
Manchester, Senin 3 Juli 2023...
Adeline tidak menyangka jika pertemuannya dengan pria yang cukup ganteng dimatanya itu yang lebih mirip dengan Zein Malik marah-marah tidak jelas padanya hanya masalah sepele saja.
"Ganteng-ganteng tapi kok judes amat yah, bahkan mulutnya sampai-sampai mengalahkan pedesnya bon cabe level sepuluh saja bahkan lidahnya mengalahkan pahitnya lidah para tetangga!" sarkasnya Adelin sebelum meninggalkan ruangan itu.
Adeline segera meninggalkan Abyasa yang sibuk membersihkan air akibat ulahnya Adeline. Tetapi, langkahnya terhenti ketika mendengar teriakannya Abyasa Akhtam.
"Hey wanita! balikin itu sweater hoodieku yang kamu pegang!" teriak Abyasa yang baru tersadar jika Adelin memegang pakaiannya itu.
Adeline betapa terkejutnya mendengar perkataan dari Abyasa karyawan kafe kakaknya itu.
Adeline spontan berhenti dan berdiri mematung di tempatnya, "Apa jangan-jangan dia orang yang semalam menolongku yah, karena katanya pak Tomas jika orang itu adalah pria dan memakai jaket seperti ini,"
Abyasa segera berjalan ke arah gadis bar-bar dan urakan menurut penilaiannya Abyasa gara-gara Adelin mengecup bibirnya sepintas lalu sebelum jatuh pingsan tak sadarkan diri dalam pelukannya Abyaza.
Abyasa menarik dengan paksa dan cukup kasar dari dalam genggaman tangan perempuan muda yang berdiri mematung memaknai apa yang sedang terjadi.
"Kamu tidak perlu mencuci ataupun melaundry punyaku aku masih sanggup mencuci sendiri," ketusnya Abyasa.
Adeline Almairah tidak menyangka jika dalam hidupnya akan bertemu dengan pria kasar dan tidak punya hati menghinanya itu.
"Kau kalau bepergian bisa gak jangan berpakaian yang kekurangan bahan seperti sekarang, apa kamu tidak khawatir jika akan ada orang yang bertindak jahat padamu ha!! untungnya kemarin malam aku orang yang melihatmu mabuk kepayang," cibir Abiyasa yang mencemooh sikapnya Adeline yang tidak seperti perempuan lain seperti adiknya Shaira yang menghargai dirinya sendiri.
Abyasa segera cabut dari hadapannya Adeline setelah berhasil mengeluarkan kata-kata dan uneg-unegnya yang sejak kemarin dipendamnya.
"Hey! aku bersumpah padamu mulai detik ini jangan panggil aku Adelin Almairah jika tidak membuat kamu jatuh cinta padaku bahkan aku akan melakukan segala cara untuk membuatmu mencintaiku!" jeritnya Adeline yang untungnya kafe hari itu masih tutup.
Abyaza sama sekali tidak peduli dengan teriakan histerisnya Adeline dia kembali melanjutkan pekerjaannya itu sebelum kafe dibuka.
London Inggris, sabtu delapan Juli 2023..
Shaira segera pulang ke asramanya setelah hampir seharian penuh berada di rumah sakit karena kesibukannya yang cukup padat hari ini. Karena hari ini banyak banget pasien yang berdatangan sehingga mau tidak mau Shaira turun tangan langsung untuk membantu rekan sejawatnya.
"Alhamdulillah akhirnya selesai juga, hari ini cukup melelahkan tapi lumayan seru karena pasien anak kecilnya lucu-lucu," ucapnya Shaira sambil melepas jas almamater kebesarannya itu yang berwarna putih.
__ADS_1
Celine yang hari ini menjadi partner pasangan jaganya hari ini membuang nafasnya yang cukup keras. Ia terduduk lemas tanpa berniat untuk mengganti pakaian jaganya.
Tatapannya tertuju pada Shaira yang memperbaiki tata letak hijabnya, "Kau memang tidak pernah capek, kamu selalu gesit, kuat dan lincah goyang ke sana kemari bekerja seolah kamu tidak kenal lelah saja," imbuhnya Celine
"Kalau capek tentu sudah pasti, tapi untuk terus-menerus mengeluh sepertinya itu tidak mungkin akan aku lakukan, karena jika apa yang aku lakukan hari ini akan menjadi sia-sia belaka jika aku tidak sabar, enjoy menjalaninya, jadi selow dan selalu tersenyum untuk menyikapi kesibukan kita ini," ujarnya Shaira yang melihat temannya itu seperti orang yang kehabisan tenaga saja.
"Sudahlah kalau melihat kamu aku selalu saja jadi perempuan lemah, coba aku seperti kamu yang punya tenaga tidak ada habisnya saja, aah sudah waktunya pulang sudah jam tujuh lewat juga," ucap Celine lagi yang segera meninggalkan Shaira sembari meraih tas selempangnya itu.
Shaira hanya tersenyum tipis menanggapi perkataannya Celine yang memang sejak awal dia yang paling lamban dalam bertindak dan paling mudah untuk mengalami kelelahan.
Shaira pun berjalan ke arah lobi rumah sakit. Ia menengadahkan kepalanya ke arah atas untuk memperhatikan kondisi langit malam ini.
"Sepertinya akan turun hujan, semoga saja tidak terkena hujan malam ini soalnya aku lupa bawa payung,"
Shaira berjalan tergesa-gesa ke arah luar karena ia harus masih butuh berjalan beberapa meter dari lobi rumah sakit hingga ke tempat halte busway. Tapi, baru saja sepersekian detik berbicara seperti itu, hujan rintik-rintik mulai mengguyur kota London malam itu.
"Yah baru saja ngomong ehh sudah hujan juga, ini nih salah saya sendiri sudah diingatkan oleh Maryam dan Vela tapi aku saja yang tidak menganggap malam ini akan turun hujan," kesalnya Shaira yang menggelengkan kepalanya saking lucunya dengan sikapnya sendiri.
Shaira baru saja hendak mempercepat langkahnya itu, tapi tanpa diduganya tiba-tiba ada payung yang menaungi dirinya sehingga ia tidak jadi berlari kencang. Malahan ia mendongakkan kepalanya ke arah payung tersebut karena ia cukup tercengang kenapa tiba-tiba ada payung.
Shaira berdiri mematung di tengah guyuran hujan malam hari itu sambil memperhatikan dengan seksama siapa orang yang menolongnya. Reflek pria itu tersenyum lebar melihat Shaira.
Shaira segera menetralkan perasaannya dari keterkejutannya. Ia berusaha untuk tersenyum ramah karena sudah dibantu walau dia tidak butuh bantuan juga sebenarnya.
"Makasih banyak Pak sudah bantuin,tapi sepertinya saya tidak mungkin harus berdiri terus terusan di tengah jalan sedangkan saya ingin ke seberang sana," sanggahnya Shaira sembari menunjuk ke arah halte bus yang kosong tidak ada satupun orang di sana.
"Bagaimana kalau saya antar kamu pulang, apalagi sepertinya kondisi cuaca malam ini tidak reda secepatnya, lihatlah langit begitu gelap malam ini,"
"Makasih banyak Pak,tapi saya masih bisa pulang sendiri kok lagian insha Allah masih banyak bis yang bisa saya naiki untuk pulang ke asrama," kilahnya Shaira yang tidak mungkin pulang satu mobil dengan pria yang sama sekali tidak dikenalnya.
"Kalau begitu kita ke sana saja untuk berteduh sambil kamu nungguin bis datang, aku akan temani kamu menunggu karena tidak mungkin kamu perempuan seorang diri menunggu bis malam-malam begini apalagi sedang hujan begini," tuturnya pria itu lagi.
Shaira hanyalah tersenyum seraya menganggukkan kepalanya dan mereka berdua berjalan di dalam payung yang sama. Shaira menjaga jarak karena pria itu jelas-jelas bukan muhrimnya, walau sesekali tubuhnya terkena guyuran air hujan.
Shaira segera cepat keluar dari dalam payung ketika sudah sampai di halte karena tidak ingin berlama-lama di dalam payung bersama dengan laki-laki yang sama sekali tidak dikenalnya itu.
__ADS_1
"Sekali lagi makasih banyak Pak atas bantuannya," ujar Shaira sembari membersihkan pakaiannya yang terkena cipratan air hujan.
Pria itu kembali menyodorkan sebuah sapu tangan berwarna biru muda ke arahnya Shaira.
"Ini pakai untuk mengelap bekas airnya, karena kalau hanya memakai tangan kosong saja sepertinya akan sulit untuk segera kering," imbuh pria itu lagi.
Shaira segan dan juga sungkan untuk mengambil sapu tangan itu karena sudah cukup dibantu dan tadi merepotkan juga.
"Ambil saja dijamin sapu tangannya bersih dari obat bius atau penyakit menular juga,kamu tidak perlu khawatir dan cemas dengan maksudku yang hanya sekedar untuk membantu kamu saja," elaknya Pria itu yang sebenarnya sejak Shaira meninggalkan lobi rumah sakit dia terus mengawasi dan mengikuti kemanapun perginya Shaira.
Shaira hanya tersenyum tipis kemudian mengambil sapu tangan itu karena tidak enak hati jika menolak kebaikan orang. Shaira pun segera membersihkan seluruh pakaiannya yang terkena bekas sisa-sisa hujan. Shaira pun duduk karena cukup lelah berdiri sejak tadi.
"Shaira Innira Samuel Abidzar," tebaknya Pria itu sambil mengulurkan tangannya ke arah Shaira
Shaira menautkan kedua alisnya itu setelah mendengar perkataan dari pria asing yang baru saja dikenalnya. Shaira duduk menjaga jarak dari orang lain yang bukan kelurga kandungnya sendiri.
"Maaf saya bacakan kartu nama yang tertera di name tag kamu itu," pria itu tersenyum lebar ketika mengakhiri ucapannya barusan.
Shaira reflek menatap ke arah dadanya itu," saya kira hanya menebak saja padahal saya sudah terkejut loh pak kenapa bisa Anda mengetahui namaku," Shaira tersenyum manis.
Senyumannya sungguh manis sekali tanpa tambahan gula ataupun pemanis buatan. Kau sungguh cantik dan selalu membuatku tidak tenang dalam sehari saja jika saya tidak melihat senyuman lembut meneduhkan hatiku hingga aku bisa tentram dan tenang hanya melihat senyuman itu.
Shaira mengalihkan perhatiannya ke arah langit malam itu berharap agar hujan segera reda. Ia juga memperhatikan kondisi jalan raya karena sudah hampir dua puluh menit menunggu tapi satupun bis yang akan melewati asramanya tidak ada yang muncul.
"Kamu dari Indonesia?" Tanyanya lagi sekedar berbasa-basi karena mereka terdiam tanpa ada yang berniat untuk membuka percakapan sehingga mau tidak mau ia memberanikan diri untuk mulai berbincang-bincang.
Hujan semakin jatuh dengan derasnya membasahi permukaan belahan bumi Inggris tanah kelahirannya Ratu Elizabeth. Bahkan angin sudah berhembus kencang hingga membuat Shaira sedikit menggigil kedinginan.
Shaira menoleh ke kiri dimana pria itu duduk, "Iya alhamdulilah saya dari Indonesia pak,kok bisa tahu kalau saya dari Indonesia, apa jangan-jangan Anda seorang keturunan cenayang yah," candanya Shaira.
"Hahaha kamu bisa saja bercandanya, aku hanya lihat wajahmu yang mencerminkan ciri khas orang asia padahal awalnya aku menganggap kamu orang timur tengah loh, tapi entah kenapa aku malah menyebut Indonesia," tukas pria itu lagi yang menggaruk tengkuknya yang tidak gatal itu.
Pria itu mulai berbicara menggunakan bahasa Indonesia, hal ini membuat Shaira kembali tercengang dengan ulah dari orang yang diperhatikan semakin lama semakin membuatnya baru tersadar jika mereka pernah bertemu sebelumnya.
"Anda cukup fasih berbahasa Indonesia, mungkin Anda juga dari Jakarta?" Terka Shaira.
__ADS_1
Pria itu mengulurkan tangannya ke hadapannya Shaira," Adelio Arsene Smith," ucapnya Adelio sembari mengulurkan tangannya ke arah depan Syaira.
Sedang perempuan yang tersenyum manis yang tidak pernah pudar dari wajahnya itu hanya menangkupkan kedua tangannya di depan dadanya.