Satu Atap Dua Hati

Satu Atap Dua Hati
Bab. 87


__ADS_3

Shaira segera menyelesaikan acara masak-memasaknya hari itu. Ia segera berpamitan kepada kedua orang tuanya melalui ponsel pintarnya.


"Entah apa yang ingin disampaikan oleh Abang Hanz kenapa meski bertemu di kafe padahal biasanya bertemunya di taman dekat sini,"


Gadis yang bernama lengkap Shaira Innira Abidzar Al-Ghifari itu adalah anak angkatnya Dewi Kinanti Mirasih suaminya Samuel Abidzar Al-Ghifari.


Gadis yang bulan ini akan merayakan ulang tahunnya beberapa hari lagi bersamaan dengan ketiga kakaknya.


"Hati-hati yah Non Aira!" Teriaknya Bi Minah yang bertugas mengunci pintu setelah kepergian Aira.


Shaira hanya menaikkan jari jempolnya pertanda oke. Dia berjalan perlahan ke arah mobilnya. Dengan hijab pashmina sifon motif kotak-kotak menghiasai kepalanya itu sebagai aksesoris kepala sekaligus pelindung kepalanya yang memang menjadi kewajiban kaum hawa setiap umat muslimin.


Berbeda dengan saudari nya yang lain yang tidak pernah kepikirkan sedikitpun untuk memakai hijab seperti mamanya dan adik bungsunya.


Aira melajukan mobilnya menuju kafe yang letaknya tidak terlalu jauh dari tempat tinggalnya.


Di tempat lain, tepatnya di dalam kafe seorang pria yang memakai pakaian kaos oblong dengan model kurta dengan celana panjang cinos mempertegas penampilannya.


Raut wajahnya yang sulit terbaca itu sungguh membuat orang penasaran dengan apa yang dirasakannya. Esok hari adalah keberangkatannya ke London Inggris untuk melanjutkan studinya yang kebetulan mendapatkan beasiswa.


Sesekali ia melihat ke arah pintu bergantian dengan jarum jam yang terpasang di pergelangan tangan kanannya.


Semoga saja Dede Aira diijinkan oleh Tante Dewi dan Paman Sam untuk keluar menemuiku jika tidak saya akan kesulitan lagi untuk bertemu.


Mengingat kemungkinan besarnya saya akan balik ke Jakarta paling cepat satu tahun lebih.


Hanz sesekali menyeruput minuman dinginnya itu hingga kedatangan seorang gadis berhijab berwarna ungu itu mampu membuat ketegangan yang sempat dialaminya terganti.


Hans segera menyembunyikan setangkai bunga mawar merah yang cukup cantik yang sejak tadi menemaninya menunggu Shaira datang. Ia berdiri dengan memperlihatkan senyuman termanisnya untuk menyambut kedatangan gadis pujaan hatinya.


Walau Hanz selama ini tidak pernah mengutarakan secara langsung perasaannya. Tetapi gerak geriknya dan perhatiannya sudah memperlihatkan dan memperjelas jika Hanz memiliki rasa yang spesial untuk gadis berhijab yang selalu santun dalam berbicara dan bersikap.


"Assalamualaikum Abang," sapanya Shaira.


"Waalaikum salam, maafkan Abang sudah menyita waktu istirahat siang kamu hari ini," ucapnya Hans dengan penuh sesal.


"Ah Abang tidak apa-apa kok, aku juga jarang banget istirahat siang jadi Abang nggak mengganggu," tukasnya Shaira.


Shaira kemudian duduk setelah Hans menarik salah satu kursi khusus untuk didudukinya.


"Makasih banyak," ucapnya Shaira.


Keduanya kembali duduk saling berhadapan tapi, mulai nampak kelihatan mereka malu dan enggan untuk memulai dan membuka suara mereka.


Hingga berselang beberapa menit kemudian, mereka hanya saling bertatapan satu sama lainnya. Aira malah grogi, nerves sehingga sedikit-sedikit memegangi ujung hijabnya.


Sedangkan Hanzal Abdul Djailani juga hanya menatap intens ke arah dalam bola matanya Aira yang sebening embun pagi secerah sinarnya mentari. Ia juga mulai bingung dan panik harus memulai percakapan diantara mereka berdua.


"Abang,"

__ADS_1


"Dede,"


Ucap keduanya secara bersamaan, hingga membuat mereka tersipu malu karena untuk pertama kalinya terdengar suara sampai-sampai mereka berbicaranya pun bersamaan.


"Abang saja yang duluan bicaranya,"


"Dede saja mungkin yang duluan bicaranya, Abang bentaran saja," usulnya Hanz yang bisa-bisanya mereka bersikap seperti ini padahal biasanya mereka tidak pernah seperti ini sebelumnya.


Aira malah tertawa terkekeh mendengar perkataan dari Hanz," ya Allah Abang bukannya Abang yang meminta untuk bertemu katanya ada yang ingin dibicarakan oleh Abang,kalau aku kesini kan hanya ingin mendengarkan apa yang Abang akan sampaikan," tampiknya Syaira yang masih terdengar suara gelak tawanya.


Hanz menjadi salah tingkah karena perempuan yang sejak mereka masih kecil sudah bertekad untuk menyayangi dan mencintainya setulus hatinya dan berusaha untuk melindungi Shaira walaupun Aira tidak butuh dilindungi karena cukup jago bela diri.


Hans menggaruk kepalanya yang tidak gatal sambil menaikkan setangkai bunga mawar merah yang sejak tadi disimpannya.


"Maaf ini ada hadiah khusus untuk kamu sebagai ucapan perpisahan kita, karena insha Allah besok pagi Abang akan berangkat ke London Inggris, Alhamdulillah Abang dapat beasiswa dari kampus," ujarnya Hanz.


Aira menatap intens ke arah anak muda yang cukup sering membuatnya bahagia dan tersenyum dalam keadaan apapun jika mereka bersama. Walau terkadang abangnya Shaira Aidan selalu saja menghalanginya jika Aidan mengetahui mereka akan bertemu.


Aidan tidak ingin adiknya tertipu oleh mulut manis dari pria terutama buaya darat. Apalagi Hanz adalah cover boy sejak mereka masih sekolah hingga ke perguruan tinggi walau mereka berbeda jurusan.


Shaira mengambil jurusan dokter anak sedangkan Hanz memilih untuk kuliah di jurusan manajemen informatika. Sedangkan kedua saudaranya yang lain Abyasa dan Shanum memilih menjadi dokter umum.


Dewi dan suaminya Sam tidak pernah memaksakan kehendaknya kepada anak-anaknya tersebut. Mereka hanya akan memberikan nasehat, masukan dan petunjuk dari keempat anaknya.


Pertemuan keduanya ternyata sejak tadi ada yang memperhatikan keseluruhan apa yang mereka lakukan.


"Abang jadi akan berangkat besok, ini bunganya untuk saya?" Tanyanya Aira yang tidak percaya karena mendapatkan hadiah dari Hanz.


"Iya maaf hanya bunga setangkai yang bisa aku berikan untuk saat ini, semoga kelak abang bisa berikan sebuket bunga mawar kalau perlu setaman bunga mawar dengan berbagai macam jenis warnanya," imbuhnya Hanz yang penuh harapan besar kepada Aira.


"Tapi Abang saya sudah bersyukur dapat bunga ini loh, lagian bunganya sungguh sangat cantik dan indah tapi sayangnya berduri," ujarnya Shaira seraya mencium wangi aroma bunganya.


"Syukur Alhamdulillah kalau kau menyukai apa yang Abang berikan," ucap Hans yang bahagia karena Shaira bahagia menerima pemberiannya.


Keduanya menyantap makanan kecil dan minuman yang sudah mereka pesan sebelumnya. Shaira yang makan keasyikan sampai-sampai melupakan tata cara makannya yang belepotan.


Shaira tidak pernah jaga image jika mengenai cara makannya, Ia akan sesuaikan dengan kebutuhan tempat makan dimana dia berada.


Shaira kembali dibuat tercengang ketika Hanz kembali memberikan hadiah spesial untuknya lagi. Sebuah kotak persegi dengan warna pink semakin membuat cantik kotak itu.


"Ini apa bang?" Tanyanya Shaira dengan menautkan kedua alisnya karena tidak paham dengan kado tersebut.


"Ini hadiah untuk kamu," jawabnya Hanz.


"Tapi aku kan ulang tahunnya belum hari ini Abang, masih ada beberapa hari lagi," pungkasnya Shaira.


Hanz tersenyum tipis menanggapi perkataan dari mulut Shaira, "Ini hadiah dari Abang, mana mungkin Abang melewatkan tahun ini memberikan hadiah kepadamu, karena Abang akan pergi jadi Abang berikan lebih awal, tapi saya berharap kamu bisa membukanya ketika pergantian usiamu Dede," ujarnya Hanz yang meminta kepada Shaira.


Keduanya belum ada yang berani mengungkapkan perasaannya masing-masing, tapi lewat tatapan mata dan gerak geriknya gestur tubuh mereka menandakan jika mereka ada rasa yang sulit untuk diartikan dan diucapkan.

__ADS_1


"Alhamdulillah makasih banyak Abang, insya Allah akan aku buka ketika pergantian hari, tapi maaf hanya ini yang bisa aku berikan padamu," Shaira segera mengambil sebuah benda dari dalam tas handbagnya itu.


Hans mengerutkan keningnya karena dia tidak menyangka jika Shaira memberikan hadiah juga untuknya.


"Maaf bang,dede engga sempat beli yang lebih bagus dari ini, hanya tadi nggak sengaja melewati stand penjual topi, aku berharap semoga topi ini bermanfaat untuk Abang selama di London," tuturnya Shaira yang malu karena hanya mampu membeli barang yang murah.


"Ini luar biasa dan saya akan memakainya dimanapun Abang berada andaikan bisa mungkin disaat tidur Abang juga akan memakainya, tapi apa Abang boleh meminta kepada kamu untuk memakaikan topi ini dikepalanya Abang," pintanya Hanz yang kembali memberikan topi tersebut ke dalam genggaman tangannya Shaira.


Shaira sama sekali tidak ragu untuk memakaikan topi tersebut di atas kepalanya Hanz dengan penuh hati-hati dan kelembutan.


"Ihh kenapa mereka meski bersikap seperti itu di depan orang banyak lagi! Sok perhatian dan memamerkan kemesraan mereka berdua, tapi aku yakin itu topi murahan saja, tapi aku akan berusaha untuk membujuk Papi agar aku bisa dibiayai dan dibiarkan kuliah ke London jadi bisa bertemu dengan Abang Hanz sehingga bisa membuat hubungan mereka terpisah, itu adalah kesempatan terbesar yang bisa aku manfaatkan,"


Keesokan harinya, Hans sudah berangkat ke London UK negara ratu Elizabeth itu. Hanz sebelum berpisah dia sudah berjanji dan meminta kepada Shaira untuk menunggunya dengan sabar hingga dia kembali ke Jakarta Indonesia.


Hanz juga mengatakan kepada Shaira untuk menunggu hadiahnya setiap tahunnya Hanz akan berusaha untuk mengirimkan kado spesial itu.


Enam bulan kemudian..


Seorang gadis muda merengek pada papanya agar bisa ikut kuliah bersama dengan kakaknya di luar negri.


"Papa masa hanya Shanum yang tidak ke luar negeri sedangkan mereka ke luar negeri? Apa bedanya saya dengan mereka!? Apa jangan-jangan saya ini hanya anak angkat saja sehingga diperlakukan dengan beda!?" Teriaknya Shanum yang meninggikan suaranya di hadapan kedua orang tuanya itu.


Syam yang selama ini tidak pernah memarahi anak-anaknya kali ini terpancing emosinya melihat Shanum berteriak kencang di depannya langsung.


"Sha!! Kedua kakakmu dan adikmu Aira bisa berangkat kuliah ke luar negeri itu karena kemampuan mereka dan rezekinya bukan karena biayanya papa, kamu tahu mana mungkin papa sanggup mengukuhkan mereka bertiga secara langsung ke luar negeri jika hanya mengandalkan gajinya Papa yang hanya seberapa itu dan usahanya mama kalian hanya tambak ikan dan udang, jadi darimana kamu menyangka jika papa membedakan anak-anakku!" Tegasnya Syam yang berdiri di tempat duduknya itu malam hari ketika mereka duduk bersantai.


Dewi segera memeluk tubuh anaknya itu agar Shahnum bisa bersabar dan mengalah dengan keadaan yang ada.


"Sayang, coba tanya pada kakak kalian, apa benar kami yang menyuruh mereka untuk melanjutkan pendidikannya ke luar negeri? Karena jujur saja melihat kemampuan dan kondisi ekonomi papa kami akan sulit untuk menguliahkan kalian satu saja itu sulit apalagi langsung berempat," bujuknya Dewi yang tidak menduga putrinya itu memberontak terhadap keputusan mereka.


"Intinya saya tidak akan berhenti dengan segala cara akan saya tempuh agar saya juga bisa kuliah du luar negeri dengan kakak dan Dede Aira!" Tegas Shanum yang segera meninggalkan ruangan tengah yang dijadikan tempat berkumpulnya mereka.


Abyaza tidak percaya dengan apa yang terjadi di depan matanya, adik yang selalu dilindunginya menentang dan melawan perkataan kedua orang tuanya.


"Ya Allah semoga saja Sha mengerti dengan apa yang aku katakan semalam, tidak mungkin aku membalas mencintai adikku sendiri, astagfirullah aladzim kenapa bisa-bisanya Sha menyalah artikan perhatianku padanya," Aby prustasi dengan keadaannya dan menatap intens punggung adiknya itu.


Dewi menatap sendu kepergian anak ketiganya itu," ya Allah apa yang terjadi dengan putriku? Dia tidak pernah bersikap seperti sekasar ini, sejak kecil hingga dewasa kami berdua selalu berusaha untuk memberikan yang terbaik untuk mereka berempat, tidak pernah membeda-bedakan keempatnya juga, bahkan kami memberikan segalanya asalkan kami bisa,"


Sam terduduk lesu di atas sofa ruang tengahnya, ia mengusap wajahnya dengan gusar," astaghfirullahaladzim, apa aku yang telah salah dan keliru dengan cara didikku terhadap mereka anak-anakku, tapi anakku yang ketiga dan terutama Aira yang anak angkatnya saja selalu membanggakan kami berdua,tapi Sha akhirnya memperlihatkan jati dirinya yang sesungguhnya, ya Allah ampunilah segala dosa dan khilaf ku jika aku sudah salah membesarkan anak kembarku,"


Shanum menutup pintu kamarnya dengan kekuatan penuh.


Prang!!


Bruk!!


Shanum melempar semua benda yang mampu dijangkaunya itu, bantal, boneka serta beberapa benda lainnya sudah berhamburan di atas lantai. Kamarnya yang girli itu sudah seperti kapal pecah saja.


"Aahhh!!" Jeritnya Shanum.

__ADS_1


__ADS_2