Satu Atap Dua Hati

Satu Atap Dua Hati
Bab. 49


__ADS_3

Syam balik ke Jakarta dengan hati yang hancur, sedih, kacau balau dan juga tidak berdaya atas berita kehilangan istrinya tercinta.


Syam duduk di dalam pesawat terbang yang akan siap membawanya kembali ke Jakarta untuk menjalani rutinitasnya seperti biasanya itu.


Dewi Kinanti Mirasih maafkan Abang yang belum bisa memberikan kebahagiaan untukmu, Abang telah gagal menjadi suami yang baik untukmu. Doaku dan harapku semoga kamu di sana selalu dalam lindungan Allah SWT dan hidup bahagia. Tolong jaga anak kita untukku.


Syam merogoh hpnya sebelum dia dilarang memakai hp karena ia ingin memberikan kabar kepada Nadia Yulianti yang ada di Jakarta jika hari ini akan balik ke Jakarta.


"Halo, assalamualaikum sayang," sapanya Syam yang mengucapkan salam setelah telponnya tersambung.


"Iya sayang ada apa? Kapan balik ke Jakarta, apa urusannya sudah selesai di sana?" Cercanya Nadia yang memberondong pertanyaan untuk Syam.


"Astaghfirullah aladzim Nadia kamu kebiasaan kalau ditelpon bukannya menjawab salam tapi,malah melempar pertanyaan yang begitu banyak, jawab dulu salamnya Mas baru ngomong dengan berbagai pertanyaan kamu itu," ketusnya Syam.


Nadia hanya terkekeh dari balik telponnya dan segera meminta maaf karena sudah kebiasaannya seperti itu dengan siapapun juga.


Ya Allah… aku selalu tidak ingin membandingkan kedua istriku tapi, kalau seperti ini mau tidak mau aku pasti akan membandingkan karakter, sifat dan kebiasaan mereka. Dewi akan selalu mengucapkan salam sebelum berbicara sedangkan Nadia tahulah kebiasaannya sejak kecil mungkin istri-istriku sangat berbeda.


Apakah perbedaan tempat tinggal dan alamat seseorang akan berpengaruh pada akhlak dan moral agama seseorang. Ya Allah… aku sangat khawatir jika kedepannya kami punya anak dan didik oleh Nadia dan kedua orang tuanya yang minim agama, apa yang akan terjadi pada mental, karakter anak-anak kami.


Sedangkan Dewi aku sama sekali tidak khawatir dan takut apalagi memanaskan masalah cara didiknya karena aku yakin Dewi akan sanggup dan mampu menjadi ibu yang baik karena pendidikan pertama sekali dan segalanya itu bersumber dari seorang Ibu dulu sebelum anak mengenal dunia luar. Tapi, kalau seperti Nadia aku pasti akan ragu dan bimbang untuk anak kami kedepannya.

__ADS_1


Aku selama ada di rumah insha Allah masih sanggup untuk membantu Nadia,tapi bagaimana jika aku berangkat kerja atau ke luar daerah pastinya Nadia yang akan berperang penting dalam hal pendidikan anak-anak kami kelak.


Syam menyugar rambutnya kebelakang dengan gusar memikirkan saja hal itu sudah buat dia pusing apalagi kedepannya menjalaninya. Ia dibuat pusing dengan sifatnya Nadia.


"Maafkan saya mas, mungkin karena saya terlalu eksaitik dan bahagia dengar suaranya Mas sehingga sudah melupakan mengucapkan salam, Mas hari ini jadi balik kan ke Jakarta?" Tanyanya Nadia masih tertawa cekikikan dengan tingkahnya sendiri.


"Insya Allah saya balik, tapi mungkin aku langsung ke kantor nanti agak malam baru balik,mau setor hasil kerjaan soalnya karena CEO tempat aku bekerja menginginkan hasil pekerjaanku secepatnya," ucapnya Syam sambil membuka galeri fotonya yang kebetulan dia selipkan satu fotonya Dewi yang disembunyikan rapat-rapat agar tidak ada yang melihatnya termasuk Nadia.


"Kalau gitu hati-hati yah Mas, soalnya aku temani Dewi art baru kita belanja di supermarket soalnya," jelasnya Nadia Yulianti yang buru-buru ingin menutup telponnya itu karena beberapa orang menatapnya dengan tatapan mata yang berbeda-beda.


Sedangkan Dewi yang berdiri di sampingnya hanya terdiam memperhatikan gerak geriknya Nadia Yualinti yang sedang menelpon dengan suaminya itu.


"Dewi!" Beonya Syam yang langsung teringat dengan Dewi Kinanti Mirasih istrinya yang menghilang itu.


"Iya Mas namanya Dewi, saya mempekerjakan dia di rumah sebagai tukang masak saja, ia sudah bekerja lebih seminggu di rumah kok, orangnya baik, ramah, sholeha dan yang paling penting rajin dan jago masak, ngomong-ngomong Mas pasti suka deh hasil masakannya Dewi karena ia pintar banget masak loh Mas," pujinya Nadia yang memuji kepintaran Dewi dalam mengolah masakan dan meracik bumbu masakan pula.


"Sudah dulu yah nanti Mas akan telpon kamu lagi, pesawat sudah mau berangkat soalnya, assalamualaikum kamu hati-hati yah dan jangan terlalu lama di luar kamu kebiasaan suka kelayapan kalau ke Mall," tuturnya Syam sebelum menutup sambungan teleponnya itu.


"Siap pak Samuel Abidzar Al-Ghifari aku akan turuti keinginan dan nasehatnya, waalaikum salam,," balasnya Nadia yang sedikit gagap mengucapkan kata salam karena tidak terbiasa mengucapkan hal itu.


Nadia menutup telponnya dan mengedarkan pandangannya ke sekeliling ruangan supermarket tersebut, karena Dewi yang sejak tadi berdiri di sampingnya sudah tidak ada.

__ADS_1


Ini orang secepat kilat menghilangnya, seharusnya ngomong dulu padaku kalau mau pergi. Kalau gini kan jadi repot carinya apalagi bawa troli belanja dengan dipenuhi barang-barang belanjaan sungguh merepotkan.


Nadia mengomel-ngomel karena untuk pertama kalinya dia mendorong troli penuh dengan belanjaan. Seumur hidupnya selalu memerintah orang untuk bekerja berbelanja tinggal memberikan uang saja bisanya. Tapi,hari ini karena Dewi baru datang dan tinggal di Jakarta sehingga harus ditemani kemanapun perginya.


Dewi tanpa sengaja mendengar omelannya Nadia hanya tersenyum tipis dan segera muncul dengan dua buah bungkusan minyak goreng kemasan masing-masing berisi 2 liter itu.


"Masf yah Mbak tadi perginya nggak sempat pamit karena kebetulan Mbak Itu saya lihat sangat sibuk jadinya saya inisiatif sendiri untuk ambil ini yang hampir kelupaan," kilahnya Dewi sambil tersenyum lebar.


"Tidak apa-apa kalau begitu kita lanjutkan perjalanan saja mencari beberapa barang lainnya,tapi lain kali jangan seperti ini terus yah, oiya hari ini suamiku balik dari daerah, jadi aku minta padamu masakin makanan yang enak untuk suamiku," imbuhnya Nadia sambil berjalan mendahului Dewi.


Sedangkan Dewi mendorong troli yang sudah penuh sesak dengan belanjaan Dengan berbagai merek dan jenisnya.


"Mbak kira-kira suaminya suka makan apa? Supaya saya beli bahan-bahannya disini saja tapi kalau enggak ada saya mampir nanti di pasar tradisional saja," ucap Dewi.


Nadia menghentikan langkahnya itu sambil berfikir kira-kira apa makanan yang disukai oleh Samuel Abidzar Al-Ghifari. Ia lupa apa nama masakannya itu karena yang paling diingatnya itu adalah makanannya berbahan dasar ikan.


"Seingat aku itu Mas Sam menyukai masakan yang terbuat dari ikan yang dimasak kuah, dipanggang, dibakar, ditumis digoreng juga, tapi aku lupa namanya," Nadia kembali terkekeh mengatakan semuanya dengan gamblang dan jujur.


Dewi terdiam dan terpaku mendengar Nadia menyebut nama Syam yang mirip dengan suaminya.


Kenapa namanya mirip banget dengan Abang Syam? Aah mungkin karena banyak nama yang sama dengan namanya Abang.

__ADS_1


__ADS_2