
Setelah memasak, Dewi segera berjalan ke arah kamar mandi karena ingin segera membersihkan seluruh tubuhnya yang bau keringat.
Apa yang harus saya katakan jika besok-besok Afiq datang ke sini dan Abang Syam melihat kedatangannya? Ahh sudah lah nanti juga jujurnya sesuai apa yang terjadi, karena saya yakin Abang ngerti dengan kondisiku pastinya.
Berselang beberapa menit kemudian, Dewi yang baru saja makeup minimalis diwajahnya dan memakai gamis yang cukup cantik dan elegan ditubuhnya yang semakin berisi dan berbobot karena, kehamilannya sehingga semakin membuat bodynya semakin cantik dan seksi saja.
Hingga tiba-tiba bel rumahnya berbunyi menbuatnya segera menyudahi riasannya di depan cermin.
Ting tong…
Apa itu Abang Syam yang sudah datang? Dewi melirik ke arah jam dinding yang terpasang dengan rapi di tembok kamarnya itu.
Saya yakin itu Abang Sam karena sudah lebih tiga jam sejak dia menelpon, pasti Abang Syam yang memencet tombol bel.
Dewi berdiri dari kursi meja riasnya sambil berpegangan di ujung kayu kursinya itu dengan kesusahan mengingat tubuhnya yang semakin membesar saja dengan berat badannya yang terkadang dikeluhkannya itu.
Saya hanya hamil dua anak saja tapi, sungguh membuat saya semakin kesusahan berjalan, tapi bibi Ratna katanya dulu waktu muda dan hamil kembar juga lebih parah dia, katanya dia itu ngidamnya banyak banget, bahkan dia harus pilih-pilih makanan dan tidak bebas kemanapun perginya.
Tapi, dengan saya Alhamdulillah walau berat begini tapi makan enak, tidur nyenyak aktifitas pun Alhamdulillah lancar jaya selalu.
Dewi berjalan ke arah depan rumahnya,ia segera memutar knop pintu kamarnya, tanpa banyak drama atau komentar lagi karena tidak sabar ingin bertemu dengan pria yang paling disayanginya itu di dunia ini. Dewi terkejut melihat siapa orang yang berdiri dibalik sebuket bunga mawar merah yang sudah terlihat jelas di depan matanya itu.
"Abang Syam!" Teriaknya kegirangan karena mendapati suaminya berdiri dengan menutupi wajahnya dengan banyaknya kelopak bunga mawar merah yang sungguh cantik dipandang mata.
__ADS_1
Dewi segera memeluk tubuh orang itu tanpa melihat dan memeriksa serta memastikan terlebih dahulu siapa pria yang dipeluknya itu, walau dalam keadaan perutnya yang buncit itu.
"Abang Syam saya sangat merindukan Abang," ucapnya Dewi yang semakin antusias untuk mengeratkan pelukannya itu.
Sedangkan orang yang dipeluk itu sama sekali tidak berbicara dan melerai pelukannya dari Dewi.
Inilah yang aku inginkan sejak dulu, sejak aku melihatmu pertama kalinya aku ingin menyentuh dirimu dan memelukmu seperti saat ini, tapi sayangnya kamu sudah menjadi istri dan milik orang lain, apa besok-besok aku datang seperti ini saja yah,agar Dewi selalu memelukku dengan erat hingga aku sangat bahagia sampai seolah akan membuat aku terbang melayang tinggi ke langit paling tertinggi di dunia ini.
"Abang kok enggak ngomong kalau mau beliin saya bunga cantik seperti ini, tapi ngomong-ngomong dari mana Abang tahu kalau saya suka dengan bunga mawar?" Cercanya Dewi yang belum melepaskan pelukannya itu.
Hingga suara intrupsi seseorang mampu mengalihkan perhatiannya dan pandangannya, hingga tubuhnya kaku saking terkejutnya melihat siapa pria yang berteriak kencang saking marahnya pria itu melihat perempuan yang sangat dicintainya berpelukan dengan pria lain yang dikenalnya dengan sangat jelas.
Bahkan pria itu adalah saingannya dalam merebut hati Istrinya yang terang-terangan menyatakan perasaannya di depannya.
Dewi segera mendorong dengan kuat tubuh pria yang belum dilihatnya dengan jelas siapa yang memanfaatkan ketidak berdayaannya itu.
Irwansyah Hamiz Sardi adalah orang yang sudah memanfaatkan kesempatan dalam kesempitan dan keleluasaan karena ketidak tahuannya Dewi sendiri yang lengah karena saking bahagianya melihat seorang laki-laki berdiri di depannya dengan membawa bunga.
"Dokter Irwansyah!" Cicitnya Dewi yang melirik ke arah suaminya yang berjalan ke arah mereka berdua dengan tatapan matanya yang tajam penuh dengan amarah.
Syam tanpa ragu segera meraih kerah bajunya dokter Irwan sahabatnya itu tanpa segan dan ragu. Ia segera melayangkan pukulannya tepat diwajahnya Irwan.
"Aku sudah katakan padamu jika saya tidak menyukai dan tidak sudi jika kamu terus mendekati istriku! Apa peringatan aku sebelumnya tidak pernah kamu indahkan dan camkan baik-baik di benak dan pikiranmu ha!!?" Geramnya Samuel yang kembali hendak memukul dan meninju dokter Irwan tapi segera dicegah oleh Dewi sendiri.
__ADS_1
"Abang Syam stop! Jangan seperti ini, entar Abang berurusan dengan polisi lagi!" Cegahnya Dewi yang memeluk tubuhnya Syam agar tidak bergerak sedikitpun untuk menghajar Irawan.
Irwan hanya menyeka sudut bibirnya yang robek sedikit dan mengeluarkan darah segar. Ia tersenyum sinis melihat Syam yang bereaksi luar biasa diluar dugaannya. Syam masih memegangi kerah kemejanya Irwansyah.
Kedua bola matanya Syam memerah dan seakan ingin melompat dari dalam kelopak matanya itu, "Aku tidak takut dan tidak perduli dengan polisi asalkan pria brengsek dan tidak tahu diri stop dan berhenti menggoda dan mendekati istriku! Sampai kapanpun jika dia tidak berubah dan menghentikan pikiran jeleknya dan tingkah lakunya yang kurang ajar ini aku akan melakukan segala cara agar dia pergi menjauh dari kehidupan kita berdua, agar dia sadar diri jika Dewi Kinanti Mirasih itu sudah punya suami dan milikku seorang!!" Hardiknya Syam.
Apa yang dilakukan dan dikatakan oleh Syam membuat Dewi terkejut, karena tidak menyangka jika pria yang dianggap saudaranya sendiri itu adalah orang yang akan menghancurkan rumah tangganya sendiri. Ia menutup mulutnya saking tidak percayanya dengan apa yang dilihat dan didengar dengarnya langsung.
"Astagfirullah aladzim ini tidak mungkin, Mas Dokter kenapa seperti ini? Padahal sejak awal saya menganggap mas dokter itu kakakku sendiri tidak lebih," ratapnya Dewi dengan menitikkan air matanya saking sedih,kecewa dan tidak menyangka jika dia dicintai oleh pria lain yang tidak lain adalah sahabat suaminya sendiri.
Syam yang melihat tubuh istrinya terhuyung segera melepaskan pegangan tangannya ditubuhnya Irwan dan segera memeluk erat tubuh istrinya itu dalam dekapan hangatnya. Dewi juga untuk pertama kalinya melihat Syam yang sangat marah, murka sehingga Dewi sedikit sedih,kecewa karena gara-gara kesalahannya sehingga suaminya memukuli orang lain yang hanya kesalahpahaman saja yang terjadi penyebab perkelahian kedua pria itu.
"Sayang, tenanglah jangan seperti ini, aku mohon berhentilah menangis ingat kamu itu sedang hamil, Abang tidak akan bertindak kasar lagi," bujuknya Samuel yang sangat menyesali perbuatannya itu.
"Hahaha, aku cukup tertawa puas melihat pria yang rakus memiliki dua istri sekaligus dalam hidupnya, bukannya kau terlalu tamak terhadap istri-istrimu ini, ingat kamu itu tidak mungkin bisa berlaku adil terhadap keduanya, makanya aku menawarkan diri untuk memisahkan kalian berdua dan menjadikan Dewi sebagai istriku karena Dewi pasti tidak suka jika dia harus berbagi suami dengan wanita lain, sadarlah Syam, Dewi itu tidak pantas untukmu, perempuan sholeha, baik hati dan bijaksana menjadi istrimu, kamu cocoknya hanya dengan Nadia Yualianti saja sedangkan dengan Dewi itu cocoknya jadi istriku seorang dokter tampan seperti aku ini, jadi cepatlah bercerai!" Jeritnya Irwan yang sudah seperti orang kesurupan saja yang lupa daratan.
Syam yang mendengar perkataan dari mulutnya Irwan semakin tersulut emosinya, hingga ia hendak untuk maju dan memukuli kembali Irwan tapi segera dicegah oleh Dewi dengan menarik kedua tangannya Syam.
Dewi menggelengkan kepalanya tanda berniat untuk menghentikan apa yang akan dilakukan oleh Syam.
"Abang stop jangan mengotori tangannya Abang dengan pria seperti mas dokter," imbuhnya Dewi.
Syam tidak menghiraukan tangan kirinya yang terluka akibat tusukan dari beberapa duri bunga mawar merah itu.
__ADS_1
Dewi menggenggam erat tangannya Syam, "Pak dokter! Bukan suamiku yang seharusnya sadar, tapi Anda ingat disini batasan dokter itu hanya sebagai teman dan tidak berhak untuk menghakimi dan mendikte apa yang seharusnya dilakukan oleh suamiku ini! Saya ini perempuan bersuami dan kami akan segera punya anak dan saya mohon Pak dokter untuk sadari dan terima semua kenyataan yang ada jika saya ini istri dari pria yang bernama Syamuel Abidzar Al-Ghifari bukan dokter Irwan, semoga hari ini adalah hari terakhir saya melihat bapak ada di depanku!" Tegasnya Dewi.