke arah ayah mertuanya itu kemudian bersimpuh di hadapan pak Ismail sebagai penghormatan terakhir untuk mertuanya.


"Ayah maafkan aku sudah mengecewakan ayah. Aku sudah lancang membongkar rahasia besar dan aib keluarga di depan umum. Tapi aku tidak punya pilihan lain lagi. Aku harus melakukan semua ini dan maafin aku Yah, karena aku sudah tidak becus jadi suaminya Rachel, hatiku terlalu sakit dan hancur dikecewakan dan ditipu oleh Karlinah. Maafkan aku ayah semoga saja dengan perceraian kami ini bisa membuat Rachel taubat dan menyadari kesalahannya itu."


"Kamu adalah pria yang baik dan pantas berbahagia dengan wanita yang kamu cintai. Karena putriku wanita yang tidak pantas untuk mendapatkan cintamu dan kasih sayangmu. Kamu sudah baik Nak telah menikahi dan menutupi kesalahannya anakku."


Pak Ismail menyeka air matanya itu,"Hanya saja memang anakku yang tidak tau balas budi dan menghargai laki-laki baik sepertimu, jadi aku terima kamu menceraikan putriku demi kebaikan kalian bersama," ucapnya dengan bijak Pak Ismail yang sama sekali tidak menyalahkan menantunya itu.


Dewi dan Syamuel mendekati putra keduanya itu," Nak ayo kita pulang, sudah larut malam juga. Adikmu Shaira dan kakakmu Abiyasa sudah datang jadi sebaiknya kita pulang bersama,"bujuknya Dewi.


"Kita sudah selesai mengerjakan kewajiban dan tanggung jawabmu sebagai suaminya dan tanggung jawab Mama sebagai mertuanya. Karena kamu sudah memutuskan hari ini untuk bercerai dengan Rachel jadi putus sudah kewajibanmu sebagai suaminya lagian calon anaknya yang sudah meninggal dunia bukan lah anakmu, tidak ada gunanya kamu cucuku untuk berlama-lama di rumah sakit untuk perhatian kepada mereka," terangnya bu Rina Amelia.


"Kamu tidak perlu jadi sahabat untuk perhatian sama orang lain yang kamu perlukan hanya jadi manusia saja itu sudah cukup," ucap Dewi lagi.


"Maafkan kami bapak Ismail kami harus pulang, karena sudah terlalu larut kami semua akan segera pulang. Maaf atas semua kekacauan yang dilakukan oleh putraku Aidan Akhtar," imbuhnya Sam.


"Saya yang seharusnya meminta maaf kepada Anda semua karena istriku sudah menghina kalian semua, kekacauan ini bermula karena ulahnya istriku yang sudah seperti orang gila yang mengamuk," ucapnya Pak Ismail Fatahillah penuh sesal.

__ADS_1


Bu Karmila terduduk di atas kursi tunggu dengan wajahnya tertunduk malu,dia mengira semua yang dikatakan oleh putrinya kepadanya beberapa waktu lalu adalah benar adanya.


Air matanya menetes membasahi pipinya saking malunya karena sudah disaksikan oleh orang banyak yang kebetulan melewati tempat tersebut.


"Assalamualaikum," pamitnya Samuel sambil menggandeng tangannya Dewi untuk segera balik.


"Mama baik-baik saja kah?" Shaira yang melihat wajah mamanya pucat seperti dalam keadaan yang tidak baik.


Syaira meminta mamaya untuk duduk sementara waktu ke kursi tunggu untuk beristirahat sejenak saja.


"Pah, biarkan Mama untuk beristirahat sementara waktu, karena aku perhatikan mama tidak baik," pintanya Shaira.


"Aku tidak apa-apa nak, sebaiknya kita balik langsung ke rumah saja,kalau disini terus Mama semakin sesak saja," ucapnya sendu Dewi tapi berusaha untuk menenangkan dirinya yang kepalanya sedikit pusing.


"Kalau Mama enggak mau, kalau gitu saya akan antar Mama ke UGD untuk memeriksa Mama," ancamnya Shaira yang hanya seperti itu solusi yang bisa ditempuh oleh Shaira.


"Mama, coba lihat keringat dingin bercucuran membasahi lengannya Mama Dede Aira, ayo cepat antar Mama ke sana," titahnya Aidan yang sudah panik dan ketakutan melihat mamanya yang tidak baik-baik saja.


"Sayang,mamah tidak apa-apa, mungkin hanya butuh istirahat sejenak sudah mendingan,"tolaknya Dewi dengan halus karena tidak ingin membuat anak-anaknya kerepotan.


"Kalau Mama keras kepala seperti ini, gimana caranya kita bisa mengetahui kondisinya mamah," bujuknya Abyaza.


"Ayo mah supaya punya kekuatan untuk memenuhi keinginannya bayinya daengku Abya," ungkapnya Sanika Tanisha.


Dewi yang mendengar perkataan dari anak mantunya itu, senyuman terbit dari sudut bibirnya itu. Lengkungan bibirnya Dewi terlihat jelas membuat mereka anak-anaknya tersenyum lega.


"Antar Mama ke UGD cepat Nak, kalau Mama sakit siapa yang bantuin Tanisha kalau ngidam mau makan ini itu aku harus sehat dan kuat demi calon cucuku anaknya Abyasa putraku," ujarnya sumringah Dewi yang berjalan lebih duluan dari semua anaknya dan suaminya.


Sam hanya tersenyum melihat sikap antusias istrinya itu, mereka pun saling bertatapan satu sama lainnya melihat binar kebahagiaan di wajahnya Dewi Kinanti Mirasih.


Typo atau kesalahan dalam penulisannya mohon dimaafkan.

__ADS_1


__ADS_2