
Dewi meraih tangan kanan suaminya setelah Samuel berdoa. Dewi mengecup punggung tangannya Syam penuh takjim. Syam pun mengecup keningnya Dewi penuh kelembutan dan kasih sayang.
Walaupun sedikit perih dan ngilu dibagian sensitifnya itu, aktifitas Dewi sama sekali tidak terganggu. Bahkan Dewi menganggap itu hal yang biasa dan wajarnya apalagi itu pengalaman pertamanya pasti semua perempuan ngalamin apa yang dialaminya itu.
"Sungguh betapa indahnya hariku jika setiap hari dan setiap saat aku bisa shalat berjamaah dengan kedua Istriku walaupun di tempat yang berbeda," batinnya Syam yang berharap kedua istrinya akan seperti ini terus.
Dewi sungguh gembira hatinya karena sejak dulu, ia selalu berharap dan bermimpi jika sudah menikah dia ingin setiap kali melaksanakan shalat sunah maupun shalat wajib inginnya bersama dengan pasangan halalnya melakukan bersama.
Hari ini impian terbesarnya dalam hidupnya sudah terwujud,ia tidak menuntut lebih kepada suaminya karena ia sangat mengerti jika dia adalah orang ketiga yang terpaksa dinikahi oleh pria yang bernama Samuel Abidzar Al-Ghifari. Sehingga ia selalu harus pintar-pintar bersyukur dan banyak stok kesabaran dan keikhlasan menjalani kehidupan rumah tangganya itu.
Salah satu kamar tidur yang sengaja dikosongkan oleh Dewi tanpa menyediakan furniture di dalamnya sebagai musholah kecil di dalam rumahnya. Walau belum tersedia fasilitas untuk musholah kecilnya itu. Tapi, Dewi berniat esok akan ke mall untuk membeli perlengkapan dan peralatan musholanya.
Berselang beberapa menit kemudian, Dewi sudah berpakaian lengkap bersiap ke pasar dengan ditangannya sudah ada keranjang belanja di dalam tentengan tangannya. Dewi hendak berpamitan kepada suaminya itu. Ia juga berangkat lebih cepat dan awal ke pasar, bertujuan agar dia mendapatkan bahan makanan seperti lauk pauk yang masih segar.
Dewi mendapatkan informasi dari Dian sahabatnya itu jika di pasar tradisional yang dekat dengan perumahan tempat ia tinggal ada pasar tradisional yang cukup ramai dan selalu menyediakan bahan-bahan yang masih fresh tapi dengan harga yang lebih mahal dibanding pasar tradisional lainnya yang ada di kota S.
Dewi berjalan ke arah ruangan tengah dimana suaminya sedang bersantai sambil menonton betita di televisi.
__ADS_1
"Abang saya ke pasar dulu yah, enggak apa-apa kan kalau saya tinggal dulu," pamitnya Dewi.
Syam menolehkan kepalanya ke arah Dewi dan melihat intens Istrinya itu sambil berbicara," apa boleh Abang ikut bersama kamu? Kalau bisa abang yang antarin kamu, gimana mau gak?" Tanyanya Syam yang menawarkan bantuannya itu untuk menemani istrinya untuk pertama kalinya akan menginjakkan kakinya di dalam pasar.
Dewi terkejut mendengar perkataan dari mulut suaminya itu," Abang serius mau ikut bareng saya ke pasar? Di pasar itu banyak orang yang saling berdesakan, pasar juga agak bau,kadang jalannya becek, apa kira-kira Abang bisa melewati semua itu?"
Dewi menautkan kedua alisnya melihat reaksinya Syam ketika menjelaskan pasar dan Dewi paham kalau orang kota yang kebiasaan dan kesehariannya hanya berada di depan komputer pasti tidak pernah belanja di pasar. Dewi tidak percaya jika pria tampan dan ganteng yang menikahinya beberapa bulan lalu itu ingin menemaninya ke pasar.
Syam berdiri dari posisi duduknya itu seraya mematikan televisinya terlebih dahulu. Ia tersenyum mendengar perkataan dari mulut istrinya yang meremehkannya.
"Saya akan mendatangi dan mengunjungi semua tempat yang didatangi oleh istriku di manapun itu, ke ujung dunia pun saya sanggup kok," imbuhnya Syam dengan serius dan penuh semangat akan keyakinannya sendiri.
Syam terkekeh mendengar candaan istrinya itu kemudian melangkahkan kakinya menuju ke arah dalam kamarnya. Tapi,ketika berjalan di sekitarnya Dewi tanpa terduga Syam langsung mengecup sekilas pipi kanannya Dewi.
"Istriku hari ini semakin cantik, walupun biasanya tetap cantik," pujinya Syam kemudian segera ngacir dari hadapan Dewi.
Sedangkan Dewi yang diperlakukan seperti itu terkejut dengan perlakuan mersa, istimewa dan spesial dari suaminya itu. Ia spontan menyentuh pipinya yang pastinya sudah memerah karena mendapatkan hadiah khusus dari suaminya di pagi hari. Dewi menyentuh bagian dadanya yang berdebar kencang, jantungnya berdetak tak karuan dag dig dug.
__ADS_1
"Ya Allah… kenapa dengan dadaku, apakah ini yang dinamakan cinta pada pasangan halal kita sendiri, karena dengan mas Heri Ismail saya tidak pernah merasakan yang seperti ini, bahkan ini hal yang tidak pernah aku rasakan terjadi padaku sebelumnya, apa karena dengan mas Ish kami tidak pernah seperti ini yah sebelumnya?" Dewi terus memegangi pipinya yang dicium oleh Syam suaminya sendiri.
Syam tersenyum tipis melihat Dewi yang masih terdiam mematung dengan terus menerus memegang pipinya itu.
"Aku akan memperlihatkan padamu caraku menunjukkan rasa cinta dan sayangku padamu, jadi persiapkan hatimu untuk menerimanya,"
Syam berjalan ke arah istrinya kemudian mengambil tas belanjanya Dewi yang terbuat dari plastik yang memakai penutup berwarna biru muda. Keduanya berjalan barengan ke arah luar kemudian menutup pagar rumahnya dan tak lupa mengunci rapat pintu tersebut.
"Jadi kita tidak perlu naik mobil ke pasar? Apa jaraknya enggak jauh dari sini?" Tanyanya lagi Syam untuk memastikan hal tersebut.
Dewi tersenyum lembut," iya suamiku letak pasarnya tidak jauh kok dari sini, cukup jalan kaki saja sudah sampai, lagian belum terang juga jadi enak jalan kaki karena cahaya matahari belum terlalu terang lagian hitung-hitung kita olahraga Abang," imbuhnya Dewi.
Syam kemudian tidak lagi berbicara untuk menyanggah perkataan dari Dewi. Ia berjalan beriringan dengan bergandengan tangan dengan Dewi di pagi itu yang baru sekitar jam setengah enam pagi.
Tanpa mereka sadari dan ketahui jika ada seseorang yang sedari tadi memperhatikan interaksi dan apa yang mereka lakukan bersama sejak keluar dari dalam rumah pasangan suami istri itu.
Orang itu duduk dibalik kemudi mobilnya dengan tatapan matanya terus tertuju pada Dewi," andaikan saja aku tidak terlambat mengenalmu dan lebih berani untuk menggantikan mantan kekasihmu untuk menikahimu waktu itu mungkin aku lah pria yang paling beruntung di dunia ini bisa menikah dengan gadis sebaik kamu, yang sholeha, lemah lembut, penuh kelembutan, perhatian, bijaksana, dewasa, semua kebaikan ada padamu, tapi walau aku di luar negri jika aku mendengar Samuel menyakitimu maka aku akan datang merebutmu darinya walaupun aku harus berkelahi dengan sahabatku sendiri," kepalan tangannya digenggamnya dengan erat hingga terlihat dengan jelas kepalan tangannya itu.
__ADS_1
Syam menolehkan kepalanya ke arah kebelakang dimana sebuah mobil sedan merah terparkir tidak jauh dari rumahnya. Ia tersenyum penuh arti melihat siapa pemilik mobil itu.
"Kamu tidak akan punya kesempatan lagi untuk mendekati istriku, karena Dewi Kinanti Mirasih sudah menjadi milikku seutuhnya," senyuman penuh maksudnya menatap pria itu secara diam-diam tanpa sepengetahuan dari Dewi.