
Pagi itu Shaira dan yang lainnya sudah duduk di hadapan meja makan
Mereka menyantap dan menikmati sarapan pagi mereka bersama.
"Dede katanya hari ini kamu mulai bekerja di rumah sakit X?" Tanyanya Abyasa Akhtam yang membuka pembicaraan diantara mereka.
Shaira menatap ke arah kakak sulungnya itu," iya Abang, insha Allah pagi ini saya sudah mulai bekerja," jawabnya Shaira yang tersenyum lebar memperlihatkan deretan giginya yang putih dan tersusun rapi itu.
"Alhamdulillahi robbil alamin, selamat yah dek kamu sudah bisa bekerja sesuai dengan apa yang terjadi kamu harapkan dan cita-cita selama ini," sahutnya Shanum.
"Alhamdulillah makasih banyak kakak, saya sangat bersyukur padahal rumah sakit X ini sama sekali tidak pernah terbayangkan olehku jika akan bekerja di sana,kakak tahu kan dimana ketat dan susahnya persaingan disana dan ini kebanggaan saya bekerja di rumah sakit swasta terbesar di Jakarta dan di Asia tenggara," tuturnya Shaira.
"Syukur alhamdulilah akhirnya putriku yang paling kecil sudah dapat kerjaan, berarti tersisa abang Aidan yah yang menunggu panggilan dari perusahaan tempat ia melamar pekerjaan," terkanya Sam yang menatap satu persatu ke arah anak-anak kembarnya itu dengan senyuman penuh kegembiraan dan kebanggaannya.
"Iya Abang, mereka telah berhasil meraih cita-cita yang selama ini mereka impikan dan cita-citakan, Mama hanya berharap dan meminta kepada kalian bekerja lah setulus hati dan seikhlasnya insha Allah apa yang kalian lakukan menuai berkah dan keberhasilan kelak," nasehatnya Dewi yang menitikkan air matanya itu saking gembiranya dengan prestasi gemilang putra putrinya
Shanum mengelus lengannya mamanya itu dengan senyuman yang tulus diperlihatkan kepada anggota keluarganya yang lain.
Berselang beberapa menit kemudian, Shaira sudah bersiap untuk berangkat bekerja di rumah sakit X di jalan XX. Shaira memilih memakai celana kain chinosnya dan kemeja sebagai outfitnya untuk bekerja.
Shaira memilih untuk memakai celana bukan gamis agar lebih leluasa dalam bekerja dan bergerak. Apalagi Shaira termasuk perempuan aktif yang lincah dan gesit dalam bergerak dan beraktifitas sehingga satu set kemeja lengkap dengan celananya berwarna cokelat dipadukan dengan hijab yang senada dengan warna bajunya menjadi pilihannya berbusana hari ini.
"Masya Allah kamu sungguh cantik putriku, semoga harimu hari ini lebih dari hari kemarin, bekerjalah sepenuh hati nak insya Allah keberkahan akan menyertai setiap langkah dalam hidupmu," ucapnya Dewi sebelum Shaira berpamitan kepada kedua orang tuanya.
"Amin ya rabbal alamin,ingat bekal makanannya jangan sampai lupa," ujarnya Syam yang tersenyum melihat kedua perempuan yang paling penting dalam hidupnya itu.
"Nenek bangga pada kalian, nenek benar-benar terharu dengan apa yang kalian dapatkan, karena memang kalianlah anak-anak yang baik sholeh dan sholehah jadi pantas untuk mendapatkannya," tuturnya Bu Rina Amelia nenek dari keempat anak muda itu.
Shaira mencium satu persatu punggung tangan kedua orang tuanya, nenek dan cipika cipiki dengan Shanum kakak ketiganya sebelum berangkat kerja.
"Bismillahirrahmanirrahim," cicitnya Shaira sebelum naik kedalam mobilnya.
__ADS_1
Shaira melakukan mobil kesayangannya di atas aspal pagi itu, dengan kecepatan awalnya sedang tapi karena kondisi jalan yang tidak terlalu padat sehingga ia mengemudikan mobilnya dengan kecantikan yang cukup tinggi.
Shaira memang tipikal gadis pemberani dan nekat. Bahkan di Inggris ia sering mengemudikan mobilnya dengan kecepatan yang cukup tinggi jika dalam keadaan yang mendesak.
Shaira menatap intens ke gedung tinggi pencakar langit itu sebelum menginjakkan kakinya di dalam lobi rumah sakit. Ia terlebih dahulu mengedarkan pandangannya ke sekeliling tempat tersebut seperti seolah mengenal seluruh gedung itu.
Dia mengakrabkan dirinya melalui batinnya dengan menatap penuh kekaguman bentuk bangunan gedung rumah sakit elit itu.
Shaira segera melanjutkan perjalanannya menuju ke bagian administrasi,ia ingin bertemu dengan direktur utama rumah sakit tersebut. Sesuai dengan permintaan direkrut itu sendiri.
"Selamat pagi, Maaf Mbak ruangan direktur utama ada dimana?" Tanyanya Shaira ketika berada tepat di depannya resepsionis rumah sakit.
"Maaf Mbak apa sebelumnya sudah ada janji dengan pak Dirut?" Tanyanya balik perempuan yang mengikat sanggul konde modern rambutnya.
"Iya Mbak saya Shaira Innira Abidzar Al-Ghifari saya diperintahkan untuk datang hari ini," balasnya Shaira sambil menunjukkan sepucuk surat tugas yang didapatkan Shaira dua seminggu yang lalu.
Wanita yang bernama tag Maria Selena itu segera membuka surat tugas yang diberikan oleh Shaira kepadanya.
"Makasih banyak atas informasinya," pamitnya Shaira yang segera berjalan ke arah lift.
Tapi karena berjalan sambil merogoh handbag nya yang kebetulan ponselnya berdering di dalam tas selempangnya itu.
Siapa yang menelpon sepagi ini, apa Mama atau papa yah yang bertanya masalah saya sudah sampai atau belum. Belum sempat mengambil hpnya, tubuhnya tertabrak oleh seseorang.
Bugh…
Brug..
"Auhh!" Keluh keduanya secara bersamaan.
"Maafkan saya tidak sengaja Bu," ucapnya seorang pria yang berusaha mencoba berbicara dalam bahasa Indonesia walau terbata dan tergagap yang memakai jas lengkap kerjanya yang memang jarang kelihatan memakai pakaian biasa dalam keseharian.
__ADS_1
"Tidak apa-apa Pak, hal semacam ini biasa terjadi," tampiknya Shaira sambil memunguti surat kerjanya yang tersimpan rapi di dalam amplop putih.
Andrew Parker Smith menatap lekat wajahnya Shaira, hingga senyuman smirk muncul di sudut bibirnya itu.
"Sepertinya saya mengenal Anda," ucapnya Andrew yang berusaha berbicara lancar.
Shaira tersenyum lembut," kalau kurang lancar memakai bahasa kami tidak perlu terburu-buru Pak takutnya salah bicara nanti," candanya Shaira.
Gadis cantik yang memang cepat bergaul dan beradaptasi dengan lingkungan sekitarnya. Andrew terkekeh mendengar perkataan dari Shaira.
"Kamu Shaira Innira Abidzar Al-Ghifari kan?" Tebaknya Andrew yang sudah memakai bahasa asli ibu kandungnya.
"Benar sekali Pak, saya Shaira tapi ngomong-ngomong kok Anda bisa mengenaliku padahal ini pertemuan pertama kita," tukasnya Shaira.
Shaira masih kebingungan dengan suasana yang terjadi, kenapa pria ganteng itu mengenalnya sedangkan baginya ini yang pertama kalinya bertemu.
"Kamu tidak perlu mengetahui kenapa saya mengenalimu, tapi satu hal yang perlu kamu ketahui jika kelak kita akan sering bertemu, kedepannya dan maaf sudah membuat kamu terlambat, silahkan dilanjutkan perjalanannya karena sepertinya kamu terburu-buru," imbuhnya Andrew yang tersenyum penuh arti.
Shaira akan bertemu dengan pemilik rumah sakit yang menjabat sebagai direktur utama rumah sakit tersebut.
"Oh ho kalau seperti itu, saya permisi Pak assalamualaikum," ucapnya Shaira sambil menangkupkan kedua tangannya ke depan dadanya.
Andrew tersenyum lebar," waalaikum salam warahmatullahi wa barakatuh,"
Andrew menatap intens kepergian Shaira dibalik lift ia tersenyum penuh maksud.
"Sepertinya memang kalian berdua memang ditakdirkan berjodoh satu sama lainnya karena selalu dikaitkan dan berhubungan satu sama lainnya, seolah tak terpisahkan apalagi Abang Adelio sudah seperti kalian,"
Pepatah mengatakan didiklah anak-anakmu jauh-jauh hari sebelum kamu memutuskan untuk menikah.
Masya Allah dukungan kalian luar biasa.. love love sekebon jambu rambutan Langsat juga yah. hehehe
__ADS_1