Satu Atap Dua Hati

Satu Atap Dua Hati
Bab.71


__ADS_3

Keduanya pun bersiap berangkat ke rumah sakit yang baru sekitar tiga kali Dewi Kinanti Mirasih datangi. Syam merangkul pinggang Istrinya itu dengan posesif untuk membantu Dewi berjalan yang semakin hari semakin kesusahan saja dalam berjalan.


"Sayang kamu duduk di sini dulu yah, Abang akan mengambil nomor antrianmu," pintanya Sam yang sudah membantu Dewi untuk duduk.


Dewi menganggukkan kepalanya sambil tersenyum simpul ke arahnya Syamuel. Dewi pun menurut apa perkataan dari suaminya itu. Ia hanya duduk manis dan tenang sambil menunggu kedatangan suaminya itu yang sudah berdiri di depan meja resepsionis rumah sakit.


"Suster kami sudah mendaftar sebelum kami datang, kira-kira nomor antrian kami berapa yah?" Tanyanya Syam yang memang sudah mendaftar secara online sebelum mereka tiba di RS.


"Atas nama siapa pak kalau boleh tahu?" Tanyanya balik suster dibagian pendaftaran administrasi.


"Ibu Dewi Kinanti Mirasih Al-Ghifari," jawab Samuel.


Perawat yang bekerja dibagian administrasi itu pun segera mencari namanya Dewi di layar komputernya itu. Hanya butuh waktu sebentar saja, Syam melakukan antrian dan pegawai bagian administrasi sudah menemukan data-datanya Dewi, tapi perawat itu seperti mengamati dengan seksama Syam dan bergantian dengan biodatanya Dewi.


"Bukannya tadi sempat ada yang nama suaminya sama dengan bapak ini yah, kalau enggak salah ingat baru sekitar lima belas menit yang lalu,"


Suster itu menyerahkan nomor antriannya Dewi, Syam mengambil nomor antrian itu tanpa berlama-lama.


"Makasih banyak Mbak," ucapnya Sam seraya tersenyum tipis.


Syam segera berjalan terburu-buru ke arah Dewi karena ia tidak ingin membuat istrinya terlalu lama menunggu, tapi tanpa disadarinya ada seseorang yang sejak tadi mengamati interaksi Dewi dan Syam. Orang itu hanya menutup mulutnya saking tidak percayanya dengan apa dilihatnya sendiri. Orang itu diam-diam menguntit dan membuntuti Dewi dan Syam hingga ke arah dalam ruangan praktek pemeriksaan dokter kandungan.

__ADS_1


"Aku tidak menyangka jika mereka punya hubungan seperti ini, begitu pintarnya mereka menyembunyikan kenyataan yang sungguh besar,'


"Ayo sayang, sepertinya sudah giliran kamu yang akan segera diperiksa oleh dokter, jujur saja saya tidak sanggup bersabar untuk melihat anak-anakmu," imbuhnya Syam yang sangat antusias untuk melihat langsung kondisi anaknya walaupun hanya dalam layar komputer untuk sementara waktu.


Alhamdulillah saya sangat bahagia melihat kebahagiaan dari suamiku menyambut dan menunggu kelahiran anak kami. Andai Abang Syam tidak mengajakku pindah ke Jakarta, mungkin aku akan selalu seorang diri ke rumah sakit dalam keadaan perut buncit seperti ini.


Kalau boleh jujur aku sangat bahagia ingin menengok kedua anak kembarku bersama dengan Dewi, tapi dengan Nadia setiap kali aku ingin mengantarkan periksa pasti ada-ada saja alasannya untuk menolak ajakanku, tapi beberapa bulan yang lalu sekitar dua bulan lebih sebelum aku bertemu dengan Dewi, Nadia malah selalu ngotot untuk harus mengantar jemput ke klinik tapi sekarang semuanya berubah.


Bukan hanya itu, ketika aku meminta untuk berhubungan badan dengannya pasti akan menolak aku dengan berbagai macam alasan yang menurut aku tidak masuk akal banget. Seperti halnya dengan menyentuh perutnya Nadia akan menghindar jika saya ingin mengelus puncak perutnya, karena itu lah sebenarnya aku enggan untuk pulang ke rumahnya, tapi aku tidak mungkin juga hidup terus-terusan bersama dengan Dewi.


Dimana aku tetap harus berbuat adil terhadap istri-istriku walau aku tidak menampik dan memungkiri jika aku lebih nyaman, damai, enjoy jika berada di dekat Dewi dari pada bersama dengan Nadia Yulianti. Aku selalu tidak bisa berhenti untuk membandingkan mereka, astagfirullah aladzim maafkanlah hambaMu ini ya Allah, aku sadari tidak sepantasnya saya bersikap seperti ini.


Aku selalu berusaha untuk mencegah pikiran dan sikap seperti ini tapi, entahlah kenapa sangat sulit aku menghindari agar aku tidak selalu membandingkan mereka. Kalau aku salah maafkanlah aku yah Allah. Semoga kedepannya aku tidak membandingkan istri-istri hamba ya Allah.


"Dokter tolong dicek dengan detail yah dok karena menurutnya istriku dia selalu heran dengan kondisi janinnya yang katanya dia selalu menyangka anaknya kembar tiga sedangkan waktu kami dulu periksa di klinik, hasilnya itu anak kami insya Allah kembar dua saja," ungkap Syam.


Dokter itu tersenyum ramah sambil segera mengoleskan jel ke atas perut buncitnya Dewi yang sungguh seperti galong saja ukurannya.


Dokter itu terkadang mengerutkan keningnya, kadang-kadang juga mengamatinya dengan seksama tapi akhirnya bisa tersenyum membuat Dewi dan Syam saling bertatapan satu sama lainnya tidak mengerti dengan maksud dari dokter yang memperlihatkan mimik wajahnya yang berubah-ubah setiap kali melihat ke layar komputernya itu.


"Setelah saya amati dengan jelas, selamat pak dan Bu Dewi calon anak Anda ternyata kembar tiga loh, tubuhnya anak Anda yang satu itu seolah dia itu selalu ngumpet sehingga jika peralatan yang dipakai oleh dokter sebelumnya mungkin belum atau tidak sama dengan apa yang dimiliki oleh rumah sakit kami ini," jelasnya Dokter yang bername tag Dini Andriana S.pog.

__ADS_1


Dewi dan Syam betapa bahagianya dan terkejutnya mendengar perkataan dari mulut dokter kandungan tersebut yang masih cantik diusianya yang tidak muda lagi.


Dewi memegangi punggung tangan suaminya itu, "Alhamdulillah, ternyata feelingku tidak salah Abang, anak kita kembar tiga," Dewi tak henti-hentinya mengucapkan syukur atas anugerah dan rezeki tersebut dalam hidupnya.


"Aku akan memiliki anak langsung empat,luar biasa sungguh-sungguh mengejutkan dan luar biasa apa yang terjadi di dalam hidupku, berita gembira ini akan aku sampaikan kepada mama dan papa, mereka pasti bahagia mendengar hal ini," terangnya Syam.


Berselang beberapa menit kemudian, Dewi dan Syam sudah duduk di depan meja kerjanya dokter dini.


"Selamat yah Bu, semoga sehat selalu dan selamat sampai lahirannya, ini resep obat dan vitamin yang paling bagus Ibu konsumsi, sesuai dengan hpl yang saya baca di data yang tertulis insha Allah kalau tidak ada halangan anda akan melahirkan sepuluh hari lagi dari sekarang, jadi ingat ibu Dewi harus lebih rileks, tenang dan santai jangan banyak pikiran menantikan hari-hari kehamilannya Ibu, tapi ngomong-ngomong saya sarankan kepada ibu untuk operasi caesar saja mengingat ukuran bayi Ibu cukup besar dan mereka tiga orang, jadi sebaiknya untuk menghindari melahirkan normal,kecuali hanya satu anaknya Ibu itu bagus dan bisa, tapi saya kembalikan lagi pada ibu apa yang terbaik sesuai dengan pilihannya Abang ibu Dewi," jelas dokter Dini panjang lebar.


Dewi menatap intens ke arah Syam yang seperti tanpa mengucapkan langsung,dia meminta jawaban pilihan yang terbaik untuk dirinya dan ketiga anaknya itu. Sam yang mengerti maksud dengan tatapannya Dewi segera menggantikan Dewi untuk berbicara.


"saya serahkan kepada dokter saja yang terbaik untuk anak-anak dan istriku, karena aku yakin pilihan yang dokter sebutkan adalah yang terbaik untuk mereka, yang paling penting mereka selamat dan sehat walafiat dokter itu sudah cukup bagiku," pungkasnya Sam.


"Baiklah kalau begitu saya tunggu Bapak dan Ibu sesuai dengan jadwal yang ditentukan, tapi kalau ada keluhan seperti sakit atau darah yang merembes atau sudah ada air ketuban yang mengalir segera larikan Ibu ke rumah sakit kami karena terkadang jadwalnya tidak sesuai dengan hari kelahiran, kadang cepat terkadang malahan lambat," imbuh dokter Dini.


"Makasih banyak dokter atas bantuannya,kami permisi kalau begitu," ucap Dewi yang berpamitan kepada dokter.


"Sama-sama Bu, hati-hati di jalan," timpalnya Bu dokter lagi.


Keduanya pun segera pergi meninggalkan ruangan praktek dokter Dini, tapi mereka sama sekali tidak peka dan sadar jika ada penguntit yang selalu menguping pembicaraan mereka.

__ADS_1


"Ternyata ia akan melahirkan tiga orang anak sekaligus, saya harus sampaikan segera kepada bos, aku bisa dapat hadiah banyak dan besar kalau seperti ini,"


__ADS_2