
Untungnya Aidan tidak berada di tempat, andaikan dia hadir di tengah-tengah mereka, pasti akan marah dan melawan bagi siapapun yang dengan sengaja menggertak ataupun menghardik kedua orang tuanya.
Sifat Aidan menurun dari almarhum kakek buyutnya papanya itu katanya yang mantan anggota TNI juga.
Dewi terduduk lesu memikirkan kenapa sampai Shanum bersifat seperti itu padanya. Air matanya menetes membasahi pipinya ketika suaminya sudah pergi dari sisinya yang sejak tadi duduk di sampingnya.
Shaira mengelus punggungnya Dewi dengan penuh kasih sayang," Ma, andaikan Aira bisa bertukar tempat dengan Mbak Sha aku ikhlas berikan beasiswaku dengan Mbak Sha saja," imbuhnya Shaira anak bungsunya Dewi
Dewi menolehkan kepalanya ke arah lain agar tidak ketahuan jika dia sedang menangis. Dia seumur hidupnya selama memiliki anak, Dewi tidak ingin memperlihatkan sisi lemahnya di hadapan keempat anak kembarnya.
Kecuali tiga tahun lalu ketika bi Jubaedah meninggal dunia, barulah ia menangis di depan orang lain. Tetapi, jika menangis karena sedih dan berkeluh kesah karena kehidupan, dia tidak ingin menampakkan kesedihannya di depan anaknya.
Dewi segera menetralkan perasaannya agar tidak ketahuan jika dia sedang sedih, kacau dan hancur hati dan perasaannya setelah mendengar bentakan keras dari anaknya sendiri. Sedangkan gadis yang hanya anak angkatnya saja lebih peduli dengan perasaannya yang terluka diperlakukan seperti itu oleh Shanum.
"Nak apa alasannya kamu memilih untuk menyerahkan beasiswamu jika andai bisa bertukar? Katakanlah sejujurnya kepada Mama?" Tanyanya Dewi seraya memegangi tangannya Shaira.
"Karena Aira tidak ingin berjauhan dengan Mama dan papa, Aira pengennya selamanya selalu bersama dengan Mama dan papa di rumah ini, apapun yang terjadi," imbuhnya Aira sambil memeluk tubuh mamanya yang berusaha menahan kesedihannya.
"Masya Allah nak begitu mulia hatimu,tapi yang namanya anak perempuan suatu saat nanti akan menemukan pria yang baik untuknya dan akan menikah suatu saat nanti, jadi cepat atau lambat kamu akan meninggalkan Mama," pungkasnya Dewi lagi yang berusaha sekuat tenaga untuk tersenyum.
Shaira mengecup punggung tangan mamanya agar Dewi lebih tenang menghadapi kerasnya sikap Shanum, "Mama aku tau kalau Mama sedang tidak baik-baik saja karena ulahnya Mbah Sha, Mama andaikan aku bisa mengabulkan keinginannya Mbak Sha pasti aku akan ikhlas melakukannya Ma, karena kebahagiaan kalian adalah kebahagiaan Aira juga," ungkapnya Shaira Innira.
Dewi akhirnya menitikkan air matanya saking terharunya dengan sikapnya putri angkatnya. Dewi reflek memeluk tubuh putrinya itu lalu menumpahkan segala gunda gulananya dalam pelukan hangat anak bungsunya.
Ya Allah begitu mulia hatimu nak, kamu hanya anak angkatnya kami, tetapi hatimu kasih sayang dan cinta kasihmu kepada kami yang hanya orang tua angkat begitu bahagia dengan sikap dan ketulusan hatimu.
__ADS_1
Tapi, entah kenapa ya Allah akhir-akhir ini setiap kali saya memeluk Aira dengan Sha kenapa perasaan yang aku rasakan sangatlah berbeda.
Astaauhfirullah aladzim, saya tidak boleh membandingkan mereka, bagaimana juga Sha tetap anak kandungku. Aira hanya anak angkat kami saja.
"Mama Aira selalu ada untuk tempat bersandarnya, tempat untuk mencurahkan segala keresahan yang menimpa hati dan benaknya Mama, jadi jangan pernah seperti ini lagi, Aira akan sedih melihat mama dan papa seperti ini,tapi Ma maafkan Mbak Sha yah, mungkin dia sedang pusing sehingga mudah emosian," pintanya Aira yang masih memeluk mamanya itu.
Apa yang keduanya lakukan dilihat langsung oleh bibi Siti dan bi Minah. Mereka ikut terharu melihat kedekatan keduanya. Mereka segera meninggalkan ruangan tengah menuju dapur karena masih banyak pekerjaan yang ingin dikerjakan oleh mereka.
Du jalan mereka berbincang-bincang mengenai permasalahan majikannya itu," Bu Siti, kenapa yah aku merasa kalau Non Sha dengan nona Aira itu kok mereka jauh beda banget sifatnya," ungkapnya Bi Mina.
"Pasti mereka bedalah, kan ada anak kandung ada anak angkat itu sudah jelas terlihat berbeda karakter dan watak keduanya lah," tukasnya Bi Siti.
"Kalau itu aku sangat jelas mengetahuinya, yang jadi beban pikiran aku akhir-akhir ini kenapa semakin kesini anak-anak itu semakin besar karateristik mereka itu beda yah, seperti Non Sha kok sifatnya tidak mirip dengan Tuan besar Sam ataupun Nyonya Dewi, sedangkan Nona Shaira kedua peringai nya nyonya Dewi dan Pak Syam itu ada sama Shaira, itu menurut pengamatan aku beberapa tahun belakangan ini," jelasnya bi Minah.
Bi Siti terdiam tapi kakinya terus melangkah ke arah dalam dapur, sampai-sampai Bu Mina yang berbicara tidak di dengar dengan baik olehnya.
"Kamu kok diam, apa yang terjadi padamu Bi Siti?" Tanyanya Bi Minah yang aneh melihat Bi Siti tiba-tiba terdiam.
Bi Siti Laila Sari terkejut hingga tubuhnya terjingak karena kaget mendengar suara teriakannya Bi Minah yang sedang memikirkan banyak hal.
"Eh sa-ya ti-dak apa-apa kok Minah hanya saja saya tadi mengingat kalau jemuran pakaian sepertinya sudah kering siap diangkat dari tali jemuran," kilahnya Bi Siti yang terpaksa berbohong untuk menutupi apa yang dialaminya itu.
Keduanya pun segera melanjutkan pekerjaan masing-masing, mereka sama sekali tidak pernah mengeluh bekerja di sana. Padahal sudah bertahun-tahun lamanya mereka bekerja, sebelum anak-anak kembar Dewi lahir ke dunia mereka sudah mengabdikan diri dan hidupnya selamanya.
"Kecurigaan saya harus segera saya pecahkan sendiri teka-tekinya, walaupun didalam sini saya ikut andil dalamnya tapi saya tidak pernah berniat atau mau menukar mereka jika andai saja memang faktanya seperti dugaanku selama ini,"
__ADS_1
Di dalam ruangan lain masih di sekitar rumah megah itu, Shanum berteriak histeris dan menangis kencang sejadi-jadinya itu. Sha menumpahkan segala kekesalannya.
Apalagi setelah cintanya ditolak oleh kakaknya sendiri, "apa aku salah mencintai abangku sendiri, aku mungkin sudah keliru dan salah tapi aku tidak bisa menghilangkan rasa suka ini! Aku sejak kecil sudah menyayangi Abang Abyaza, tapi kenapa Abang tidak mau padaku, bahkan semalam aku sudah ingin menyerahkan mahkota kesucian ku tapi, Abang tetap bersikukuh dengan pendiriannya sendiri jika dia tidak mencintaiku, tapi hanya dan selamanya hanya menganggap aku sebagai adiknya saja, haaa!!" Jeritnya Shanum sambil meninju bantal peluknya tersebut yang menjadi sasaran amukan kemarahannya.
Syam membakar sebatang rokok yang baru saja dibelinya di salah satu swalayan yang buka 24 jam itu. Ia berdiri di balkon kamarnya sambil menghisap sebatang rokok yang ada di dalam tangannya.
Air matanya menetes membasahi pipinya itu, dia masih tidak habis pikir jika anak kandungnya sendiri akan menghardiknya itu. Ia menyesali sikap dan cara didiknya selama ini.
Ya Allah apa aku yang telah keliru dalam membesarkan anakku, kenapa Sha bertingkah tidak terkendali.
Padahal selama ini aku selalu berusaha keras menuruti keinginan mereka berempat. Diantara ke-empat anakku. Hanya Shanum yang berbeda dari semuanya.
Anak kandung seperti anak angkat sedangkan anak angkat malah seperti anak kandungku perhatian, sikapnya dan juga kasih sayangnya padaku.
Hal seperti ini terjadi kembali terulang lagi dalam hidupku. Dulu saya sering membandingkan kedua istriku,apa sekarang anak-anakku lagi antara Shaira dan Shanum.
Di balik tirai jendela kamar dari rumah tingkat yang tidak terlalu jauh dari sana, seorang laki-laki menatap sebuah foto seorang perempuan yang masih muda dibandingkan dengan usianya yang sekarang.
"Kenapa aku berasa kamu hadir kembali di sisiku, Gina wajahmu dengan putri ketiganya Syam sahabatku, kenapa aku berasa kalian seperti anak dan ibu saja, seperti kalian ada keterkaitan khusus.
Ya Allah dimana sebenarnya Gina, aku sudah berusaha untuk mencari kebenarannya, tetapi satupun orang tidak mengetahui keberadaannya.
Shanum sudah sering kali diperingatkan oleh Abyasa.
Maaf tidak balas komentar kalian bukan sombong tapi belum isi paket kuota data, ini nebeng pakai punya suami.
__ADS_1