Satu Atap Dua Hati

Satu Atap Dua Hati
Bab. 104


__ADS_3

Shanum segera dilarikan ke dalam klinik dengan tubuhnya digendong oleh Arion. Raut wajahnya Arion nampak panik, takut, cemas sudah bercampur menjadi satu bagian di dalam pikiran dan hatinya.


Shanum sudah tidak sadarkan diri dengan mengeluarkan banyak darah segar dari kepala dan bagian ************ pahanya. Beberapa orang yang melihat keadaan keduanya saling berbisik-bisik. Ada simpatik, kasihan melihat Shanum yang kehilangan banyak darah, dan tidak sedikit yang mencemooh, mencibir apa yang sudah terjadi.


"Hosh… hosh, Dokter tolong tangani segera istriku, aku tidak mau terjadi sesuatu pada istri dan calon anak kami!" Teriaknya Arion yang nafasnya ngos-ngosan karena sejak tadi dia menggendong tubuhnya Shanum.


Dokter dan beberapa perawat segera bertindak untuk menolong Shanum, kekhwatiran, ketakutan dan kecemasan berlebihan ketika melihat tubuhnya Shanum tidak bergerak lagi.


"Cepat persiapkan ruang operasi!"jeritnya Dokter yang sedang memeriksa kondisi dari Shanum.


"Baik Dokter akan segera kami persiapkan," balasnya perawat yang segera bertindak cepat untuk melaksanakan perintahnya sang dokter.


Arion pun mengikuti kemanapun perginya beberapa perawat tersebut dengan tim dokter. Dia semakin gelisah melihat keadaannya Shanum.


"Stop pak! Anda cukup di depan menunggu, karena kehadiran bapak bisa menganggu aktifitas dan pekerjaan Dokter," cegahnya salah satu suster.


"Tapi Sus, dia adalah istriku dan calon anakku yang berada di dalam kandungannya, aku…" ucapannya Arion terpotong karena tubuhnya didorong oleh beberapa perawat tersebut.


"Tolong Pak jangan menghalangi dan mengganggu pekerjaan kami," imbuhnya suster itu lagi.


Arion dengan terpaksa menunggu di depan pintu masuk ruangan operasi hingga beberapa menit kemudian.


Arion terduduk di atas lantai keramik saking pusing, takutnya dan paniknya dengan apa yang terjadi pada Shanum perempuan yang sangat dicintainya apakah hanya obsesi semata ataukah memang cinta sejati.


Arion menengadahkan kepalanya ke atas," entah apa kah kamu ada seperti yang orang-orang katakan, jika Kamu itu memang ada maka tolonglah selamatan Shanum dan calon bayi kami apapun yang terjadi, jika memang Shanum selamat maka aku akan percaya jika Kau benar-benar ada dan berkuasa atas segalanya," cicitnya Arion yang terpuruk dengan memikirkan segala sesuatu yang sudah menimpa Shanum.


Air matanya terus menerus membasahi pipinya itu, Arion tidak menghiraukan beberapa tatapan nyalang dari beberapa orang. Yang terpenting adalah Shanun selamat dan apapun akan dilakukannya.


Arion sejak kedua orang tuanya meninggal dunia sekitar lima belas tahun yang lalu dalam kecelakaan. Dia berubah menjadi pria yang tidak kenal akan adanya Tuhan. Bahkan ia jauh dari kata orang yang memiliki agama dan sebuah kepercayaan.


Bahkan Arion terkesan atheis tanpa mempercayai kepercayaan dan agama apapun di dunia ini. Baginya hanya yang punya banyak uang dan kekuasaan yang berkuasa sajalah yang bisa bertahan di dunia ini.

__ADS_1


"Tuhan jika Kamu memang ada maka tunjukkanlah padaku kuasaMu, sehingga aku bisa yakin jika kamu itu memang nyata!" Lirihnya Arion.


Beberapa anak buahnya yang sudah sedari tadi diperintahkan untuk menemukan pengendara motor ugal-ugalan itu telah kembali setelah berhasil mengamankan pelakunya.


Tapi salah satu dari mereka memberanikan diri untuk membantu Arion berdiri dari posisinya tersebut, "Tuan Muda Arion sebaiknya kita segera menghubungi kedua orang tua kekasihnya Tuan Muda karena sepertinya Non Shanum butuh donor darah karena kehilangan banyak darah," ujarnya Edward dengan hati-hati karena tidak ingin menyinggung perasaannya Arion.


Arion melirik sekilas ke arah Edward tanpa peduli dengan tanggapan anak buahnya terhadap sikap dan kelakuannya sekarang ini.


"Lakukan saja apa yang menurut kamu baik, yang paling penting adalah Shanun selamat dan juga calon bayi kami," tukasnya Arion.


"Baik Tuan Muda," tanggapnya dan Edward yang tanpa ragu segera menghubungi nomor ponselnya Syamuel Abidzar Al-Ghifari yang sejak awal Arion dan Sahnum berkenalan.


Sedangkan di tempat lain…


Bruk!!


Prang!!!


"Aauh!" Jeritnya Dewi yang ketika berhasil sebuah gelas yang terlepas dalam genggaman tangannya itu.


Bi Siti Aminah dan Bi Minah segera berjalan tergesa-gesa ke arah Dewi setelah mendengar dan langsung melihat apa yang telah terjadi di dalam dapur.


Bu Siti dan Bu Mina semakin mempercepat langkah mereka yang cukup terkejut setelah melihat dan mendengar langsung apa yang terjadi di dalam dapur.


"Nyonya Dewi," teriak keduanya secara bersamaan.


Dewi segera mengalihkan pandangannya ke arah kedatangan kedua asisten rumah tangganya yang paling setia menemani kehidupannya bersama dengan anggota keluarganya.


"Apa yang terjadi pada Nyonya?" Tanyanya keduanya dengan panik.


Dewi berusaha memungut beberapa pecahan beling dari gelas yang terjatuh sambil menjawab pertanyaan dari artnya tersebut.

__ADS_1


"Saya tidak apa-apa kok Bi,hanya saja entah kenapa perasaanku lain-lain dan tanpa sengaja gelasnya terlepas dalam telapak tanganku," jelasnya Dewi.


"Jangan dipunguti seperti itu lagi Nyonya, hati-hati nanti jarinya ketusuk beling," cegah Bu Minah Laila Sari.


"Bu Siti kenapa aku takut sekali seperti ada yang menimpa sesuatu pada anak-anakku, tapi entah siapa apakah Abyasa, Aidan, Shaira apakah Shanum," ucapnya sendu Dewi.


Syam yang kebetulan hendak menyuruh Bi Mina buat kopi sungguh keheranan melihat apa yang terjadi di dalam dapur tersebut.


"Dewi apa yang terjadi padamu sayang?" Tanyanya Sam seraya mengerutkan keningnya melihat sikap ketiga perempuan yang berada di dalam dapur.


Dewi dan yang lainnya mengalihkan pandangannya ke arah kedatangan Syam," saya tidak apa-apa kok Abang, mungkin tadi tanganku gemetaran ketika memegangi gelasnya sehingga terjatuh ke atas lantai," kilahnya Dewi yang tidak mungkin mengatakan apa sebenarnya yang terjadi.


Dewi menatap secara bergantian kedua artnya itu dengan tatapan mata yang cukup tajam.


"Iya Tuan Syam, tadi nyonya mungkin hendak minum, hingga tiba-tiba gelasnya terjatuh tanpa sengaja," sanggahnya bi Siti.


Ketiganya segera membersihkan sisa-sisa bekas pecahan gelas itu, sedangkan Dewi segera bangun dari posisi jongkoknya.


Hingga dering handphonenya Syam bergetar di dalam saku celana kainnya membuatnya terkejut bukan main. Syam segera merogoh saku celananya dan memeriksa id pemanggil.


"Nomor baru," cicitnya Sam seraya mengerutkan keningnya melihat ada nomor baru yang memanggilnya.


"Kok gak diangkat telponnya bang? sempat itu telpon penting dari orang," ucapnya Dewi.


Syam segera mengangkat telponnya itu karena cukup penasaran siapa orang yang telah menelponnya di siang hari bolong seperti sekarang ini.


"assalamualaikum,halo," sapanya Syam setelah sambungan teleponnya tersambung.


"Siang Pak, apa benar Anda adalah papanya Shanum Inshira yang bernama Syamuel Abidzar Al-Ghifari?" tanyanya orang dari seberang telpon.


"Benar sekali Pak, kalau boleh tau ada apa yah mencari saya?" tanyanya balik Sam yang mulai tidak enak dan cukup penasaran.

__ADS_1


"Putri Anda yang bernama Shanum Inshira mengalami kecelakaan, jadi tolong segera ke klinik secepatnya pak kehadiran bapak sangat dibutuhkan disini," jelas Edward.


__ADS_2