
Setelah acara aqiqah berlangsung, Nadia masih bersikap seolah tak terjadi apa-apa. Dia berpura-pura tidak mendengar dan mengetahui apa yang sudah terjadi. Kenyataan besar yang sungguh memilukan baginya. Tapi,dasar Nadia yang bukannya introspeksi diri dan merenungkan kembali kenapa semua kisruh rumah tangganya terjadi seperti sekarang ini.
Nadia dan Syam menerima dan menyambut kedatangan satu persatu tamu undangan dengan senyuman yang penuh kepalsuan. Keduanya sama-sama kecewa dengan apa yang sedang terjadi.
Syam sangat kecewa sedih karena telah dibohongi oleh Nadia dengan kehamilan palsunya dan anak angkatnya itu. Andaikan dia tidak datang tanpa mengabari terlebih dahulu, kemungkinan besarnya Syam tidak mendengar percakapannya dengan bi Siti.
Syam hanya bertanya kepada Nadia kenapa dan apa alasannya sehingga kebohongan itu terjadi. Nadia dengan pintarnya berakting dan mengatasnamakan kesehatannya sehingga Syam tidak mempermasalahkan kembali hal tersebut dan menerimanya dengan ikhlas dan lapang dada.
Syam tidak mempermasalahkannya karena mengingat dia juga punya kesalahan dan khilaf terbesar yang dilakukannya di dalam rumah tangga mereka. Lagian Nadia sudah berjanji akan berubah lebih baik dan menyayangi anak adopsinya dengan baik seperti anak kandungnya sendiri.
Air matanya terus menetes membasahi pipinya itu," sial!! Aku tidak menyangka jika pembantu itu adalah maduku, kenapa harus dengan Dewi!? Apa tidak ada perempuan lain lagi!" Teriaknya Nadia sambil melempar benda-benda yang mampu digapainya itu.
Nadia ingin melawan dan memberontak serta menuntut serta protes dengan apa yang sudah dilakukan oleh Syam terhadapnya,tapi dia tidak punya kuasa daya upaya untuk melawan ketidakadilan menurut persepsinya.
"Aku harus bertanya kepada Mas Syam apa sebenarnya yang diinginkannya, walau dia tahu jika saya adalah perempuan yang tidak bisa mengandung lagi dan membohonginya,tapi setidaknya saya tidak mau kalah dengan Dewi, saya perempuan pertama yang dicintainya,pasti saya perempuan yang paling disayanginya dan apa yang aku katakan padanya akan didengarkan oleh Mas Syam, gimana kalau aku meminta Syam menceraikan Dewi saja atau aku diam-diam menyelidiki dimana Dewi tinggal,"
Nadia segera menyeka air matanya itu yang terus menerus menetes membasahi pipinya itu. Ia bertekad akan membalas dendam terhadap Dewi dengan apa yang sudah diterimanya.
"Aku yakin Dewi berada di Jakarta juga, aku harus mencari orang yang bisa bekerja sama denganku dengan Mbak Siti, tidak boleh dengan dia lagi karena gara-gara dia sehingga Mas Syam mengetahui kebohonganku!"
Bayi yang terlelap di dalam box bayinya terganggu dan terusik oleh perbuatannya Nadia hingga dia menangis kencang.
Owek… oek…
Suara tangisan bayi perempuan itu melengking membuat Nadia tersadar dari lamunannya. Nadia segera bangkit dari duduknya dan segera menggendong bayi itu dengan penuh amarah, matanya melotot memerah saking marahnya karena anak adopsinya menangis.
"Dasar bayi sialan! Dimana sih Siti dapat bayi brengsek ini!" Geramnya Nadia yang menggendong tubuhnya bayi itu sambil mencubit pipinya si bayi.
Bukannya bayi tersebut terdiam dengan suara tangisannya yang menggema memenuhi seluruh sudut ruangan tersebut, tapi semakin melengking tinggi saja karena cubitan Nadia.
"Diam!! Kamu bisa diam tidak!! Kamu ya masih kecil sudah melawan! Aku suruh diam tapi semakin menangis! Gimana kalau kau sudah besar nantinya bisa-bisa melawanku!" Kesalnya Nadia sambil terus mencubit pipi chubby anak perempuan itu.
Nadia yang masih menggendong bayi itu karena terlalu kesal sehingga ia hendak menghempas dan melempar bayi tidak berdosa itu ke atas ranjang. Tangannya baru terangkat sedikit bersamaan dengan pintu terbuka lebar dan masuklah Samuel dan Bu Rina.
"Nadia! Apa yang kamu lakukan!?" Jeritnya Bu Rina yang segera berlari menuju Nadia walau sedikit tergopoh-gopoh.
"Astaghfirullah aladzim! Nadia sadarlah! Apa kamu sudah gila ha!!" Bentaknya Syam yang segera menarik tangannya Nadia ketika bayi malang itu sudah dalam pelukannya tangannya Bu Rina.
__ADS_1
Raut wajahnya Nadia pucat pasi, panik, ketakutan, dia tidak menyangka jika suaminya sudah pulang dan datang ke kamarnya bersamaan dengan mertuanya itu.
"Mas Syam!" Beonya Nadia yang berdiri mematung menatap ke arah kedua orang yang baru masuk ke dalam kamarnya tersebut.
Tangannya Nadia masih menggantung seperti seseorang yang siap melempar sampah saja.
"Cup.. cup Saira sayang cucunya Nenek jangan nangis yah Nak, anak yang cantik sholeha diam yah Nak ini susunya," bujuknya Bu Rina yang berusaha menenangkan cucunya itu yang masih menangis dalam dekapan hangatnya.
Syam menarik tangannya Nadia untuk menjauh dari tempat tersebut, takutnya masih akan bertindak kasar terhadap anak angkatnya itu.
"Nadia! Istighfar apa yang kamu lakukan! Memang dia bukanlah anak kandungmu tapi Ingat dia juga seorang manusia yang bernyawa bukan benda atau boneka yang seenaknya ingin kamu lempar!" Hardik Syam.
Bu Rina yang mendengar perkataan dari mulut Syam sungguh dibuat terkejut dan tidak menyangka jika itu benar adanya apa yang diutarakan oleh Syam barusan.
"Syam! Apa maksud dari perkataanmu Nak? Tolong jelaskan pada Mama siapa bayi yang Mama gendong sekarang ini?" Teriak Bu Rina yang semakin tersulut emosinya saja.
Nadia menatap jengah ke arah mama mertuanya itu, "Mama diam saja! Kamu tidak punya hak mempertanyakan siapa bayi yang kamu gendong! Yang jelasnya dia adalah anakku dengan mas Syam!" Bentaknya Nadia.
Bu Rina kaget mendengar suara bentakannya Nadia yang cukup tinggi dan besar itu.
"Ya Allah… istighfar Nadia kenapa kamu seperti ini? Padahal Mama hanya sekedar bertanya saja untuk memastikan apa maksud perkataannya Syam putraku ini," pungkas Bu Rina.
Tanpa ragu dan bimbang sedikit, Syam reflek menampar pipi kanannya Nadia dengan cukup keras.
"Cukup!! Nadia kamu kurang ajar sekali menghina Mama, Kamu jangan coba-coba berteriak seperti itu di depan wanita yang sudah berjasa membesarkanku, andaikan beliau tidak ada siapa yang akan mengurus bunda dan saya yang masih kecil waktu itu! Kamu tidak punya hak untuk mengatur kehidupan mamaku! Aku tidak terima kamu menghina mamaku!' hardiknya Syam.
Nadia mengelus pipinya yang terkena tamparan keras dari tangan suaminya itu. Wajahnya memerah terkena tamparan tersebut. Bu Rina menutup mulutnya melihat pertengkaran anak dan menantunya itu.
"Syam! Apa yang kamu lakukan Nak!?" Ucapnya Bu Rina sendu yang sedih melihat pertengkaran tersebut.
"Nadia sudah tidak tahu diri, lepas kendali dan kurang ajar,selama ini aku sudah mentolerir semua kesalahan dan kekurangannya, tapi hari ini aku sudah tidak sanggup Ma!" Kesal Syam.
"Kamu dasar pria brengsek tukang selingkuh, sok suci! Jangan berpura-pura menjadi suami yang baik dan bijaksana! Apa kamu lupa jika kamu sudah menduakan aku dengan Dewi si wanita sialan itu, perempuan lucknut dan pencuri itu! Kamu kira aku akan menerima dengan begitu saja pernikahanmu dengan Dewi? Tidak! Aku akan balas dendam!" Pekiknya Nadia.
Suara amukan dan amarahnya membuat semua penghuni anggota keluarga yang hadir menjadi saksi perdebatan dan pertengkaran mereka semua.
"Memang aku salah dan sadar jika aku bukanlah suami yang baik dan setia, tapi aku tidak mungkin melihat perempuan yang masih berstatus Istriku ingin melempar anak yang sama sekali tidak berdosa sedikitpun, aku juga tidak terima begitu saja kamu memaki-maki Mamaku!" Ungkap Syam.
__ADS_1
Kedua orang tuanya Nadia terkejut bersama dengan orang lain yang menyaksikan kejadian itu. Mereka tidak menduga jika hari semacam ini akan terjadi eu dalam rumah mewah itu.
"Apa kamu ingin menjadi pembunuh ha!! Apa kamu ingin masuk penjara!" Teriaknya Syam yang semakin marah saja.
Nadia menunjuk ke arah dadanya sambil menepuk-nepuk dadanya itu dengan penuh kebencian, "Aku tidak mungkin bisa menerima kamu menikah dengan wanita lain, aku tidak akan sudi melihat kalian bahagia, Samuel Abidzar Al-Ghifari aku akan menuntut balas atas penghinaan yang kamu berikan untukku kali ini!!" Sumpahnya Nadia.
"Maafkanlah aku yang tidak sanggup setia dan memenuhi janjiku selama ini, tapi aku sudah berusaha menjadi suami kamu sebaik mungkin, tapi kamu saja yang keras kepala dan tidak mau menerima kenyataan yang ada!" Imbuhnya Syam sambil menundukkan kepalanya atas penyesalannya itu.
Ketegangan semakin terjadi di dalam ruangan kamar pribadinya Nadia. Kondisi dalam kamar itu sudah seperti kapal pecah saja yang berantakan dan barang-barang berhamburan kemana-mana memenuhi segala penjuru ruangan tersebut.
"Astagfirullah aladzim,apa yang terjadi di dalam sini," cicitnya bibi Siti yang langsung mengarahkan pandangannya ke arah Nadia.
Bu Sarah segera berjalan untuk menengahi perdebatan tersebut, "Nadia sadar Nak, apa yang sudah kamu perbuat akan menghancurkan kehidupanmu sendiri," Bu Sarah membujuk dan mengingatkan anak tunggalnya itu.
Nadia bukannya mendengar perkataan dari mamanya malah mendorong tubuhnya Bu Sarah sekuat tenaga. Bi Siti sudah membawa pergi ke ruangan bayi yang lebih aman.
"Aauhh!!" Jeritnya Bu Sarah.
Bu Rina dan yang lainnya segera menolong Bu Sarah. Afiq menatap jengah ke arah kakak sambungnya itu.
"Mbak Nadia, apa kamu sudah gila!" Cibirnya Afiq Narendra yang membantu Mama sambungnya berdiri.
"Kenapa Nak kamu berubah seperti ini, Nadia segera sadar dan bertaubatlah sebelum terlambat," Bu Sarah masih berusaha untuk menenangkan putri semata wayangnya tersebut.
Nadia sama sekali tidak menggubris perkataan semua orang, dia hanya terdiam mematung dengan senyuman aneh yang selalu nampak disudut bibirnya itu.
Bu Rina memeluk tubuh putranya itu agar bisa tenang dan sabar, "Nadia maafkan Mas, aku sudah bisa memaklumi jika kamu sudah tidak bisa punya anak lagi dan memilih mengadopsi seorang bayi, tapi kamu menperlakukan kedua perempuan yang sudah berjasa dalam kehidupanku maaf aku tidak bisa mentolerir perbuatanmu lagi, kamu juga hendak membunuh anak tidak punya salah sama kamu, mulai detik ini kita tidak ada hubungan suami-istri lagi, Nadia Yulianti aku Samuel Abidzar Al-Ghifari aku talak tiga kamu detik ini juga!" Tegasnya Syam yang berulang kali mengucap istighfar dalam hatinya dalam kesadaran penuh.
yang berhak dapat give away kecil-kecilan dari saya Jumat ini adalah:
kakak Yani
Kak Vivi Bidadari
ka Unee Wee
ka Aurizra Rabbani
__ADS_1
Mohon untuk inbox nomor hpnya kak, paling lambat aku tunggu ba'da shalat isya jika tidak hangus Zonk.