
Maryam Nurhaliza tenang dan nyaman menghadapi persalinannya. Dia tidak panik ataupun takut sedikitpun, seperti yang biasa dirasakan oleh kebanyakan perempuan diluar sana.
Dewi Kinanti dan Syamuel Abidzar yang baru saja datang segera berjalan ke arah putrinya Shaira.
"Nak, bagaimana dengan kondisi kakak iparmu, apakah dia sudah melahirkan?" Tanyanya Dewi.
"Belum Ma, baru juga sekitar lima belas menit dia masuk ke dalam kamar bersalin," jawabnya Shaira.
Syam mengedarkan pandangannya ke sekeliling tempat tersebut, tapi tidak menemukan dan melihat batang hidung putranya calon papa dari cucu keduanya itu.
"Abiyasa, apa kamu sudah menelpon adikmu Aidan?" Syam merasa ada yang tidak beres dengan tidak kehadirannya Aidan rumah sakit.
Abiyaza mendongak menatap ke arah papanya itu dari layar ponselnya,"kami sudah berkali-kali menghubungi nomor ponselnya Aydan, Pah. Tapi sampai detik ini tidak aktif."
"Aku sudah menghubungi orang kantor uncle, tapi katanya Aidan dan sekertarisnya melakukan perjalanan bisnis ke luar daerah selama dua hari, kemungkinannya mereka masih di pesawat sehingga nomor ponselnya tidak aktif," sahutnya Andrew yang sebagai pemilik perusahaan tempat Aidan bekerja.
Syam dan yang lainnya baru bisa bernafas lega ketika Andrew angkat bicara, karena Abiayasa dan Shaira sudah berusaha untuk menghubungi salah satu teman kantornya Aidan,tapi mereka tidak ada mengangkat telpon di jam kerja.
"Ya Allah semoga saja cucuku dan menantuku selamat, oh yah Nak Shaira apa kamu sudah menghubungi nomor hpnya ayahnya Maryam di Kuala Lumpur Malaysia?" Tanyanya Sam.
"Alhamdulillah sudah Pah,tapi mereka tidak ada yang bisa datang karena ayahnya Maryam sakit keras, sehingga untuk sementara waktu mereka belum bisa berangkat ke Indonesia," balasnya Shaira.
Semua orang tidak henti-hentinya berdoa untuk keselamatan keduanya, Sanika Tanisha menggenggam tangannya Abyasa suaminya yang panik dan ketakutan tanpa bisa menyembunyikan perasaannya itu.
Seolah dia menghadapi persalinan istrinya, padahal Tanisha baru dua bulan dinyatakan hamil setelah melakukan cek di rumah sakit beberapa hari yang lalu.
"Daeng, sabar insya Allah Mbak Maryam akan baik-baik saja bersama dengan calon bayinya," ucapnya Tanisha.
Abiyasa berusaha untuk tersenyum," entah apa yang terjadi padaku, padahal bukan kamu yang berada di dalam sana yang telah berjuang untuk melahirkan anak-anakku, apakah mungkin kelak aku akan bersikap seperti ini jika kamu akan melahirkan tujuh bulan kedepannya," ujarnya Abyaza.
Tanisha tersenyum mendengar perkataan dari suaminya itu,dia mengecup punggung tangannya Abyaza di depan keluarga suaminya langsung sebagai wujud rasa sayang, cintanya dan kepeduliannya Tanisha.
Dina Anelka Mulya, Syamil Khaerul, Bu Rina Amelia serta Vela Angelina dan suaminya Amar Alfarizi dan juga ketiga anaknya Dina dipernikahannya terdahulu, yaitu Ariela Ziudith, Arabela Aqila dan Akhsan beserta pasangan hidup masing-masing telah hadir di rumah sakit hanya minus Ariela yang hanya seorang diri belum mendapatkan jodoh terbaik untuknya.
"Vela, bagaimana dengan bayimu, apa dia baik-baik saja Nak?" Tanyanya Bu Rina yang membuka percakapan diantara mereka untuk mencairkan suasana ketegangan dan kecemasan yang berlebih yang terlihat di sekitar ruangan bersalin.
"Alhamdulillah bayi kami baik-baik saja Nek, lagian sudah bisa ditinggal juga bersama dengan Omanya di rumah, apalagi putriku tidak asi jadi bebas bepergian," Amar berucap mewakili istrinya.
__ADS_1
Bu Rina, Dewi dan Syam tersenyum bahagia melihat pasangan suami istri yang sudah tidak seperti dulu hubungannya yang penuh dengan kepura-puraan.
Berbeda halnya dengan di dalam sebuah rumah cukup minimalis modern. Seorang pria terduduk termenung merenungi apa yang barusan terjadi padanya.
Pria itu mengusap wajahnya dengan gusar dan sesekali membuang nafasnya dengan kasar. Ia masih tidak percaya dengan apa yang baru saja terjadi padanya.
Dia terkadang berdiri, terduduk tanpa ada suara yang terucap dari bibirnya, hanya gestur tubuhnya yang memperlihatkan jika,dia sedang dalam keadaan suasana hati yang tidak baik-baik saja.
"Abang apa kamu butuh sesuatu?" tanyanya seorang perempuan yang baru saja muncul dari balik pintu dengan berpakaian cukup menggoda iman siapa pria yang melihatnya.
Pria yang disapa Abang itu segera mendongak menatap ke arah perempuan yang memakai pakaian lingerie seksi berwarna merah maron kontras dengan warna kulitnya yang semakin membuatnya cantik saja.
Pria itu kesulitan untuk menelan air liurnya sendiri saking terkejutnya melihat penampilan perempuan yang selalu memakai hijab dalam kesehariannya yang sekarang berstatus sebagai istrinya.
"Rachel aku butuh minum, apa kamu bisa mengambil air putih untukku segelas saja," pintanya pria itu.
Rachael segera berjalan ke arah meja nakas ranjangnya yang diatasnya terdapat satu teko air yang berisi setengahnya saja kemudian dengan gaya sensual dia menuang air di hadapan suaminya dengan membungkukkan badannya itu di hadapan sang suami sehingga dua benda yang berukuran cukup padat, kenyal dan berisi itu seolah akan melompat keluar.
Pria itu meraih gelas yang berisi air putih mineral kemudian langsung meneguknya tak bersisa hingga tandas. Rachel segera meraih gelas itu kemudian menaruhnya ke atas nakas.
Walau kami hanya menikah siri saja, tapi itu sudah cukup yang paling penting dia bertanggung jawab terhadap kehamilanku.
Walaupun aku tidak mendapatkan balasan cintaku ini, setidaknya status sebagai istri dan calon ibu dari anaknya sudah cukup bagiku.
Tiga bulan lalu aku mengutuk keras diriku yang memenuhi keinginannya dalam keadaan mabuk setelah bertemu dengan klien. Tapi, hari ini aku baru tersadar jika ini adalah keputusan yang paling terbaik yang pernah aku putuskan dan jalani dalam hidupku.
Aku sudah mencintainya dan jatuh cinta padanya sejak kami bertemu,tapi sayangnya dia menikah dengan perempuan lain.
Rachel mendorong tubuh suaminya hingga telentang di atas ranjangnya tanpa berdaya dengan binar matanya yang telah berkabut itu.
Aku tidak peduli jika suatu saat nanti aku dicap pelakor atau apa kek yang paling penting aku menikah dengan pria kedua tertampan di kantor setelah pak Andre Parker Smith pemilik perusahaan yang sama sekali tidak membuatku jatuh cinta hanya hormat padanya saja yang aku rasakan.
Kedua pasangan pengantin baru itu kembali memulai kegiatan panasnya di sore hari. Mereka sama-sama mabuk dalam asmara cinta yang menggebu-gebu. Keduanya saling memenuhi tanggung jawab masing-masing.
Hanya suara deee saa haann dan suara nafas yang berderu terdengar jelas dari dalam kamar yang tidak terlalu besar itu tapi, cukup nyaman.
Rumah Sakit Kasih Bunda…
__ADS_1
Setelah berjuang keras akhirnya suara tangisannya bayi yang saling bersahut dari dalam kamar bersalin terdengar juga. Mereka berucap syukur alhamdulilah ketika mendapatkan kabar dari salah satu perawat yang mengatakan bahwa Maryam telah melahirkan dua bayi mungil sekaligus.
Dewi dan yang lainnya terkejut mendengar berita tersebut, padahal sebelum Maryam melahirkan mereka sama sekali tidak mengetahui, jika calon cucu dan keponakannya akan lahir ke dunia ini dengan kembar.
"Alhamdulillah makasih banyak ya Allah Engkau memberikan kami cucu lagi langsung sekaligus dua orang," cicitnya Samuel Abidzar yang tak henti-hentinya mengucap syukur kepada Tuhan Yang Maha Kuasa sang pencipta alam semesta.
Semua orang berdiri dan berjalan menuju perawat tersebut dengan perasaan yang bercampur aduk menjadi satu bagian di dalam pikiran dan benak mereka semuanya.
Adisti Ulfah yang baru saja sampai bersamaan dengan kabar gembira itu segera mengedarkan pandangannya ke sekeliling area rumah sakit mencari keberadaan kakak sepupunya, pria yang telah menjadi bapak itu.
Ya Allah semoga saja ketakutanku dan firasat aku ini tidak menjadi kenyataan.
Ade Nugraha yang melihat apa yang terjadi pada calon istrinya itu segera memeluk tubuhnya Adisti.
"Adis, apa yang terjadi padamu sayan" tanyanya Ade Nugraha sang dokter spesialis mata yang telah melabuhkan hatinya pada Adisti.
"Ndak apa-apa kok Mas, hanya butuh minum saja kok," kilahnya Adisti sembari mengusap lehernya yang katanya kehausan butuh minum.
Ade segera meninggalkan mereka dan berjalan menuju ke salah satu kantin yang ada di rumah sakit tersebut tanpa berfikir panjang. Tatapan matanya Adisti terus mengarah ke arah kepergian Ade dengan hatinya yang mulai melunak.
Ya Allah mas Ade kamu begitu perhatian padaku, semoga kedepannya aku sanggup membalas cintamu untukku.
"Selamat Nyonya Dewi Anda kembali menjadi nenek dua sekaligus jagoan yang sangat tampan dan lucu," ungkapnya suster itu.
"Alhamdulillah robbil alamin, saya jadi nenek lagi dan sekarang bayi laki-laki kembar lagi," timpalnya Dewi yang tidak bisa menyembunyikan kebahagiaannya itu di depan sanak saudaranya yang hadir.
"Tapi, maaf ngomong-ngomong suaminya Bu dokter Maryam Nurhaliza yang mana? Soalnya kedua bayinya itu harus segera diadzani sebelum buang air," tuturnya perawat itu lagi.
Semua orang saling bertatapan satu sama lainnya dan tidak tahu harus berbicara apa dan menjawab pertanyaan dari suster dengan perkataan apa juga.
"Tapi maaf salah satu bayinya tidak bisa diselamatkan," jelasnya perawat yang baru datang itu.
"Mak-sudnya a-pa Sus? katanya hanya kembar dua saja?" tanya Abiyasa yang tidak paham dengan perkataannya suster yang baru datang itu.
"Maksudnya kami Nyonya Maryam sebenarnya hamil tiga bayi, tapi bayi yang berjenis kelamin perempuan harus meninggal dunia," terangnya suster itu.
"Innalilahi wa innailaihi rojiun alfatihah untuk bayinya Maryam, cicit ku yang cantik," lirihnya Bu Rina Amelia yang cukup shock mendengar perkataan dari suster.
__ADS_1