
"Ini semua akan terus berlangsung jika tidak segera diakhiri, aku harus segera mencari cara agar semuanya secepatnya berakhir."
Kepergian Syamuel dalam perjalanan dinas kerjanya ke daerah Kalimantan Selatan membuat kedua istrinya sedih, tapi harus ikhlas sabar demi masa depan mereka.
Hari ini, Dewi dan Nadia berada di dalam mobil menuju salah satu rumah sakit khusus ibu dan anak. Keduanya terlebih dahulu sarapan pagi masakan buatannya Dewi sebelum kedua ibu hamil itu berangkat ke rumah sakit untuk memeriksakan kondisi kesehatan dan calon bayi mereka.
Dewi terus memandangi layar hpnya dan menunggu jika suaminya mengirimkan chat kepadanya. Karena sebelum berangkat,ia mengirimkan pesan chat singkat ke nomor ponselnya Sam, bertujuan untuk meminta ijin karena akan keluar rumah.
Saya sudah kirim chat ke nomornya Abang, semoga saja dia memaklumi kepergian ku ke RS untuk memeriksakan kondisi kesehatan anak kami.
Entah kenapa feelingku mengatakan akan terjadi sesuatu hal besar, tapi entah itu apa, akupun tidak mengetahui hal apa yang bakal terjadi karena semua itu rahasia Allah SWT, hanya saja hatiku tak tenang, semoga saja Abang selalu sehat dan dalam lindungan Allah SWT selama berada fi Kalimantan Selatan Banjarmasin.
Lamunannya Dewi buyar ketika Nadia Yualianti menegurnya dengan tiba-tiba. Hingga tubuhnya Dewi tersentak kaget karena, tidak menduga jika lamunannya akan terganggu oleh apa yang dilakukan oleh Nadia langsung.
Dewi menatap intens ke arah Nadia dan berusaha untuk menenangkan hati dan pikirannya yang terkejut mendengar seruan dari Nadia.
"Dewi kemarin suamiku beliin aku kalung dan gelang loh katanya itu edisi khusus dan keluaran terbaru loh," ucapnya Nadia sambil mengarahkan kehadapannya Dewi perhiasan emasnya itu.
Nadia dengan sengaja pamer di hadapannya Dewi hal tersebut, karena menurutnya Nadia, karena ia yakin jika Dewi pasti akan cemburu dengan pemberian dari suaminya itu.
Aku yakin kamu akan iri hati melihat apa yang diberikan oleh suamiku, karena suamimu sampai detik ini belum mencari keberadaannya, aku percayai jika, apa yang dibelikan oleh Syam suamiku khusus untuk diriku membuatnya merendah dan akan memuji apa yang diberikan oleh Mas Sam. Apalagi suaminya asal usulnya tidak jelas sehingga kehidupannya cukup mengenaskan.
__ADS_1
Nadia menatap mencemooh ke arahnya Dewi yang sama sekali tidak peduli dengan apa yang dilakukannya oleh Nadia Yualianti.
"Kok kamu diam saja apa perhiasannya jelek atau gimana! apa jangan-jangan kamu juga bermimpi memiliki kalung dan gelang seperti yang aku miliki!" Ketusnya Nadia sambil memegangi liontin kalungnya itu.
"Hehe, ma-af Mbak sa-ya hanyalah memikirkan suamiku yang belum saya ketahui alamatnya dimana, padahal saya sangat merindukannya, saya juga kangen dengan adik dan paman juga bibiku yang ada di kampung soalnya sudah lebih empat bulan Mbak saya belum balik juga," ucapnya sendu Dewi yang terpaksa berbohong demi tujuannya tercapai.
Semoga saja alasan yang saya jelaskan membuat Mbak Nadia mengijinkan saya pulang, jujur saja saya sudah mulai takut dan was-was jika hubunganku dengan Abang Syam ketahuan, pasti akan semakin parah akibat dari pada saya berpamitan kepada Mbak Nadita.
Tapi bagaimana caranya saya mengutarakan keinginanku ini, takutnya Mbak Nadia kepikiran lain-lain lagi dengan hubungan kami, tapi gimana pun saya harus segera pergi dan angkat kaki dari dalam rumahnya Mbak Nadia sebelum readers marah-marah sama author.
Apa dia sudah termakan hasutan yang aku lakukan yah? Kalau gitu aku senang banget dengan apa yang aku lakukan, pantesan saja dia tiba-tiba terdiam, aku perhatikan beberapa hari terakhir aku melihat Dewi mendekati suamiku dan mendekati mas Syam seperti mencari cara untuk selalu dekat, padahal dia itu sudah punya suami apa enggak cukup punya satu suami saja. Dasar perempuan gatal, kalau gini aku harus mencari cara agar dia segera cabut dari rumahku, gimana kalau aku tidak ada dan terus melancarkan serangannya untuk mendekati suamiku gimana, aku tidak akan biarkan hal itu bisa terjadi.
Nadia menatap mencemooh ke arah Dewi yang tersenyum simpul padanya.
"Kalau bagus infokan sama suami kamu agar kamu juga dibelikan perhiasan karena sejak kamu datang hanya memakai cincin kawin kamu saja, apa memang suamimu itu tidak mampu dan tidak sanggup untuk beliin kamu perhiasan makanya hanya sebuah cincin itu saja yang kamu paka," cibirnya Nadia yang merendahkan Dewi.
Sedangkan adiknya Nadia diam-diam memperhatikan apa yang keduanya lakukan itu, tanpa berniat untuk mengganggu ataupun menimpali percakapan mereka.
Kasihan juga Dewi diperlakukan seperti itu terus, kalau aku diposisinya Dewi sudah lama aku pergi dari sini, Dewi terlalu baik sih makanya diapain sama orang pun hanya bisa terdiam dan sabar. Mbak Nadia memang mirip dengan mamanya, pantesan papa nikah lagi dengan bundaku karena Mama dan anak sifatnya sama-sama jelek.
Berselang beberapa menit kemudian, mereka sudah sampai di area rumah sakit. Mereka pun sudah mendaftar di bagian administrasi untuk ikut mengantri di dalam antrian ibu-ibu hamil yang pagi menjelang siang itu cukup banyak pasien bumilnya.
__ADS_1
Narendra Afiq adik beda ibu dengan Nadia hanya duduk di kursi tunggu sambil bermain gedjet nya dan sesekali memperhatikan ke arah kedua ibu hamil yang diantarnya itu.
Aku kira sifatnya sudah berubah sejak menikah dengan Abang Syam, takutnya kedepannya jika Abang Syam terlalu memanjakannya bisa-bisa semakin berulah, bertingkah dan membuat Mbak Dewi tersiksa. Itu hal yang aku takutkan, tapi semoga saja tidak jadi kenyataan ketakutan yang aku rasakan, apa aku bertindak saja sebelum Mbak Dewi tersakiti.
Seorang perawat yang berhijab putih berdiri di depan ambang pintu dengan membawa sebuah kertas yang bertuliskan beberapa nama pasien yang akan mendapatkan giliran pemeriksaan oleh dokter kandungan.
Nadia mendapatkan giliran pertama kali, dia sudah diperiksa oleh dokter dan tidak ingin seorang diri didalam ruangan, dengan terpaksa Dewi pun masuk.
"Bu Nadia, tolong jaga emosinya dengan baik dan pola makan dengan istirahatnya juga diperhatikan, karena kondisi janin di dalam rahimnya ibu tidak stabil, apa memang Ibu mengalami stres akhir-akhir ini yah?" Tebaknya Dokter yang melihat hasil pemeriksaan Nadia dengan bayinya itu.
Nadia menatap intens ke arah Dewi bukannya ke arah dokter, sedangkan Dewi yang ditatap malah hanya tersenyum simpul menanggapi tatapan matanya yang tajam dari Nadia.
"Jadi bagaimana dengan kondisi kesehatanku dengan calon anakku dok, apa kami baik-baik saja?" tanyanya Nadia yang mulai cemas.
"Insya Allah akan baik-baik saja kalau ibu Nadia mendengarkan nasehatku dan minum obat, vitamin serta susu formula ibu hamilnya dengan baik dan teratur, serta makan makanan yang bergizi seimbang, istirahat yang cukup jadi, Ibu tidak perlu terlalu khawatir dan mencemaskan segalanya kok," jelasnya dokter yang bernama tag Dokter Resky Utami.
"Syukur Alhamdulillah kalau mereka baik-baik saja dokter," sahutnya Dewi yang sempat tadi mencemaskan keadaan dari calon anak dari suaminya itu dan sekarang sudah bernafas lega.
"Ini resep obat dan vitamin yang perlu ibu Nadia tebus di apotek, ingat yah Bu kondisi psikis dan jiwa itu harus santai, rileks dan tenang akan menjadikan kehamilan ibu Nadia akan selalu dalam kondisi yang baik-baik saja," ujarnya lagi Bu dokter seraya menyodorkan sebuah kertas bertuliskan beberapa nama obat dan vitamin khusus untuk Ibu hamil.
Dewi merasa takut, bimbang, panik, apa ini semua gara-gara kedatangannya sehingga Nadia seperti itu.
__ADS_1
Ya Allah apa karena hubunganku dengan Abang Syam sehingga Mbak Nadia mengalami sedikit gangguan dengan janinnya,kalau seperti ini saya harus mencari cara untuk pergi segera sebelum terlambat.