Satu Atap Dua Hati

Satu Atap Dua Hati
Bab. 15


__ADS_3

Berbagai ucapan dan doa tulus diberikan untuk kedua calon mempelai pengantin perempuan maupun laki-laki. Syamuel masih sering tidak percaya jika, dirinya menikah dengan wanita lain sebelum pernikahannya dengan Nadia Yulianti.


Irwansyah memeluk tubuhnya Samuel sambil sesekali menepuk punggung lebarnya Syam dengan perlahan,"Selamat bro akhirnya kamu jadi seorang suami, Ingat kamu bukan pria single lagi, tapi sudah punya tanggung jawab yang cukup besar, tanggung jawab seorang suami itu bukan hanya di dunia, tapi hingga akhirat di kemudian hari," Irwan berbicara seperti itu karena mengingat Syam tidak mencintai Dewi sedikitpun.


Syam hanya menyunggingkan senyumnya itu tanpa berniat untuk berbicara. Pikirannya masih tertuju pada Nadia yang berada di Jakarta.


Berselang beberapa menit kemudian, Syam dan Dewi sudah berganti pakaian. Keduanya diberikan waktu berduaan sebelum Syam balik ke Jakarta. Keduanya berada di dalam hotel yang telah disewa oleh Irwansyah khusus untuk kedua pengantin baru itu.


Syam hanya sesekali melirik ke arah Dewi, sedangkan Dewi hanya terduduk di atas ranjangnya tanpa ada yang dikerjakannya. Hingga suara dentuman jam didinding terdengar begitu nyaring. Cicak pun ikut menyemarakkan suasana.


Dewi pun akhirnya memberanikan diri untuk berbicara walaupun hal itu dia lakukan dengan terpaksa, karena terlalu sungkan untuk mengungkapkan apa yang ada di dalam pikirannya.


"Abang jam berapa berangkatnya ke Jakarta?" Dewi menatap intens pria yang sudah berstatus suaminya itu.


Syam melihat ke arah layar hpnya tepatnya jam digitalnya sebelum menjawab pertanyaan dari istrinya.


"Insha sekitar tiga jam lagi, kenapa emang?" Tanyanya balik Syam.


Dewi hanya tersenyum tipis menanggapi perkataan dari suaminya itu," apa boleh saya mengantar Abang ke bandara?"


Syam menghentikan kegiatannya yang sedang membalas beberapa pesan chat yang masuk ke hpnya itu.


"Kalau mau silahkan," jawabnya Syam singkat.


Dewi bahagia mendengarnya, jika dirinya diijinkan untuk ikut mengantar kepergian suaminya ke Jakarta, kembali ke kota asalnya. Suasana kembali hening dan sepi, tidak ada yang membuka perbincangan lagi diantara mereka.


Dewi memainkan hpnya yang sempat rusak beberapa waktu lalu,ia membuka beberapa sosial medianya untuk mengisi waktunya dan menghilangkan rasa bosannya. Hingga Syam yang berdiri di depannya tanpa disadarinya menyodorkan sebuah ATM kepadanya.


"Ini atm kamu bisa pergunakan untuk belanja keperluan dan kebutuhanmu setiap hari, udah ada isinya itu, insha Allah aku akan transfer uang belanja bulanan untuk kamu tanggung jawabku sebagai suamimu, aku juga sudah meminta kepada dokter Irwansyah untuk mencarikan kamu perumahan untuk kamu tinggali jadi setiap aku datang ke sini, aku tidak perlu bertemu dengan orang lain, tapi aku ada permintaan kecil semoga kamu bisa mengabulkan dan memenuhi keinginanku itu," ujarnya Syam yang masih berdiri di depannya Dewi yang terduduk di ujung ranjangnya.

__ADS_1


Dewi meraih ATM itu dengan senyuman simpulnya yang tidak pernah pudar diwajah cantiknya.


"Makasih banyak atas kartu atm-nya , tapi ngomong-ngomong permintaan kecil? Maksudnya apa Abang? Insya Allah saya akan berusaha untuk penuhi semua permintaan Abang.


Dewi menatap intens ke arah suaminya kembali, sedangkan Syam yang salah tingkah jika kembali kedua pasang matanya saling bersirobot.


"Tolong jangan sekali-kali hubungi nomor hpku, jika bukan saya yang duluan saya tidak ingin Nadia tahu keberadaanmu dan hubungan kita berdua, saya tidak ingin menyakiti hatinya jika sampai dia mengetahui pernikahan kita," jelas Syam.


"Aku janji tidak akan pernah gangguin hubungannya Abang dengan Mbak Nadia, jadi tidak perlu takut dan merisaukan itu semua," imbuhnya Dewi.


Syam bisa bernafas lega karena istrinya cukup patuh dengan apa yang dikatakannya tanpa ada drama penolakan sedikitpun dari keputusan dan aturan yang ditetapkannya.


Setelah berbicara seperti itu, Dewi kembali meminta ijin untuk mengatur dan mengemasi barang-barangnya Syam yang hanya beberapa lembar potong pakaian saja. Syam tidak menolak apa yang dilakukan oleh Dewi itu. Hingga ketukan pintu dari luar terdengar mengusik kebisuan, kediaman serta kebungkaman keduanya itu.


Dewi bergegas bangkit dari duduknya itu, ia memutar kenop pintu dengan perlahan. Dewi menyambut seorang pria dengan tersenyum tipis.


"Oh itu suami saya, apa boleh saya saja yang wakili untuk tandatangani paketnya?" Tanyanya Dewi.


"Boleh kok kak," ucapnya pria kurir tersebut.


Dewi kemudian meraih paper bag tersebut yang berisi sebuah kotak persegi panjang itu. Dewi cukup penasaran dengan isinya tapi,ia berusaha untuk menutupi rasa penasarannya itu. Syam yang melihat kedatangan Dewi kembali ke dalam kamar hotel yang sudah dihiasi dan didesain khusus untuk pengantin baru itu, masih tetap rapi seperti sedia kala sebelum mereka datang.


Kelopak bunga mawar bertebaran di atas ranjang. Dua pasang bebek jantan dan betina berduaan ditengah kelopak bunga mawar merah.


"Kamu bukalah karena itu adalah milikmu," ucap Syam.


Dewi keheranan dengan perkataan dari suaminya itu, ia cukup terkejut karena ternyata paket itu dibeli khusus untuknya. Tanpa banyak tanya Dewi berjalan ke arah sofa,dia tidak ingin mengacaukan ranjangnya jika duduk diatasnya.


Dewi membelalakkan matanya saking terkejutnya melihat sebuah benda persegi panjang pipih itu dengan dibaliknya bergambar logo apel yang digigit. Dewi tidak menyangka jika di dalam kehidupannya akan memakai hp dengan harga yang cukup mahal itu diantara tipe hp lainnya.

__ADS_1


Kedua bola matanya berkaca-kaca saking gembiranya. Dia sangat antusias menerima hadiah pertama dari suaminya itu setelah mas kawin mereka.


"Makasih banyak Abang, tidak perlu repot-repot juga seperti ini saya tidak ingin merepotkan Abang," tukasnya Dewi.


"Kamu sama sekali tidak merepotkan saya, karena kamu adalah tanggung jawabku di dunia dan akhirat, walaupun hanya sekedar menikah status saja, semoga bermanfaat untuk kehidupanmu," ujarnya Syam begitu lugasnya.


"Tapi ini harganya pasti mahal bang, kenapa beli hpnya yang murah saja," tampiknya Dewi.


"Insya Allah kalau harga barang-barang segitu,saya masih sanggup beliin istriku, asalkan jangan meminta yang lebih tinggi dan besar dari itu," ucapnya Samuel.


Syam berjalan ke arah sofa karena melihat Dewi sepertinya kesulitan memindahkan kartu s card-nya ke dalam ponsel barunya itu.


"Sini aku bantuin kamu masukin,saya juga akan jelasin cara pakainya," Syam mulai menjelaskan secara terperinci dan detail tentang cara membuka beberapa fitur aplikasi hp baru itu.


Dewi Mirasih dengan seksama memperhatikan dengan baik apa yang dijelaskan oleh suaminya itu, agar kedepannya tidak menemui kendala disaat mengoperasikan hp itu. Untuk pertama kalinya mereka berdekatan dengan sengaja, tapi keduanya seolah tak sengaja melakukannya.


"Ya Allah… walaupun aku belum mendapatkan setitik cinta dari suamiku, tapi perhatiannya padaku aku sudah bersyukur, semoga kehadiran Abang Syam bisa menghapus rasa cintaku pada Mas Heri Ismail Fatahillah untuk selamanya," Dewi membatin.


Beberapa saat kemudian, Syam sudah berada di bandara internasional Juanda kota S. Syam sebelum masuk ke area keberangkatan departure ia tidak lupa mengecup sekilas keningnya Dewi.


"Maaf jika aku tidak bisa berada di sisimu, makasih banyak," itu ucapan Syam yang hingga beberapa bulan kedepannya akan selalu diingat momen langka yang terjadi pada kedua pasangan pasutri itu


Dewi yang diperlakukan spontan oleh suaminya hanya bisa menunduk kepalanya dan tidak berani bertatapan langsung dengan suaminya itu. Kedua pipinya memerah diperlakukan istimewa dan manis oleh Syam yang sama sekali tidak pernah dibayangkan dan dipikirkan olehnya.


"Hati-hati di jalan," cicitnya Dewi yang masih mampu di dengar oleh Syam.


Keesokan harinya, pernikahan antara Syamuel dan kekasihnya Nadia berjalan sukses dan lancar. Syam sangat pintar untuk menutupi kenyataan jika, Nadia adalah istri keduanya.


Sejak perpisahan keduanya itu, Syam sesekali mengirimkan pesan chat singkat hanya sekedar bertegur sapa menanyakan kabarnya. Hingga pernikahannya masuk usia tiga bulan. Setiap bulannya Syam juga mengirimkan uang belanja bulanan untuk istrinya itu.

__ADS_1


__ADS_2