Satu Atap Dua Hati

Satu Atap Dua Hati
Bab. 145


__ADS_3

Bi Siti menghempas tangannya Gina adik sepupunya itu dengan tersenyum mencemooh.


"Saya yakin kepulanganmu untuk mencari putri yang telah tega kamu buang, setelah dua puluh empat tahun kamu tinggalkan dan saya yakin sekarang kamu mencari putrimu kan?" Tebaknya Bi Siti dengan penuh amarah.


Gina hanya terdiam mendengarkan semua perkataannya dari kakak sepupunya. Karena memang benar adanya, jika dia datang untuk menemui putrinya setelah sekian lama.


"Kau diam itu tandanya benar-benar niat kedatanganmu untuk mengambilnya kan? Memang kamulah yang melahirkannya dan mengandungnya selama kurang lebih sembilan bulan,tapi dimana kamu berada ketika dia menangis karena kehausan, kelaparan dan buang air atau pun menangis merengek karena sakit!? Kamu sama sekali tidak pernah bertanya tentang kondisinya apa kah anakmu masih hidup atau sudah…"


Bi Siti tidak sanggup lagi melanjutkan perkataannya itu. Ia tidak tega mengatakan hal-hal yang tidak baik tentang Shanum, anak yang dianggap seperti anak kandungnya sendiri.


Bu Gina berusaha untuk meraih kedua tangannya Bu Siti, orang yang dianggapnya telah berjasa besar terhadapnya, dalam merawat anaknya yang telah ia tinggalkan demi masa depan mereka.


"Maafkan saya Mbak bukannya saya datang setelah sekian lama saya pergi menjauh dari kehidupan putriku untuk merebut hak asuhnya melainkan saya datang untuk bersilaturahmi dan melihat langsung putriku, aku sangat merindukannya Mbak dan aku tidak mungkin merebut hak asuhnya Dewi dan Syam atas putriku," Gina menjeda perkataannya itu.


Bu Siti akhirnya melunak mendengar perkataan dari adik sepupunya itu yang sudah menangis tersedu-sedu.


"Mbak Siti,saya sangat sadar diri memang saya yang melahirkannya ke dunia ini, tapi jasa-jasa mereka lebih besar terhadap Shanum daripada yang saya lakukan selama ini, saya hanya ingin bersamanya di sampingnya melewati hari bahagianya, kalau Shanum tidak menginginkan saya dan tidak menganggap saya sebagai ibu kandungnya, itu tidak masalah bi Siti yang paling penting saya bisa hadir dan menyaksikan langsung hari bahagianya putriku, itu saja yang saya harapkan," terangnya Bu Gina.


Ibu Gina menitikkan air mata penyesalannya telah meninggalkan buah hatinya bersama dengan orang tua angkatnya yang begitu besar mencintai Shanum.

__ADS_1


"Kamu dan anakmu sangat beruntung karena mendapatkan orang tua angkat yang sebaik Tuan besar Syamuel dan nyonya Dewi, mereka sungguh sangat mencintai dan menyayangi anakmu itu tanpa pamrih dan tanpa membeda-bedakan anaknya padahal mereka memiliki tiga anak kembar, tapi perhatian, curahan kasih sayangnya mereka tidak berbeda dan tidak tergantikan hingga kelak dikemudian hari," jelasnya Bi Siti panjang lebar.


"Syukur alhamdulilah mbak, itulah mengapa saya menitipkan putriku pada mereka karena saya mengetahui jika putriku kelak pasti bahagia bersama mereka," sahutnya Bi Gina.


Bi Siti tersenyum meremehkan mendengar perkataan dari Bu Gina,"makanya kamu tega menukar putri kandung mereka dengan putri kandungmu!? Karena kamu ingin melihat anakmu bahagia dengan menukar kebahagiaan anak orang lain! Apakah saking cintanya kamu kepada putrimu sehingga kamu dengan teganya tanpa hati nurani menyerahkan anak kandung mereka kepada perempuan psikopat seperti Bu Nadia Yulianti ha!!" Bentaknya Bi Siti.


Bu Gina tidak menyangka jika kakak sepupunya mengetahui rencana dan niatnya itu.


"Kamu pasti tidak mengetahui jika kami mengetahui keburukan dan kebusukan atas rencana kamu itu! Untungnya kami semua bukan orang bego yang mudah kamu kelabui, tipu daya dan tipu muslihatmu akhirnya kebongkar juga kan! Mbak hanya minta padamu jangan sekali-kali mengatakan kepada Shanum untuk mengambil hak asuh atas putri kandungmu itu, karena saya yakin kamu hanya akan kecewa dan sedih jika Shanum menolak kamu dengan mentah-mentah, saya mohon jangan rebut Sahnun dari dalam keluarga baik ini!' bi Siti menangkupkan kedua tangannya ke depan dadanya itu yang memohon agar apa yang disampaikannya dipenuhi oleh Gina.


Bu Gina sadar diri jika dia tidak berhak untuk menuntut hak asuhnya, lagian kemungkinan besar keluarga barunya akan mempermasalahkan status Shanum putri yang lahir di luar nikah.


Bibi Siti terharu dan terenyuh melihat ketulusan atas permintaan yang diucapkan oleh Gina Anshari yang memohon dengan sangat kesempatan tersebut.


"Baiklah karena kamu sendiri yang berkata demikian,tapi ingat jangan sekali-kali mengatakan dan mengakui jati diri kamu yang sesungguhnya dan sebenarnya di hadapan Sahnum dan siapapun apapun yang terjadi dikemudian hari," perintahnya Bu Siti yang tidak ingin dibantah.


Keduanya pun mengakhiri percakapan dan pembicaraan penting mereka,Bu Gina pun masuk ke dalam rumahnya Dewi sebagai tamu dengan status adik sepupunya Bu Siti. Tanpa sepengetahuan keduanya Shanum mendengar perkataan mereka berdua.


Sahnun menangis sejadi-jadinya setelah mengetahui jika dirinya anak yang lahir di luar nikah dan tidak diharapkan oleh keluarga baru mamanya sendiri.

__ADS_1


Air matanya menetes bak anak sungai,ia menutup mulutnya agar suara Isak tangisannya tidak terdengar oleh siapapun. Dia tidak menyangka sebelumnya jika, perempuan yang telah berjasa besar mengandungnya dan melahirkannya ke dunia ini seperti itu lah karakter dan sifat orangnya.


Dia menangis dalam diamnya dan tidak ingin jika ada orang yang mengetahui akan keberadaannya di tempat tersebut. Tapi, tanpa ketiga orang itu ketahui jika Dewi Kinanti Mirasih pun menguping pembicaraan mereka.


Hatinya sangat sedih, sakit dan teriris sembilu ketika mengetahui jika ibu dan papa biologisnya Shanun Inshira telah datang kembali untuk mencari putri sulungnya.


Berselang beberapa menit kemudian, Gina tidak masuk ke dalam rumah itu. Malah ia berpamitan kepada Bu Siti dan berjanji akan kembali datang di hari jumat lusa untuk menghadiri dan menyaksikan langsung akad nikah putri sulungnya dengan Hanif Yahya pria yang pernah dinikahinya secara siri ketika dirinya hamil jalan lima bulan kala itu.


Sehingga hak perwalian jatuh ke dalam tangannya Syamuel ataupun wali nikah yang ditunjuk oleh kantor urusan agama kecamatan setempat.


Anak perempuan yang lahir atau hadir tanpa ada ikatan pernikahan terlebih dahulu maka hak wali atau nasabnya jatuh ke tangan wali nikah yang bisa bukan dari ayah biologisnya.


Satu hari kemudian, Shaira pagi ini mendapatkan surat pemanggilan kerja langsung dari salah satu rumah sakit terbaik dan termewah di ibu kota Jakarta.


Betapa bahagia dan beruntungnya karena mendapatkan langsung undangan khusus tanpa mengikuti jalur penerimaan karyawan seperti yang dilakukan oleh calon dokter lainnya.


Karena prestasi gemilang yang diraihnya selama melanjutkan pendidikannya di luar negeri London UK Inggris di universitas Oxford university.


"Syukur alhamdulilah makasih banyak ya Allah atas segala nikmat yang Engkau berikan kepadaku dan kepada seluruh anggota keluargaku dan umat muslim di seluruh dunia, kami tak henti-hentinya mengucapkan puji syukur ini atas kehadiratMu yah Allah ya Robbi yang maha pengasih lagi maha penyayang."

__ADS_1


__ADS_2