Satu Atap Dua Hati

Satu Atap Dua Hati
Bab. 37


__ADS_3

Satu bulan kemudian, Dewi kembali bekerja di tempat yang dulunya seperti biasa. Ia mengangkat beberapa barang yang baru saja masuk ke dalam gudang toko tempat ia bekerja.


Dian Astuti Mayang Sari yang melihat Dewi yang sedang kewalahan menghadapi banyaknya dus bergegas datang membantu sahabatnya terbaiknya. Hal itu karena melihat Dewi yang sudah kelelahan padahal masih banyak tumpukan barang dalam kardus untuk diangkatnya.


"Kenapa barang baru masuk hari ini banyak banget yah," keluhnya Dian yang lebih ngos-ngosan dan peluh keringat bercucuran membasahi pipinya itu.


"Mungkin karena memang banyak barang yang habis makanya banyak barang yang baru dipesan oleh bos, ngomong-ngomong Herman ada dimana tumben anak itu enggak datang mengganggu kita yah," ucapnya Dewi disela kegiatannya yang sudah menguras tenaga dan kekuatannya itu.


"Dewi kok kamu enggak resign saja dari sini? Secara kamu sudah punya suami kerjaan nya juga bagus, kenapa meski kamu harus capek-capek segala banting tulang kerja padahal apa lagi yang kamu cari," ujarnya Dian sambil mengistirahatkan tubuhnya di atas kursi yang tidak jauh dari tempat semula keduanya.


Dewi membuka tutup botol plastik airnya lalu menenggaknya terlebih dahulu sebelum menjawab pertanyaan dari sahabatnya itu. Tegukan demi tegukannya langsung membasahi tenggorokannya yang dahaga sekali, karena sudah lebih sejam bekerja tanpa istirahat.


"Saya tidak mau bergantung pada suamiku selama saya masih sanggup bekerja kenapa tidak, lagian saya juga pakai uangnya Abang untuk modal usahanya paman dan bibiku itu lebih berguna karena namanya usianya akan ada masanya tua jadi selama muda aku akan bekerja kecuali kalau Abang larang saya kerja, barulah saya beristirahat," ujarnya Dewi.

__ADS_1


"Iya juga sih, jadi istri memang harus pintar-pintar dan pandai mengatur keuangan suami, kalau bukan istri pintar maka keuangan suami akan habis tak tersisa setiap bulannya," timpalnya Dian lagi.


"Saya pamit ke belakang dulu, mau shalat magrib sebelum lanjut kerja lagi, kalau kamu gimana, apa mau shalat juga?" Tanyanya balik Dewi yang melihat ke arah rekan kerjanya itu.


"Aku lagi datang tamu baru tiga hari jadi masih nunggu lima hari lagi cutiku," jelas Dian yang duduk berselonjor kakinya.


Dewi kemudian berjalan ke arah belakang gudang, tepatnya di sekitar kamar mandi karena ingin masuk ke dalam toilet terlebih dahulu sebelum mengambil air wudhu.


"Kenapa saya sangat capek, padahal biasanya tidak seperti ini, apa karena aku belum makan yah," gumamnya Dewi.


Berselang beberapa menit kemudian, Dewi hendak berjalan ke arah luar karena ia ingin menyimpan hpnya terlebih dahulu sebelum ambil air wudhu. Hingga suara seseorang yang mampu di dengarnya itu menbuatnya menajamkan pendengarannya hingga langkahnya semakin maju ke arah tepat di dinding papan pintu.


"Itukan suara seorang pria tapi sepertinya saya kenal, apa itu Herman yah?" Cicitnya Dewi.

__ADS_1


Herman yang terus berbicara dengan seseorang melalui sambungan telepon itu membuatnya Dewi menguping pembicaraan Herman tersebut. Dewi ingin memutar handle pintu kamar mandi itu, tapi Ia hentikan apa hendak Ia lakukan ketika Herman berbicara masalah kejadian suatu malam sekitar lima bulan lalu.


"Ya Allah ini tidak mungkin!?" Dewi segera menyalakan rekaman hpnya untungnya hpnya Dewi disilent sehingga Dewi aman melakukan apa yang dilakukannya itu.


"Kamu bersabar saja kamu pasti akan menikah minggu depan dengan Heri, kamu tidak perlu takut kakak yakin tidak akan ada yang menghentikan rencana kita ini, karena kakak sejak dulu mengatakan kepada kamu jika kakak akan melakukan apapun agar kamu menikah dengannya meskipun harus menghancurkan hidupnya sekalipun, Ingat kakak akan aku lakukan itu, karena bagiku tidak ada kata teman jika mengenai kebahagiaan mu dek,"


Dewi semakin melototkan matanya saking tidak percayanya mendengar perkataan dari pria yang sudah dianggap sahabat bahkan sebagai kakaknya sendiri ternyata dia adalah orang yang hampir saja menganiaya dirinya sebelum hari pernikahannya dengan Heri mantan kekasih sekaligus mantan suaminya itu.


"Ya Allah… ini tidak mungkin pasti saya salah dengar, apa jangan-jangan itu bukan Herman tapie, pria yang mirip saja suaranya dengan Herman, karena aku tidak mungkin tega mengkhianati persahabatan kami berdua, saya harus melihat dengan jelas apa benar dia adalah Herman,"


Dewi segera membuka sedikit pintu itu agar melihat dengan jelas siapa pemilik suara yang mirip dengan Herman itu teman kerjanya. Ia kembali membelalakkan matanya melihat dugaannya ternyata meleset, jika orang tersebut adalah Herman Abdullah pria yang sangat dikenalnya itu.


Dewi menutup mulutnya rapat-rapat, "Astaghfirullah aladzim, untungnya saya tadi sempat menyalakan video rekaman sehingga saya mampu mengambil beberapa bukti akurat yang jelas terlihatlah siapa dalang dibalik semua kejadian yang hampir membuatku hampir saja gila," lirihnya Dewi.

__ADS_1


__ADS_2