
Kedua pasangan suami istri itu menikmati santap pagi sekaligus siangnya itu. Keduanya sesekali berbincang-bincang santai dengan Syam sesekali bertanya mengenai beberapa bumbu masakan yang membuat lidahnya bergoyang.
"Saya sangat senang dan bersyukur banget jika ternyata masakan sederhana yang saya masak mampu membuat Abang kenyang dan perutnya tidak berbunyi kriuk-kriuk lagi," guraunya Dewi yang mulai menikmati masakannya sendiri dengan bantuan suaminya itu.
"Saya tidak sia-sia menitikkan air mata gara-gara ulah si bawang merah dengan gelarnya yang katanya orang nih super jahat karena bisa buat para emak-emak menangis tanpa sebab," kelakarnya lagi Syam.
Syam yang melihat sebulir peluh keringat bercucuran mengalir di sekitar keningnya Dewi segera mengambil selembar tissue untuk menyeka keringat tersebut.
Dewi yang diperlakukan seperti itu oleh suaminya hanya terdiam saja, hingga sendok makan yang sudah siap masuk ke dalam makanan terpaksa menggantung saja di depan bibirnya.
Aku melihat raut wajahnya yang terkejut dengan apa yang aku lakukan padanya, tapi aku paling suka melihat wajahnya yang selalu tersipu memerah disisi kedua pipinya jika aku melakukan hal-hal yang mungkin menurutnya manis.
Entah kenapa aku selalu suka melihatnya seperti itu, andaikan aku bisa melihat wajahnya setiap hari, pasti rasa lelah,penat dan capek dari kantor akan terobati. Aku akan berusaha untuk membuat Dewi menyusulku ke Jakarta, ini juga cara agar dokter Irwansyah tidak mendekati istriku.
Hatimu yang tulus, bersih dan suci itu hingga membuat inerbeauty nya terpancar dari wajahnya itu. Awalnya aku menyangka pernikahan yang aku jalani ini akan monoton, membosankan ataupun aku tidak akan bahagia menikah dengannya, tapi setelah aku bersamanya selama dua hari ini penilaian itu langsung berubah drastis.
__ADS_1
Aku semakin memperhatikan wajahnya semakin membuatnya semakin tersipu malu,ia aku akui sungguh ayu dan cantik alami, wajahnya yang sudah bermandikan keringat itu semakin cantik saja,auranya semakin bertambah membuat hatiku bergetar hebat.
Apakah seperti ini, seorang pria akan mengalami dan merasakan jatuh cinta kepada kedua perempuan langsung. Padahal aku sudah memantapkan hatiku dan berjanji pada Nadia Yuliati untuk tidak jatuh cinta lagi. Tapi, kenyatannya niat hati hanya menikahinya karena kasihan dan iba pada calon pengantin yang ditinggal nikah oleh calon suaminya karena insiden kecelakaan yang tidak terduga untungnya selamat dari pria bejak dan jahat yang sampai sekarang belum diketahui siapa pelakunya.
"Makasih," cicitnya Dewi semburat muncul di wajahnya Dewi yang terus aku tatap tanpa berkedip.
Syam hanya tersenyum simpul membalas ucapan makasihnya Dewi Kinanti Mirasih. Kegiatan makan mereka pun usai setelah Syam mendengar hpnya berdering sekaligus bergetar di atas meja,ia segera mengambil hpnya itu. Syam sedikit enggan dan segan untuk mengangkat teleponnya itu.
"Aku angkat telpon dulu," ucapnya Syam yang seperti meminta ijin kepada istrinya itu.
Dewi membereskan semua peralatan dan perlengkapan makannya yang telah dipakainya tadi. Dewi tidak ingin mengetahui siapa yang menelpon suaminya. Baginya itu hak dan privasinya Samuel Abidzar Al-Ghifari.
Saya tidak mungkin curiga, cemburu, tidak percaya dengan apa yang abang lakukan, saya sudah tahu dengan sangat jelas jika Abang punya istri lain di Jakarta, jadi saya akan berusaha untuk tidak cemburu walaupun saya tidak menampik dan memungkiri jika saya iri dengan istrinya Abang yang bisa mendampingi dan melayani kebutuhan sehari-harinya Abang, padahal saya ingin sekali melakukan ibadah bersama Abang dan berharap pahala dari ibadah itu, tapi yah mau diapa abang harus tinggal di ibu kota Jakarta sedangkan aku di sini menunggu kedatangan Abang dalam kesetiaan, kesabaran dan keikhlasan.
"Astaghfirullah aladzim,"
__ADS_1
Dewi berulang kali beristighfar dan memohon Allah SWT atas khilaf yang dia lakukan. ia tidak ingin jatuh kedalam lubang kesalahan yang nantinya pasti akan disesalinya itu.
Syam berjalan kembali ke arah dalam dapur minimalis nya tertata rapi dan bersih itu. Untuk pertama kalinya aku melihat wajahnya seperti seseorang yang berusaha untuk meredam rasa cemburunya itu.
Entah apa yang aku bahagia dengan semua ini yang jelas-jelas cemburu itu tanda sayang dan cinta walaupun aku belum tahu sebesar apa rasa sayangnya cintanya padaku, apa aku bahagia atau marah atau kecewa dengan semua kenyataan ini.
Mungkin jika dengan perempuan lain aku akan sangat bahagia dan gembira berarti cemburu tanda cinta dan sayang, tapi yang di dicemburui oleh Dewi adalah istri keduaku yang jelas adalah saingannya secara nyata. Sedangkan perempuan lain kemungkinannya tidak cemburu sama sekali karena sudah mengetahui aku bukan tipe pria yang mudah jatuh cinta pada semua perempuan cantik yang aku temui, jumpai, dan lihat.
Apakah ini salah satu penyebab dan alasan kenapa Dewi ketika tadi pagi kami berada di dalam pasar tradisional ketika banyak gadis remaja dan emak-emak menggodaku dengan berbagai pujian malah ia sama sekali tidak cemburu, marah atau pun jengkel. Sedangkan dengan Nadia Yulianti ketika kami dulu sempat berjalan bareng di dalam mall,ia sempat marah-marah, ngomel-ngomel, bahkan hampir menarik dan menjambak rambut beberapa perempuan itu.
Itulah sering aku perhatikan dan lihat dari kedua istriku, tapi aku takut dan was-was bagaimana jika mereka saling bertemu dan Nadia mengetahui jika Dewi adalah istri pertamaku yang niat awalnya kami menikah tidak ada setitik rasaku padanya,tapi semakin kesini usia pernikahan kami aku sudah merasakan jatuh cinta berulang kali bahkan berkali-kali pada gadis yang terlahir dan dibesarkan di perkampungan.
Apakah ini berkah dan rezeki memiliki dua orang istri, tapi aku khawatir jika kelebihan yang aku miliki ini adalah akan menjadi boomerang untuk kehidupanku kelak.
"Ya Allah… aku tidak mungkin melepaskan kedua-duanya, karena mereka sama-sama aku sayangi, sama aku cintai bahkan posisi mereka sama Du dalam lubuk hatiku yang paling terdalam, tapi entahlah apa yang akan terjadi kedepannya karena aku yakin Allah SWT maha pembolak balik hati setiap manusia, contohnya aku sendiri yang mengalaminya,"
__ADS_1
Dewi melihat kedatangan suaminya itu setelah membersihkan seluruh dapurnya. Ia tersenyum menyambut kedatangan suaminya itu dalam keadaan celemek yang masih terpasang rapi dengan beberapa percikan noda bumbu dapur melekat dan mewarnai apron tersebut. Mulai dari warna cabe dan tomat yang pastinya berwarna merah dan hijau. Serta warna kunyit pun berada di sana tidak kalah menghiasai celemek yang dipakai oleh Sam.