Satu Atap Dua Hati

Satu Atap Dua Hati
Bab. 106


__ADS_3

Baru sepersekian detik, Arion bangkit dari berlututnya yang memohon kepada sang pencipta alam semesta ini untuk memberikan bukti bahwa di dunia ini ada sang Khalid yang bernama Allah SWT.


"Benar sekali, tapi ngomong-ngomong ada hubungan apa dengan perempuan di dalam sana yang bernama Shanum?" tanyanya Hanif dengan penuh menelisik.


"Saya papanya, tepatnya papa biologisnya," ungkap Pak Hanif.


"kamu ternyata dahulunya adalah pria yang diakui bakal hidup di dunia ini dengan mas


"Katanya Mama dulu menyebut namaMu dengan sebutan Allah SWT,maka aku memohon padaMu jika Engkau mengabulkan segala doa-doaku ini, aku berjanji akan memenuhi segala kewajiban dan tanggung jawabku sebagai umat Islam yang beriman," cicitnya Arion yang sudah pasrah dengan keadaannya sendiri itu.


Air matanya sebagai bukti jika dia begitu terpuruk dengan berbagai cobaan yang dialaminya beberapa tahun belakangan ini. Dia cukup terpukul dan pasrah dengan keadaannya,ia tidak bisa berbuat banyak untuk membantu mencarikan donor darah untuk Shanum wanita yang sungguh dicintainya itu sepenuh hatinya.


Perempuan yang awalnya hanya sebagai obsesi dan pelampiasan naa fff suu semata,tapi setelah melihat dan mendengar langsung jika Shanum hamil calon anaknya barulah ia tersadar dengan apa yang sudah diperbuatnya.


Hingga kedatangan seorang bapak-bapak yang mengaku papanya Shanum dan berniat untuk menolong secara ikhlas kepada Shanum.


"Haha Pak sepertinya Anda ini berbohong, karena setahu saya adalah papanya Shanum Inshira itu adalah pak Syamuel Abidzar Al-Ghifari bukan pria yang mengaku saja tanpa bukti!" Sarkasnya Arion yang menatap jengah ke arahnya pak Hanif.


"Kalau mau bukti silahkan dibuktikan apakah saya berbohong ataukah jujur, karena Shanum butuh beberapa kantung darah dengan golongan B resus kan?" Ujarnya Pak Hanif Yahya.

__ADS_1


Arion segera menatap ke arah Edward, sedangkan yang ditatap segera bertindak cepat setelah mendapatkan kode dari Arion.


"Baik Tuan Muda silahkan pergi saya siap menjaga keamanan di sekitar tempat istrinya Tuan Muda yang sedang dioperasi," imbuhnya Edward.


Arion sama sekali tidak menimpali perkataan dari anak buah kepercayaannya itu. Mereka sesegera mungkin meninggalkan ruang operasi, karena beberapa anak buahnya dikerahkan untuk mencari pendonor darah sama sekali tidak berhasil sedikitpun. Sehingga mau tidak mau Arion segera bertindak untuk memenuhi tantangan yang diberikan oleh pria yang mengaku ayah biologisnya Shanun.


"Apa sebenarnya yang terjadi, kenapa Shanum memiliki dua orang papa sekaligus, sepertinya aku harus menyelidiki apa yang terjadi sebenarnya," Arion berjalan beriringan bersama dengan papanya Shanum Inshira yang sangat sulit untuk dimengerti,"


Pak Hanif segera mendaftar dirinya sebagai pendonor golongan darah B resus yang khusus untuk Shanum anaknya. Beberapa proses dan tahapan yang harus dilalui dan dilewati oleh Pak Hanif untuk mengetahui jika Sahnum benar-benar adalah darah dagingnya sendiri.


"Maaf tadi anak buah kamu menyebut nama putriku? Apa yang terjadi sebenarnya. Kenapa ada perawat yang mengatakan jika kamu adalah suaminya putriku!? Apa kamu setuju jika aku mengetes segala kemungkinan bisa terjadi andaikan Shanum selamat maka siapa yang akan kamu berikan."


Pak Hanif bertanya seperti itu karena cukup keheranan, tidak mengerti serta tidak paham kenapa Arion atau siapapun yang mengatakan bahwa Shanum adalah istrinya.


pak Hamid memegangi kera baju kemejanya itua," jadi aku mohon tolong katakan padaku kenapa bisa putriku berada di rumah klinik bersalin ini sedangkan lokasi klinik sungguh jauh dari kampus atau pun rumahnya!" bentaknya Pak Hanif.


Arion hanya tersenyum smirk sambil berusaha melepas pegangan tangannya pak Hanif Yahya dari lehernya itu.


"Intinya anak yang berada di dalam kandungannya Shanum adalah milikku, tapi sayangnya tidak bisa dipertahankan karena kondisi kecelakaannya saat tertabrak motor sehingga membuatnya kehilangan calon bayi kami yang baru dua bulan lebih itu," ungkap Arion tanpa malu ataupun sungkan untuk menjelaskan segalanya.

__ADS_1


Pak Arion segera memukul wajahnya Arion dua kali," dasar bajingan, kamu laki-laki brengsek yang tega menghancurkan masa depan putriku!" geramnya pak Hanif Yahya yang sudah melayangkan bogem mentah ke wajahnya Arion beberapa kali.


Arion sama sekali tidak melawan dari kemarahannya Hanif ayah dari kekasihnya itu. karena memang dia yang salah di sini sudah menghamili anak orang lain.


"Tuan muda, sebaiknya Anda melawan jangan hanya mau ditindas dan disakiti seperti ini terus!" ucapnya Edward yang segera memegangi kedua tangannya pak Hanif Yahya yang sudah menggila.


Arion menatap tajam ke arah Edwards," menyingkirkan lah dari sini! ini bukan urusan kalian semua, lagian saya sendiri yang sudah bersalah karena telah menyakiti hati dan perasaannya seorang perempuan, aku sangat mengerti dengan kemarahan yang dilampiaskan oleh seorang ayah yang mengetahui anaknya tersakiti apalagi harus hamil di luar nikah," ucapnya Arion seraya menyeka sudut bibirnya yang mengalir berdarah segar.


Arion menaikkan tangannya untuk mencegah semua anak buahnya dan body guardnya yang sedari tadi berdiri dan bersiap untuk mengawasi gerak-geriknya pak Hanif dan Arion.


"ini semua bukan urusan kalian semua, aku yang salah di sini, ingat semua pria yang berstatus bapak akan melakukan hal semacam ini kepada siapapun orang yang telah merenggut mahkota dari putrinya sendiri, aku tidak apa-apa dengan pukulan ini," cegahnya Arion yang hanya mengalami luka sekecil itu saja baginya itu tidak seberapa dibandingkan kehancuran hati Shanum Inshira Abidzar Al-Ghifari dengan kedua orang tuanya.


Arion terduduk di atas lantai dengan air matanya menetes membasahi pipinya pertanda jika hatinya begitu hancur lebur perasaannya hingga ia tidak bisa berfikir jernih.


"Ya Allah... apa semua ini karena karma yang yang harus aku tanggung akibat dari kejahatan yang aku perbuat selama ini, aku sudah menghamili beberapa orang dari pacar, kekasih hingga selingkuhanku sendiri dan membuat aku harus bercerai dengan istriku dan berpisah dengan Hanzal Abdul Djailani putraku," ratapnya Hanif yang baru tersadar jika selama ini telah salah melangkah.


Beberapa orang yang kebetulan melewati tempat itu menjadi penonton dengan apa yang keduanya lakukan. Hingga beberapa pihak security sudah berulang kali menegur mereka untuk diam tertib dan tidak membuat ulah dan keributan.


"Apa lagi yang terjadi di sini? sejak tadi kalian semua ini ribut bahkan berkelahi mengganggu kenyamanan pasien lainnya, sekali lagi Anda semua ribut, maka aku akan membuat kalian semua pergi dan angkat dari sini, jadi jangan main-main dalam menganggap remeh ancaman dan ultimatum yang aku layangkan!" kesalnya Pak Nawir sesuai dengan yang tertulis di nama tagnya.

__ADS_1


Sedangkan Shanum yang sedang tidak sadarkan diri terus berjuang untuk kehidupannya di atas meja operasi setelah mendapatkan beberapa kantung darah yang diberikan oleh ayahnya sendiri.


"Ya Allah maafkanlah semua kesalahanku ini dan berikanlah kepada putri tunggalku kehidupan yang lebih baik dari hari ini dan selamatkan lah Putriku,"


__ADS_2