
Aidan yang baru dalam hitungan menit tertidur harus terbangun dari tidurnya. Nafasnya ngos-ngosan keringat bercucuran membasahi sekujur tubuhnya itu.
Ya Allah ini mimpi yang aku alami yang ketiga kalinya dalam bulan ini. Entah kenapa aku bisa bermimpi seperti ini.
Tapi, siapa perempuan yang selalu hanya punggungnya yang kelihatan dan perempuan itu seperti ingin melompat ke dalam jurang.
Aidan melihat ke arah jarum jam yang ada di pergelangan tangannya itu.
Baru pukul sebelas malam, ya Allah apa yang terjadi sebenarnya. Kenapa aku selalu bermimpi melihat seorang anak bayi.
Berharap semoga saja ini pertanda kabar baik yang akan aku terima dalam hidupku. Tapi, kenapa aku selalu bermimpi tentang bayi sedangkan saya besok baru menikah?
Aidan keheranan dengan maksud dari mimpinya itu, tapi karena tidak mau dipusingkan oleh mimpi itu yang belum ditemukan maknanya, dia segera kembali melanjutkan tidurnya, karena besok pagi adalah hari akad nikahnya.
Suara ayam yang berkokok terdengar lantang di pagi buta itu. Kesibukan di dalam sebuah rumah terlihat jelas. Dewi dan keempat anak-anaknya sudah bangun sebelum adzan subuh berkumandang.
Beberapa anggota sanak saudaranya yang bermalam di rumahnya pun satu persatu sudah bangun. Mereka berbincang-bincang sambil mengerjakan beberapa keperluan pernikahan.
Terutama pernikahannya Aidan Akhtar dengan calon istrinya Maryam Nurhaliza. Dewi nampak kelihatan mondar mandir kesana kemari saking sibuknya mengecek beberapa barang seserahan pernikahan putra keduanya itu.
"Dina apa semuanya sudah lengkap atau masih ada yang kita butuhkan?" Tanyanya Dewi ketika duduk di samping adiknya itu.
Dina menolehkan kepalanya ke arah kakak satu-satunya yang dimiliki di dunia ini.
"Alhamdulillah sudah beres Mbak, anak-anak siap otw ke masjid saja," balasnya Dina.
"Syukur alhamdulilah kalau seperti itu, berarti aku sudah bisa tenang, aku sangat takut jika semuanya belum siap sedangkan acaranya sebentar lagi, makanya setiap saat aku mengecek segala sesuatunya," ujarnya Dewi yang akhirnya bisa bernafas lega.
Dina tersenyum simpul menanggapi kekhwatiran dan kecemasan kakaknya yang terlalu berlebih-lebihan itu.
Syam dan Syafiq serta Syamil beserta istri-istri mereka pun sudah hadir. Termasuk putra tunggalnya Syafiq dan Karina Amar Alfarizi pun bergabung dengan Dewi dan Dina dipagi hari itu.
"Apa kita shalat berjamaah di rumah saja atau di masjid?" Tanyanya Syamuel yang sudah memakai pakaian lengkap untuk ke mesjid.
Baju koko dengan model kurta terpasang dengan nyaman dan pas ditubuh pria berusia hampir lima puluh tahun itu dengan raut wajahnya yang masih kelihatan lebih muda dari usianya itu.
"Di masjid saja mas kebetulan kami juga sudah siap berangkat," jawabnya Syamil.
"Kalau gitu kita tunggu Aidan dan Abyasa terlebih dahulu sebelum berangkat, enak kalau bergerombol ke masjid," ujar Sam lagi sambil menatap ke arah tangga dimana kedua putranya dan kedua putri kembarnya sudah menuruni tangga dengan stelan lengkap untuk shalatnya.
"Kami juga ikut Pa ke masjidnya,"ucapnya Abyaza yang sudah memimpin rombongan adik-adik dan sepupunya itu.
__ADS_1
Adisty dan adiknya Alfian, adiknya Amar Friska dan Geisha pun ikut di belakang mereka juga sudah siap berangkat shalat berjamaah bersama dengan warga masyarakat sekitar komplek.
"Sha kamu enggak ikut bareng kami Nak?" Tanyanya Bu Rina Amelia.
Sha tersenyum sambil menggelengkan kepalanya itu sebelum menjawab pertanyaan dari neneknya.
"Aku enggak ikut bareng mereka Nek, soalnya lagi datang tamu bulanan," ucapnya Shanum sambil terkekeh karena cukup kecewa pagi ini shalat berjamaah dengan anggota keluarganya yang sengaja menyempatkan diri untuk menginap di rumah besar Samuel.
"Kamu tenang saja Shahnum, kamu enggak sendirian kok ada Tante Maya yang tidak ikut bersama mereka,benar kan May?" Tanyanya Karina yang melirik ke arah Maya istrinya Syamil.
Maya segera merangkul pinggangnya Sahnun yang berdiri tepat di samping kanannya itu.
"Iya, pengennya pergi bareng mereka, tapi apalah daya semalam nongol di merah," candanya Maya Estianty.
Semua tersenyum mendengar perkataan kedua perempuan berbeda generasi itu. Berselang beberapa menit kemudian, adzan pun berkumandang dari toa-toa masjid sekitar komplek perumahan elit dimana rumahnya Dewi berada.
Semua shalat dengan khusyuk dan tidak lupa memanjatkan doa sebelum mengakhiri shalat mereka.
Beberapa jam kemudian, semakin sibuk lah mereka karena saatnya Shaira di make up oleh moa tim make-up yang didatangkan langsung oleh Adelio dan Arion.
Keduanya mendatangkan tim make up artis terbaik untuk pasangan masing-masing. Arion dan Adelio seolah memperlihatkan kepada seluruh anggota keluarganya calon istrinya mereka jika kemampuan mereka dalam hal finansial tidak bisa dipandang sebelah mata.
Terutama kepada keluarga Pak dokter Irwansyah dan anak-anaknya yang selalu saja merendahkan martabat dan harga diri serta kehormatannya Samuel.
Kesibukan dan keramaian semakin nampak nyata di sekitar rumahnya Dewi. Satu persatu tetangga dan orang-orang yang akan datang melihat langsung acara akad nikahnya, sudah berdatangan ke rumahnya Dewi sebelum berangkat ke masjid.
Sedangkan di tempat lain yang tidak terlalu jauh dari kediamannya Syam dan Dewi. Seorang pria yang cukup berumur melampiaskan amarahnya dengan melempar semua benda yang berada dalam jangkauannya itu.
Prang…
Bruk…
Brak!!
Suara pecahan beling dari perabot porselen antik yang dilempar oleh Sam semakin terdengar jelas dari dalam istananya. Kedua putrinya pun terkejut melihat suasana rumahnya yang sudah nampak kacau balau seperti rumah yang barusan terkena tsunami saja.
"Tidak!! Ini tidak mungkin, aku tidak percaya jika Samuel dan keempat anak kembarnya akan bahagia dan mendapatkan calon pasangan yang melebihi dari kedua putri kembarku!" Geramnya Irwansyah Hatif.
Arabella Aqila dan Ariela Ziudith hanya menjadi penonton setia saja. Karena bagi mereka mencegah ataupun melarang papanya untuk bertindak anarkis, pasti tidak akan berguna. Apalagi dalam suasana hati yang emosional.
"Syamuel aku akan menghancurkan hidup kalian semua!! Namaku bukan Irwansyah jika tidak berhasil membuat kehidupan kalian merana dan menderita!!"
__ADS_1
Ariela hanya terduduk sambil memainkan gedjetnya melihat apa yang dilakukan oleh papanya itu sedangkan suami mereka yaitu Desta Alamsyah dan Hanzal Abdul Djailani sedang bepergian ke kantor perusahaan tempat mereka bekerja pagi itu.
"Papa sepertinya sudah gila Ara apa sebaiknya papa kita masukkan saja ke rumah sakit jiwa, takutnya dia juga akan bersikap kasar kepada kita," bisiknya Arabela yang mulai khawatir.
Ariela menatap adik kembarnya itu," kamu tidak perlu khawatir dengan keadaannya papa, tidak lama kok papa bersikap seperti itu, sabar saja dan duduk diam menyaksikan langsung apa yang dilakukan oleh papa kita yang sudah seperti psikopat gila," sarkasnya Ariella yang sama sekali tidak peduli dengan kondisi kejiwaan papanya itu.
"Dewi sebelum kau menjadi milikku aku tidak akan berhenti untuk mengacaukan dan menganggu ketenangan kehidupan kalian!! Aku akan balas dendam dan menolak untuk pergi ke daerah pedalaman Papua, aku berjanji akan membalas perlakuan kalian padaku!"
Ariella berbeda dengan Arabela yang semakin takut hingga tubuhnya gemetaran melihat tindakan papanya.
"Ara dan Ariela kalian putriku sama-sama tidak becus dan bodoh tidak bisa papa andalkan. Kalian berdua memang selalu dikalahkan oleh Syaira dan Sahnum! Aku sia-sia menyekolahkan kalian tinggi-tinggi dan kenyatannya kalian berdua tidak berguna. Malahan menikahi pria miskin!" Kesalnya Irwan.
Irwansyah kemudian berjalan ke arah kedua putrinya itu kemudian menarik dan menyeret kedua putrinya itu dengan sedikit paksa dan kekerasan.
"Apa yang Papa lakukan? kami tidak punya salah kepada Papa," tolaknya Arabella yang melihat tampang papanya yang tidak seperti biasanya jika marah.
Wajahnya memerah, matanya melotot membulat sempurna sehingga kedua bola matanya seolah akan melompat keluar. Irwansyah menarik paksa dengan kekuatan penuh kedua anaknya menuju balkon rumahnya yang berada di lantai dua.
"Papa lepaskan tanganku, apa yang papa akan lakukan pada kami!? Papa saya sedang hamil besar papa," pekiknya Ariella yang mulai ketakutan dengan sikapnya Irwansyah.
Sedangkan Arabela sekujur tubuhnya sudah dipenuhi peluh keringat, karena semakin takut dengan kelakuan papanya yang sudah seperti orang yang melebihi sakit jiwa saja.
"Papa lepaskan tanganku, aku tidak bersalah pada Papa, aku mohon Papa," rengeknya Ariela.
"Papa lepaskan kami, saya takut Pa, jangan seperti ini. Tolong bebaskan dan lepaskan kami, kalau kami punya salah maafkan kami Papa," rintihannya Arabela dengan merengek agar dibebaskan.
Irwansyah menghempas tubuh kedua putrinya dan mengenai pagar besi pembatas balkon rumahnya itu di lantai atas.
"Ahh!!"
"Auhh!!
Jerit kedua wanita itu yang terlempar karena ulah dari papanya sendiri sampai punggung mereka terbentur dengan tembok.
"Lihatlah ke sana!! Mereka sedang tertawa bahagia menertawai kehidupan kalian berdua!! Kalian memang anak pembawa sial yang hanya membuang uangku saja untuk membesarkan kalian semua!!" Irwansyah semakin menggila saja.
Ariela mengelus perut buncitnya yang mulai mules dan sakit. Sedangkan Ara memegangi punggung dan bokongnya yang sangat sakit ketika dihempaskan oleh papanya sendiri.
Irwansyah sama sekali tidak perduli dengan kedua anak kembarnya yang mengeluh kesakitan akibat ulahnya sendiri.
"Hiks… hiks… sakit," keluhnya.
__ADS_1
Kedua anaknya merintih kesakitan, hingga Ariella merasakan ada yang basah dan merembes dan mengalir membasahi pahanya itu.