Satu Atap Dua Hati

Satu Atap Dua Hati
Bab. 45


__ADS_3

Perempuan dan pria itu segera mengangkat tubuhnya Dewi ke dalam mobilnya. Keduanya memutuskan untuk membawa Dewi pulang ke rumah perempuan yang sedari tadi ngomel-ngomel memarahi adik tunggalnya itu.


"Adli cepat nyetirnya kasihan dengan perempuan ini, wajahnya sudah dibanjiri keringat, wajahnya juga pucat pasi," pintanya perempuan itu.


Adli kembali ke depan mobilnya setelah berhasil menidurkan tubuhnya Dewi ke atas jok belakang mobilnya. Ia meraih tas pakaiannya Dewi yang terjatuh je atas aspal.


Mobil itu pun melaju dengan kecepatan sedang membelah jalan protokol Ibu kota Jakarta. Keduanya nampak khawatir jika terjadi sesuatu pada perempuan yang hampir saja ditabraknya. Diam-diam Adli memperhatikan dengan seksama kondisinya Dewi dari kaca spion mobilnya itu.


Semoga saja perempuan itu baik-baik saja, aku tidak sengaja hampir menabraknya, tapi ngomong-ngomong aku perhatikan wajah perempuan itu cantik banget yah, padahal tanpa makeup wajahnya semakin cantik dan ayu terpapar sinar matahari sore ini.


Berselang beberapa menit kemudian, mereka sudah sampai di dalam carport mobilnya perempuan yang disapa Mbak itu. Mereka bergegas memindahkan tubuhnya Dewi ke dalam ruangan kamar tamu yang biasanya diisi jika ada tamu yang berkunjung ke rumahnya itu.


"Tubuhnya lumayan berat juga yah, untungnya ada Pak Lukman yang membantu jika tidak kalau kami hanya berdua mana bisa menggendongnya," keluhnya perempuan itu.


Adli sejak tadi terus memandangi tak jemu wajahnya Dewi, ia terus memuji kecantikan alami yang dimiliki oleh Dewi.


Hatiku berdebar kencang ketika melihat wajahnya, mungkin dia akan semakin cantik jika sudah sadarkan diri. Aku berharap dia belum punya pacar ataupun kekasih jadi kedepannya ada kesempatan untuk mendekatinya.


"Mbak apa kita panggilkan dokter untuk periksa keadaannya atau biarkan saja tunggu beberapa menit kemudian kalau memang tidak siuman baru panggil dokter atau gimana menurut Mbak?" Tanyanya Adli.

__ADS_1


"Kalau menurut aku sih, kita biarkan saja dulu beristirahat sekitar satu jam jika tidak bangun baru kita segera menghubungi nomor telepon dokter, untungnya suamiku keluar daerah jika tidak kamu akan diinterogasi dan diadali," ketusnya perempuan yang disapa Mbak itu.


"Hehehe aku kan sudah ngomong sejak tadi kalau aku tidak sengaja dan juga tidak main hp kok sambil nyetir Mbak Nadia saja yang tidak bisa bedakan antara nyetir dengan penuh konsentrasi dengan main gadget," kilahnya Adli yang tidak mungkin mau mengalah dan mengakui kesalahannya jika tidak uang bulanannya akan disunat, dipotong bahkan dibabat habis.


Adli dan Nadia segera meninggalkan ruangan tersebut yang didalamnya Dewi sedang tertidur nyenyak dalam pingsannya.


Ya Allah… saya ada dimana sekarang, tadi terakhir saya ingat itu hampir saja ketabrak mobil dan tidak lama kemudian penglihatan saya kabur,semua yang saya sempat lihat itu hitam, kepalaku pusing seperti berputar-putar mengelilingi daerah itu hingga saya terjatuh setelahnya itu saya tidak ingat lagi.


Satu jam kemudian, Nadia dan Adli kembali berjalan ke arah kamar dimana Dewi berada. Keduanya tersenyum sumringah penuh kebahagiaan, karena perempuan yang hampir saja ditabraknya sudah sadarkan diri dan terduduk di atas ranjang dengan raut wajahnya yang kebingungan, keheranan, panik dan mencemaskan segala sesuatu kemungkinan besar yang telah terjadi padanya.


"Selamat sore Mbak," sapanya Adli yang mendahului Nadia untuk berbicara.


"Mbak tidak usah repot-repot untuk berdiri, duduk saja karena Mbak baru siuman tadi sempat pingsan dijalan jadi kami berdua berinisiatif untuk membawa Mbak pulang ke rumahku untuk beristirahat, tapi ngomong-ngomong Mbak baik-baik saja kan, tidak ada yang luka di tubuhnya Mbak?" Tanyanya Nadia dengan penuh selidik karena ia juga cemas dan khawatir jika Dewi mengalami luka walau hanya sedikit saja.


Dewi berusaha tersenyum simpul walau tubuhnya sudah sedikit gemetaran, perut bagian lambungnya perih, karena sudah lewat jam makan siangnya apa lagi dia sedang hamil.


Dewi hendak membuka mulutnya untuk berbicara,tapi belum sempat berucap sepatah katapun perutnya tiba-tiba berbunyi dan sulit untuk dikondisikan.


Kruyuk… krucuk…

__ADS_1


Adli dan Nadia saling bertatapan satu sama lainnya dan seulas senyumannya terbit dari sudut bibir kedua orang itu. Dewi spontan menundukkan kepalanya seraya mengelus perutnya yang sulit untuk memahami keadaan yang ada.


Nadia menatap intens ke arah adik bungsunya itu," Adli tolong kamu ke warung depan jalan masuk komplek kamu beli sate, lontong sayur dan juga pecel lele karena sepertinya saya juga lapar seharian ngomel-ngomel gara-gara ulahmu itu," ucapnya Nadia seraya menyodorkan uang kertas merah dua lembar kedalam genggaman tangannya Adli yang memang sejak dari tadi ia memegang uang belanja karena dia tiba-tiba ingin makan makanan yang sudah disebutkannya sebelumnya.


Raut wajahnya Dewi merona malu,ia tidak menyangka akan bersikap seperti itu di depan orang baru dikenalnya yang telah menolongnya.


"Maaf Mbak saya memang sejak siang tadi belum sempat makan karena tadi terlalu banyak kejadian yang saya alamin Mbak," ujarnya Dewi yang masih tersipu malu.


Nadya mengerutkan keningnya tanda keheranan dan tidak percaya dengan apa yang dikatakan oleh Dewi tersebut.


Kalau aku perhatikan dari ujung kaki hingga ujung rambutnya tidak mungkin wanita ini kekurangan uang,kalau dilihat-lihat dengan seksama semua pakaian yang dipakainya itu bukan pakaian murahan semuanya bermerek, jadi itu mustahil kalau dia tidak punya uang. tetapi tadi ia hampir ketabrak karena akan menyebrang jalan kalau enggak salah akan ke mesin ATM,ohh bisa saja dia tidak punya uang untuk makan jadinya ke ATM dulu mau narik uangnya karena kehabisan mungkin,pantesan belum sempat makan.


"kenapa tidak makan dulu baru lanjutkan aktifitasnya? kesehatan itu lebih penting dari segalanya loh dari pada yang lain, apa kamu tidak sempat makan," tebaknya Nadia yang tidak enak hati menyinggung masalah uang takutnya Nadia hanya berbicara biasa saja dengan maksud yang tidak ada niat lain malah disalah artikan oleh Dewi.


Dewi pun tersenyum simpul sebelum menjawab pertanyaan dari Nadya tersebut," dompet dan beberapa uang tunai saya Mbak dijambret orang tak dikenal di sekitar tempat tadi, jadi saya mau ke ATM untuk ambil uang tapi karena saya menyebrang tidak hati-hati dan memperhatikan keadaan jalan sehingga hampir saja tubuhku ketabrak mobil, tapi saya tidak tahu mobilnya siapa itu, tapi yang paling penting saya selamat dari kecelakaan maut tersebut itu sudah cukup, tapi ngomong-ngomong siapa Mbak ini dan kenapa saya berada di dalam kamar ini?" tanyanya balik Dewi yang tidak mungkin tinggal diam tanpa bertanya masalah penting seperti itu.


Dewi pun mulai menjelaskan duduk permasalahannya tapi, masalah kehamilannya dan tujuannya datang ke Ibu kota Jakarta tidak sempat ia ucapkan, karena perkataan terhenti ketika Adli datang dengan nampang yang berisi banyak makanan sesuai yang dipesan oleh kakak satu-satunya yang dimilikinya itu. Keduanya mengarahkan pandangannya ke arah pintu masuk yang terbuka lebar itu.


"Bincang-bincangnya sudah dulu yah kalian harus makan dulu mumpung makanannya masih sangat," imbuhnya Adlia sembari menata beberapa makanan tersebut ke atas meja sofa yang ada dipojokan ruangan tersebut.

__ADS_1


__ADS_2