Satu Atap Dua Hati

Satu Atap Dua Hati
Bab. 18


__ADS_3

Sedangkan tanpa sepengetahuan dari kedua pasangan suami istri itu, seseorang dari atas mobilnya sejak beberapa jam lalu memperhatikan rutinitas dan kegiatan dua pasangan suami istri itu.


"Suamimu sudah datang, aku tidak akan mungkin menggangu waktu kalian berdua, Dewi maafkan aku yang sudah diam-diam mencintaimu walaupun aku tahu kamu perempuan bersuami, tapi aku sudah berusaha untuk menjaga hatiku agar tidak jatuh kedalam pesona kecantikan dan kesederhanaan yang kamu miliki, ijinkan aku untuk menyayangimu dan menjagamu tanpa ada yang mengetahuinya," Gumam seorang pria yang segera menutup kaca jendela mobilnya kemudian bergegas meninggalkan area perumahan itu.


Setelah mengamati dan mengagumi rumahnya, perabot furniture,serta interior desain rumahnya serta banyaknya pakaian yang berjejer di dalam lemari pakaiannya dari berbagai merk dan juga model tentunya.


Dewi mengambil secara acak pakaian rumahan, yaitu celana kulot berwarna pink dengan pakaian t-shirt lengan panjang atasan warna putih dipadukan dengan hijab instan rumahan pula semakin menambah kecantikan alami wanita bersuami itu.

__ADS_1


"Saya buatkan Abang Syam kopi pasti kerjanya semakin semangat,tapi ngomong-ngomong apa dia suka kopi atau teh? Saya cek dulu saja apa sudah tersedia kopi atau teh dengan gulanya di dapur," cicitnya Dewi yang berjalan mengendap-endap menuju dapurnya karena tidak mau langkah kakinya mengganggu kenyamanan pekerjaan dan aktifitasnya Samuel.


Tapi, baru saja beberapa langkah kakinya melangkah menuju ke arah dapur, ia dikejutkan suara intrupsi bernada bariton dari seorang pria yang duduk bersantai di depan layar komputernya yang masih menyala itu.


"Belum ada apa-apa di dapur, saya belum sempet belanja keperluan dapur seperti minyak, sabun, dengan kawan-kawannya jadi mungkin apa ada yang ingin kau masak untuk sementara waktu belum bisa karena bumbu dapur juga belum ada," ujarnya Syam yang tidak mengalihkan perhatiannya dari layar laptopnya itu.


Dewi spontan berhenti setelah mendengar perkataan dari suaminya itu," rencana saya mau buatkan minuman hangat sebagai teman kerjanya Abang, tapi karena bahannya tidak ada jadi batal kalau sudah seperti ini," timpalnya Dewi yang memutar tubuhnya untuk berjalan ke arah sofa dimana Samuel berada.

__ADS_1


"Tidak apa-apa kok Abang, pernikahan kita sudah jalan empat bulan aku sudah terbiasa seperti ini ditinggal Abang tapi, seolah Abang selalu berada di dekatku, kalau Abang baik aku juga bahagia, aku hanya minta pada Abang jaga kesehatannya baik-baik, makan yang teratur dan satu hal lagi makasih banyak atas kirimannya yang Abang selalu transfer setiap bulan, saya merasa sangat bersyukur walau saya juga kerja," ungkapnya Dewi ketika sudah duduk di hadapan suaminya itu.


Samuel melihat ke arah istrinya itu," maaf jika yang saya berikan sedikit, karena kamu sudah tahu kan kalau aku juga di Jakarta punya istri selain kamu, tapi kamu tidak perlu khawatir setiap bulan pasti aku akan kirim uang belanja bulanan untuk kamu, asalkan kamu selalu nurut padaku agar hubungan kita ini tidak ketahuan,"


Dewi menatap ke arah suaminya tapi lebih banyak menundukkan kepalanya, "Ya Allah Abang itu uang bukan sedikit loh, bahkan dari uang yang Abang kirimkan setiap bulan saya berikan bantuan modal kepada Bibi Hasnah untuk mengisi ikan dan udang beberapa tambak ikannya dan juga kebun dengan sawahnya bibi Husnah juga,kami bagi hasil mereka sangatlah bersyukur dan berterima kasih kepada Abang katanya mereka titip salam untuk Abang dan ucapin makasih banyak juga," jelasnya Dewi yang selalu menyuguhkan senyuman termanisnya untuk Syam.


"Salam balik untuk paman dan juga bibi saya sangat senang mendengarnya jika kamu pergunakan uang kamu dengan baik dan tepat, lagian itu hakmu terserah mau dibelanjakan apa terserah selama bermanfaat kenapa tidak, Abang pasti selalu mendukung keputusan baikmu itu,"

__ADS_1


"Abang tidak keberatan dan marah kan jika aku pergunakan uang itu untuk modal usaha? Tanpa bertanya dan meminta ijin kepada Abang terlebih dahulu," Tanyanya Dewi dengan hati-hati takutnya Sam merasa tidak dihargai dan nyaman dengan keputusannya itu tanpa memberitahukan sebelumnya kepada Syam.


Dewi terdiam menunggu jawaban dari pria yang sudah menikahinya kurang lebih empat bulan lalu, sedangkan pria yang disapa Samuel Abidzar Al-Ghifari begitu tenang dan entah kenapa dia terdiam.


__ADS_2