
Semua orang berkerumun mengelilingi Bu Rina Amelia ketika terjatuh tak sadarkan diri.
"Nenek, mama!" Teriak semua orang yang melihat Bu Rina jatuh pingsan.
Semua orang khawatir, ketakutan dan panik melihat perempuan yang dituakan di dalam keluarga besarnya.
"Angkat cepat nenek kalian masuk ke dalam kamarnya," titahnya Syamuel yang sangat khawatir melihat mamanya yang tidak sadarkan diri.
Ade Nugraha dan Sheila Alona hendak mendekati Bu Rina yang sudah diangkat masuk ke dalam kamar, segera dicegah oleh Bu Karina Ranau.
"Stop!! Kalian pergilah karena disini, kehadiran kalian tidak dibutuhkan! Ini semua gara-gara kalian sehingga mertuaku harus pingsan, jadi tolong pergi saja dan jangan pernah kembali lagi untuk memperlihatkan batang hidung kalian!" Sarkasnya Bu Karina.
Ade dan Sheila hanya berdiri saja, apa yang dikatakan oleh Bu Karina di dengar langsung oleh Shanum Inshira setelah melihat tantenya masuk ke dalam, ia segera berjalan ke arah kedua orang itu yang merasa tidak enak hati, karena mereka mendapatkan begitu banyak hinaan dari Bu Karina.
"Kalian tidak perlu repot-repot untuk memasukkan ke hati, perkataannya Tante Karina, biasalah kalau orang lagi kecewa dan marah terkadang perkataannya ngelantur," ucapnya Shanum seraya menggendong baby Shahnaz.
"Tidak apa-apa kok Sha, santai saja saya sudah sering melihat calon mertuaku marah-marah jadi sudah terbiasa dengan sikapnya, jadi dimaklumi saja sikap dan ucapannya," tuturnya Shanum.
Sheila mengelus perutnya yang masih kelihatan datar karena kebetulan memakai pakaian yang cukup longgar.
"Tapi Mbak, bagaimana dengan calon bayiku ini, aku tidak mungkin terus menutupinya dan menyembunyikan jika saya hamil, cepat atau lambat pasti anggota keluargaku akan mengetahuinya, bisa-bisa saya tidak jadi bercerai," ucapnya sendu Sheila.
Shaira Maryam segera berjalan ke arah ketiga orang itu," sebaiknya Mbak selesaikan saja dulu perceraiannya,saranku rahasiakan sementara waktu saja, karena jika tidak akan menimbulkan masalah yang cukup serius, apalagi aku yakin perutnya Mbak juga belum membesar karena usianya yang baru sekitar dua bulan, jadi sambil menunggu masa Iddah Mbak kelar barulah kalian menikah," sarannya Maryam.
Maryam Nurhaliza yang kebetulan datang karena ingin mengambil hpnya yang tertinggal di atas sofa dan mendengar perbincangan mereka semua.
"Tapi, bagaimana dengan Tante Karina yang menentang rencana pernikahan kami ini, pasti mas Fariz tidak akan bisa semudah itu menikahiku," ucap Sheila yang masih cemas memikirkan restu dari calon mertuanya itu.
"Kami memang kecewa dengan apa yang kalian lakukan, tapi kami berfikir rasional dan sesuai dengan kenyataan yang terjadi, tidak mungkin kami berpangku tangan saja tanpa membantu mencari jalan keluar yang paling tepat untuk masalah kalian berempat dan sejujurnya kami sangat kecewa dan nenyayangkan yang terjadi,tapi mau diapa nasi sudah menjadi bubur sudah kepalan tanggung, berdoa saja semoga saja hatinya Tante Karina bisa melunak dan bersedia memberikan restunya untuk kalian berempat," tuturnya Maryam.
"Kalian pulang saja dulu,besok kami akan menghubungi kalian berdua untuk segera datang, Ade tunjukkan pada kami besok itikad baikmu untuk melamar Adisti Ulfah Salsabiela, jangan pernah hanya bermain-main saja, karena adik sepupuku tidak butuh pria yang egois, tapi butuh pria yang bertanggung jawab atas perbuatannya,"ujarnya Shanum yang segera berjalan meninggalkan ruang tengah yang hendak melihat kondisi neneknya.
Sheila dan Ade pun pulang dengan perasaan yang berbeda setelah menimbulkan kekacauan yang sungguh besar dan hebat sampai menimbulkan kemarahan dari Bu Karina.
Berselang beberapa menit kemudian, semua orang meninggalkan kamarnya Bu Rina Amelia karena Bu Rina sudah siuman dan butuh istirahat yang cukup.
__ADS_1
Karina memerintahkan kepada kedua anaknya untuk segera masuk ke dalam kamar yang biasa dipakainya, apabila berkunjung ke rumahnya Dewi dan Syamuel.
Karina mengunci kamarnya rapat-rapat setelah semua orang sudah berada di dalam kamar masing-masing. Bu Karina langsung mendaratkan tamparannya ke wajahnya Faris Aditama dengan anak sulungnya yaitu Adisti.
Plak..
Plakk..
Faris dan Adisty mendapatkan masing-masing tamparan yang cukup keras. Keduanya memegangi pipinya yang memanas dan memerah.
"Bunda tidak percaya jika kalian berdua bertidak bodoh dan nekat untuk mempermalukan harkat dan martabat keluarga kita! Dimana otak kalian simpan ha!!"
Adisti tidak mau begitu saja disalahkan dengan apa yang telanjur terjadi.
"Bunda!! Stop! Apa seperti ini terus sikap dan caranya bunda membesarkan kami? Untungnya kami memilih untuk tinggal bersama dengan Tante Dewi dan Om Sam,jika tidak sejak dulu hingga detik ini bunda akan terus menyiksa kami disaat kami menentang dan tidak menjalankan apa yang bunda inginkan dan kemauan bunda," Adisti tidak ingin terus hidup terkekang.
"Iya bunda, makanya kami kabur dan memilih menetap di rumahnya Tante Dewi, karena kami disini dibesarkan dengan penuh kasih sayang, kami tidak pernah mendapatkan perlakuan kasar apalagi dibeda-bedakan dengan anak-anaknya," kesalnya Faris yang akhirnya mengeluarkan semua uneg-unegnya yang ada di dalam hati dan pikirannya itu.
Apa yang dikatakan oleh kedua anaknya itu membuatnya semakin murka saja. Sejak dulu selalu benci dan tidak menyukai jika dirinya terus dibandingkan dengan cara asuh dan pola didikannya itu.
"Kalian memang anak-anak yang tidak tahu diuntung, aku menyesal bisa melahirkan kalian ke dunia ini!" Geramnya Bu Karina.
"Aku sangat kecewa karena kalian lebih memilih Dewi perempuan kampungan itu daripada perempuan yang melahirkan kamu sendiri, kamu lebih menghormati Dewi daripada saya bunda kalian sendiri," kesalnya Bu Karina.
"Kami lebih kecewa memiliki orang tua seperti bunda! Sejujurnya kami sangat senang dan bahagia tinggi bersama dengan Tante Dewi, beliau lebih bisa menghargai, menghormati, dan memperlakukan kami sebagai anak-anaknya bahkan mereka lebih layak disebut seorang orang tua dibandingkan dengan bunda yang selalu menyiksa kami," balasnya Adisti yang akhirnya menumpahkan segala kemarahannya yang selama ini dia simpan dan tutupi rapat-rapat untuk menjaga nama baik perempuan yang telah melahirkannya ke dunia ini.
Plak!
Satu tamparan kembali didapatkan oleh Adisti hingga sudah ada beberapa tanda tangan bundanya di wajahnya itu.
Bu Karina mengcemkram kuat dagunya Adisti, "Ohh jadi kamu mulaiĀ membanding-bandingkan cara didik dan pola pengasuhannya bunda dengan perempuan tidak berpendidikan itu ha!!
Faris berusaha untuk melepas pegangan tangannya bundanya dari dagu lancipnya Adisti, tapi tidak berhasil. Malahan tubuhnya terdorong kuat hingga mengenai ujung sebuah meja nakas yang ada di dalam kamarnya.
Bruk!!
__ADS_1
"Ahh!!" Teriaknya Fariz ketika keningnya mengenai sudut meja.
"Bunda tolong lepaskan, augh sakit!" Keluhnya Adisti.
"Kami seperti ini karena ulahnya bunda sendiri! Dan saya tegaskan kepada bunda jika saya tidak akan pernah berhenti untuk mencintai Sheila dan aku akan bertanggung jawab untuk menikahinya setelah bercerai dengan suaminya dokter Ade!" Ancamnya Faris yang sebenarnya itu bukan sekedar ancaman semata saja seraya memegangi kepalanya yang sedikit pusing.
"Kamu memang bego telah dibutakan oleh cinta! Kamu seharusnya mengugurkan kandungan perempuan nakal itu, kamu tidak perlu menikahinya, banyak di luar sana perempuan yang hamil dan melahirkan anaknya tanpa suami jika kamu tidak ingin mengugurkan kandungannya," ucapnya Bu Karina yang tidak ingin Faris menikah dengan seorang janda.
"Bunda! Dimana hati nurani bunda! Kenapa tega banget menyuruh pacarnya adikku membunuh calon bayi yang sama sekali tidak berdosa itu! Kenapa!?" Jeritnya Adisti dengan raut wajahnya yang sangat marah.
"Kalian itu seharusnya kehidupan kalian lebih bagus dari pada anak-anaknya Dewi Kinantii Mirasih perempuan dari desa itu, tapi kalian sungguh sangat mengecewakan bunda!" Teriaknya Bu Karina yang lebih murka dari kedua putra putrinya itu.
Apa yang mereka lakukan tanpa sengaja di dengar langsung oleh bibi Siti yang kebetulan mendengar keributan dari dalam kamar paling belakang di rumah yang cukup besar itu.
Astauhfirullah aladzim, apa yang merasuki Bu Karina bertindak kasar dan jahat banget. Saya tidak menduga jika Bu Karina orangnya tegaan dan kasar banget, dan parahnya lagi kesalahan anak-anaknya malah dilemparkan kepada nyonya Dewi. Padahal selama ini Bu Karina terkenal baik dan istri yang lemah lembut.
"Bibi Siti apa yang kamu lakukan di depan sana?" Tanyanya Dewi dan Shaira yang kebetulan dari dalam kamar Bu Rina Amelia.
Bibi Siti terjingkak saking kagetnya mendengar perkataan dari Shaira anak majikannya itu.
"A-nu i-tu sa-ya ti-dak bermaksud menguping pembicaraan mereka tapi, kasihan non Adisti dan tuan muda Fariz, mereka disiksa oleh Bu Karina," jawabnya bi Siti.
Apa yang dikatakan oleh bibi Siti membuat mereka segera berjalan ke arah pintu dan mendorong pintu itu dengan kuat hingga terbuka. Karina kedapatan memukuli Adisti.
"Tante berhenti!" Teriaknya Shaira Innira yang suaranya cukup besar menggelegar memenuhi seantero rumah sehingga semua orang berdatangan menuju sumber suara.
Karina kelabakan karena kedapatan menyiksa anaknya seperti yang sering dilakukannya dulu ketika berada di kampung halamannya di Bandung.
Ujung pelipisnya Fariz sudah bercucuran darah sedangkan Adisti ujung bibirnya sudah robek dan mengeluarkan darah segar.
Semua orang menutup mulutnya saking terkejutnya melihat apa yang terjadi di dalam kamar itu. Adisti berusaha untuk mengangkat tangannya ke arah ayahnya Pak Syamil.
"Ayah tolong," Lirihnya Adisti yang akhirnya tumbang juga karena sedari tadi kepalanya sangat sakit dan penglihatannya mulai kabur.
"Karina apa yang kamu lakukan!?" cercanya Samil yang segera berjalan cepat ke arah dalam ketika melihat putrinya terjatuh tak sadarkan diri ketika melihat rambutnya dijambak oleh Karina.
__ADS_1
Penampilan keduanya sungguh sangat kacau dan berantakan karena berusaha untuk melawan perempuan yang sudah dipengaruhi oleh emosi yang meledak-ledak tak terkendali lagi.