Satu Atap Dua Hati

Satu Atap Dua Hati
Bab. 142


__ADS_3

Maryam menghembuskan nafasnya dengan cukup kasar, "Astaughfirullahaladzim kenapa Ahsan bisa bersikap seperti itu? Padahal seingatku dengan gagahnya di hadapan semua mahasiswa di kampus dia melamar Vela, tapi tak kusangka bakal seperti ini jadinya,"


Maryam Nurhaliza masih tidak percaya dengan semua yang dikatakan oleh Ahksan barusan.


"Saya saja sepupunya keheranan dengan semua ini, tapi intinya siapapun itu orang-orang yang berani menganggu ketenangan orang yang aku sayangi, mereka akan berurusan dengan ku tak kenal dan tidak pandang bulu!" Geramnya Shaira.


Sedangkan di tempat yang jauh di sana, seorang pria muda terduduk di atas lantai dengan tangisan air matanya yang terus menetes membasahi pipinya itu.


Pria itu mengusap wajahnya dengan gusar," argh!!!"


Dia mengerang keras saking kesalnya dan marahnya pada dirinya sendiri yang tidak berdaya dan tidak bisa leluasa untuk menentukan jalan hidupnya sendiri. Semua yang dilakukannya harus sesuai dengan keinginan papanya.


"Assalamualaikum maafkan Abang Vel, ini semua karena ketidakmampuan dan ketidakberdayaanku sehingga hubungan kita hancur, aku tidak berdaya melawan kehendak papaku, semoga kelak kamu memahami apa yang aku rasakan,"


Keesokan harinya…


Setelah shalat subuh berjamaah di musholla rumah sakit Shaira, Maryam dan Amar kembali ke ruangan perawatan VVIP dimana Vela berada.


"Makasih Amar kamu sudah menyelamatkan nyawanya Vela, kamu sungguh pria sejati bak pahlawan berkuda putih yang tiba-tiba datang untuk menolong Vela, kami semua sangat bersyukur dan bahagia karena kamu telah sudi mendonorkan darahmu untuk Vela teman kami,"


Shaira berkata seperti itu di hadapan Amar Alfarizi yang kebetulan berada di dalam ruangan perawatan Vela.


Baru saja Amar ingin membalas perkataan sepupunya itu,tapi ucapannya kembali ditelannya mentah-mentah karena Vela sudah sadar.

__ADS_1


"Saya haus," lirihnya Vela Angelina seraya memegangi kerongkongannya itu.


Semua orang segera berjalan cepat ke arah bangkar ranjangnya Vela. Maryam segera mengisi air mineral ke dalam sebuah gelas. Kemudian memberikannya kepada Vela dibantu oleh Shaira.


"Ini minumlah tapi kamu harus pelan-pelan kamu baru sadar soalnya," imbuhnya Shaira yang membantu Vela untuk minum.


Setelah minum air matanya Vela kembali menetes membasahi pipinya. Suara sesegukan dan isak tangisnya terdengar begitu memilukan.


Vela spontan memeluk tubuhnya Shaira sahabatnya itu," Aira hancur sudah masa depanku, hiks… hiks Ahksan Khaidir tidak mau bertanggung jawab atas bayi yang ada di dalam rahimku ini, hiks… kalau Abi dan ummi mengetahui kesalahanku mereka pasti sangat kecewa dengan kejadian yang menimpaku, Aira apa yang harus aku lakukan?" Vela semakin mengeraskan suara tangisannya itu.


Suara tangisannya Vela sungguh menyayat hati, semua orang saling bertatapan satu sama lainnya.


"Aira saya terlalu bodoh sehingga saya harus mengalami kesialan dalam hidupku,


Shaira semakin mengerakkan pelukannya agar Vela merasa baikan, Shaira dan Maryam sama-sama kebingungan dengan apa yang terjadi pada sahabatnya itu.


Vela menyeka air matanya dengan kasar, dan menatap Shaira dengan intens, "Aira apa sebaiknya aku mengikuti sarannya mas Akhsan untuk membunuh anak ini mumpung masih kecil?" Vela menatap mengibah di hadapan Shaira.


Maryam dan Amar menatap nanar Vela yang hati, perasaannya hancur lebur gara-gara penolakan yang dilakukan oleh Ahsan terhadap calon anak mereka.


"Vela stop! Jangan sekali-kali berbicara seperti itu lagi! Saya tidak ingin mendengar kamu mengatakan akan menggugurkan kandunganmu, ingat Vela anak ini sama sekali tidak bersalah dan berdosa, yang bersalah adalah perbuatan kedua orang tuanya!" Tegasnya Shaira.


Vela menatap ke arah Shaira seraya meremas perutnya yang masih datar itu," tapi Aira saya… tidak ada lagi pria yang sudi menikahi gadis yang tidak perawan lagi apalagi mereka mengetahui kalau saya hamil, itu tidak mungkin!" Keluhnya Vela.

__ADS_1


Ketiga sahabat itu saling berpelukan satu sama lainnya, mereka sama-sama menangis dan tidak berdaya dengan masalah besar yang dihadapi oleh Vela.


"Tidak ada yang tidak mungkin, asalkan kamu bersedia menerimaku menjadi ayahnya! Saya bersedia menikah denganmu Vela Angelina Danuaji," ucapnya Amar yang mengucapkan hal mustahil dan sulit dipercaya oleh ketiga wanita cantik itu.


Semuanya menatap ke arah Amar dan tidak ingin mempercayai ucapan yang baru saja meluncur dari bibirnya Amar adik sepupunya Shaira Innira.


"Amar apa kamu serius dengan ucapanmu ini?" Maryam menatap tajam ke arah Amar.


"Benar sekali apa yang dikatakan oleh Maryam, dek ini bukan permainan loh, menikah itu menyatukan dia hidup dan karakter yang berbeda. Hidup berumah tangga itu niatnya orang untuk selamanya, tapi jika tujuan kamu hanya untuk menyelamatkan hidupnya Vela dan kedepannya akan menyia-nyiakan hidup dan masa depan kalian berdua sebaiknya kau berfikir ulang karena hubungan pernikahan bukan lah ajang uji nyali ataupun coba-coba!" Tegas Shaira yang mempertanyakan niatnya Amar.


Amar tersenyum simpul," saya sangat serius dan sudah mencintai Vela sedari dulu sebelum dia bertemu dengan Ahsan," ujarnya Amar.


Perkataan Amar yang baru saja meluncur dari bibirnya adik sepupunya itu. Maryam dan Shaira tidak menyangka dan menduga dengan apa yang barusan dijelaskan oleh Amar. Vela menatap intens ke arah Amar dan keheranan dengan maksud dari perkataannya Amar.


Vela terkekeh mendengar perkataan dari Amar itu," Maaf saya tidak mengenal Anda dan terima kasih sudah menolongku dengan mendonorkan darahnya Anda untukku,tapi maaf saya tidak ingin anda menikahiku hanya karena merasa iba dan kasihan padaku,. Insya Allah saya masih sanggup untuk hidup seorang diri dan melahirkan anakku tanpa suami," putusnya Vela.


"Saya sudah jelaskan diawal jika saya menikahimu karena cinta dan menyayangimu bukan sekedar rasa kasihan dan kasihan melihat kondisimu yang seperti ini, tapi sungguh saya mencintaimu Lala sejak kita masih berseragam putih abu-abu, mungkin Lala sudah melupakanku tapi aku tidak akan pernah lupa dengan gadis manis yang selalu duduk di pojokan kantin jika makan," ungkapnya Amar.


Vela seolah memutar memori masa lalunya sekitar enam tahun lalu. Vela baru teringat jika ada juniornya yang sering memperhatikannya diam-diam dan juga pernah memberikan kotak bekal makanannya kala itu.


Hingga senyuman manisnya tersungging di sudut bibirnya Vela ketika tersadar dan mengingat siapa Amar Alfarizi pria gagah berani yang bersedia menutupi aibnya itu.


"Cara mencintai setiap orang itu berbeda-beda,tapi saya katakan kepada kalian bertiga jika saya bersedia menjadi ayah bayi yang kamu kandung itu dan menjadikan kamu istriku. Insha Allah kedua orang tuaku akan segera melamar kamu, ini janjiku padamu," jelasnya Amar Alfarizi.

__ADS_1


__ADS_2